Manhattan, United States of America.
08:00 PM.
Author Point of View
[Flashback]
Salah seorang suster berjalan mendekati Lucas malam itu.
Dimana malam yang tak pernah diharapkan olehnya terjadi.
Suster tersebut menepuk bahunya membuat Lucas mendongakkan wajahnya.
"Mr. Graves?", tanya sang suster.
Lucas mengangguk, "Ya?",
Suster itu menyodorkan sebuah amplop berwarna putih kepadanya.
"Apa ini?", tanya Lucas bingung.
"Itu sebuah surat dari Mr. Reid sebelum ia meninggal", jawabnya pelan.
Tangan Lucas terhenti di udara dengan surat itu sudah berada di genggamannya.
Jantungnya berdetak cepat melihat surat itu, ia tak yakin apa isinya, tapi, jantungnya seolah tahu apa itu.
"Saya permisi...", pamit sang suster.
Lucas hanya mengangguk kaku.
Ia duduk di bangku lorong rumah sakit yang sangat sepi.
Ia masih menatap surat itu.
Tangannya bergetar pelan seraya membuka penutup amplop.
Dikeluarkannya selembar kertas yang ia jelas tahu itu tulisan Jasper.
Meski tulisan itu tampak sedikit tak beraturan letaknya.
Lucas membacanya dalam hati.
---
Dear, Lucas Graves.
Terima Kasih kau pernah mencintai wanitaku.
Itu berarti, kau mempermudah semuanya suatu saat.
Ya, suatu saat dimana aku akan pergi dari dunia ini meninggalkan kalian semua.
Meninggalkan istriku, Alice dan Jace Beverly Reid, putri yang akan selalu aku sayangi.
Saat kau membaca surat ini berarti aku sudah tidak bersama kalian.
Dan untuk itu, aku mememinta tolong padamu.
Tidak... Lebih tepatnya aku memaksamu untuk melakukan sesuatu.
Sebelum aku memberitahumu apa yang aku inginkan.
Tanpa kau beritahu siapapun.
Aku tahu bahwa kau sebenarnya masih menyimpan perasaan pada Alice.
Aku tahu kau menyesali perbuatanmu.
Dan aku tahu kau selama ini berusaha merelakannya untukku meski sesekali kau mulai bertekad metebutnya.
Terima Kasih, aku sangat berterima kasih karena hal itu menjadi kesempatan untukku.
Kau memberiku kesempatan bagaimana rasanya mencintai seseorang yang sangat berarti.
Yang kau rela memberikan napasmu baginya.
Tapi, aku juga meminta maaf. Aku terlalu dalam mencintai Alice sehingga aku takut.
Aku takut bila dia tak bisa merelakanku pergi.
Dan aku juga sangat yakin, Alice tak akan mudah untuk berpaling dariku dan membuatmu dalam posisi yang sulit.
Ini permintaanku...
Ketika kau membaca surat ini, aku harap kau masih menyimpan perasaan cintamu pada Alice.
Kau pasti bungung kenapa,
Jawabannya adalah aku ingin mengembalikan apa yang seharusnya jadi milikmu.
Cintailah Alice seperti aku mencintainya.
Jagalah dia seperti aku menjaganya.
Aku tahu kau bisa lebih baik dariku.
Dan karena itu aku juga ingin kau menjaga putriku juga. Jace.
Aku ingin kau berusaha sekali lagi untuk Alice, Lucas.
Meski kita tahu Alice bukanlah wanita yang mudah untuk diambil hatinya.
Tapi, sudah ku katakan, aku percaya padamu.
Aku percaya kau bisa mengembalikan kebahagiannya yang hilang karenaku.
Jangan pernah menyerah untuknya, Lucas.
Aku tahu hanya kau yang bisa mencintainya tulus...
Dan memang bila aku bisa melihat kalian semua diatas sana.
Aku ingin melihat kalian berdua berdiri di altar.
Aku ingin melihat Alice dengan gaun putihnya berdiri disampingmu...
Regard,
Jasper Reid.
---
Setetes air mata mengalir di pipi Lucas.
Ia menangkupkan sebelah tangannya pada wajahnya.
Terisak pelan berusaha mengeluarkan emosinya.
Ia tak pernah berpikir akan jadi seperti ini pada akhirnya.
Dan pikirannya berkecamuk saat ini...
Memikirkan kedepannya akan seperti apa membuat Lucas tak bisa berkata apa-apa.
Apa ia bisa mengikuti permintaan Jasper?
Sedangkan dirinya yakin bila Alice tak akan semudah itu menerima semuanya.
Yang terpenting juga adalah...
Apakah Alice juga mendapatkan surat yang sama dengan dirinya?
...