11

1505 Words
Karen menghela napas panjang. Di depannya, Hana duduk dengan lipatan pakaian tidur di atas pangkuan. Karen mengamatinya dalam diam. Dipandanginya Hana lekat-lekat. Hana tidak menunjukkan wajah lelah atau letih sedikit pun. Gadis itu tidak pernah mengeluh dengan sifat Karen yang terkadang menyebalkan dan membuatnya kesulitan. Karen tanpa sadar tersenyum. Menyadari kalau gadis di depannya memiliki hati yang baik. "Apa menurutmu, aku bisa pergi dari sini?" Hana mengangkat kepalanya. Menyadari Karen bertanya padanya karena hanya ada dirinya dan wanita bangsawan di depannya. Duduk di tepi ranjang besar. Menatap jauh ke luar balkon yang menampilkan tirai emas bergoyang di peraduan milik sang raja. "Jika kau bersikeras," suara Hana pelan. Tampak meragu. Karen tersenyum miris. Menyadari betapa bodoh pertanyaannya dan itu semua sia-sia. Dia tidak akan pernah mendapatkan jawaban apa pun yang memuaskan dan membuatnya tetap tenang. "Kau mungkin akan mendapat masalah di kemudian hari. Atau di tahun berikutnya. Semua tidak akan mudah. Kehidupanmu setelah ini mungkin juga tidak akan baik-baik saja." "Aku mulai takut sekarang," Karen memainkan kedua kakinya yang tergantung. Tidak sampai menyentuh lantai kayu yang dingin. "Ada beberapa hal di istana yang membuatku takut dan gelisah. Aku takut tidak bisa melindungi diriku sendiri," Karen menatap Hana. "Melindungi kalian terutama. Karena diriku tidak memiliki apa pun untuk mencegah semua itu terjadi." Nada suaranya lirih. "Tidak ada yang perlu dicemaskan sebenarnya, Selir," Hana menaruh lipatan pakaian tidur Karen di atas kursi. "Selama kau bersama Raja Maritz, semua baik-baik saja. Raja akan melindungimu. Dia selalu mencoba menjadi tameng bagi para selirnya." "Pria itu licik," Karen berbisik. Melirik balkon yang terbuka. Menebak-nebak apa Azada akan tahu pembicaraannya secara pria itu tahu segalanya. "Sedikit mengerikan dan membuatku kesal terkadang. Yang paling penting, dia orang berbahaya. Aku sebisa mungkin ingin menghindarinya." "Reputasinya memang begitu. Sudah terkenal di luar kerajaan maupun di dalam," Hana mencoba menjelaskan. "Tidak ada yang tahu bagaimana dirinya. Banyak yang mengira, Selir Parviz mengetahui segalanya tentang Raja Maritz dan semua itu kosong. Selir Parviz yang bertahun-tahun duduk di podium tertinggi juga tidak tahu apa-apa." Karen mendesah berat. Dia melempar tubuhnya di atas ranjang. Memejamkan matanya rapat-rapat dan sekali lagi, menghela napas panjang. . . "Cukup! Biarkan saja rambutku terurai!" Ayyara menyisir rambutnya dengan gemas karena penata rambut khusus para selir tidak bisa menata rambut pirang panjangnya dengan benar. Ayyara menatap pantulan dirinya di cermin. Mendapati ada rasa bersalah dan menyesal di kedua manik hitam milik gadis muda itu. Membuatnya menghela napas dan berbalik, menyunggingkan senyum tipis. "Maafkan aku. Hanya saja, aku sedikit memperhatikan penampilan rambutku," Ayyara memutar matanya, berpikir sesuatu. "Bagian yang paling kusuka dari diriku adalah rambutku. Aku sensitif dengan itu. Tidak perlu merasa bersalah seperti itu," pintanya seraya mengusap lengan gadis itu yang masih tertunduk malu. Anggukan kepalanya membuat Ayyara tersenyum kecil dan kembali berbalik menatap cermin. "Putri Ayyara sangat cantik memakai hiasan rambut itu," pujinya saat keberaniannya telah terkumpul sempurna. Ayyara menatap wajah gadis itu dan tertawa pelan. Dia menunjuk jepitan rambut dengan bentk bunga berwarna keemasan dengan telunjuknya. "Kau yang membawanya. Aku memakainya. Apa terlihat bagus?" Gadis itu mengangguk dengan senyum. Ayyara memutar tubuhnya dan menatap kumpulan aksesoris rambut yang ada di kursi. "Darimana kau mendapatkannya?" Gadis itu menoleh menatap kumpulan aksesoris rambutnya dan tersenyum. "Kami memesan langsung dari pengrajin emas di perbatasan. Ini emas murni dan perak untuk hiasan para selir di istana. Dan untuk yang ini," gadis itu menunjuk jepitan rambut yang dipakai Ayyara. "Raja Matteo menyuruhku untuk memasangkan ini padamu saat aku datang kemari." Ayyara tanpa sadar menyentuh jepitan rambutnya. Dia menatap mata gadis itu yang polos dan berbinar. Dia masih terlalu muda dan tidak ada kebohongan di dalam kedua matanya. Ayyara segera berbalik menghadap cermin. Mendapati kilauan sinar dari jepitan emas yang terpantul cahaya matahari dari balkon kamarnya yang terbuka. Tanpa sadar kedua matanya meredup, menggeram dalam hati dan terdiam dalam waktu yang lama. . . Karen terdiam dalam langkahnya. Mengamati lekat-lekat istana besar yang saling bersebelahan satu sama lain dengan megah. Seakan ingin mendominasi satu sama lain walau yang memiliki aura kuat dan gelap adalah istana di tengahnya. Istana Kerajaan. Karen bergidik, menatap istana milik Maritz Azada saja membuat bulunya meremang. Hana ikut terdiam di samping Karen. Mereka sama-sama mengamati istana yang sepi dengan pikiran masing-masing. Karen menghela napasnya. Dia menatap Hana yang masih menatap lurus pada Istana Putih. "Istana Putih terlihat menyeramkan bagiku," Hana membuka percakapan. Dia menatap Karen yang kini bergantian menatap Istana Putih. "Bertahun-tahun tak dihuni. Dibiarkan kosong dan membiarkan kenangan yang menemaninya. Tetapi jika kau masuk, di dalam istana seperti berpenghuni. Mereka selalu membersihkannya tanpa terlewat sedikit pun." "Rajamu bisa saja mengangkat Selir Parviz menjadi permaisuri dan semua selesai sebenarnya," Karen menggeleng dengan jengkel. "Pria itu punya selera tinggi yang tidak jelas. Di saat raja lainnya memiliki pendamping, dia sendiri. Saat yang lain punya seseorang untuk bersandar, dia sendiri," Karen lagi-lagi menggeleng miris. "Rajamu benar-benar sombong. Aku heran padanya." Hana terkekeh geli dengan ucapan Karen. "Terkadang ada hal yang membuat kita berpikir panjang tentang teman hidup, Selir Miura," Hana menatap Karen lembut. "Aku banyak membaca tentang buku-buku yang menceritakan kisah hidup manusia mencari pasangannya. Mungkin Raja Maritz belum menemukan yang terbaik untuknya dan masih mencari." Karen mendesah berat. "Jika dia bosan dengan selir nyentrik itu, seharusnya dia memilih selir lainnya yang menunggunya," Karen menatap Istana Putih sekali lagi. "Cukup menyeramkan jika dilihat lekat-lekat. Istana itu seperti menyimpan duka," lirihnya. Hana mengangguk. "Kematian. Tentu saja menyimpan duka." Karen melirik Hana yang melangkah lebih dulu. Dia ingin bertanya lebih jauh, tetapi diurungkannya. Diam adalah jawaban terbaik. . . Karen menatap pintu perpustakaan yang terbuka lebar dengan dua prajurit berpedang yang menjaga di sisi kanan dan kiri. Karen melihat salah satu prajurit itu menatapnya, membuatnya melirik prajurit yang bersembunyi di balik topeng itu dengan delikan tajam. "Kau berpikir aku akan mencuri buku itu karena semalam, begitu?" tuduh Karen. Prajurit itu segera menggeleng dengan tundukan hormat dan rasa menyesal. Membuat Karen mendengus dan masuk ke dalam. Meninggalkan Hana dalam kebingungan setelah dia mengikuti Karen masuk ke dalam perpustakaan. Perpustakaan siang ini tampak ramai. Meski didominasi oleh para selir yang ingin membaca dan ditemani dayang mereka serta beberapa ahli perpustakaan yang duduk jika selir ingin bertanya sesuatu. Mereka berdiri dan mengangguk hormat saat Karen masuk. Sungguh, perlakuan berbeda saat selir lainnya datang. Karen tersenyum kaku, dia ikut mengangguk dan bersikap hangat saat mereka kembali duduk dan membaca buku dalam diam. "Kau tahu dimana buku tentang meracik obat berada?" bisik Karen pada Hana saat mereka berjalan memutari rak dan tidak menemukan buku yang menarik selain ilmu politik, tata krama dan peraturan kerajaan. "Sepertinya ada di ujung dekat jendela, Selir Miura." Karen melompat sambil memegang dadanya yang berdentam tak beirama. Dia menarik napas lalu membuangnya. Begitu juga Hana yang segera memberi salam dan wanita itu terkikik geli. "Kau mengejutkanku, Putri Gazala," ucap Karen datar. Gazala hanya tertawa dan menunduk dalam. "Maafkan aku. Hanya terkejut melihatmu di sini untuk membaca." Karen tersenyum malu. Dia kembali bersikap santai saat Gazala mengenalkan beberapa buku padanya. Gazala terhitung rajin pergi ke perpustakaan. Dia jarang mendapatkan banyak ilmu saat berada di desa dulu. Perpustakaan ini tentu saja seperti surga baginya. Dibuka untuk keluarga kerajaan seperti dirinya. Seperti kesempatan emas yang tidak akan didapatinya dua kali. "Ada yang ingin kau ketahui sepertinya?" Karen menatap kumpulan buku-buku di rak dan mengangguk. "Tentang meracik obat." Gazala terkejut. "Kau bisa melakukannya?" Karen mengangguk. Tersenyum bangga. "Aku bisa menggantikan tabib Istana Bunga jika diperkenankan," suara tawanya mengalun. "Aku bisa meracik obat jika aku tahu dimana mereka menaruh tumbuhan itu. Sayangnya, aku tidak tahu." Gazala mengangguk menyetujuinya. "Benar. Aku sendiri tidak tahu." "Tinggalah sebentar di sini Hana, aku akan kembali." Karen pergi menuju rak paling ujung dekat jendela. Di sana tampak sepi karena sepertinya para selir tidak tertarik dengan ilmu meracik obat, memasak dan menjahit. Kebalikan dengan Karen yang menyukai ketiga kegiatan itu. Para selir lebih sering membaca tentang tata krama, sejarah kerajaan dan ilmu politik. Karen mendekati rak ketiga dari jendela. Matanya menyipit saat membaca tiap judul yang ada di samping buku. Senyumnya timbul saat dia melihat satu buku tentang daun-daunan yang ada di hutan liar yang bisa dijadikan obat ampuh untuk segala penyakit dan racun. Tanpa buang waktu, Karen menarik buku itu keluar dari rak dengan hati-hati dan tersenyum kecil. "Aku bisa ... aku pasti bisa menggunakan sihir ini." Kerutan timbul di dahi Karen saat mendengar suara itu. Pelan tapi terdengar tegas dan penuh keyakinan. Karen memeluk buku itu dadanya. Dia berbalik, mencoba mencari tahu di mana sumber suara itu berada dengan hati-hati. "Sihir ini aku yakin mampu melumpuhkan lawanku," suaranya terdengar lagi. "Juga agar Maritz Azada jatuh cinta padaku. Tidak akan berpaling dariku." Dan yang terakhir benar-benar membuat Karen merinding. Dia gila? Batin Karen bertanya. Karen mengintip saat dia benar-benar mendengar suara tawa seorang wanita. Benar-benar membuat dadanya berdetak cepat dan wajahnya pucat. Karen menarik salah satu buku dan sedikit membungkuk guna melihat siapa dibalik tawa mengerikan itu. Mulutnya terbuka lebar. Dia jelas tahu siapa yang duduk menghadap jendela. Dandanan nyentrik dan sanggulan super besar itu tidak bisa membodohinya. Karen menggigit bibir bawahnya saat wanita itu membaca kata demi kata yang tertulis di dalam buku. Membuat suara tawa itu kembali terdengar dan lagi-lagi membuat bulu Karen meremang. "Apa yang dia baca?" bisik Karen pada dirinya sendiri. Karen segera pergi dari sana setelah mengembalikan bukunya ke tempat semula dan menatanya seolah dirinya tidak pernah pergi ke sana. Dia masih memeluk buku meracik obat di dadanya dan berlari menghampiri Hana lalu menariknya pergi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD