Part 19

3301 Words
Akhirnya hari itu pun tiba. Hari di mana pesta ulang tahun perusahaan milik David yang bercabang di Jakarta terselenggarakan. Berbagai macam pernak pernik sudah terpasang rapih. Tema dekorasi tampak mewah menghiasi perusahaan, walaupun kemewahan sudah biasa melekat di sana.  Biasanya David menaiki lift khusus petinggi kantor tiap hari, tetapi kali ini ia tampak menaiki tangga khusus pekerja. Matanya terus menelusuri setiap penjuru lobby pekerja. Orang yang ingin dia cari sedari tadi tak terlihat. Wanita yang pakaiannya sangat mencolok dari pekerja lainnya.  Sampai David merasa lelah mencari orang itu tapi tetap tak kunjung tampak. Ia membalik arah menuju tangga berniat untuk turun, tetapi suara cempreng seorang wanita menginterupsi.  “Pak David!!!” senyuman langsung terbit kembali di bibir pria itu. Ia kembali berbalik ke arah sumber suara. Sosok Nada sudah berada dibelakangnya dengan senyuman manis nan cerah seperti biasa. Senyuman yang mampu membuat dia tersenyum juga.  “Selamat pagi, Paaakk!” sapa Nada heboh.  “Pagi,” balas David, tapi nada bicara pria itu tenang.  Sorot mata David yang awalnya sibuk menatap kecantikan Nada, kini malah menatap pakaian yang wanita itu kenakan. Tak mewah, tak biasa saja juga. Pakaian itu berwarna hijau muda. Sederhana tidak mewah atau pun mencolok warnanya layaknya para karyawatinya yang berpakaian seperti hari ini.  Dan juga, David berpikir mungkin baju yang sederhana ini jadi terkesan indah, sebab Nada yang mengenakannya.  “Acara pesta Perusahaan satu jam lagi akan dimulai,” lamunan David buyar akibat ucapan Nada ini. “Kata Sahabat Nada, anak panti masih siap-siap. Nanti kalo udah mau sampe bakalan dikabari.” setiap laporan yang diberikan Nada itu hanya diangguki David sambil bergumam.  Pikirannya mendadak teringat suatu hal. Sesuatu yang harus diungkapkannya hari ini pada Nada, karena ia sudah berkata pada Patricia, akan mengungkapkan semua perasaannya.  “Oh, ya! Dan juga, anak panti akan ngasih kejutan spesial di akhir acara!” ucap Nada antusias. Mata wanita itu benar-benar berbinar. “Bapak mau tau gak—“ “Nanti saja.” sebelum Nada melanjutkan ucapannya, David terlebih dahulu memotong. “Ada yang harus aku bicarakan denganmu.” “Bicara? Bicara sekarang aja, Pak.” raut wajah Nada yang semula antusias berubah drastis menjadi ekspresi kebingungan.  David berdecak kesal. “Tidak di sini. Ini penting. Kita bicarakan di dalam ruang kerjaku sekarang.” Setelah berkata demikian, David berlalu pergi meninggalkan Nada yang masih dalam perasaan bingung. Nada menghendikkan bahu acuh. Ia menuruti saja perintah David tadi. Dari pada ia dimarahi karena tak menuruti perintah. °°° Bola mata Nada bergerak ke kanan dan ke kiri mengikuti langkah David yang ada di hadapannya. Dari awal ia memasuki ruangan sampai detik ini, David sama sekali tak berbicara atau pun duduk.  “Nih cowok atu kenapa bolak-balik mulu sih kaya setrikaan? Katanya mau ngomong hal yang penting, tapi dari tadi gak ngomong-ngomong juga, tuh!” bukan Nada saja yang membatin, tetapi David juga. Pikirannya berkecamuk dengan ego yang sedari tadi mengatakan tidak. Ia tengah perang batin besar-besaran dengan ego-nya.  “Sial! Bagaimana mau mengucapkannya? Aku lupa latihan tadi malam!” “Nada sayang, aku cinta kamu baby. Cih! Terlalu alay seperti dia!” “Nada, mulai detik ini kita pacaran, okay? Arkkhh! Terkesan memaksa!” “Pacaran gak sama gue?! Kalo kagak, elo gue dukunin! Lah? Ini malah kayak Daniel!” “Wahai adindaku terkasih, maukah engkau menjadi permaisuriku? Loh? Kenapa jadi genre kolosal? Cerita ini kan, genrenya rohani!” Nada menatap aneh serta takut ke arah David. Kelakuan pria itu jika dilihat-lihat sedikit aneh dari pagi tadi. Lihatlah sekarang. David terus berjalan tak tentu arah dengan berbagai macam ekspresi aneh.  “Pak David kenapa?” suara Nada yang menyahuti mampu membuat langkah David terhenti. Ia menatap Nada tanpa arti. “Gak bisa diem dari tadi melebihi ulet keket. Pak David cacingan?” sambung Nada sarkatis.  David berdehem. Ucapan Nada barusan bagaikan sindiran kecil. Segera ia menetralkan kembali jiwa kepemimpinannya, lantas David duduk tenang di kursi.  “Sebenarnya bapak nyuruh Nada ke sini buat apa, sih?! Nada ini sibuk, Pak! Bapak kan tau, Nada ini ketua panitia di acara! Bapak mah, enak, tinggal duduk santai aja kayak Sultan!” cerocos Nada dengan suara yang tak santai, memaksa, emosional, serta tak sabaran.  David kembali berdehem. “Jadi begini...,” sebelum David berucap, ia sempat memperbaiki letak jasnya yang menurut dia sedikit berantakan. Sedangkan Nada? Sudah menunggu sambungan ucapan David yang tengah menggantung. “Menurut pendapatmu, bagaimana jika ada seorang pria yang menyatakan cinta padamu? Bagaimana reaksimu, Nada?” Mendadak wajah super serius yang tampil di raut muka Nada berganti dengan tatapan membunuh. Dia sudah lelah menunggu dari tadi dengan hati yang tak sabaran, tetapi ucapan David malah demikian. Nada kira penting sekali hal yang akan disampaikan pria itu sampai ingin berbicara berdua saja.  Tapi pada kenyataannya? Sama sekali tak penting!  “Nada tolak!” “Ha?!” mulut David menganga tak percaya. Tak percaya jika Nada langsung menolak, tanpa banyak omong lagi. “Ke—kenapa?! Maksudku... Alasan kau menolak itu apa?!” “Karena Nada gak mau pacaran” jawab Nada enteng, dan secara bersamaan David menghembuskan napas lelah.  “Kalau pria itu tak mengajakmu pacaran?” Nada terdiam. Ia bingung harus menjawab apa. Diamnya Nada membuat David berdecak. Karena Nada tak kunjung merespon, akhirnya David mengalah. Ia pun bertanya hal lain lagi, untuk memancing jawaban apa saja dari Nada. Asalkan memuaskan hati.  "Maksudku, kalau dia langsung mengajak nikah? Apa kau menerimanya atau...” “Nada tolak juga!” untuk yang kedua kalinya David dibuat jantungan akan jawaban yang didapat. Dirinya belum menyatakan perasaannya, namun Nada sudah menolak. Hal ini membuat David kecewa berat. Rasa bimbang yang sudah menghilang, mendadak datang kembali.  “Kenapa kau tolak? Apa kau tak ingin menikah? Apa kau senang menjomblo terus?” pertanyaan bertubi-tubi yang diberikan David membuat Nada kewalahan. Terlebih lagi pertanyaan yang terakhir. Menusuk sekali sampai ke lerung hati terdalam.  “Pak, nanya tuh, satu-satu!” mulut David yang mau bertanya lagi, langsung mengatup dikarenakan bentakan kesal wanita dihadapannya. “Okay...,” Nada menghembuskan napas sejenak, sebelum memulai apa yang harus ia katakan.  “Pertama, tentunya Nada mau menikah karena itu sudah Sunnah dari beliau Baginda Rasulullah. Sebagai ummat beliau, Nada haruslah melaksanakan perintah itu, jika tidak, Nada belum bisa dikatakan sebagai seorang ummat yang taat.”  “Kedua, Nada memang senang men-jomblo, karena dengan hal itu Nada bisa terhindar dari perbuatan Zina. Dari pada pacaran yang jelas-jelas berdosa. Lebih baik, Nada cari jalur aman.” “Dan yang ketiga, jika menang nantinya ada pria yang datang untuk menggenapi separuh agama Nada, pria yang ikhlas lillahita'ala mau menjadi imam Nada, pria yang ridho hidup bersama dengan Nada hingga ke Jannah-Nya, sudah pasti akan Nada terima. Tetapi...!” Nada menggantung ucapannya. Ia sengaja, karena ingin suasana makin tegang. Supaya pria dihadapannya ini sangat menanti lanjutan perkataannya lagi.  “Sebelum menerima pria itu, Nada harus melihat Agamanya, karena Akhlak adalah hal utama. Pria yang akan meminang Nada nanti akan menjadi pemimpin Nada. Jika ia tak baik Agamanya, maka bagaimana mau memperbaiki Agama Nada? Sementara tujuan menikah adalah menyempurnakan separuh Agama pasangan. Terlebih lagi, jika pria itu tak seiman.” Deg!  Detak jantung David serasa berhenti sesaat. Tanpa dia mengungkapkan perasaannya saja, David sudah tahu jawaban Nada nantinya. Di tanya pasal ini saja sudah menolak, apa lagi jika sudah diungkapkan.  “Bagaimana mau menuntun Nada ke Syurga Allah bersama, jika tempat ibadah saja sudah berbeda?” Hati David tambah memanas, setelah Nada melanjutkan perkataannya lagi. David mengakui, mereka memang sangat berbeda. Bagaikan minyak dan air, mereka tak akan bisa bersatu.  Terkecuali...  Diantara mereka, salah satu harus ada yang mengalah.  “Udah kan, nanyanya, Pak?” “Eeeh! Tunggu dulu!” Nada yang baru saja ingin beranjak, harus duduk kembali ke posisi semula. Ia menatap malas, seakan bertanya kenapa lagi? “Aku ingin bertanya satu hal..., lagi! Hanya satu hal lagi! Setelah itu aku tak akan bertanya lagi.” Napas lelah Nada hembuskan malas-malasan. Dengan hati yang terpaksa ia menurut lagi. Kini dia duduk diam dengan ekspresi super datar. Menunggu saja apa yang akan David tanyakan lagi. “Apa..., ada pria yang kau sukai? Seperti di kantor ini.” “Ada...” jawab Nada sok misterius. Terlebih lagi ekspresi Wanita itu. “Siapa?”  “Yang pastinya Cowok, bernapas, manusia, bisa makan dan minum, so pasti ganteng, melebihi kegantengan Justin bibir—“ “Yang serius, Nada!” David kesal bukan main lantaran Nada menjawab tak pernah benar.  “Ini udah serius!” balas Nada tak mau disalahkan.  “Ya, jadinya siapa Pria itu?!” “Pak David.” wajah David yang semula kesal, berganti jadi cengo. Jawaban Nada mampu membuat David rasanya ingin terbang hingga ke langit ke tujuh.  “Jangan bercanda!” David akui ia senang, tetapi dia masih menjaga sifat cool dalam dirinya. Dia tak mau Nada tahu bahwa, dia tengah senang sekarang. “Lah, Bapak, mah! Nada udah serius jawab, malah dikata bercanda!” “Kenapa kau bisa menyukaiku?” “Hellow, Pak David..., Anda jangan pura-pura g****k! Siapa sih, cewek yang gak suka sama, bapak? Bapak itu ganteng, terus kaya raya, masih jomblo pula, lalu Wanita mana yang gak tertarik coba? Diliat dari lobang semut aja udah ganteng! Kalo Cewek yang gak suka sama bapak itu, kayaknya harus dibawa ke Psikiater! Mungkin aja otaknya cuma ada setengah! Setengahnya lagi udah dimakan kuman!” “Jadi, kau menyukaiku, karena aku ganteng? Itu saja?” Nada mengangguk berkali-kali. “Eh, tapi cuma sebatas suka sebagai fans alay, loh ya! Bukan cinta.” “Memang suka dan cinta itu beda?” “Ya, jelas bedalah! Suka itu kayak menyukai karena segi fisik saja, atau materi, atau karena kepandaian seseorang dalam suatu hal. Bahkan suka, nggak mesti ditujukan pada pria. Wanita pun bisa. “Kalau cinta?” Nada terdiam. Tampak sekali ia sedang berpikir untuk menemukan jawaban yang tepat.  “Cinta... Tak mudah untuk memaknainya. Bahkan terkadang, sulit untuk menyatakannya. Cinta perlu dibaca dengan mata agar sesuai dengan kenyataan yang ada. Cinta itu nyata namun tak kasat mata. Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada setiap diri manusia. Cinta bagaikan laksana setetes embun yang turun dari langit. Cinta bersih dan suci. Jika cinta jatuh di tanah yang subur, maka di sana akan tumbuh kesucian hati, keikhlasan, kesetiaan, budi pekerti, dan lain-lain yang merupakan perkara terpuji.” Raut wajah Nada mendadak sedih. Hanya sebentar, sebab wanita itu langsung menebarkan senyuman manis lagi. “Yang pastinya, Cinta itu berbahaya.” “Kenapa bisa berbahaya?” David terus memancing Nada agar ia mendapatkan jawaban. Jawaban yang juga hatinya ingin dapatkan. “Karena...,” ucapan Nada menggantung. “Manusia bisa berubah sebab cinta.” Suasana mendadak hening. Baik Nada maupun David tak ada yang memulai obrolan. Sampai, Nada yang memulai percakapan terlebih dahulu.  “Btw, anyway, busway, bapak manggil Nada, cuma nanyain ini doang?” David bergumam kaku. “Iya, aku rasa cuma itu.” Pria itu tak jadi menyatakan perasaannya!!!  “Innalillahi, Paaakk! Manggil Nada cuma nanya hal yang gaje, kenapa gak nanya dengan Peta Dora aja!” °°° Alif dari tadi ia sibuk menatap layar ponselnya tanpa berkedip. Matanya tampak serius sekali membaca sebuah pesan dari seseorang yang tak dikenal. Jika Aisyah di undang di acara pesta ulang tahun Perusahaan, maka Alif pun juga.    Nomor tidak dikenali Hai! Save kontak, ya!  Alif pun membalas pesan dari nomor handphone tak dikenali tersebut.  Siapa ini? 08:22 Send Nomor tidak dikenali Anggap aja secret admirer:v Alis Alif mengkerut. Bingung harus menjawab pesan whats app orang itu bagaimana lagi. Pengagum rahasia? Sejak kapan ia punya pengagum rahasia? Dirinya bukan artis. Alif hanya membaca pesan itu, tanpa minta membalas. Dari profil whats app orang itu, nyatanya seorang wanita.  Devina Smith.  Itulah nama perempuan yang kini memberi pesan whats app. Marga akhir yang melekat pada wanita itu terasa tak asing. Alif coba mengingat, nama marga ini. Dan, marga ini tertuju pada satu orang yang ia kenal. Daniel.  Daniel Smith.  “Apa bener, adiknya Daniel?” tanya Alif pada dirinya sendiri. “Tapi kan, bisa jadi bukan. Marga Smith, bukan Daniel aja kali.” Pandangan Alif beralih menatap Aisyah dan Nada yang sibuk mengobrol di seberang sana.   “Nada, Aisyah, sini, deh!” “Apaan?” tanya Nada yang sudah berdiri tegap di belakang Alif.  “Lo kenal Cewek ini gak? Gue ngerasa pernah ngeliat, tapi gak tau di mana.” Alif menyodorkan ponselnya kepada Nada. “Ini mah, Adek Daniel!!!” “Dia beneran Adek Daniel?” sekali anggukan, Nada berikan sebagai jawaban atas pertanyaan Alif. “Hm... Pantesan marganya mirip.” “Emang dia, chat lo apaan?” “Minta save kontak.” Mata Nada membulat sempurna dengan mulut yang menganga sedikit. Bukan Nada saja yang tampak terkejut, tetapi rupanya Aisyah juga. Jika Nada terkejut karena Devina benar-benar menyimpan nomor Alif karena dia sendirilah yang memberikan nomor Alif. Lain halnya Aisyah. Wanita itu terkejut sebab ada seorang wanita yang bertukar pesan dengan Alif selain dirinya.  Bisa dikatakan, Aisyah cemburu. °°° Acara pesta sudah ingin berakhir. Berbagai macam persembahan dari artis papan atas telah ditampilkan semua. Kini tinggal acara penutupnya yang belum. Pembawa acara tampak naik ke atas panggung dengan senyuman merekah.  “Baiklah semuanya! Sebelum kita tutup pesta meriah ini, ada sebuah kejutan misterius dari balik tirai merah ini. Kejutan yang pasti sangat kalian pertanyakan, bukan?!” kata kejutan yang diucapkan pembawa acara, membuat alis David beradu bingung.  Rasanya ia tak mengadakan sebuah kejutan di akhir acara. Tatapan David yang semula menatap lurus ke arah pembawa acara, berganti menatap Nada yang berada dibalik panggung. Wanita itu tampak berbicara dengan seorang temannya yang berhijab besar dan seorang pria berbaju koko serta peci hitam. Siapa lagi kalau bukan pasangan double A, Aisyah dan Alif.  Dan David tahu, ide kejutan ini dari siapa. Hanya ada satu nama yang menyangkut di pikiran David. Nada.  Ide ini pasti dari wanita itu, karena semua persiapan pesta ulang tahun perusahaan, David serahkan sepenuhnya pada Nada.  “Untuk mempersingkat waktu, langsung saja kita persilahkan.... Ini dia... PERSONIL REBANA ANGGOTA PANTI CINTA KASIH BUNDA!!!” Tepukan meriah menyambut para anak-anak panti yang sudah berada di atas panggung. Tak lama setelah itu, Alif, Aisyah, Nada dan tentunya ada Khadijah di sana datang dari arah belakang.  Alat-alat musik tampak dipegang oleh masing-masing Rebana, Bass hadroh, Ketipung, Marawis, Tamborin, Simbal, dan Bedug. Yang lebih mencolok dari antara lainnya, adalah Aisyah, Alif, dan Nada. Microphone berada di depan mereka bertiga, dengan posisi Nada yang berada di tengah.  Sebenarnya, lagu apa yang akan mereka tampilkan?  Roohatil athyaaru tasyduu fii layaaliil maulidi Wa bariiqun-nuuri yabduu min ma’aanii Ahmadi Roohatil athyaaru tasyduu fii layaaliil maulidi Wa bariiqun-nuuri yabduu min ma’aanii Ahmadi Wa bariiqun-nuuri yabduu min ma’aanii Ahmadi Wa bariiqun-nuuri yabduu min ma’aanii Ahmadi Fii layaaliil maulidi Fii layaaliil maulidi Sontak mata David melotot terkejut begitu lagu berbahasa Arab itu dinyanyikan. Bisik-bisikan mulai terdengar diindra pendengarannya sayup-sayup. Semua kolega bisnis David membicarakan dirinya. Pasalnya, David terkenal sangat membenci Islam.  Mendengar kata Islam saja, dia sudah muak. Apa lagi sampai mendengar lagunya seperti demikian. Mata David yang semula biasa saja, kini mulai memercikkan api kemarahan. Ia menatap tajam ke arah Nada yang mulai bernyanyi. Emosi David kian memuncak, kala kolega bisnis yang duduk di belakangnya juga mulai ikut serta berbisik.  “Bukankah Tuan Helvin sangat membenci Islam?” “Iya, aku dengar dia membenci Islam karena sewaktu kecil pernah dibuang oleh kedua orang tuanya, yang kebetulan seorang Muslim.” “Benarkah? Miris sekali Pria itu. Ternyata dia hanya anak pungut dari keluarga Helvin, begitu” “Ya! Setahuku, kabar yang beredar seperti itu.” “Apa jangan-jangan, Tuan Helvin melakukan ini semua karena sekretarisnya yang cantik itu?” "Bisa jadi, sebab, kau lihat saja... Sekretarisnya itu sangat cantik, mungkin saja Tuan Helvin jatuh cinta terhadap Sekretarisnya yang muslim itu, lalu demi cintanya itu ia rela memeluk Islam.” Emosinya tak dapat dibendung lagi. Hati dan otak David memanas sudah di level akhir, ketika orang-orang itu mulai membicarakan Nada. Dia berdiri, lantas pergi begitu saja.  “Bastard!” umpat David kesal sambil berjalan keluar menuju gemerlap pesta. Tetapi, langkah kakinya yang tergesa-gesa harus terhenti karena keberadaan Mr. Ryan yang sudah ada dihadapannya.  “Tuan, kau mau ke mana? Penutupan pesta belum selesai.” “Persetan dengan itu semua!!!” oktaf suara David meninggi drastis. Guratan urat terlihat mencuat di kening pria itu. “Suruh Nada temui aku di ruanganku nanti!!!” Lantas setelah berucap demikian, David kembali berjalan cepat penuh emosi, meninggalkan Mr. Ryan. Sementara Mr. Ryan hanya memandang kepergian tuannya itu. Dalam hati, ia meminta pada Tuhan agar Nada selalu diberi perlindungan. °°° Tok! Tok! Tok!  “Masuk!!!” bariton tak bersahabat itu langsung memasuki indera pendengaran Nada dari luar ruangan. Nada meneguk salivanya susah payah. Ia tahu, kenapa David memanggilnya. Perlahan namun pasti, Nada membuka knop pintu. “Permisi, Pak...” Nada duduk di hadapan David. Hati Nada bergemuruh kencang. Aura ruangan juga mendadak mencekam. Sunyi, sepi, tanpa adanya suara. Hanya terdengar bunyi detak jarum jam yang menghiasi.  “Kau tau apa kesalahanmu?” suara berat nan dingin itu membuat bulu kuduk Nada berdiri. David memang dingin, tetapi tak sedingin ini. Aura ruangan itu semakin lama semakin mencekam. Mulut Nada seakan terkunci. Tak bisa digerakkan.  “Eum..., itu... Nada tadi cuma...” BRAK!  “BICARA YANG BENAR, NADA!!!” Nada terpelonjak kaget. Matanya terpejam dengan posisi kepala yang menunduk. Ia tak berani menatap David. Melirik pun enggan. Keberanian Nada layaknya seperti biasa, mendadak menciut. Hilang dibawa angin.  “Pak David kenapa balik serem kayak dulu, sih?” kini hanya batin lah yang Nada bisa utarakan.  “Siapa kau, beraninya membuat hal seperti tadi?” suara David kian mencekam untuk didengar.  "Kan, Bapak sendiri yang bilang, kalau semuanya terserah Nada. Tadi, Nada udah mau ngomong, tapi malah Bapak potong." jelas Nada gugup, mulai membangun keberaniannya lagi. “Lagi pula..., ulang tahun Perusahaan tanggalnya samaan dengan hari kelahiran Rasulullah.” “Jangan berpikir, jika aku memberi kepercayaan pesta kantor padamu, kau bisa seenaknya saja!!! Ini kantorku! Bukan kantormu!” Nada semakin menundukkan kepalanya dalam-dalam. Namun, David kemudian kembali berucap. Ucapan yang sangat menyakiti hati dan perasaan seorang Nada.  “Apa pun yang berbau Islam, tak boleh berada di kantorku! Teroris tak boleh ada di sini!” “Cukup, ya, Pak!!!” spontan Nada berdiri. Menatap tajam David yang tampak menatapnya penuh amarah. “Nada udah sabar dari tadi! Bapak boleh caci maki Nada, marahin Nada, tapi, gak dengan Agama Nada!” Ucapan Nada berjeda sejenak. Paru-parunya mulai susah menghirup oksigen. Namun, sebisa mungkin Nada menahan agar tak terlihat lemah.  “Bukankah Bapak terlahir dari rahim seorang Wanita Muslim?” Deg!  Rasanya jantung David berhenti berdetak. Wajahnya yang semula murka, perlahan mendadak kaku. Senyuman miring terbit dibibir wanita berhijab dihadapannya. Satu pertanyaan dalam benak David sekarang. Bagaimana Nada bisa tahu? “Bapak kira, Nada gak tau, gitu?” jeda tiga detik. Nada berdecak samar. “MUNAFIK!!! NADA TAU SEMUANYA, PAK!” “JAGA KESOPANANMU NONA ARANDITO! HORMATI AKU, AKU ADALAH PEMILIK PERUSAHAAN YANG KAU TEMPATI SEKARANG!!!” Arandito...  Nama Pria itu lagi.  Masa lalu nan kelam, kembali merasuki pikiran Nada. Bayangan taragedi itu. Semuanya satu persatu memenuhi memori pikirannya. Cairan bening melosot jatuh. Nada menangis dalam diam.  Sedangkan David terdiam kaku di tempat. Ia merutuki segala ucapannya tadi. karena saking emosinya, David tanpa sadar membentak Nada. Bahkan, sampai menyebut nama pria, yang jelas-jelas Nada benci. Wanita yang ia cinta sampai menangis.  “Maaf mengganggu Anda, Tuan Helvin.” ucap Nada susah payah, dengan napas segugukan. Ia melirik David sekilas dengan pandangan nanar. “Saya permisi,” Nada berbalik pergi, namun telapak tangan yang kokok menahan lengannya. David menahan kepergian Nada.  “Nada, tunggu dulu, aku...,” “Bapak gak berhak nyentuh, Nada!” secepat kilat pula Nada menyentak tangan David yang tengah menggenggam erat lengannya. Lalu tanpa permisi, Nada pergi dan menghilang dibalik pintu.  “AKHHHH! BODOH KAU, DAVID!!!” semua barang-barang yang di atas meja itu, dibuyarkan David tanpa dosa. David sungguh merutuki apa yang ia telah perbuat. °°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD