12

1802 Words
Karen menatap Hana dan Nisaka yang duduk di depannya dengan wajah bingung. Bergantian. Hana lalu Nisaka. Nisaka lalu Hana. Terus begitu sampai Nisaka menghela napas dan menepuk bahu Karen. Dia merasa selir satu itu tengah depresi. "Kau baik-baik saja?" Karen menepuk pipinya dan tertawa pelan. "Oh, tentu saja. Aku tidak apa." Nisaka mengangguk penuh kelegaan. "Baguslah." "Ada yang ingin kau tanyakan pada kami, selir?" Karen langsung mengangguk saat Hana memancingnya. Dia menatap lekat-lekat manik berbeda di depannya. "Apa istana ini memakai sihir? Semacam ilmu hitam yang berbahaya?" "Apa?" Hana menutup mulutnya kembali. Nisaka diam, membuat Karen meliriknya dan melemparkan tatapan menuduh padanya. "Kurasa Nisaka tahu sesuatu," ucapnya. Tangannya terlipat di depan d**a. "Jelaskan padaku sekarang." "Apa yang kau temukan di perpustakaan siang tadi?" tanya Nisaka pada Karen. Membuat Hana mengangguk tanpa sadar dan melempar tatapan tanya pada majikannya. Karen menghela napas dan menceritakan kejadian itu pada keduanya. . . Maritz Azada mendengus kala tetua klan Parviz kembali berlutut dan bersujud di depannya. Memohon ampun dengan kelancangan salah satu anak didiknya dengan mencuri buku terlarang di dalam perpustakaan semalam. Parviz Zidan memalingkan wajahnya. Ada guratan lelah tergambar di wajah tampannya. "Yang Mulia, itu tidak akan terjadi lagi. Ampuni kami. Ampuni klan kami." Azada mengetuk jemarinya di atas kursi singgasananya. Dia tahu selama ini Zidan selalu mencoba menyembunyikan kebusukan di dalam klannya guna menjaga nama baik marga yang disandangnya dan sepertinya pria itu lelah. Azada paham betul arti ekspresi kecewa dan putus asa Zidan pada tetua yang masih bersujud di depannya. "Dia bodoh. Sangat bodoh menyentuh rak terlarang itu. Dia sudah diperingati. Dengan kematian salah satu penjaga perpustakaan, aku benar-benar menyesal sekarang. Semua sudah terjadi. Nasi telah menjadi bubur. Kita tidak bisa mengembalikan mereka yang telah pergi." Azada menyuruh Zidan mendekat. Jenderal Kelas Satu itu mendekat. Ada lirikan tajam yang Zidan layangkan pada tetua menyebalkan itu saat dia berjalan. "Kali ini permintaan maaf itu kembali kuberikan," suara Azada memecah keheningan yang menyesakkan. Zidan menunduk, tidak sanggup berkata apa-apa. "Aku tahu, seberapa keras usaha Jenderal Parviz untuk mengembalikan reputasi klannya yang buruk. Aku menghargainya. Begitu juga dengan penyesalanmu yang tulus," Azada melirik Zidan yang diam. "Mulai sekarang, anggota dewan akan dibawah pengawasan Jenderal Kelas Satu. Aku tidak bisa menjamin tidak akan adanya pemberontakan dari dalam tubuh anggota kerajaan. Berhati-hatilah kalian dari pedangku." Sesaat setelah mengucapkan ancamannya, Azada keluar dari ruangannya. Meninggalkan Zidan yang mengepalkan tangannya kuat-kuat dan membanting pedangnya. "Benar-benar kalian ..." desisnya tajam. "Aku bersumpah jika kalian melakukan pengkhianatan ini sekali lagi ... pedangku akan menjadi saksi kemarahanku. Aku bersumpah! Kalian benar-benar menguras segalanya dariku." . . "Jadi, Maritz Azada penyihir?" Karen menutup mulutnya tak percaya. Satu fakta baru yang benar-benar menamparnya telak. Nisaka tidak bereaksi apa-apa dan wajah kalut Hana juga menjadi reaksi yang lumayan mengejutkan. "Pantas dia tahu kemana saja aku pergi," Karen menggelengkan kepalanya. Matanya sontak melebar menyadari sesuatu. "Hei, apakah menurut kalian dia tahu kalau sedang kita bicarakan?" Karen memeluk dirinya sendiri. "Ini berbahaya. Pria itu berbahaya. Aku harus jaga jarak mulai dar sekarang. Kami tidak akan bisa berdekatan terus-menerus. Itu tidak baik untukku." "Tidak, selir!" ucap Nisaka cepat. Membuat Karen menaikkan alisnya. "Kenapa?" "Biarkan ini mengalir," Nisaka menarik napas. "Anggaplah kau tidak tahu dan bersikap biasa. Kita tidak ingin ada sesuatu yang membuat Raja Maritz curiga dan tentu saja itu berbahaya." "Kau benar," bisik Karen menyesal. Dia menatap langit di atas kepalanya. Wajahnya sendu dan kedua matanya meredup. "Takdir benar-benar kejam padaku," Karen memasang wajah ingin menangis. "Aku tidak pernah percaya sihir. Aku pikir sudah musnah. Dan sekarang? Pria itu, maksudku, raja itu ... memiliki ilmu sihir." Hana menunduk, dia tidak bisa menyembunyikan senyum gelinya ketika Karen menampilkan ekspresi ingin menangis dalam mimik wajah yang lucu. "Aku berharap aku bisa belajar ilmu sihir," Karen menatap Nisaka penuh antusias. "Menurutmu aku bisa? Jika raja memakai tangan atau matanya yang berubah merah darah jika sedang memakai ilmunya, apa aku perlu tongkat sihir? Atau tusuk sanggulku untuk mengeluarkan sihir itu?" Nisaka menggeleng. Membuat Karen kembali berwajah sedih. "Hanya yang memiliki darah tertentu yang bisa. Dalam kategori ini, hanya ada Maritz dan Parviz. Semalam saat kau masuk ke perpustakaan dan yang mencuri buku sihir dan kumpulan mantra berbahaya adalah klan Parviz." "Begitu juga yang kutemui siang tadi. Selir Parviz itu benar-benar belajar ilmu sihir di perpustakaan," Karen menggeleng. "Tidak bisa kupercaya." Nisaka mengangguk lirih. "Tidak perlu cemas, Karen. Aku rasa ilmu sihir selir licik itu tidak mampu menyaingi ilmu sihir yang Raja Maritz miliki. Kita semua aman selama semua terkendali dengan baik." "Kalau begitu, pria itu bisa menjadi penangkal ilmu sihir yang akan Selir Parviz layangkan padaku jika dia benar-benar menganggapku lawan untuknya," Karen menatap rumput di bawahnya. "Memikirkannya membuat kepalaku pusing. Pria itu berbahaya dan aku harus dekat dengannya agar semua baik-baik saja." "Terkadang takdir begitu konyol dalam menghubungkan benang yang satu dengan yang lainnya," Nisaka menggenggam tangan Karen. "Berjanjilah untuk tetap kuat. Kami ada di sini berdiri bersamamu." . . Karen baru saja melangkahkan kakinya dari area dapur saat dia melihat rombongan kerajaan berjalan ke arah mereka. Karen menoleh pada Hana yang langsung menunduk, dia baru saja ingin melarikan diri saat tahu semuanya terlambat dan percuma karena iris gelap itu sudah melihatnya dan tidak ada cara lain lagi selain ikut menunduk dan memberi salam. "Salam, Yang Mulia," ucap Karen pelan. Karen mengangkat kepalanya. Sedikit memundurkan langkahnya dan hampir saja kakinya menginjak kaki Hana yang seketika itu mundur. Karen tersenyum meminta maaf pada Hana dan kembali pada Azada. Dia berdeham sebentar dan kembali menunduk. "Apa yang kaulakukan?" "Memasak," jawabnya cepat. Hana masih menunduk, tidak berani menatap sang kaisar. Azada mengangkat alisnya. "Memasak?" Karen mengangguk. "Sesuai izinmu, Yang Mulia, aku pergi ke perpustakaan dan mencari buku masak. Lalu, mencobanya di dapur milik Nisaka," jawab Karen lagi. Zidan mengangkat alisnya, dia menatap Karen. "Apakah dapurnya baik-baik sa ..." "Oh, dapurnya hancur, Jenderal," sela Karen cepat dengan tawa ringan. "Lihat saja keadaan dapur di dalam. Nisaka punya tugas berat karenaku. Aku seperti sedang meracik peledak di dalam dapurnya." Dan kembali tertawa. Menyadari tatapan Azada yang datar. Begitu juga dengan Jenderal Kelas Satu yang sama sekali tidak tertawa dengan leluconnya membuat Karen menghela napas. Dia memasang wajah menyesal dan menunduk meminta maaf. "Aku bercanda," desahnya panjang. "Aku memang mencoba memasak sesuai buku yang k****a siang tadi." Karen menatap Zidan lalu bergantian pada Azada. "Kau benar-benar bisa melakukannya?" tanya Azada dalam. Karen mengangkat alisnya. "Memasak? Tentu saja. Untukmu, Yang Mulia, aku bisa memasak jika diperkenankan," Karen tersenyum kecil yang sayangnya sia-sia. Senyum itu lenyap. "Bagaimana aku tahu kalau kau tidak meracuniku?" Sialan. Karen tertawa ringan. Merasa tersinggung. Dia mengangkat kepalanya. Merasa terintimidasi di bawah tatapan Azada tetapi dia tidak takut. "Jika aku mau," suaranya berbisik rendah. Tapi mereka bisa mendengarnya. " ... aku sudah melakukannya sejak dulu." Karen mengangguk memberi salam dan pergi. Bersama Hana yang terus menunduk, tidak berani mengangkat kepalanya dan mengikuti Karen sampai menuruni tangga. Zidan menatap kepergian Karen dengan gelengan kepala. Tidak mengerti bagaimana bisa selir satu itu sedikit berbisa dalam ucapannya. Kepalanya menggeleng berulang kali. Dia tidak bisa melihat bagaimana ekspresi Azada yang menahan senyum dan kembali berjalan mendahuluinya. Meninggalkan Zidan di belakangnya. . . "Maafkan aku, Selir Parviz, aku tidak bersalah!" Karen berlari menerobos kerumunan bersama Hana yang meminta maaf pada dayang serta selir lainnya saat Karen tergesa-gesa mencapai barisan paling depan. Mata Karen melebar kala pedang yang sudah terasah itu terangkat di udara, siap menebas kepala yang terikat di depannya. "Apa yang terjadi?" Gazala menoleh dengan kengerian di wajahnya. "Dia mencuri hadiah dari Raja Maritz untuk Selir Parviz pagi tadi. Eksekusi harus dilaksanakan." "Apa selir memiliki kekuasaan seperti itu?" tanya Karen. Gazala mengangguk. "Kau pun sama, Selir Miura. Jika salah satu dari kami mengganggu atau mengusikmu, kau bisa menghukum kami. Tetapi jika mencuri atau melukai dan jatuh pada penganiayaan," Gazala menatap lurus ke depan dengan wajah pucat. "Kau bisa menyuruh prajurit untuk memenggal kepalanya." Karen menutup mulutnya. Tidak percaya dengan peraturan istana yang kejam menurutnya. Karen mencari-cari Selir Parviz di segala penjuru dan mendapati wanita bengis itu sedang berdiri dengan senyum puas saat tangannya terangkat dan pedang itu terayun sempurna. Membuat kepala itu lepas dari tubuhnya dan jatuh membentur tanah dengan keras. Karen menutup mulutnya, memejamkan matanya dan wajahnya yang memucat tiba-tiba. "Tinggalkan tempat ini!" Selir Parviz berteriak nyalang. "Biarkan saja di sana," suara Maritz Azada membuat Karen menoleh mencari sosok itu. "Biarkan burung pemakan bangkai memakan makanannya," ucapnya lagi. Karen mengangkat kepalanya, mengerutkan dahi tidak mengerti saat Azada bersuara lantang tak terbantah dan menatap Selir Parviz yang menggeram dalam diam mendengar titah sang raja. Para selir berhamburan pergi dan menyisakan Karen bersama Hana. Selir Parviz bersama dayangnya dan juga sang raja yang bersama Jenderal Kelas Satu berdiri dari tepi koridor. Karen melihat Selir Parviz berbalik dengan wajah memerah menahan marah dan Karen yang terdiam tanpa bisa berkata apa-apa. "Benar-benar," Karen menggeram dalam hatinya. Dia mengangkat kepalanya, menemukan Nisaka yang menggeleng sedih melihat kejadian itu. "Ini bisa saja tumbal," ucapnya. Karen menarik Nisaka agar dekat dengannya lalu bertanya apa maksudnya. Nisaka kembali bersuara. "Agar sihirnya berhasil mereka perlu tumbal. Kurasa, Raja Maritz tahu kalau Selir Parviz bermaksud lain. Dia menyuruh prajurit untuk tetap di sana sampai mayatnya habis dimakan burung pemakan bangkai. Lalu, mantra itu akan gagal." Karen menoleh, menatap lapangan yang luas dan berbalik pergi. Menjauh dari sana secepatnya. . . Karen mengendap-endap pergi ke luar saat para selir sedang tertidur. Dia sengaja ingin membuktikan ramuan obat itu di dalam dapur Nisaka saat dia mendapatkan sedikit dedaunan dari tabib yang ditemuinya setelah makan malam tadi. Karen tersenyum, tidak sabar ingin melihat hasilnya. Langkahnya tiba-tiba terhenti saat dia merasakan sesuatu yang buruk ada di depannya. Karen menunduk, mencari-cari kayu atau batu liar yang ada dan dia menemukannya. Setidaknya ada dua batu berukuran besar yang dia masukkan ke dalam keranjang dan tiga berukuran kecil di genggaman tangannya. Karen kembali melangkah. Ditatapnya semak-semak di dekat kolam ikan. Karen terlonjak saat ada anak panah melesat mengenai batang pohon di depannya. Wajahnya pucat seketika. Karen segera berlari saat dia mendengar langkah kaki mengejarnya dengan cepat. Karen mengangkat pakaian tidurnya. Mempercepat larinya saat ada anak panah lain yang melesat tepat di sampingnya, melukai telinganya hingga goresan pedih itu membuatnya meringis. Memejamkan matanya seraya berdoa. Sedikit lagi Karen sampai di Istana Merah, sedikit lagi. Tetapi dua anak panah kembali melesat dan kali ini benar-benar mengenai punggungnya. Menancap di punggung dan bahunya. Karen mencoba mencabut anak panah itu sampai dia melihat sosok wanita dengan pakaian tidurnya berjalan ke arahnya dalam pandangan samar karena matanya mulai memburam. "Kenapa ..." suara Karen tertatih. Tertelan rasa sakitnya sendiri saat anak panah itu membuat darahnya terus mengalir. " ... kaulakukan ini padaku?" tanyanya terbata-bata. Karen mendapati ada anak panah lain yang terbang menancap di pinggangnya hingga kegelapan menjemputnya total. Membuat Karen ambruk di atas tanah dengan darah terus mengalir. Menodai pakaian tidurnya yang berwarna putih gading dengan merah pekat berbau anyir. "Buang dia ke sungai. Tenggelamkan dia! Usahakan tidak tercium mayatnya. Biarkan mayatnya membusuk sampai dimakan hewan buas." Titah wanita itu dingin. Membuat tiga prajurit yang ada segera mengangguk mematuhi perintahnya. Mereka menatap Karen yang terluka parah dengan darah dimana-mana. Tubuhnya yang tidak sadarkan diri menjadi peluang besar agar tidak adanya keributan di dalam istana. Mereka memasukkan Karen ke dalam karung besar dan membawanya beramai-ramai ke atas kuda. Wanita itu menatap kepergian tiga bawahannya dengan senyum puas. Ada wajah bangga bercampur kepuasan tercermin di sana. Dia sangat puas. Teramat puas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD