sebuah notif pesan whats up terpampang di layar ponsel. Pesan tersebut dari seseorang bernama Khadijah di sana
Khadijah
Assalamu'alaikum, Mas Reza
Wa'alaikumsallam... Ada apa?
Read
Khadijah
Abah ngundang ke rumah, apa Mas Reza mau?
Pesan Khadijah selanjutnya tak dibaca Reza. Mau pun sekedar membalas saja tidak. Aplikasi whats app, Reza tutup secepat mungkin. Ponselnya ia tutup juga.
“Ngundang, aku? Emang ada acara apa sampai aku diundang segala? Kenal aja nggak sama Bapaknya.” berbagai macam pertanyaan berlalu lalang di pikiran Reza silih berganti. Seperkian detik berikutnya, ponsel Reza kembali berdering. Notif pesan juga telah terpampang di layar persegi itu.
Khadijah
Misalnya Mas Reza gak mau, gak apa. Khadijah gak maksa kok.
Apa ada acara, sampai ngundang saya?
Send
Tak membutuhkan waktu lama, pesan kembali dibalas oleh Khadijah. Sangat cepat sekali.
Khadijah
Kata Abah, dia mau kenalan langsung sama Guru pembimbing yang bantu skripsi Khadijah
Otak Reza kembali berpikir. Pesan tadi, belum Reza jawab untuk sementara. Di dalam pikirannya, Reza berdebat hebat antara hati dan otak. Merasa sudah mendapatkan hasil, jari jemari Reza bergerak lincah mengetik angka di layar ponsel.
Undangannya kapan?
Send
Khadijah
InsyaAllah, Ahad besok, Mas!
InsyaAllah juga, saya akan datang.
Send
Khadijah
Syukron katsiran, Mas. Ditunggu kehadirannya
Seperti pengharapan. Itulah yang Reza simpulkan dari pesan Khadijah terakhir. Ada rasa tak enak dalam lubuk hati Reza yang paling dalam. Reza merasa, sedang menghianati hati seseorang. Bersamaan itu juga, Reza merasa mempermainkan hati.
°°°
Devina memainkan ponselnya. Dia tampak asyik bertukar pesan dengan pria yang ia kagumi di Whats app.
Nomor aku udah di save, kan?
Send
Ustadz Ganteng
Udah
"Irit banget balasannya!" monolog Devina berdecak kesal. Dari awal ia memulai mengirimkan pesan, Alif terus menjawab singkat. Padahal Devina telah mencari ribuan topik, agar pesan mereka terus berjalan.
Namun, jawaban singkat yang diberikan Alif, menjadikan topik berakhir. Sampai rasanya Devina kehilangan topik untuk dibahas. Cukup lama Devina terdiam, tak membalas pesan dari Alif untuk sementara waktu. Tak berlangsung lama, sebab otaknya yang cantik menemukan topik obrolan baru lagi.
Gimana ngajar Abang aku ngaji kemarin? Pinter gak, dia ngajinya?
Send
Ustadz Ganteng
Lumayanlah.
Lumayan apanya? Lumayan hancurnya gitu
Send
Ustadz Ganteng
Nggak. Lumayan bagus ngajinya.
Oh... Kirain suaranya hancur
Send
Baiklah, kali ini ide Devina tidak ada lagi sama sekali. Ponselnya yang ada di genggaman, ia lempar saking kesalnya. Untung saja ponsel itu terjatuh di ambal berbulu lebat yang memang terbentang di bawah lantai. Tepat di depan pinggiran kasur Devina berada.
“AHA! AKU PUNYA IDA, EH IDE!” secepat kilat Devina berlari ke luar kamar, setelah dia berucap demikian. Entah apa ide yang ia dapatkan, sampai bisa membuatnya senang bukan main.
"Baaanggg!! Baaanggg!! Yuhuuu... Where are you, Abang bad boy, ku...!” Devina terus berteriak memanggil nama Daniel. Matanya menatap lekat setiap sudut rumah. Mungkin saking besarnya rumah itu, Devina jadi sulit menemukan keberadaan Daniel.
“Sumpah, nyari bang Daniel serasa nyari wangsit!” setelah sekian lama mencari, akhirnya Devina dapat menemukan keberadaan abangnya. Dengan posisi terlentang di sofa, Daniel tampak memainkan ponsel.
“BAAAANGGG!!!”
“APAAAA?!!!”
“GUE DAPET PENCERAHAN!”
"HA? LO MAU TOBAT?!" teriakan saling bersahutan. Mereka berbicara dengan intonasi tinggi. Di mulai dari Devina yang memulai, jadinya Daniel ikut-ikutan.
“NGGAK LAH, g****k!”
“SANTAI, LAH!”
“YAUDAH!” berjeda sejenak, barulah Devina berbicara dengan intonasi rendah. “Bang, gue ada ide!”
“Ide apaan?”
“Nah..., lo kan lagi dalam proses hijrah, nih,” Daniel mengiyakan ucapan Devina sambil bergumam. “Di IG, gue gak sengaja liat postingan Islami di penelusuran, terus katanya kalo mau hijrah kita juga harus biasakan sifat jujur.”
"Terus hubungannya apa?” Devina berdecak. Kesal akan otak Daniel yang lama menyambung.
“Bisnis judi lo itu, apa Kak Aisy udah tau?” Daniel menggeleng. Memang dia belum mengatakan pasal bisnis judi yang ia punya pada Aisy. Pertama karena takut Aisy marah, dan yang kedua faktor lupa. “Dosa loh, bang! Lo udah bohong sama Kak Aisy! Padahal dia kan, mau jadi calon bini lo bentar lagi.”
“Jadinya gue harus jujur, gitu?” Devina mengangguk sembari bergumam. “Tapi, gue takut!” lantas Devina kembali berdecak kesal.
“Lo cowok bukan, sih?! Potong aja masa depan lo, kalo gitu aja takut!”
“Yayayah! Gue bakal jujur!” akhirnya Daniel mengalah. Senyuman lebar terbit di bibir Devina. “Tapi, gimana caranya?”
“Nah, itu dia! Sini-sini, gue bisikin sesuatu.” perintah Devina dituruti olehnya. Daniel mendekatkan kupingnya. Setiap bisikan dari mulut Devina, diangguki Daniel berkali kali. Daniel tersenyum penuh arti, sesaat Devina telah selesai membisikan.
“Waaahhh! Bagus juga ide, lo! Gak sangka gue, lo sepintar itu!” lontaran pujian dari Daniel itu, dibalas senyuman sombong darinya. Dagunya terangkat, dengan kedua tangan yang bersedekap d**a.
“Dengan cara itu, lo bisa ketemu Kak Aisy, Bang!”
“Dan gue juga bisa ketemu sama si Ustadz ganteng!” bertepatan dengan ucapannya, Devina juga berucap dalam batin. Tertawa senang dalam batinnya, sebab rencana ia telah berhasil.
“Setuju, Bang?!”
“Setuju, dong!”
“Bagus, gue ke kamar dulu!” sesampainya di dalam kamar, Devina tersenyum licik. Mengambil ponselnya, lantas jari-jemarinya tampak bergerak lincah.
Ustadz! Bang Daniel ngundang Ustadz makan malam
Send
“Sampai bertemu kembali, Ustadz Ganteng!”
Tring!
Ustadz Ganteng
Buat apa?
Dering pesan terdengar. Pesan yang ia kirim, tak berapa lama dijawab oleh si penerima.
Gak tau. Kata Bang Daniel, pengen ngundang aja. Sebagai ucapan terima kasih mungkin, karena Ustadz udah nolongin dia.”
Send
Pesan yang kembali dikirimkan oleh Devina, tak kunjung mendapatkan balasan. Oleh karena itu, Devina jadi cemas sendiri. Takut jika Alif menolak undangan yang ia berikan.
Ustadz Ganteng
Kapan acaranya?
Malam minggu besok
Send
Kamu pergi, ya. Ini Bang Daniel, loh, yang ngundang.
Send
Kembali seperti tadi, pesannya lama sekali di jawab. Hanya dibaca, tanpa adanya tulisan sedang mengetik. Sepertinya Alif tengah memikirkan pasal undangan tersebut.
Tring!
Dering pesan satu kali berbunyi. Secepat kilat Devina melihat balasan pesan yang Alif berikan. Jantungnya berdetak tak beraturan. Devina sangat mengharapkan kehadiran Alif nanti.
Ustadz Ganteng
InsyaAllah
Sebuah pesan yang singkat. Jawaban yang diberikan juga belum pasti. Namun, Devina tetap merasa senang walaupun sedikit. Setidaknya Alif menjawab. Toh, kata InsyaAllah bisa jadi menandakan jika Alif akan datang.
°°°
Sama seperti Devina, Daniel juga sibuk berkutat dengan ponselnya. Kini dia sedang menghubungkan sambungan telepon ke seseorang.
“Assalamu'alaikum, Sy.”
“Wa'alaikumsallam... Ada apa, ya, Niel?” sambungan telepon sudah tersambung. Suara lemah lembut seorang Wanita yang menyambutnya.
Sekarang dia sedang menelepon seseorang, yang nantinya akan ia undang di acara makan malam. Acara makan malam dari ide adiknya. Tentunya wanita ini yang akan menjadi pemeran utama saat makan malam berlangsung.
“Gini, Sy... Aku... Ngadain acara makan malam.” ucapan Daniel di telepon, berjeda sejenak. Ia menghembuskan napas perlahan. “Sebenarnya Adek aku, sih, yang ngadain. Karena dia yang ngadain makan malam, jadinya dia mau ngundang, kamu.”
“Adek kamu ngundang aku?” Aisy bertanya dengan nada seperti tidak percaya. Pasalnya, hubungan dia dan Adik Daniel, bisa dikatakan tidak baik. Mengingat di saat ia berkunjung ke rumah Daniel, Adiknya malah mengusirnya secara tak sopan.
“Iya... Devina harap, kamu bisa datang.”
“Aku mau, sih, Niel. Cuma... Gak mungkin juga aku datangnya sendirian. Apa lagi itu makan malam. Aku takut pulang sendirian.”
“Kamu ajak temen aja,”
“Ajak siapa?” tanya Aisy, berjeda sebentar. “Nada di Korsel, Lala di Turki, Sandryna? Gak mungkin, kan? Dia punya Suami, pasti Suaminya gak mengizini keluar malam.”
Jika dipikir-pikir, ucapan Aisy ada benarnya. Tak mungkin ia mengajak Sandryna. Dia seorang istri. Seorang istri harus mendapatkan izin dari suami, kalau ingin bepergian.
Daniel terdiam. Dalam diamnya ia berpikir, siapa orang yang akan menemani Aisy nanti. Setelah lama berpikir-pikir, akhirnya Daniel tahu siapa yang akan menemani Aisy nantinya.
“Nah, kamu ajak Aisyah aja! Dia pasti gak sibuk, kan?”
“Oh, iya, lupa. Aisyah pasti gak sibuk, dan dia pasti mau nemenin aku.”
Daniel menghembuskan napas legah. Itu sebuah pertanda, jika Aisy menyetujui tawaran makan malam ini. “Jadinya, gimana?” tanya Daniel, coba memastikan.
“Aku coba tanya Aisyah dulu, ya. Kalau di mau, insyaAllah aku datang.”
“Siap! Diusahakan datang, ya! Aku sama Devina, tunggu, loh...” terdengar kekehan samar di seberang telepon. Aisy mengangguk sambil tersenyum. Yang pastinya, senyuman manis itu tak dapat Daniel lihat.
°°°
Sebagaimana permintaan Khadijah di pesan whats app, Reza menghadiri undangan dari Ayah wanita itu. Saat ini dia sudah duduk di sebuah ruangan minimalist. Tepatnya ruang tamu. Tak terlalu mewah, tak juga biasa saja.
“Jadi, ini yang namanya Reza?”
Reza memberikan seulas senyuman. Seorang pria paruh baya baru datang dari lantai atas. Pria itu duduk berhadapan dengannya. Sama halnya seperti Reza, pria itu juga menebarkan seulas senyuman.
“Anaknya ganteng, keliatan Sholeh.” ucap Abah Khadijah, setelah Reza menyalami. “Umur kamu berapa, Nak?”
“Baru dua puluh lima tahun, Bah,” jawab Reza dan Abah Khadijah menganggukan kepala berkali-kali.
“Nak Reza Penghulu, kan?”
“Iya, Bah.”
“PNS atau masih honorer?”
“Alhamdulillah udah PNS.” rasa kagum dalam diri Abahnya Khadijah bertambah. Keinginannya untuk menjadikan Reza sebagai menantu tak diragukan lagi. Tekadnya sudah bulat ingin menjadikan Reza sebagai menantu.
Pandangan si Abah beralih ke arah putrinya yang baru datang dari arah dapur, dengan nampan yang di atasnya ada dua cangkir kopi. Pikiran jahil muncul tiba-tiba dalam otak si Abah.
“Wajar aja anak Abah sering ngomongin kamu, Za. Ternyata orangnya ganteng. Kayaknya putri Abah ini suka sama, kamu.” secara bersamaan kedua mata Khadijah dan Reza melotot. Terkejut dengan lontaran perkataan dari si Abah yang sangat frontal. Ulah si Abah semakin menjadi, tatkala ia melanjutkan ucapannya.
“Sebagai Lelaki, kamu itu harusnya peka dong, Za!”
“Abah apaan, sih?! Malu-maluin aja!”
“Alah, malu-malu tapi mau!” celetuk si Abah semakin membuat Khadijah geram. Karena tak mau semakin malu di hadapan Reza, secepat kilat Khadijah pergi dari sana. Ia berjalan cepat menuju arah dapur kembali. Godaan sang Abah berhasil membuat jantung Khadijah berdetak tak karuan. Di dapur, dia senyum-senyum sendiri sambil memeluk nampan.
Sementara itu, Abahnya malah terkekeh geli. “Ah, maaf, Nak Reza.” ucap si Abah, karena sedari tadi diperhatikan Reza tanpa berpaling. “Abah ngundang kamu ke sini sebenarnya mau ngucapin makasih, karena kamu membantu skripsi anak Abah. Alhamdulillah berkat bimbingan kamu, dia bisa menyandang gelar Sarjanah dengan nilai terbaik di Kampus.”
"Gak masalah, Bah. Itu udah tugas saya, saling membantu sesama Muslim.” lantas Abah tersenyum tipis.
“Anak Abah gak ngerepotin kamu, kan?” tanya Abah lagi.
Untuk yang kedua kalinya Reza menggeleng sembari tersenyum. “Gak, kok. Reza malah seneng kalo bisa membantu. Ilmu gak boleh di simpen, harus dibagi-bagi, Bah.”
Melihat Reza yang terkekeh, Abah juga ikut terkekeh. “Berarti kamu juga seneng dong sama anak Abah?” pertanyaan itu sontak membuat Reza terdiam, tak terkekeh lagi. Ia tak mengerti kenapa pembicaraan ini malah berubah topik.
“Lelaki jaman sekarang kepekaannya kurang, ya? Masa gak ngerti sama kode Cewek,” sambung Abah lagi. “Kamu belum punya calon, kan, Reza?”
Bagaikan disihir, kepala Reza mengangguk sebagai tanda ia belum mempunyai seorang calon. Ketika Reza mengangguk, seulas senyuman terbit dari si Abah.
“Nak Reza, Abah berharap kamu bisa membuka hati untuk Khadijah. Abah beri tau saja, semenjak Khadijah mengenal kamu ia lebih sedikit terbuka dari biasanya. Biasanya Khadijah tak banyak berbicara. Bisa dibilang, Khadijah adalah sosok yang tak banyak bicara semenjak ibunya meninggal. Termasuk pada Abah. Ia memendam segalanya.”
Sejenak Abah terdiam. Ia menghembuskan napas. Matanya menatap serius mata Reza.
“Abah ingin, kamu menjadi suami dari putri Abah.”
Deg!
Pernyataan frontal dari Abah serasa membuat jantung Reza berhenti berdetak. Reza memang tahu, jika Khadijah diam-diam menaruh hati padanya. Tetapi, Reza tak berpikiran jika Ayah dari wanita itu nyatanya menginginkan ia menjadi suami dari putrinya.
“Kenapa saya?” tanya Reza gugup.
“Karena menurut Abah, kamu adalah lelaki yang tepat untuk menuntun putri Abah satu-satunya menuju Syurga.”
°°°