Lucas Poin of View
Apa yang terpikir oleh kalian saat mendengar kata rindu?
Itulah yang aku rasakan saat ini.
Rindu akan orang yang ku cintai tapi aku tak mengetahui apa orang yang aku cintai itu rindu kepadaku juga?
Lebih baik begini, lebih baik aku tak tahu jawabannya...
Aku tidak ingin dirindukan seseorang saat orang itu kesepian atau lelah akan sesuatu.
Aku ingin dirindukan seseorang disaat orang itu berada di keramaian, menyadari bahwa aku sangat berarti untuknya.
Dan, apakah Alice masih menyisakan cinta yang dulu pernah ada sampai saat ini?
Jawabanku ada dua.
Hati kecilku berharap bahwa ada setitik harapan.
Tapi, untuk otakku, pikiranku, bertentangan dengan hatiku.
Dikepalaku selalu terngiang sebuah kalimat, bahwa Alice masih mencintai Jasper dan tak akan berhenti mencintai Jasper.
Kulipat kembali surat terakhir pemberian Jasper untukku.
Aku memasukan kertas itu kedalam amplopnya dan kuletakan surat itu di laci meja kerjaku.
Kulirik jam yang menempel di dinding.
Jarum panjangnya berada tepat di angka sembilan dan itu berarti kurang lima belas menit lagi jam kantor akan usai.
Meskipun telat usai, tak ada niatan diriku untuk beranjak dan bersiap membereskan pekerjaanku.
Inilah hidupku saat ini.
Hanya pekerjaan yang mampu mengisi hari-hariku selain mencari Alice selama hampir empat tahun ini.
Yah, empat tahun bertepatan dengan hari ulang tahunku yang ke tiga puluh dua.
Orang tuaku bahkan memaksaku segera menikah.
Aku menolak, menolak karena aku masih harus menunggu Alice kembali.
Dan hanya tersisa setahun lagi ultimatum orang tuaku atau aku dipaksa menikahi orang lain yang tidak ingin aku nikahi.
Dan aku harap dalam waktu setahun lebih ini aku bisa menemukan keberadaan Alice. Yang itu artinya empat bulan dari sekarang karena aku butuh setahun.
Setahun itu haruslah cukup aku membuat Alice jatuh lagi kedalam pelukanku.
Membuatnya mencintaiku seperti ia mencintai Jasper.
Tanpa ada perasaan kasian kepadaku atau karena surat itu meski aku tidak tahu apakah Alice tahu tentang permintaan Jasper itu.
Untukku? Aku sendiri mencintainya sampai sekarang. Meski aku sempat jatuh bangun dan pernah menyerah padanya.
Aku mencintainya tanpa Jasper harus memintaku.
Aku mencintainya karena kekurangannya. Bukan kelebihannya.
Aku menghela napasku beberapa kali saat ponselku berdering.
Sebuah foto seorang wanita terpampang disana membuatku mengusap wajahku kasar.
Inilah yang aku katakan tadi, orang tuaku memaksaku menikahi wanita ini.
Wanita yang merupakan anak dari rekan bisnis ayahku dan juga merupakan seorang model terkenal.
Aku terdiam sejenak, dilema antara mengangkat panggilan itu atau tidak.
Alena Reeves, wanita itu.
Dia terlalu banyak berharap padaku membuatku kasian padanya.
Ia seharusnya mencintai orang lain, bukan diriku.
Layar ponselku kembali mati dan hanya layar hitam yang terlihat.
Tapi, detik berikutnya, layar itu kembali menyala menampilkan foto Alena lagi disana.
"Alena...", desahku pelan.
Aku merasa jadi pria yang sangat b******k dimuka bumi ini.
Ini kedua kalinya aku merasa seperti itu dan sebelumnya pada Alice.
Aku bingung harus bersikap bagaimana dengan wanita itu.
Alena terlalu mirip dengan Alice, lembut dan penyayang.
Membuatku tak bisa berkutik atau menolaknya.
Dengan terpaksa kuangkat panggilan itu. "Halo?", sapaku.
"Halo Luke? Kau sedang sibuk ya?", tanyanya lembut.
Aku menahan napasku, "Alena... Sudah ku katakan berapa kali jangan memanggilku Luke", ujarku berusaha tenang.
"Kenapa?",
"Aku tak suka dengan nama Luke karena nama itu mirip dengan pecandu narkoba yang tertangkap di Chicago", jawabku berbohong.
"Kau selalu menjawab seperti itu. Sangat tidak masuk akal. Kau menyembunyikan sesuatu...", balas Alena. Nadanya terdengar sedikit kecewa karena aku masih tak memberikan jawaban jujur. "Kenapa?", tanyanya lagi.
Kenapa? Karena hanya Alice yang boleh memanggilku seperti itu.
Dia yang pertama membuat nama panggilan untukku dan dia juga yang harus memanggilku seperti itu.
Bukan orang lain terutama wanita... Batinku.
"Alena... Lupakan saja. Kenapa kau menghubungiku?", aku mengalihkan pembicaraan.
Alena terdengar menghela napasnya.
"Apa kau sudah memakan makanan yang aku kirim ke kantormu tadi?", tanyanya pelan.
Aku yakin dia berusaha tersenyum saat ini.
Aku melirik kearah kotak makan yang kuletakan di atas meja tamu.
Sangat jelas kotak itu masih didalam bungkusan rapi.
"Sudah...", jawabku, "Terima kasih...", tambahku.
Dua kali aku berbohong padanya.
Dan hanya inilah yang bisa membuatku bertahan.
Kepura-puraan inilah yang menjadi obat rinduku akan Alice.
"Sama-sama, Lu-cas", ia seperti tak nyaman dengan memanggilku Lucas.
Kami berdua terdiam sejenak membuatku berpikir.
Pasti, Alena menungguku menayakan keadaannya ataupun tentang apapun yang berhubungan dengannya.
Dan inilah yang kubenci meski ada sisi untung bagiku, aku harus berpura-pura seolah aku peduli padanya yang kuanggap seorang Alice.
Aku membuat wanita lain sedih dan kecewa.
Alena pasti tahu aku hanya kasian padanya.
Tapi, wanita itu tak menyerah selama dua tahun ini.
"Kau ada dimana?", tanyaku.
Alena menjawab, "Aku ada di Gedung Agencyku", jawabnya cepat. Suaranya terdengar gembira.
Aku berusaha tersenyum, "Nanti malam kau jangan pulang bersama asistenmu. Aku akan menjemputmu. Tunggulah...",