Part 15

2508 Words
Daniel sedang membentangkan sajadahnya. Dengan memakai baju koko serba putih, sarung coklat, dan kopiah putih ia mengucap takbiratul ikhram. Tetapi, tiga detik kemudian ia menghentikan Sholatnya.  “Bacaan setelah takbiratul ikhram apaan, ya? Lupa gue,” posisi berdiri Daniel beralih ke laci nakas. Sebuah buku tuntunan Sholat ia ambil dari dalam sana. Halaman demi halaman dibuka Daniel tak sabaran.  Sampai tangannya berhenti bergerak. Halaman yang ia tuju sudah ditemukan. Bacaan Takbiratul Ikhram. Do'a inilah sedari tadi ia cari. Daniel diam. Membaca dengan seksama sembari menghafal do'a itu. Tidak membutuhkan waktu lama bagi seorang Daniel untuk menghafal ayat itu. Buku yang tadi ia baca, ditutup kembali setelah merasa telah menghafal seluruh ayat di dalam Sholat.  “Okay! Yuk, Sholat! Demi jodoh! Semangat!” ucap Daniel semangat empat lima, lantas ia memulai Sholatnya yang sempat di pending dahulu.  Kurang lebih sepuluh kemudian Daniel menyelesaikan sholatnya. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri. Daniel menghembuskan napas sejenak. Kedua tangannya pun mulai menadah ke atas.  “Yaa Allah... Aku titip cinta ini hanya pada-Mu. Jagalah hatiku dan hatinya dari rasa kecewa, hingga waktu di saat kami dipersatukan telah tiba. Yaa Allah... Himpunlah kami dalam restu dan Ridho-Mu. Aamiin... Yaa Rabbal 'Alamin...” rasanya hati Daniel merasa tenang kala ia telah selesai melaksanakan Sholat Subuh. Senyuman terbit di bibir Daniel. Pandangannya menatap ke arah langit-langit.  “Ternyata Reza gak bohong. Sholat emang buat hati damai dan tenang.” Sibuk menatap langit-langit ruangan, Daniel teringat sesuatu. Suatu benda yang sangat spesial, tentunya untuk orang spesial juga.  Daniel berjalan menuju nakas. Di mana suatu yang spesial itu berada. Laci nakas terbuka. Sebuah kotak cincin berbentuk hati Daniel ambil. Daniel duduk di tepi kasur sembari menatap cincin indah bermata berlian itu.  “Setelah merasa gue udah bener-bener hijrah, gue bakalan lamar Aisy. Gak akan gue tunda lagi.” Daniel mengarahkan kotak cincin itu ke dadanya. Digenggamnya kotak tersebut. Kepalanya menatap arah langit-langit kamar.  “Ya Allah... Permudahkanlah hamba untuk melamarnya. Jangan ada halangan apa pun, Ya Allah. Semoga Aisy juga nerima lamaran hamba, aamiin...” Ceklek!  “Yuhuu... Bang... What are you doing?” ketenangan diri Daniel dalam berdoa, harus terusik dikarenakan seorang Wanita yang masuk ke kamarnya. Siapa lagi jika bukan Devina Smith. Adik kandung semata wayangnya itu.  Secepat kilat Daniel menyembunyikan kotak cincin tadi. Dia tidak ingin Devina tahu. Malas karena pastinya Devina akan heboh luar biasa.  “SubhanaAllah... Abang gue yang bad boy memang bener-benar mau hijrah...” mendengar suara Devina masuk ke gendang telinganya, membuat kedua bola mata Daniel berputar malas. Daniel menoleh ke posisi dimana Devina berdiri. Adiknya itu tengah menatap geli dirinya dengan tangan yang bersedekap d**a.  “Sumpah, demi kegantengan doi idaman gue si Ustadz ganteng, lo beneran mau hijrah, bang? Gue pikir lo bercanda.” Devina berdecak berkali-kali sekaligus menggelengkan kepalanya. “Tumben lo pagi buta begini udah bangun? Biasanya masih molor, tuh” ucap Daniel sarkas, coba mengalihkan pembicaraan Devina yang tadi akan mengejeknya.  “Kebangun gara-gara suara Adzan. Gilak! Toa Masjid di sini kenceng banget, njir! Baru aja gue mimpi ketemu pangeran Ustadz ganteng itu, eh malah kebangun!” "Ya, suara toa Masjid harus kencenglah, biar orang pada bangun buat Sholat Subuh. Terus, lo udah bangun, gak mau Sholat Subuh?” “Gue Sholat? Beuh... Bakalan turun hujan batu di Jakarta!” ucap Devina asal-asalan lalu ia tertawa sendiri. “Dev... Dev... Lo diciptakan sama Allah di dunia ini untuk beribadah sebanyak-banyaknya ke Dia. Ini malah huru hara gak jelas.” Daniel hanya geleng-geleng kepala tak habis pikir saat mendengarkan celotehan tak jelas adiknya. Daniel sibuk melipat rapih sajadahnya.  “Yeuw... Tapi kan, hidup cuma sekali, Bang! Harus dinikmati, lah!” “Nah, justru itu! Justru karena hidup cuma sekali, harusnya lo banyak-banyak ibadah. Itulah fungsinya bumi ini dicipta, sebagai tempat makhluk Allah beribadah sebelum hari pembalasan tiba.” “Yeyeye, bacot, ah! Udah macam Ustadz aja gaya bicara, lo!” Devina menyela cepat, tak ingin mendengar lagi siraman rohani dari Daniel. Devina mencari topik lain. “Eh, gimana pesanan titipan gue yang tadi? Lo udah do'ain gue biar berjodoh sama tuh, Ustadz, kan?” “Enak aja! Do'a harus sendiri-sendirilah, mana bisa dititip segala!” “Jahat, lo! Nitip doang, elah...” “Nitip-nitip, lo kira balita apa seenaknya aja dititipi kayak TPA.” °°° “Dia cuma Adek aku, Aisy.” “Terus?” Aisy tetap berjalan tanpa menatap lawan bicaranya.  “Kamu jangan cemburu.” Langkah kaki Aisy berhenti tiga detik, namun setelah itu ia tetap melanjutkan perjalanannya. “Siapa yang cemburu? Gak ada, tuh! Ge'er!” ucap Aisy ketus.  Melihat kepergian Aisy yang semakin menjauh, lantas terpaksa membuat Daniel harus berlari. Pria itu berjalan cepat, mencoba mensejajarkan posisinya dengan Aisy. Siapa sangka walaupun Aisy seorang wanita nyatanya langkahnya lumayan cepat.  “Orang gila aja tau Aisy kalau kamu cemburu. Keliatan banget. Terutama pas kamu ngambek dan lebih milih pergi dengan Nada ke lahan Food Court.” Daniel semakin membuat Aisy geram. “Aisy!!!” Daniel kian berteriak kencang kala melihat Aisy yang semakin mempercepat langkahnya. Wanita itu tak bergeming untuk melambatkan langkahnya atau sekedar berhenti. Ia sudah muak dengan sikap Daniel. Lagi pula, kontrak kerja dia dan Daniel sudah habis. Beberapa menit yang lalu ia dan Daniel sudah mendapatkan lahan yang pas untuk Food Court, beserta menandatangani segala berkas mengenai surat kepemilikan.  “AKU CINTA, KAMU!!!” teriakan dari belakang, sukses membuat tubuh Aisy membeku di tempat. Waktu seakan berhenti berputar. Mulut manis Daniel mampu membuat hati Aisy sesak. Aisy sangat tahu, jika Daniel merupakan tipikal play boy yang hobby berganti pacar.  Aisy takut. Takut jika perasaan yang mendiami hati Daniel hanya perasaan tabu yang dinamakan cinta. Begitu pula perasaannya. Aisy memang tak pernah merasakan apa yang dinamakan cinta seperti orang pada umumnya. Tetapi semenjak bertemu Daniel, hatinya seakan bergetar tiap Daniel melontarkan kalimat gombal receh padanya. Tubuh tegap Daniel sudah berada di depan Aisy.  “Mungkin terkesan gak romantis, mendadak ngelamar kamu di jalanan Komplek kayak gini. Rasanya hati aku gak bisa buat nahan perasaan ini lagi, Sy. Aku cinta, kamu. Aku mau kamu jadi istri aku. Ibu dari anak-anak aku kelak. Anak kita. Aisy, jadilah pelengkap iman aku, teman dunia sampai akhirat aku.” Oksigen seakan enggan untuk Aisy hirup. Dadanya bagaikan dihimpit oleh sebuah batu besar. Aisy menunduk dalam-dalam. Tak berani menatap Daniel yang berada di hadapan. Kata-kata yang baru saja diucapkan Daniel begitu manis, sampai tak sadar Aisy telah meneteskan air mata. Terlebih lagi pria itu sudah memegang sebuah kotak cincin nan indah.  Aisy menggeleng lemah. Raut wajah Daniel yang awalnya bersemangat mendadak kecewa.  “Kenapa?” tanya Daniel lirih.  “Maaf...” Aisy berucap dengan suara bergetar. “Aku gak bisa.”  Mendengar jawaban dari Aisy membuat sebuah senyuman getir terbit di bibir Daniel. Daniel menggeleng miris. Cincin yang ada ditangannya ia tutup pelan beserta perasaan kecewa yang menyelimuti hatinya. “Apa karena aku Cowok berandalan, jadinya kamu gak mau?” lagi-lagi Aisy menggeleng lemah membuat Daniel menggeleng miris untuk yang kedua kali.  “Aku tau Sy, aku ini cuma pria pendosa yang gak cocok banget bersanding sama bidadari penghuni Syurga kayak, kamu. Bahkan lebih parahnya lagi, mungkin aku gak bisa mencium bau Syurga saking banyaknya dosa aku di bumi Allah ini.” Aisy menggeleng dengan air mata yang kian membanjiri pipinya. Bahkan suara segugukan kecil yang tertahan mulai terdengar darinya. Bibirnya seakan terkunci. Tak mampu berucap sepatah kata pun. Perkataan Daniel mampu menyayat relung hatinya paling dalam.  “Tapi aku yakin, pintu taubat Allah selalu terbuka bagi hamba-Nya yang sungguh-sungguh bertaubat. Sekalipun dosa hamba-Nya itu sebesar kapal, tetapi pintu taubat Allah seluas lautan.” ucapan Daniel berjeda lima detik. “Sekeji-kejinya seorang pembunuh, semenjijikannya seorang p*****r, jika Allah menghendakinya untuk bertaubat pastinya ia akan merangkak-rangkak mengejar ridho illahi.” “Ini salah,” sahut Aisy dengan suara serak. “Jangan bertaubat hanya karena kamu cinta aku. Sungguh, bertaubatlah karena pencipta-Mu. Andai kata kamu bertaubat hanya karena cintamu kepada hamba-Nya, maka jika suatu saat cintamu kepada hamba-Nya itu hilang, bisa jadi cintamu kepada-Nya juga ikut hilang.” Aisy menghela napas susah payah. “Aku gak sebaik apa yang kamu lihat. Diri aku penuh dengan lumpur dosa. Hanya saja Allah maha baik. DIA-lah Dzat yang selama ini menutupi semua dosaku. Aku bukan wanita yang mulia seperti ibunda Khadijah, bukan juga Wanita sholehah seperti Fatimah, bukan juga wanita sesuci Maryam, ataupun secerdas Aisyah. Tapi, aku hanyalah wanita biasa yang masih mengejar Jannah-Nya.” “Aku nggak nolak lamaran, kamu. Bukan juga nerima. Aku butuh waktu untuk berpikir. Pernyataan dari kamu begitu mendadak.” sejenak suasana hening. Hanya hembusan semilir angin yang hilir mudik menerpa pori-pori kulit mereka.  Setoreh senyuman Aisy tampilkan diwajahnya. “Daniel... Jika kamu memang mencintaiku, sebutlah namaku dalam do'a di sepertiga malam-mu.” Lantas setelah berucap demikian, Aisy berlalu pergi selepas ia mengucapkan salam. Wanita itu pergi meninggalkan Daniel dengan beribu rasa senang sekaligus sedih yang saling mendominasi.  “Aku yakin pilihan-Mu lebih baik dari pilihanku. Aku yakin rencana-Mu lebih indah dari rencanaku. Dan aku yakin, Engkau akan mempertemukan dengan dia. Dia yang tertulis di Lauhul Mahfudz-ku.” batin Aisy tak henti-hentinya tersenyum sembari menyetir mobil. °°° Selepas melaksanakan Sholat Subuh, Ozan beserta Lala memulai do'a mereka masing-masing. Memang keinginan mereka tersendiri untuk lebih berdoa sendiri ketimbang berdoa bersama. Alasannya, karena do'a mereka beda-beda. Mereka tak ingin isi do'anya diketahui satu sama lain.  “Padamu, Ya Allah... Berikanlah seorang Imam yang baik teruntukku kelak. Aku tau... Aku hanyalah wanita biasa dengan begitu banyak kekurangan dalam diriku. Aku bukanlah wanita sempurna, seperti yang mungkin dia harapkan. Maka... Ketika Engkau memilihkannya untukku, aku sangat tau Engkau ingin menyempurnakanku dengan keberadaannya.” “Dan kuharap... Ketidaksempurnaanku mampu menyempurnakan dirinya. Karena kelak kita akan bersatu. Aibnya adalah aibku, dan indahnya adalah indahku. Dia dan Aku akan menjadi Kita. Yaa Allah... Pada dirinya yang Engkau pilihkan sebagai imamku... Aku memohon padamu... Ridholah padaku. Sungguh... Ridho-Mu adalah Ridho-Nya Illahi Rabbi...” Karena saking khusyuknya berdoa, Lala sampai lupa untuk mengontrol emosi. Mendadak ia menangis tersedu-sedu. Terlebih lagi bayangan Reza ikut masuk saat ia berdoa. Suara tangisan Lala rupanya didengar baik oleh Ozan. Kakak kandungnya itu menoleh ke belakang untuk mengetahui siapa yang menangis. Saat tahu jika suara tangisan tadi yang sempat didengar olehnya adalah tangisan Lala, Ozan sangat terkejut.  “Astaghfirullah... Kunaon teh? Kenapa kamu nangis, La?” “Kemarin... Hiks, Kak Ozan marah sama Lala... Makanya Lala nangis. Kak Ozan sih, jahat!” tangisan Lala semakin terdengar.  Ozan menghembuskan napas panjang. Lengannya lambat laun mulai memeluk adik semata wayangnya itu. Memeluk Lala erat, berusaha meredakan tangisan sang adik. Detik berikutnya, tangisan Lala kian berhenti. Dirasa sang adik sudah merasa tenang, barulah Ozan mulai mengajak berbicara.  “Iya, maaf... Kakak emang salah. Gak seharusnya Kakak marah sama, kamu. Kakak minta maaf, okay?” tidak ada respon dari Lala. Malah Adiknya itu kembali menangis. Ozan merasa heran. “Kok, masih nangis? Kakak kan, udah minta maaf tadi.” mata Ozan menyipit curiga. “Ada apa? Ada yang gak beres nih, kayaknya.” Lala menggeleng, sementara Ozan menghela napas untuk yang kedua kalinya.  “Reza lagi?” kembali Adiknya menggeleng. “Jangan bohong.” diamnya Lala sudah dapat dimengerti Ozan jika memang benar Reza-lah yang membuat adiknya ini menangis.  Hembusan napas panjang Ozan keluarkan perlahan. Kedua tangannya menangkup wajah adiknya, agar sang adik mendongakkan kepalanya yang sedari tadi menduduk. Kedua bola mata biru Ozan menatap lurus ke dalam mata adiknya yang memerah akibat genangan air mata.  "Untuk kali ini aja, kakak biarin kamu cerita semua unek-unek hati kamu tentang Reza.” wajah Lala semakin lama semakin iba. Wanita itu kembali menangis. Kali ini tangisannya lebih kencang. Diiringi pula dengan segugukan kecil. "Kak... Sejujurnya Lala masih mikirin pasal Cewek yang deket sama Reza kemarin. Untuk sekarang, Lala hanya akan berserah diri dan meminta kepada-Nya.” ucap Lala susah payah sedangkan Ozan berusaha menjadi pendengar yang baik bagi adiknya. “Dan bila pun cinta ini tak kan terlaksana, Lala akan ikhlas. Karena yang Lala tau, Allah selalu baik kepada hamba-Nya.” “Malah bagus dong!” jawab Ozan enteng, sembari mengusap puncak kepala adiknya yang tertutup mukena. “Biarkanlah cinta ini kamu sandarkan pada kehendak-Nya. Cinta ini mungkin akan tetap hidup atau redup, biarlah Dia yang mengatur segala-Nya.” "Tapi, sekuat apa pun Lala melangkah, hanya akan berakhir kecewa bila tak sejalan dengan takdir yang telah digariskan-Nya.” ucapan Lala barusan membuat Ozan menghentikan usapan lembut dikepala Lala, sekaligus ia melepaskan pelukannya.  “Dengar ini.” suara Ozan mulai menginterupsi. Untuk yang kedua kalinya ia menangkup wajah sang Adik dan juga menatap serius mata adiknya.  “Takdir Cinta... Sekuat apa pun tekad hati, sekeras apa pun usaha diri dalam memaksakan sebuah rasa, akan juga berakhir sakit dan kecewa.” °°° Kamar feminim bernuansa pink baby bercampur biru langit itu menjadi saksi bisu do'a Aisy. Kali ini, untuk pertama kalinya Aisy berdoa kepada Sang Maha Pemilik Hati. Semenjak Daniel melamarnya kemarin, hati Aisy tak tenang. Ia sangat bimbang. Sampai saat ini belum memberi jawaban kepada Daniel.  “Bismillah... Yaa Illahi Rabbi... Sungguh aku sangat takut dan malu. Aku takut kepada-Mu, karena aku rasa cinta ini akan membuatku lalai. Aku malu kepada-Mu karena aku belum merasa sempurna mencintai-Mu, namun aku sudah berani mencintai ciptaan-Mu. Yaa illahi Rabbi... Jika ini memang perasaan cinta, ku harap perasaan ini tidak salah.” “Semoga, dia adalah orang yang selalu ingat kepada-Mu. Dan tolong, Yaa Illahi Rabbi... Jangan sampai cinta ini menjadi nafsu. Nafsu dimana keinginan untuk memiliki. Yaa Illahi Rabbi... Sungguh aku tidak ingin mengotori hati ini dengan cinta yang tidak halal bagiku. Aku tidak ingin mengotori fitrah sebuah cinta. Aku tidak ingin mengubah sebuah hakikat cinta yang sebenarnya.” “Sekali lagi, aku sangat takut kepada-Mu Yaa Illahi Rabbi... Bagiku saat ini cinta adalah ujian. Ujian dimana hati yang tersiksa menunggu waktu itu tiba. Semoga cinta ini tidak membuatku terlena. Semoga aku bisa menjaga rasa cinta ini dengan baik. Aku yakin jika memang dia jodohku, Engkau tentu akan menyatukan hatiku dan hatinya dalam ikatan suci kelak. Aamiin...” Aisy mengusap air yang meluncur setetes dipipinya. Ia sangat tak menyangka jika do'a cinta ini sampai membuatnya menangis. Mukena dan sajadahnya yang terbentang ia lipat rapih dan ditaruhnya di atas meja nakas. Sorot mata Aisy tak sengaja menatap ke arah boneka pemberian Daniel yang memang ditaruh di meja nakas.  “AKU CINTA, KAMU!” ucapan lantang Daniel saat melamarnya tiba-tiba terdengar hingga ke ubun-ubun kepala. Kata-kata Daniel saat melamarnya di Komplek perumahan kemarin terus saja terngiang-ngiang di kepala Aisy sampai sekarang.  “... Rasanya aku gak bisa nahan perasaan ini lagi, Sy. Aku cinta, kamu. Aku mau kamu jadi istri aku. Ibu dari anak-anak aku kelak. Anak kita. Aisy, jadilah pelengkap iman aku, teman dunia sampai akhirat aku.” Sembari memandang boneka pemberian Daniel, dan juga mengusapnya lembut, Aisy terus memikirkan ucapan demi ucapan keyakinan yang dilontarkan lantang oleh Daniel. Akhir-akhir ini hatinya sering berkecamuk.  “Daisy... Apa benar Daniel mau taubat seperti janjinya kemarin? Kalau memang benar, semoga langkahnya menuju pintu taubat Allah diberi Ridho dari sang illahi.” “Apa memang benar? Berilah aku petunjuk-Mu, ya Allah...” selalu saja Aisy mempertanyakan itu. Ia merasa pertanyaannya tak pernah terjawabkan. °°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD