5. Someone To Remember

827 Words
Alice Point of View Cahaya matahari tak mampu menembus awan kabut. Meskipun begitu, matahari masih mampu menjadi cahaya penerang awan hingga terciptalah langit yang cerah. Untuk cahaya hatiku yang telah redup. Aku berharap cahaya itu akan kembali. Tapi hatiku tak rela bila cahaya lain yang menggantikannya. Kusapukan tanganku menghapus embun di jendela jet. Kutatap hamparan awan di sisiku. "Mommy, where are we going?", Aku menoleh. Aku tersenyum manis kepada putriku, Jace. Kuangkat tubuhnya yang ringan dan kududukan diatas pangkuanku. Aku memeluknya dari belakang. "We will go to America, sweetie", "Why? How about my school, mom?", Tanyanya. Aku terkekeh pelan. Diusianya yang sangat muda ini, Jace sangat menyukai yang namanya sekolah. Aku yakin saat ia besar nanti pasti akan jadi sama dengan anak-anak lainnya. Membenci yang namanya sekolah, atau apa namanya yang biasa disebut mereka neraka. "Kau akan pindah sekolah, Jace", jawabku pelan. "Yeah! New school, new friends", ujarnya dengan gembira. Ia menoleh padaku dengan mata melebarnya. Tapi, ada binar bahagia dimanik matanya. Aku bingung padanya. Kenapa dia sangat senang pindah sekolah? Aku tersenyum sambil mengusap puncak kepala putriku. Kuciumi rambut hitam legam Jace yang mirip seperti rambut Jasper. "Kau sangat mirip daddymu, Jace. Kalian berdua sangat suka bersosialisasi", "Benarkah, Mommy?", "Ya, sangat mirip", jawabku pelan. Kumohon jangan menangis lagi. Batinku. Kenapa setiap aku mencoba menceritakan tentang Jasper pada Jace selalu sulit? "Jace? Kau mau mendengar tentang daddymu?", tanya Mike yang baru saja datang. Ia duduk dihadapan kami sambil meletakan gelas wine nya di dashboard jet. Aku menoleh kearah Mike. Ia hanya mengangguk padaku memberi kode bahwa ia yang akan mengatakan pada Jace jika aku tak kuasa. Aku perlahan menurunkan Jace dari pangkuanku. Membiarkan putriku duduk di pangkuannya. Kulirik Kimberly yang duduk tak jauh dari kami. Aku melambaikan tanganku memanggilnya. Aku tahu bahwa Kim bisa membantuku menenangkan diri saat aku menyaksikan Mike mengatakan sebenarnya pada Jace. Saat kim duduk disampingku. Aku langsung memeluknya. Menyembunyikan wajahku di balik bahu wanita itu. Kuatkan aku Tuhan... Pintaku dalam hati. Aku melirik kearah Mike yang mengeluarkan ponselnya. Ia tampak mencari sesuatu. Dan aku yakin bahwa ia mencari foto Jasper disana. Ketika ia berhasil menemukan foto itu, ia menunjukan pada Jace. "Ini daddymu", Kulihat jari-jari kecil Jace tampak mengusap layar ponsel milik Mike. Sebuah senyuman mengembang dibibir mungilnya. Ia menatap kearahku membuatku deg-degan. Jantungku berdebar cepat sembari aku mempererat cengkraman tanganku pada bahu Kim. Kim juga mengusap lembut bahuku. "Mommy benar. Daddy terlihat sama denganku", ujarnya senang. Sedikit tenang dihatiku melihat Jace tersenyum. "Daddymu tampan kan?", goda Mike. Jace mengangguk, "Seperti prince di film Cinderella", katanya. Jawaban Jace tak hanya membuat hatiku tenang. Seperti ada bagian-bagian yang hilang telah kembali meski aku tahu bahwa Jace belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. "Uncle sudah menepati janji uncle bukan? Kau ingin melihat foto daddy mu", Jace mengangguk, ia mengembalikan ponsel Mike dan turun dari pangkuannya. Jace mendekat kearahku dan menyentuh lututku. Kurasakan perlahan rangkulan Kim pada bahuku mengendur. Ia mengangkat tubuh Jace dan didudukannya disampingku. Membuatku dengan mudah memeluk putriku. Aku mencium puncak kepalanya. "Pasti daddy sudah senang aku bisa melihat bagaimana wajahnya", Deg! Apa aku tak salah dengar. Aku menatap Jace, kutangkup wajahnya dengan tanganku. Jantungku kembali berdetak cepat. Mataku mulai memanas. Napasku memburu seiring melihat senyuman Jace mengembang. Senyumannya sangat tulus. Aku menoleh pada Mike dan Kimberly yang duduk bersebelahan dengan wajah tak kalah terkejutnya denganku. Mike dengan cepat merubah raut wajahnya. "Benarkan apa kataku?", Aku kembali menatap pada Jace. Aku berusaha tersenyum tapi aku tidak bisa. Dadaku bahkan mulai terasa sesak ketika aku menahan semuanya. "Jace, what are you talking about?", Jace menyentuh pipiku, ia membalas tatapanku. Tapi, ia masih tersenyum. "Aku tahu daddy tidak pergi bekerja mommy... Daddy sekarang di surgakan?", "Kau tahu dari mana?", Jace tersenyum nenunjukan deretan gigi putihnya. Ia mencium keningku, "Jace pernah dengar mommy sama uncle berbicara tentang daddy", Mataku semakin memanas rasanya. Jace tahu semuanya tapi ia tidak menangis ataupun sedih. "Kau masih kecil Jace. Bagaimana kau tahu apa yang kami bicarakan", tambah Mike. Jace menoleh pada Mike, "Aku bertanya pada ibu guruku. Aku mendengar 'meninggal', jadi aku bertanya", Detik itu juga air mataku lolos. Aku menangis. Detik itu juga aku merengkuh tubuh Jace. Aku memeluknya erat. "Mommy jangan menangis", Jace mengusap punggungku lembut. "Jace, I'm sorry for being rude. I'm sorry if I'm not tell the truth honey. Mommy, just-", Jace mengusapkan telapaknya menghapus air mataku membuatku menghentikan kalimatku. Di manik matanya terpancar kesedihan tapi dibibirnya terulas senyuman. Tuhan... Aku terisak. Aku malu. Bagaimana bisa anak umur lima tahun bisa sedewasa ini? Bagaimana bisa anak berumur lima tahun bisa sangat setabah ini? Sedangkan aku hanya bisa menangis setiap harinya. Kadang aku merasa hidup ini tidak adil padaku. Kali ini, aku menangis bukan karena Jasper. Pertama kalinya aku menangis karena Jace. Menangisi putriku karena aku tak berani mengatakan sebenarnya hingga ia tahu sendiri kebenarannya entah dari mana asalnya. Kurasakan pelukan hangat dari balik tubuhku. Mike memelukku dan Jace bersamaan. Dan aku hanya bisa menyandarkan kepalaku pada d**a Mike. Hanya itulah tempatku bisa bersandar saat ini. ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD