Mereka sampai di pasar yang ramai. Beberapa pedagang berteriak menjajakan dagangan mereka. Suasana pasar yang ramai dan terkendali membuat Karen harus turun dari kudanya, membawa kuda jinak itu dan mengikatnya di batang pohon besar jalan masuk ke dalam pasar yang sempit. Nisaka ikut turun bersama Hana. Mereka masih memakai tudung jubah hitam untuk penyamaran.
"Selalu ramai seperti ini?" tanya Karen.
Nisaka mengangguk. Hana menatap aksesoris rambut yang ada di atas meja.
"Berapa harga untuk hiasan rambut berbentuk bunga ini?"
Karen menoleh saat mendengar suara Hana. Dia tertarik dan segera mendekat.
"Hanya dua koin perak," ucap wanita paruh baya itu dengan suara serak dan senyum cerah. Berharap mereka membeli dagangannya. Karen menatap kumpulan aksesoris rambut itu. Memang tidak dibuat dari emas atau perak yang berharga puluhan koin emas. Hanya saja aksesoris itu terbuat dari bahan sederhana yang diukir cantik terlihat indah dipandang.
"Berapa harga semua aksesoris ini?" tanya Karen. Nisaka dan Hana menoleh bersamaan. Terkejut dengan ucapan Karen. Mereka tidak membawa uang dan Karen bertanya harganya? Batin keduanya.
Wanita paruh baya itu tersenyum semakin lebar. Dia menunjuk aksesoris berbentuk daun dan buah. "Untuk dua ini gratis kuberikan," dia membungkus semua aksesorisnya dan Karen melepas gelang emasnya. Hana menutup mulutnya yang terbuka dan Nisaka menggeleng.
"Maafkan aku," Karen memberikan dua gelang emasnya. "Aku tidak membawa koin untuk membayar belanjaan ini. Bagaimana jika aku memberikan gelangku? Ini mungkin tidak seberapa tapi kurasa ini cukup membayar daganganmu."
Wanita itu terkesima menatap dua gelang emas yang Karen berikan. Dia tentu saja tahu harga gelang ini. Jelas saja wanita yang membeli dagangannya adalah seorang bangsawan kelas atas. Gelang ini bukan gelang main-main. Satu saja gelang itu dijual bisa mencukupi kebutuhan keluarganya untuk waktu yang lama.
"Terima kasih banyak." Matanya berkaca-kaca. Karen segera menyambut uluran tangan wanita itu dan tersenyum hangat. "Sama-sama. Semoga kebahagiaan dan berkah selalu datang padamu," dia mengangkat kain mungil berisi aksesoris rambut itu di depannya. "Juga untuk aksesoris cantik ini. Terima kasih."
Karen segera pergi diikuti Nisaka dan Hana yang terus memandangi para penjual di pinggir jalan. Mereka kagum dengan suasana pasar yang ramai tapi tetap tertib. Mata Hana membulat saat menemukan prajurit istana sedang berkeliling melihat kondisi. Tangannya dengan cepat menepuk bahu Nisaka dan Nisaka dengan sigap menarik Karen untuk bersembunyi di balik dinding sempit pasar. Jantung Hana dan Nisaka berdebar keras dan Karen terkikik geli melihat wajah kedua sahabatnya yang pucat.
Setelah kondisi aman dan prajurit itu telah jauh dari pandangan mereka. Hana kembali menarik Nisaka ke luar. Sayangnya, Karen lepas dari pengawasan mereka. Nisaka memucat, begitu juga Hana yang langsung berlari mencari Karen dengan menggandeng Nisaka.
"Kau tahu tidak kalau perpustakaan kerajaan menyimpan buku-buku kuno yang bagus dan mahal? Andai saja aku diberi kesempatan ke sana, aku akan membaca buku itu seharian dan pulang dengan ilmu baru," ucap salah satu gadis kecil berusia delapan tahun bersama dua teman laki-lakinya.
"Benarkah perpustakaan itu sangat lengkap?"
Gadis kecil itu menjerit dengan kedua teman laki-lakinya yang terkejut dengan kehadiran Karen di belakang mereka. Karen terkekeh geli, dia berjongkok guna menyamakan tiga anak-anak itu. Senyum masih mengembang di bibirnya. "Hai, aku Karen."
"Namaku Hani, ini Chiro dan Daisuke," tunjuk gadis kecil itu pada dua temannya yang lebih kecil darinya.
"Oh, hai, salam kenal. Senang melihat kalian." Karen menatap wajah mungil nan menggemaskan itu dengan senyum tertahan.
"Maafkan aku, tapi darimana asalmu?" tanya gadis itu.
"Aku kehilangan jejak bersama dua temanku. Aku sedang menunggu mereka mencariku karena aku tidak begitu tahu jalan ini," ucap Karen. Dia menatap manik ungu milik gadis kecil itu sungguh-sungguh. "Apa kau putri dari pedagang di sini?"
Dia mengangguk.
"Apa kau seorang bangsawan?"
Karen menoleh pada Chiro, anak kecil berambut hitam legam sama seperti Azada itu yang memandangnya penuh selidik tetapi dengan mimik wajah menggemaskan. Karen menggeleng singkat sebagai jawaban. "Apa aku terlihat seperti seorang bangsawan?"
"Kalungmu, Putri. Juga rambut merah mudamu. Itu sangat indah," ucap Daisuke dengan binar cerah. "Aku tidak pernah melihat rakyat biasa seperti kami secantik dirimu. Kulitmu juga bersih," Karen tersipu dengan ucapan anak itu hingga dia mencubit pipinya dengan gemas.
"Sebentar, bisa kutahu tentang perpustakaan Kerajaan Maritz? Apa ada yang salah?"
Gadis itu menggeleng. "Tidak ada. Perpustakaan itu pada awalnya dibuka untuk umum. Ibuku bilang, perpustakaan itu banyak menyimpan ilmu-ilmu penting untuk meracik obat, ilmu sihir dan ilmu lainnya yang berguna. Tapi perpustakaan itu ditutup saat ada penyusup mencuri salah satu buku leluhur. Aku tidak tahu lagi kelanjutannya."
"Ah," Karen ikut sedih melihat air muka gadis kecil itu.
"Selir Miura!"
Karen menoleh. Mendapati dua wajah pucat yang berlari bersama saling bergandengan tangan. Karen segera berdiri dan ketiga anak kecil itu berlari menjauhi Karen. Kepalanya menoleh, mendapati ketiga anak itu berlari dan tidak lagi terlihat.
.
.
Karen membuka tudung kepalanya. Menatap pintu perpustakaan yang tertutup rapat tanpa penjagaan. Dia pergi tengah malam tanpa Hana menemaninya. Karen menoleh ke kanan dan kirinya, tidak mendapatkan apa pun yang mencurigakan, dia masuk ke dalam dengan hati-hati.
Cahaya lilin yang temaram membantu langkahnya agar tidak tersandung kakinya sendiri. Karen melirik rak-rak yang menjulang tinggi, menatap ratusan bahkan ribuan buku yang tersusun rapi di dalam rak kayu.
Suara langkah kaki samar-samar membuatnya waspada. Karen menutup kembali tudung kepalanya dan bersembunyi di bawah meja kala suara kaki itu semakin keras terdengar sampai ke telinganya. Dia menutup mulutnya rapat-rapat saat cahaya lain dari arah barat mengejutkannya. Karen tidak bisa melihat sosok itu sampai langkahnya berhenti di depannya. Tepat di depannya.
"Akhirnya ... aku bisa mendapatkan ilmu sihir itu haha! Mati kau, Maritz Azada!"
Dahi Karen mengernyit kala suara serak itu mengganggunya. Karen merasakan kaki pria itu menginjak tangannya. Karen mengaduh pelan, tidak bisa dihindarkan rasa sakit itu saat cahaya lilin itu mengarah ke wajahnya. Karen menjerit tertahan dan segera dia berlari setelah memukul wajah pria itu.
"Berhenti kau!" Karen berlari mengangkat jubah dan gaunnya. Pria itu berhasil mengenai tudung jubahnya dan menarik ikatan rambutnya hingga rambut merah muda panjangnya terurai. Karen terus berlari, bersembunyi dan membuat buku-buku di sana berhamburan saat Karen mencoba melempari pria itu dengan buku di perpustakaan.
"Sial, Selir Miura! Mati kau!"
Karen terus berlari sampai dia melihat pintu keluar perpustakaan dan mendorongnya hingga tubuhnya terlempar ke atas rumput yang kasar. Sikunya berdarah saat bergesekan dengan batu dan tanah yang kasar. Karen segera berdiri saat pria itu memegang belati runcing untuk menusuknya.
"Tidak!"
Karen siap melindungi tubuhnya saat ada sosok lain berdiri di depannya. Mata Karen sontak melebar kala mendapati Maritz Azada berdiri tanpa baju kebesarannya dan jubahnya. Pria itu hanya memakai pakaian tidurnya. Matanya nyalang menatap pria itu yang kini berlutut memohon ampun padanya. Karen menunduk, mendapati luka goresan cukup dalam di telapak tangan pria itu dan menahan kengeriannya karena darah itu semakin deras mengalir.
Zidan melempar pedang miliknya pada Azada dan pria itu dengan cepat menangkapnya. Melayangkan satu tebasan pada kepala sang pelaku yang kini terbelah antara kepala dan tubuhnya. Jatuh terkapar di atas tanah dengan darah terus mengalir deras.
Zidan tanpa suara membereskan kekacauan ini bersama dua anak buahnya. Karen menatap pemandangan itu dengan mata berkaca-kaca dan Azada menatapnya dingin. Dia menatap telapak tangannya yang terkena belati hingga merobeknya dengan datar dan kembali pada Karen.
"Dia, bukankah dia ..."
Karen belum melanjutkan ucapannya saat Azada menarik tangannya pergi menjauh dari sana dan Karen yang pasrah hanya mampu diam, menundukkan kepalanya dan menahan tangisnya kuat-kuat.
.
.
"Untuk apa kau pergi ke perpustakaan?"
Karen mengangkat kepalanya. Dia mengikat simpul terakhir dari kain yang melingkupi luka Azada dengan kencang sebelum membukanya setelah lukanya mengering. Tatapan matanya menilai wajah Azada yang terlalu datar sebelum dia menghela napas.
"Ingin tahu sesuatu," jawab Karen singkat.
Alis Azada terangkat. "Kau bisa bertanya padaku kalau kau ingin tahu."
"Sama saja cari mati," Karen menaruh tangan Azada di atas meja. Menatapnya. "Yang kulakukan juga sebenarnya sama. Hanya saja, entahlah," Karen memijit kepalanya. Azada menatapnya dalam diam.
"Aku rasa ada sesuatu yang salah saat kau kembali dari pasar siang tadi."
Karen menoleh dengan mata melebar terkejut. Dia melihat Azada tersenyum miring padanya. Dengan salah satu tangan bersimpu di atas meja menopang pipinya. "Sejauh mana kau bisa membodohiku, selir. Aku tahu segalanya."
"Dan kau membiarkanku?"
Azada mengangguk. "Kau dan dua teman pemberontakmu."
"Jangan salahkan mereka. Hukum aku."
Azada tersenyum. Kali ini lebih lebar. "Sudah kuduga kau akan menjawab pertanyaanku dengan kalimat yang sama."
"Aku yang membawa mereka pergi."
"Bukan sesuatu yang mengejutkan sebenarnya," Azada membawa tangan Karen ke dalam genggaman tangannya yang besar. Karen meringis melihat luka Azada di dalam balutan kain itu. "Kau dengan sifat pemberontak dan keras kepalamu menjadi lawan yang manis untukku."
Karen terdiam. Tidak menyangkal ucapan Azada.
Azada tersenyum samar. "Silakan. Pakailah perpustakaan itu sesukamu. Cari apa yang kau mau. Kau mendapat izin dariku," Azada menyentuh hidung mancung Karen dan mencubitnya lembut. "Bebas. Lakukan apa yang kau mau di sana. Kecuali jam malam seperti ini."
Karen mendengus kesal. "Jika aku pergi di pagi hari mereka akan curiga. Aku jarang membaca," gumam Karen. "Jika malam hari ... entahlah, mungkin aku bisa membawa buku itu ke kamarku."
Azada mengeratkan genggaman tangan mereka. Mendekatkan wajah mereka hingga tatapan Karen yang tidak kenal takut tertancap padanya.
"Kau menyukaiku?"
Dahi itu berkerut.
"Kau menyukaiku?"
Karen menggeleng. Azada menatapnya. Tidak ada kebohongan di sana.
"Jatuh cintalah padaku," suara Azada melembut. "Hanya padaku."
"Jika aku tidak mau?"
"Aku memaksa."
Karen mendengus menahan geli.
Menatap wajah tampan di depannya, Karen memiringkan wajahnya, mencium bibir Azada singkat. Hanya dalam kedipan mata Karen menjauhkan wajahnya. Dia melepas genggaman tangannya dan Azada menatapnya dalam diam. Datar tanpa ekspresi.
"Untuk menyelamatkanku malam ini, Yang Mulia."
Pandangan Azada mengikuti Karen yang berdiri dan menunduk memberi salam dan hormat padanya. Karen segera berbalik, memasang tudung kepalanya keluar dari kamar Azada saat dua prajurit yang berjaga segera menutup kembali pintu kamar sang raja.
Azada terdiam, menatap air mancur kecil di dalam kamarnya dengan pandangan kosong sebelum senyum miringnya timbul tiba-tiba.
Ah, wanita itu benar-benar tidak terduga, batin Azada bersuara keras.