Mulut Nada menganga dengan wajah cengo bak orang bodoh. Di hadapannya banyak tertata beberapa hidangan lezat. Sementara David tetap pada ekspresi datar seperti biasa. Hanya mereka berdua saja di ruangan kerja super mewah David, setelah beberapa Koki menghidangkan makanan.
David menghela napas panjang saat Nada tak kunjung merespon. Wanita itu masih setia pada ekspresi bodohnya. “Makanlah! Waktu makan siangmu tak banyak.”
Kedua mata Nada berkedip berkali-kali. Ia menatap David. Ekspresi wanita berhijab itu sekarang berganti dengan raut tak percaya akan semua ini. “Tapi, ini bukan hari netas Nada, Pak!”
Alis David terangkat satu. Bingung dengan ucapan sekretarisnya yang cantik nan langka ini. “Hari netas?”
Nada berdehem lantas memperbaiki letak posisi duduknya. “Maksudnya, hari ini Nada gak ulang tahun. Jadinya, bapak gak perlu repot-repot nyiapin semua ini.” Nada menjelaskannya dengan cengar-cengir tak jelas.
Rasanya David ingin berteriak sangat kencang. Kalau bukan Nada adalah orang yang ia cintai, sudah pasti David akan mencekiknya di tempat. Cara pikir otak wanita itu kadang susah di tebak.
“Jadi, hari netas yang kau maksud itu hari ulang tahun?” pertanyaan David dihadiahi kekehan hambar dari Nada. Wanita itu lantas mengangguk pelan.
“Bapak sih, gak update. Istilahnya kuper. Kurang pergaulan.” ucap Nada tertawa kecil. “Eh, tapi masih enak loh kuper. Dari pada kurbel. Kurang belayan!” sambungnya dan kini wanita itu benar-benar tertawa lepas.
Hanya tatapan dingin lah yang ditunjukkan David. Pria itu menunggu tawa Nada berhenti dengan sendirinya. Merasa ditatap, Nada pun berhenti tertawa selepas ia berdehem demi menetralkan intonasi suaranya.
“Tapi, kok bapak nyiapin makanan sebanyak ini?” tanya Nada setelah ia selesai menetralkan tawanya tadi.
“Ulang tahun perusahaan sebentar lagi.”
“Terus, apa hubungannya ulang tahun perusahaan dengan bapak nyiapin makanan sebanyak ini?” kedua bahu David terangkat acuh tak acuh. Melihat David yang seakan pura-pura tak peduli atau lebih tepatnya lari dari pertanyaan membuat Nada menghela napas kesal.
Mereka berdua larut dalam makan siang. Hanya terdengar bunyi suara dentingan sendok dan garpu yang saling beradu.
“Jadi, apa bapak punya rencana untuk ulang tahun perusahaan?” tanya Nada setelah mereka selesai menyantap hidangan makan siang.
“Setiap tahunnya, akan ada pesta besar di Korsel. Mengingat pusat pemerintah perusahaan ada di sana. Tentunya kita akan ke sana.”
Mata Nada membulat sempurna ketika mendengar ucapan David. Dirinya sangat senang sekali sampai ia tak sadar sudah memasang senyum lebar menampakkan deretan gigi putih bersihnya.
“Jadi kita bakalan liburan juga dong ke sana?!” pertanyaan Nada yang antusias di balas deheman singkat oleh David. Teriakan heboh keluar dari bibir wanita berhijab syar'i itu. Sudah David perkirakan dari awal, kalau Nada pasti senang dengan rencana pesta ini.
“Ya Allah... Nada bakalan ketemu Oppa sama Eonna yang kinclong-kinlong di sana!” monolog Nada kelewat dramatis. “Pak! BTS atau EXO di undang gak? Ada Blackpink oye-oye juga gak, Pak?”
Pertanyaan Nada yang berbondong-bondong sulit untuk dijawab David. Terutama ekspresi wanita itu yang antusiasmenya kelewat tinggi, membuat David jadi gemas sendiri.
David berdehem singkat. “Nanti akan aku pikirkan.”
“Pikirin yang bener-bener yah, pak. Harus bener. Jangan melenceng.” celotehan tak berfaedah Nada yang absurd sayangnya diangguki patuh oleh David.
Ekspresi Nada yang tertawa-tawa tak jelas berhasil membuat David sedikit menarik ujung bibirnya. Nada itu sangat cantik bagi David. Sangat. cuma, terkadang otaknya yang kelewat tak normal membuat para lelaki menjauh. Menurut David, Nada itu cantik dengan ciri khasnya tersendiri.
Tiba-tiba tawa Nada terhenti berganti dengan ekspresi murung. “Eh, tapi, Pak. Nada lupa kalau Nada udah hijrah. Nada gak boleh suka hal yang berbau K-POP lagi. Kata sahabat Nada, K-POP itu illuminati. Perantara Dajjal.” ucapannya membuat dirinya sendiri bergidik ngeri. “Ih, na'udzubillah mindzalik banget.”
Mendadak Nada berdesis dengan ekspresi bodoh yang siapa pun jika melihat akan menjitak kepala wanita itu habis-habisan.
“Perusahaan enak banget, yah. Ulang tahun aja dirayain melebihi manusia. Sayang banget dalam Islam gak boleh ngerayain ulang tahun.” rupanya gerutu tak jelas dari seorang Nada menarik perhatian David untuk bertanya.
Selain dari topik yang ia bahas, raut wajah saat Nada berceloteh ria juga ikut serta membuat David tertarik.
“Kenapa agamamu melarang ulang tahun? Padahal ulang tahun sangat penting untuk menghilangkan stres. Lagi pula itu dirayakan sekali setahun dalam hidup.”
“Nah, karena itu!" balas Nada begitu mendramatisir. “Karena ulang tahun setahun sekali aja yang terus di ingat. Harusnya manusia bukan mengingat hari lahir saja, tapi mengingat kapan hari kematian mereka. Terlebih lagi, Islam sangat melarang yang namanya foya-foya, huru-hara sana sini. Dan tentunya saat perayaan ulang tahun pasti seperti itu.”
“Terlebih lagi, moment tiup lilin saat ulang tahun. Sangat dilarang dalam Islam! Itu sama aja kayak kita menyembah lilin. Kan, pada saat itu kita ucap doa dulu sebelum tiup lilin.” penjelasan itu diangguki David.
Lantas ia bertanya lagi seakan tertarik dengan apa yang diucapkan Nada selanjutnya. Apa lagi ekspresi Nada yang membara ketika berucap apa pun.
“Kau sendiri, apa kau pernah merayakan ulang tahun?”
“Pernah!” jawab Nada antusias. “Pas kecil. Mama sama Pap—“
Di saat kata papa sebentar lagi ingin terucap dibibirnya, sontak Nada urungkan. Ia terdiam sejenak dan tanpa sadar menimbulkan suasana canggung di antara mereka. Dari tatapan Nada, David sangat tahu jika perempuan itu masih belum bisa memaafkan Ayahnya. Sama persis seperti dirinya.
“Nada memang pernah ulang tahun, tapi gak pakai tiup lilin segala karena mama tau agama. Jadi, mama punya ide untuk buat acara selamatan kecil-kecilan aja di rumah. Gak pakai kue. Mama buat nasi tumpeng untuk Nada dan undang keluarga, tetangga, sahabat Nada serta beberapa anak yatim.” ucap Nada sangat antusias sekali menceritakan masa kanak-kanaknya saat ulang tahun.
Karena kebablasan Nada yang memang suka bercerita, jadinya ia sampai tak sengaja curhat mengenai seluruh masa kecilnya. Saat Nada bercerita, ia menunjukkan berbagai ekspresi yang jadi membuat David gemas sendiri. Nada adalah wanita yang pernah David temui kaya akan ekspresi.
“Bagaimana pendapatmu jika aku mengundang para anak yatim saat acara ulang tahun perusahaan di sini?”
Nada hanya diam tanpa berkomentar. Ia diam. Menyimak saja apa yang akan diucapkan David selanjutnya.
“Memang acara besarnya akan di laksanakan di Korsel, tapi perusahaan cabang ini juga ikut serta merayakan pesta ulang tahun. Kebetulan aku di sini, bukankah itu ide yang bagus? Mengundang anak yatim supaya pesta tahun ini lebih berbeda dari tahun biasanya.”
Ide David itu tanpa sadar diangguki Nada berkali-kali saking bersemangatnya. Melihat Nada yang begitu bahagia, juga dirasakan David. Pria tampan itu tanpa sadar juga ikut tersenyum. Sebenarnya David sama sekali tak terpikir akan mengundang anak yatim untuk turut serta memeriahkan pesta ulang tahun perusahaan.
Tapi, jika melihat Nada yang senang saat menceritakan saat hari ulang tahunnya yang mengundang anak yatim, jadinya David pun berinisiatif untuk mengundang anak yatim. Mengingat Nada juga menyukai anak-anak. Asalkan Nada bahagia, apa pun akan dilakukannya.
“Makasih banget yah, Pak! Nada yakin, acara ulang tahun bapak ini akan barokah! Perusahaan Bapak makin sukses! Aamiin!” berbagai do'a yang Nada panjatkan hanya dibalas sedikit senyuman tipis dari David. Ia bingung harus berkata apa. Tak mungkin ikut juga mengaminkan ucapan Nada, mengingat ia adalah seorang yang tak punya agama.
“Oh, ya! Nada juga tau yayasan panti asuhan mana yang akan di undang. Nama panti asuhannya Cinta Suci Bunda. Panti itu milik sahabat Nada. Aisyah namanya.”
“Panti asuhan yang kemarin? Panti di mana tempat anak kecil Yudha dan Naufal berada? Kedua anak yang pernah kita tolong itu?”
Nada mengangguk bersemangat mengiyakan pertanyaan David. “Mau gak, Pak? Biar Nada bisa ketemu sama Yudha dan Naufal.”
“Atur saja sesuka hatimu. Apa yang menurutmu bagus pasti akan aku setuju.” mendengar ucapan David itu membuat Nada bersorak riang.
Jika Nada senang maka David malah terlihat bimbang. Bimbang akan dirinya sendiri. Ia merutuki apa yang baru saja dia lalukan. Hal ini seperti seorang suami yang menyerahkan apa pun kepada istri yang ia cintai. Persis sekali.
“Kayaknya Pak David kesurupan deh. Kok bisa-bisanya dia mau ngundang anak yatim. Pantesan aja nih ruangan auranya rada-rada beda dari biasanya. Tapi, gak apa deh. Setan yang ngerasuki tubuh Pak David baik. Buktinya dia mau ngundang anak yatim. Eh, tapi kan, Pak David emang Setan!” batin Nada berkutat keras dengan otak sempitnya.
°°°
Keluar! Aku sudah sampai di depan rumahmu.
11:20
Send
Pesan perintah itu dikirim David ke nomor dengan nama Gadis Gila. Saat ini ia tampak seperti menunggu seseorang tepat di depan sebuah pagar rumah. Ponsel yang berada di genggaman tangannya diarahkan menuju depan wajah. Jemari kanan David terus bergerak merapikan jambul rambutnya.
“Check all!” dirasa semuanya sudah rapih, lantas David kembali mengecek pesannya yang beberapa menit lalu ia kirim.
Belum ada balasan dari penerima pesan. Jantung David entah kenapa dari awal perjalanan berdetak kencang.
“Kenapa dia belum keluar juga? Lama sekali. Apa karena alis, makanya lama? Biasanya itu penyebab Wanita lama keluar.” monolog David menghembuskan napas gusar. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana, sambil menatap ke arah hamparan awan di langit. Hal tersebut dilakukan bertujuan untuk mengurangi efek canggung yang menimpanya dari tadi.
“Pak David!” teriakan girang itu membuat David menoleh ke sumber suara. Seorang wanita berhijab yang memakai baju batik tampak berjalan penuh semangat. Mata David sampai dibuat tak berkedip akan kecantikan wanita itu.
“Pak! Maaf banget yah, nunggu lama. Tadi tuh, Nada nyariin bros dulu yang hilang sekejap.” jelas Nada menunjuk bros bunga yang ia kenakan.
Raut wajah Nada yang awalnya tersenyum merekah berganti sekejap menjadi wajah kebingungan. Bingung sebab David sama sekali tak merespon ucapannya, tapi malah menatapnya tanpa berkedip.
“Eum... Pak! Bapak sehat?” panggilan dari Nada pun tetap tak dijawab. Seolah nyawa David di bawa oleh angin. “BAPAK DAVID, NADA YANG CANTIKNYA NGALAHIN KECANTIKAN SELENA GEMES MANGGIL, LOH!”
Suara melengking Nada yang entah berapa oktaf mampu menarik kembali nyawa David yang sempat melayang. Mata pria itu sejenak berkedip berkali-kali. Tapi tak lama kemudian, sorot matanya menajam.
“Suaramu memekakkan telinga!”
"Salah sendiri kenapa diem aja dari tadi. Nada kira pak David kesurupan penunggu Komplek ini.”
David tak menggubris ucapan tak penting dari mulut Nada. Dia berlalu pergi memasuki mobil yang diikuti oleh Nada dari belakang.
“Jadinya kita mau ke mana?” tanya David tetapi sorot matanya lurus ke arah depan sembari ia memulai menyalakan mesin mobil. Tampak Nada mencoba berpikir ke mana ia akan pergi. Karena, semuanya tergantung kepadanya.
“Eum... Kita ke Toko kue temen Nada. Katanya bapak mau mesen kue untuk acara ulang tahun perusahaan, kan?” ide dari Nada disetujui David walaupun hanya bergumam samar. Sesuai perintah Nada, David melajukan mobilnya menuju tempat toko kue yang diucapkan wanita itu barusan.
°°°
Di depan pagar yang menjulang tinggi, sebuah mobil memberhentikan laju mesin. Seorang pria berkaca mata hitam menatap seksama bangunan yang ada di tangkapan mata sembari melirik ke seluruh bagian.
“Gue pulang, yah!” sahutan dari dalam mobil membuat pria itu menoleh. Dia menepikan kaca matanya ke atas rambut.
“Iya, gih, pergi sono!” usir si Pria membuat mulut wanita berambut panjang gelombang yang duduk disetir pengemudi itu mencebik kesal. “Tapi, lo jemput gue lagi, ya?”
“Heh, enak aja! Lo pulang sendirilah!”
Mata Daniel menajam. Tatapannya tak bersahabat menatap sang adik dari luar Mobil. “Cuma jemput doang, Dev! Susah bener dah!”
“Denger yah, Abangku... Adik lo ini jadwalnya padat banget melebihi Ratu Inggris. Gue gak bisa! Hari ini jadwal full gue shopping bareng sama temen.” celoteh Devina berhenti sejenak. Dia sedikit menggeser posisi duduknya, agar menatap wajah sang kakak lebih leluasa.
“Lo kan, bisa minta tolong sama Raden! Percuma aja lo punya Supir, tapi gak bisa diandelin!” akhirnya dengan perasaan yang sangat berat Daniel pun mengalah. Napas lelah dihembuskannya susah payah. Sorotan matanya tatap pasrah.
“Yaudah! Gue bisa minta anter Alif aja! Durhaka bener, lo, jadi Adek.” lontaran kalimat cacian dari mulut manis Daniel ditanggapi setoreh senyuman lebar nan manis yang Devina punya.
“Oke, Adik lo yang durhaka mau shopping dulu... Bye, Babang durjana...!”
Daniel melongo ketika mendengar ucapan enteng dari adiknya tadi. Tangannya sudah siap melempar Devina menggunakan sepatu, tetapi secepat kilat Devina melajukan mobil meninggalkan Daniel yang menatap berapi-api.
°°°
Sesuai perkataannya pada Daniel, bahwa ia akan bertemu para sahabatnya yang punya tingkat sosialita tinggi. Di sini lah mereka berkumpul. Di sebuah toko kue terkenal di Jakarta pusat. Toko kue yang bertuliskan Aisyah Cake and Bakery.
“Duh, tau gak, gengs?!” sahut seorang wanita yang make up nya mengalahkan ibu-ibu penjabat. Sorot matanya menatap penuh binar seluruh sahabat yang duduk satu meja dengannya. Kemudian, dengan perasaan penuh bangga ia memamerkan sebuah cincin berbatu permata. Cincin itu melekat sempurna tepat dijari manis.
“Pacar gue yang dari Amerika itu, loh, baru ngasih gue cincin ini! Cantik, kaaannn...” semua Sahabatnya mengangguk, karena memang cincin itu cantik. Dan tentunya harga cincin itu tidaklah murah.
“Ini tuh, harganya mahal banget, loh, gengs!” tambah Wanita itu sampai membuat Sahabatnya menatap lekat cincin itu dengan seksama.
“Emang harganya berapaan?” senyuman lebar ditunjukkan wanita itu tatkala salah satu sahabatnya ada yang bertanya.
“Li. Ma. Ju. Ta!” balasnya menekan setiap kata yang ada. Para wanita di sana tentunya langsung memekik heboh, kala mendengar nominal harga yang disebutkan.
Jika para wanita di sana heboh sendiri, maka beda pula dengan Devina. Dari awal wanita itu memamerkan cincin mahalnya, Devina sudah malas menyimak isi pembahasan para Sahabatnya.
“Lima juta aja kok, heboh.” semua sahabatnya yang awalnya ricuh, mendadak diam dengan tatapan menuju tepat ke arahnya. Tatapan mereka seperti ingin tahu maksud dari ucapan Devina itu. Karena Devina tengah menggantung kata-katanya barusan.
“Ini!” jari telunjuk Devina mengarah ke sebuah kalung yang menjuntai pas di lehernya. “Kalung gue yang harganya dua belas juta aja, gak heboh, tuh!” begitu Devina berucap demikian, mulut wanita itu yang tadi tersenyum berubah drastis menjadi tatapan datar. Bibirnya mencebik kesal, serta menatap sinis ke arah Devina. Sedangkan Devina yang sudah tahu ditatap seperti itu hanya membuang muka tak perduli.
Tatapannya terfokus ke arah pintu keluar yang terbuat dari kaca transparan. Pertemuan kali ini dengan para sahabatnya tak menyenangkan seperti biasa. Disebabkan kejadian pamer-pamer kemahalan perhiasan saja. Sampai tatapan Devina mendadak sinis. Matanya menatap tajam tepat di satu titik. Seorang wanita berpakaian syar'i tampak bercengkerama dengan para pelayan di sana.
“Sok suci banget, sih! Fanatiknya kebangetan!” gumam Devina menatap tak suka wanita yang berpakaian serba syar'i itu. “Mana sok kecantikan lagi!” lanjutnya tepat setelah wanita itu melempar senyuman ke para pelayan sebelum dia naik ke lantai atas.
Mengetahui jika arah jalan wanita itu mengarah ke ruangan kerja pemilik toko kue ini, Devina pun mengangguk singkat. “Oh... Pemilik toko, toh...”
Devina kembali tenggelam dalam aktivitasnya mengaduk tak tentu minuman pesanannya. Rasa bosan terus menyelimuti. Sampai semua percakapan para sahabatnya tak didengar baik oleh pendengaran. Adukan di minuman dingin milkshake itu mendadak berhenti. Mata Devina membulat. Tatapannya menatap kehadiran seorang pria yang sangat disukai.
“It—itu..., kan... Si Ustadz calon imam gue! Kenapa dia ada di sini?” dan diri Devina kembali dibuat terkejut melihat wanita yang dia juluki sebagai wanita sok suci tadi mengikuti si pria dari belakang. Hati Devina memanas seakan ada yang menuangkan bara api di dalam sana.
“Pelakor...” gumam Devina geram. Tangannya menggenggam sempurna melihat interaksi kedua orang itu.
°°°
Tepat di depan toko. Tepatnya di meja pekarangan depan Toko kue Aisyah yang asri dipenuhi tanaman, Nada beserta David mengobrol. Membincangkan konsep kue besar yang akan menjadi kue dalam pesta perusahaan nanti. Sementara Alif, tampak menyimak saja.
“Intinya, tuh kue harus besar, Syah! Sebesar cinta gue ke doi yang sudah peka tapi tak respon.” seperti biasa ucapan Nada pastinya melenceng dari topik pembicaraan. Bukan hal yang aneh bagi mereka yang sudah mengenal Nada.
“Emang lo punya doi?"
“Punyalah! Ya, kali Nada cantik kece badai aduhai gak punya doi?! Apa kata Warga Bikini Bottom?!” Nada menjawab penuh semangat pertanyaan Aisyah itu.
“Alah... Sok punya doi segala! Pena satu aja bisa hilang, apa lagi doi!” serasa ucapan Aisyah itu menusuk ke hati hingga pedih ke ubun-ubun. Aisyah memang tak banyak bicara, sama seperti Aisy. Tetapi, jika wanita itu sudah bicara, pasti ujung-ujungnya perih di hati.
“Lif, tolong calon istri lo di sekap aja dalem kamar, terus lo plester mulutnya!” tatapan maut diberikan Aisyah ketika Nada bicara demikian.
Mulut Nada bagai tak memiliki rahang. Seenaknya saja berkata. Tak pernah di saring dulu. Lain hal Aisyah yang menatap Nada kesal, Alif malah membalas dengan tawa samar. Percakapan terus berlanjut. Sekalipun David tak ada minat untuk bergabung. Hanya suara Nada saja yang lebih mendominasi di perbincangan hangat itu.
Meninggalkan keempat orang yang tampak bahagia sekali bercengkerama, beda halnya dengan seorang wanita yang tengah menatap penuh kebencian. Tatapan benci itu lebih tertuju pada Aisyah.
“Dasar pelakor yang tak ber-peripelakoran! Awas aja, lo!”
°°°