Lala tersenyum menyambut kedatangan seseorang wanita yang juga tersenyum padanya. Wanita itu ia persilahkan duduk di meja tamu. Di ruangan penerima tamu salon dan SPA miliknya.
“Khadijah, kenapa nih, datang kemari?”
“Dari Bu Aisyah, untuk Mbak Lala.” Khadijah tersenyum sembari menyodorkan sekotak makanan. Kotak itu cukup besar. Alis Lala bertautan bingung, begitu Khadijah menyodorkan kotak makan itu.
“MasyaAllah... Aisyah repot-repot banget! Bilang makasih ya, sama dia.”
Khadijah mengangguk. Tetap dengan senyuman seperti semula. Senyuman Khadijah yang sedari tadi tak memudar, membuat Lala menyelidik wanita itu curiga.
“Wah, Khadijah ada apa ini? Kenapa senyum-senyum terus?” tanya Lala diselingi senyuman jahil. “Kayak senyum jatuh cinta, gitu.”
“Emang lagi jatuh cinta, Mbak.” mata Lala sontak membulat sempurna. Posisi duduknya ia lebih dekatkan ke arah Khadijah.
“MasyaAllah... Siapa Cowoknya?” ketika Lala bertanya demikian, senyuman Khadijah semakin melebar. Malah tampak malu-malu. “Ganteng, ya, Jah?”
“Banget!” jawab Wanita yang sedang dimabuk cinta itu, sangat semangat. “Selain ganteng, dia juga Sholeh. Makanya, Khadijah jacin sama dia.”
“Kerja apa dia?” tanya Lala lagi. Tingkat keppo-nya meningkat drastis.
“Pekerjaan yang mulia banget! Pekerjaan yang menyatukan dua hati.” ucapan bertele-bertele Khadijah itu, tambah membuat Lala keppo sekaligus kesal.
“Ya, cowok itu kerja apa dan siapa namanya?”
“Penghulu, Mbak.” dengan malu-malu, Khadijah akhirnya menjawab pertanyaan Lala. Jawaban dari Khadijah membuat tubuh Lala kaku di tempat. Pekerjaan pria yang disukai Khadijah, sama seperti Reza.
“Penghulu? Sama dong, kayak teman Mbak,” ucap Lala dengan ekspresi antusias, walaupun sebenarnya ia terkejut.
“Temen Mbak penghulu juga?” Lala mengangguk pelan sebagai jawaban “Siapa namanya?”
“Namanya Reza.”
Deg!
Kini Khadijah lah yang berbalik terkejut. Bibirnya sulit digerakkan. Nama yang disebutkan Lala serasa tak asing lagi didengar. Sebisa mungkin Khadijah membuka suara, walaupun sulit.
“Namanya Reza?”
Lala menganggukan kepala pasti. “Iya, emangnya kenapa?”
“Reza itulah, orang yang aku suka.” situasi kini berbalik. Untuk yang kedua kalinya Lala dibuat terkejut. Dan sekarang, dua wanita yang saling menyukai satu orang yang sama itu terdiam.
Di sisi lain, Ozan baru datang dari arah luar. Kakak dari Lala itu berjalan santai mencari keberadaan adiknya. Langkah kakinya sontak berhenti, ketika melihat sosok adiknya telah tertangkap di mata. Tetapi, lima detik berikutnya, matanya yang biru itu membulat sempurna melihat wanita yang duduk di sebelah Lala.
“LALA!!!” sontak kedua orang wanita yang berada di sana menoleh. “ITU CEWEKNYA!!!”
°°°
Secepat kilat Lala menarik tangan Ozan untuk mengikuti langkahnya menuju lantai atas. Lantai atas, di mana terdapat ruangannya. Sesampainya di sana, Lala cepat-cepat menutup rapat pintu. Menarik napas panjang, lantas duduk di kursi meja kerjanya.
“Lala, tadi itu ceweknya! Cewek yang deket sama Re—“
“Diem! Lala udah tau!” potong Lala cepat, dan Ozan menatapnya penuh kebingungan. Bingung sebab Lala yang sudah tahu tentang wanita itu, tetapi malah tampak biasa saja. Memang raut wajah lesu terpampang di wajahnya. Tapi, kenapa Lala tak memarahi wanita itu jika sudah tahu. Itulah yang diinginkan Ozan.
“Dari mana kamu tau?” setelah berpikir lama kenapa adiknya tak marah, akhirnya Ozan pun mulai bertanya.
“Cewek itu bilang sendiri,” bertepatan dengan jawaban yang Lala berikan, Ozan terbelalak. Tentunya Ozan kaget dari ucapan Lala yang mengatakan wanita itu sudah memberitahu semuanya. Berarti semua, termasuk masalah Reza.
“Gilak!” umpat Ozan tak habis pikir. “Terus, kenapa gak kamu marahin?”
“Kenapa Lala harus marahin? Dia gak salah apa-apa, kok.” alis Lala mengernyit heran. Ucapan Lala yang kelewat polos membuat Ozan menepuk keningnya tak habis pikir.
“Kamu gak cemburu, gitu?” Ozan mengembuskan napas sebentar. Sepasang mata birunya menatap serius wajah Lala.
Pertanyaan Ozan tepat sasaran. Ekspresi Lala lambat laun berubah. Hal itu sudah menjadi jawaban telak bagi Ozan, jika adiknya ini cemburu. “Cemburu, kan?! Kalo cemburu, kenapa gak dimarahin?!”
Kepala Lala menggeleng lesu. Matanya tak menatap Ozan. Melainkan menatap ke sembarang arah. Dagunya ia topang di tangan.
“Untuk apa Lala marahin dia? Toh, jika dia cinta sama Reza, itu sudah fitrahnya. Lala gak bisa maksain kehendak. Dan juga, Khadijah temen Aisyah, Aisyah sahabat Lala. Di sini, Lala berusaha menjaga dua hati Wanita itu.”
Penjelasan yang Lala berikan tak dapat Ozan jawab. Adik dan kakak kandung itu terdiam dengan pikiran masing-masing. Tampak Ozan melirik wajah adiknya yang lesu.
“Jadi, harus gimana?” tanya Ozan tiba-tiba.
Kedua bahu Lala mengendik. Sama halnya seperti Ozan, dia juga tidak tahu harus berbuat apa. Pasalnya, Khadijah masih ada di bawah. Namun, sebuah ide memasuki pikiran Lala.
“Gini aja..., pas kita turun ke bawah nanti, Kakak jangan ngomong apa pun mengenai Reza. Khadijah cuma tau Reza itu temen jauh Lala. Temen yang gak deket sama sekali.”
“Cuma itu aja?” Lala mengangguki pertanyaan Ozan ini. Jawaban anggukan Lala, dibalas juga anggukan oleh Ozan. Kedua saudara kandung itu telah menyepakati apa yang sama-sama mereka setujui. Setelah sepakat, Lala dan Ozan memutuskan turun ke bawah.
°°°
Senyuman ramah Lala tampilkan ketika sudah sampai di tempat Khadijah berada. Jika Lala tersenyum ramah, lain halnya Ozan. Kakaknya itu tak menampilkan sedikit keramahan apa pun. Hanya wajah datar tanpa ekspresi. Lebih tepatnya, wajah tak suka.
“Maaf, Jah, kamu harus nunggu lama.”
“Nggak apa kok, Mbak.” senyuman layaknya Lala, Khadijah tunjukkan.
Aura-aura kecanggungan Lala rasakan mulai menyelimuti. Untuk menghilangkan suasana kecanggungan di antara mereka, Lala coba berusaha mencari topik obrolan.
“Ah, iya, kenalin, Jah... Ini Ozan, Kakak saya.” jari telunjuknya mengarah pada Ozan yang duduk di sampingnya.
Tetap pada ekspresi yang sama. Sedikit pun pria bermata biru itu tak tersenyum, walaupun Lala berusaha mengkodenya agar peka. Wajah tak bersahabat dari Ozan, membuat Khadijah merasa tak enak.
“Saya Khadijah, Kak... Eum..., salam kenal...” ketika mengenalkan namanya, cara bicara Khadijah terdengar ragu-ragu.
Satu detik, dua detik, bahkan tiga detik, namun Ozan tak kunjung memberi respon. Melihat Kakaknya yang acuh tak acuh, terpaksa Lala harus memberi kode keras dengan menyikut kuat lengan Kakaknya itu.
Dua kali sikutan lengan, barulah kepekaan Ozan muncul. Akhirnya pria itu menjawab, hanya dengan deheman singkat. Jawaban Kakaknya yang terkesan tak sopan, sangat membuat Lala tidak enak hati pada Khadijah. Pandangannya lalu beralih menatap Khadijah. Ia lantas tersenyum canggung.
“Eum..., maaf, ya, Jah. Kakak saya emang, gitu. Rada-rada jutek orangnya, tapi dia baik, kok.” lagi-lagi Khadijah hanya bisa mengangguk memaklumi.
Seperti pendirian awalnya, Lala tetap mencari topik obrolan agar suasana canggung tak timbul. Apa lagi, mengingat Kakaknya yang jutek terhadap Khadijah. Hal itu, bisa-bisa menambah efek kecanggungan.
“Oh, ya, sampai lupa! Obrolan kita sampai mana tadi?”
“Sampai Mas Reza, Mbak.” sesaat Khadijah menjawab pertanyaan Lala ada nama Reza di sana, sontak Ozan terbelalak. Menatap tak percaya adiknya, sebab mau-maunya saja membahas pria yang ia cintai kepada seorang wanita yang sama-sama juga mencintai pria itu.
“Hah, iya, sampai Reza-reza itu.” seru Lala seakan tak terbebani ketika menyebutkan nama Pria itu. “Gimana jadinya? Apa udah ada tanda-tanda?”
“Tanda-tanda apanya, ya, Mbak?" Khadijah malah balik bertanya dengan senyuman malu-malu.
“Alah..., nih kutu kupret sok-sokan gak tau, padahal tau bener melebihi Mbak Google!” batin Ozan, sibuk mencelotehkan Khadijah sembari ia menatap tajam wanita itu yang terlihat tersenyum simpul.
“Yaa... Tanda-tanda misalnya Reza mau ngelamar.” hati Lala berdenyut. Padahal mulutnya sendiri yang berucap demikian. Dengan menampilkan senyum palsu pula. Akting Lala memang sungguh hebat. Ozan akui itu.
Perlahan kepala Khadijah tampak mengangguk tipis. Senyuman malu-malu tadi masih ditampilkannya. Bertepatan dengan anggukan kepala Khadijah, hati Lala semakin berdenyut hebat.
“Dia ngelamar, kamu?” tanya Lala bersuara parau.
"Belom sih, Mbak, Karena itu Khadijah dateng ke sini untuk minta bantuan Mbak.”
“Bantuan? Bantuan apa?”
“Minta dilamar sama Mas Reza.” Jawab Khadijah terang-terangan. Ozan yang mendengar ucapannya tadi, semakin tak menyukai sosok Khadijah ini.
“Berhubungan dengan lamaran, aku mau nanya, nih, Mbak.” sambung Khadijah, kini senyuman malu itu lambat laun melebar. “Kalo kita ngelamar Lelaki deluan itu, apa salah?”
“Nggak masalah kok, Jah.” kepala Lala menggeleng pelan sembari menebar senyum kepalsuan.
“Tapi, malu lah, Mbak... Masa... Cewek minta dilamar cowok deluan.”
“Loh, kenapa harus malu. Justru jika seorang wanita itu melamar lelaki terlebih dahulu, maka wanita itu akan mendapatkan kemuliaan dari Allah, sebab dia berusaha menghindari Zina dengan cara meminta dilamar. Layaknya Ibunda Khadijah yang melamar Rasulullah terlebih dahulu. Nama kamu sama seperti beliau, dan mungkin aja kamu bisa mencontohnya.”
“Oh, ya, Mbak! Aku boleh minta tolong lagi nggak?” kembali Khadijah bertanya.
“Boleh... Tolong apa?”
“Mas Reza, kan... Katanya temen Mbak Lala, tuh. Berarti deket, dong. Nah... Mbak mau gak, bantuin Khadijah minta dilamar sama Mas Reza?”
Deg!
Ya Illahi Rabbi...
Ingin rasanya Lala berteriak kepada Khadijah, jika Reza adalah pria yang juga ia sukai. Sama halnya dengan dia. Malahan, Lala lebih dulu mengenal Reza dari pada wanita itu.
“Kok, elu kayak yakin banget sih, kalo Reza bakalan nerima lamaran, lu?” Ozan pun mulai berbicara. Suaranya terdengar ketus.
“Kakak...” bola mata Lala menajam, setelah Ozan menceletuk tadi. Tangannya meremas tangan sang Kakak sebagai peringatan.
Bukannya mengerti, Ozan semakin memancarkan aura Ketidaksukaan-nya pada Khadijah. Saking tidak sukanya Ozan dengan wanita itu, tanpa permisi ia berlalu pergi.
Lala menoleh ke arah Khadijah. Layaknya seperti biasa, ia memberikan senyuman palsu. “Maaf banget yah, Khadijah... Kakak saya mungkin lagi badmood.”
“Iya, gak apa kok, Mbak...” balas Khadijah memaklumi. “Tapi, Masalah tadi, Mbak Lala setuju, gak?”
Lala menggigit pelan ujung bibirnya. Ia tidak tahu harus menyesetujui apa menolak. Jika menolak, Lala takut menyakiti hati Khadijah. Di sisi lain, hati Lala terlalu sakit untuk menerima tawaran yang Khadijah ajukan.
“InsyaAllah...” dengan sekali hembusan napas, Lala pun memutuskan.
Jawaban yang belum pasti dari Lala, dibalas Khadijah dengan senyuman saja. “Syukron, Mbak.”
“Waiyyaki...”
°°°