Part 14

3319 Words
Ruangan elegant menjadi saksi bisu dari ketaatan seorang hamba-Nya kepada sang pencipta. Di ruangan itu, tampak Nada sedang melaksanakan Sholat Dzuhur empat rakaat. Padahal waktu jam makan siang sebentar lagi ingin berakhir, tapi Nada lebih mengejar pencipta-Nya terlebih dahulu. Khusyuk-Nya Sholat Nada, membuat ia tak menyadari jika ada seseorang yang memperhatikannya dari belakang. Orang itu adalah David. Dari mulai Nada memasuki rakaat kedua gerakan Sholat, pria itu datang diam-diam ke dalam ruangannya. Dan sekarang, David hanya diam, menatap Nada yang sedang Sholat dari belakang sofa. Jadi posisi arah kiblat Nada Sholat, membelakangi David. “Assalamu'alaikum warohmatullah...” kepala Nada mulai menoleh ke kanan. “Assalamu'alaikum warohmatullah...” dan berikutnya menoleh ke kiri. Kedua tangan Nada mulai menadah. Kini saatnya dia mulai berdoa. Dan hal ini tentu tak terlepas dari tatapan David di belakang.  “Ya Allah... Berikanlah tempat terindah buat Mama. Semoga ia bahagia di sisi-Mu. Bilang kepadanya, bahwa hamba belum bisa memaafkan orang itu. Rasa sakit ini belum sepenuhnya pulih.” sebulir bening air mata mulai menetes dari mata Nada. Suara Nada pun mulai segugukan. Dari belakang, David tetap terdiam, tetapi entah kenapa ada rasa tak tega ketika David mendengar suara tangisan wanita itu. "Dan... Ya Allah... Jika suatu saat hamba jatuh cinta. Tambatkanlah cinta yang tumbuh di hati ini hanya untuk-Mu. Tolong sampaikan pesan ini kepadanya, Yaa Raab. Sampaikan pesan ini kepada calon imamku, agar ia selalu menjaga hatinya hanya untukku. Dan, permudahkan-lah langkah kakinya untuk mengetuk pintu rumahku. Aamiin... Yaa robbal 'alamin.” Setelah berdoa, perlahan Nada membuka mukenanya, dan untung sekali wanita itu masih mengenakan hijab. Nada mulai melipat mukenanya, tetapi suara David dari belakang tiba-tiba mengintruksi. “Sudah dari tadi aku menunggumu. Lama sekali,” bariton dingin itu spontan membuat Nada menoleh ke belakang. Sungguh Nada terkejut bukan main akan keberadaan pria dingin itu di ruangannya. Sejak kapan pria itu ada di sini? Hanya pertanyaan ini lah yang terbesit di pikiran Nada. “Bapak ngapain di sini?” David berdehem canggung. “Ingin mengajakmu makan siang bersama.” Apa Nada tidak salah dengar? Pria dingin yang tak pernah mau satu meja makan dengan karyawan, mendadak ingin mengajak makan siang bersama? Ini sangat diluar logika. “Ngomong ke Nada bapak kesambet setan mana?! Apa Pak David kepalanya barusan ke pentok tembok?!” “Oh, s**t, Nada! Kali ini saja bisakah aku tak meladeni sikap gilamu? Bertingkahlah layaknya manusia normal sekali saja, apa bisa?” David yang semula tenang mendadak terkejut akan sikap Nada yang lagi-lagi kembali brutal. Kelakuan gila dari Nada mendadak berhenti ketika ucapan kesal dari David keluar. “Bertingkah layaknya manusia normal? Dikira gue udah sakit jiwa kali apa? Nih cowok mulutnya gak ada rem tambahan? Seenak Kakeknya aja ngatain gue gila!” David melirik sekilas jam yang melingkar di tangan kirinya. “Masih ada setengah jam lagi waktu makan siang. Aku tunggu kau di pintu utama. Secepatnya.” kemudian tanpa permisi David keluar dari ruangan Nada. Melihat kepergian David yang seenaknya saja, membuat Nada kesal hingga ke ubun-ubun. Baru saja selesai Sholat, tapi keimanannya harus diuji lagi. Sesuai dengan keinginan David tadi, Nada pun bergegas turun menuju pintu utama. Kini wanita itu sudah berada di luar. Menatap ke sana kemari demi mencari sosok pria tegap nan tampan itu. “Ck! Di mana sih, tuh orang? Katanya temui di pintu utama, tapi dianya sendiri yang gak ada!” tak ingin menunggu lama, Nada pun berinisiatif untuk menelepon Bos dinginnya itu. Ponsel Nada terdengar sedang menyambungkan. “Hallo...” tidak perlu menunggu waktu lama, sambungan telepon pun tersambung. “Bapak ada di mana? Nada udah ada di pintu utama, tapi—“ “Aku ada di belakangmu.” Sontak saja Nada menoleh ke belakang begitu mendengar suara dingin tadi. Sejenak Nada sedikit terpesona akan ketampanan David kali ini. Wajah pria itu begitu tampan. Memang selalu tampan, jika menurut Nada. Tapi, entah kenapa kali ini ia merasa ketampanan David berlipat ganda. “Cepatlah!” “Eh, eh, bapak! Tungguin Nada!” dengan langkah seribu Nada berusaha menyamakan langkah kaki David yang lebar. Padahal pria itu berjalan tampak biasa saja, tapi Nada malah tertinggal jauh. “Loh? Kita mau ke mana? Kok pakai mobil segala?” tanya Nada bertubi-tubi, menatap heran ketika David ingin memasuki mobil mewahnya. “Ya, makan sianglah, Nada...” jawab David mulai kesal. “Nggak, nggak! Kali ini Nada gak mau makan di restoran!” Alis David saling bertautan. Pintu mobil yang terbuka ke atas itu ia tutup kembali. “Jadinya, kau ingin makan ke mana?” Senyum Nada yang terlihat aneh bagi David pun mengembang. Sepertinya kali ini wanita berhijab itu memiliki pemikiran gila nan unik untuk David seperi biasanya. °°° “Tadaaaa!!!” Ekspresi David terlihat cengo menatap tempat yang berdiri tegap di hadapannya itu. Sementara Nada? Ia terlihat tersenyum bahagia sembari cengar-cengir tidak jelas. “Pecel lele?” tanya David kepada Nada dengan ekspresi yang sama. Ekspresi masih tak percaya. Nada mengangguk mantap menanggapi pertanyaan David yang lebih tepatnya pernyataan. “Kau... Kau serius ingin mengajakku makan di sini?” David bertanya sekali lagi, mencoba untuk meyakinkan semua hal ini. “Ya, iya lah! Masa gak pula ya, kan?” Nada tersenyum sekilas, lantas ia langsung berjalan masuk ke dalam lapak pedagang kaki lima tersebut. “Yo, yo, ayo, Pak!” Mata David berputar malas, tapi ia tetap memasuki lapak pecel lele itu dengan perasaan berat hati. “Damn! Yang benar saja!” °°° Lagi dan lagi iman Nada harus diuji. Bukan karena sifat cuek dan dingin bosnya itu. Melainkan ketampanannya hari ini. Seperti sekarang. Nada baru saja selesai memesan hidangan, lantas berbalik ingin kembali ke meja mereka. Tetapi David malah menatapnya intens dengan pose yang terlalu tampan! “Maka nikmat tuhan kamu yang mana lagikah yang kamu dustakan?” itulah isi hati Nada saat ia menatap ciptaan Tuhan yang sayangnya tak mengaku mempunyai Tuhan itu. Alis David terangkat satu. Menatap tingkah aneh Nada yang hanya diam bak patung sembari menatapnya tanpa ekspresi. “Kenapa kau hanya berdiri di situ?” "Ah, iya! Sorry, tadi Nada gak sengaja ke pikiran sesuatu.” lamunan Nada pun buyar ketika ia mendengar suara sahutan makhluk tampan yang ia tatap sedari tadi. Sembari menunggu pesanan yang datang, keadaan di antara mereka mendadak canggung. Untuk menghindari tatapan dari David, Nada pura-pura sibuk mengotak-ngatik ponselnya. Padahal tak ada apa pun di sana. “Pak, bosen!” “Lalu? Kau mau apa? Jungkir balik?” David menatap Nada yang memasang wajah kesal dengan alis terangkat satu.  Nada berdecak. Pandangannya mengedar. Kembali dia menatap David. Ekspresinya berbeda dari yang awal. Kini senyuman menghiasi.  “Pak, Nada punya ide! Supaya kita gak bosen nunggu makanan jadi, gimana kalo kita main aja!" “Main apa?” David menghela napas pelan. Menatap Nada malas. “Permainan itu untuk anak-anak, Nada. Kau sudah besar.” “Bukan main yang anak-anak, Pak! Tapi, mainan orang dewasa, kok! Makanya denger dulu Nada jelasin sampe selesai!” Nada mengambil jeda. “Jadi, kita main jual gombalan gitu. Soalnya Nada gak pernah ngeliat Bapak ngegombal. Penasaran juga ngeliat ekspresi Bapak ngegombal.” “No!” satu jawaban singkat dari David, membuat Nada emosi.  “Ih, Bapak! Sekali aja, masa gak mau? Jangan cepat membuat keputusan gitu, dong! Gak baik!” Nada mencari ide lain, agar David mau bermain. “Nada dulu aja deh, yang ngegombal! Baru Pak David!” David terdiam. Di tatapnya Nada sangat dalam. Nada yang di tatap lekat, merasa salah tingkah. Diamnya David ternyata dia tengah memikirkan tawaran Nada matang-matang.  “Oke... Aku terpaksa ikut dalam permainan bodohmu.” Spontan Nada bersorak riang bagai anak kecil. Dia bertepuk tangan. Permainan gila itu pun Nada mulai. “Menurut Bapak, cinta itu apa?” “Cinta itu kebodohan.” Tampak Nada pura-pura berpikir. “Boljug, sih... Tapi, Bapak mau tau gak, arti cinta menurut Nada?” “Sebenarnya tidak mau, tapi aku tidak ingin kau merengek seperti tadi... Jadi... Apa?” wajah super malas, David tunjukkan. Nada yang melihat, mati-matian menahan tawa. Wajah David lucu sekali berekspresi seperti itu. Belum pernah Nada lihat. Baru kali ini.  Nada berdehem sebelum berbicara. Coba menetralkan tawanya juga yang sempat tertahan. “Cinta itu ibarat angin. Tidak terlihat, namun bisa dirasakan kehadirannya.” Jeda tiga detik. “Gimana, gimana?! Bapak baper, gak?” David menggeleng. “Nope, lebih tepatnya laper.” raut wajah Nada pun drastis berubah datar.  “Coba Bapak lagi kalo gitu!” sentak Nada karena kesal.  “Oke... You know, you are ABCDEFGHIJK.” Sepertinya David berniat menguji Bahasa Inggris yang Nada kuasi. Maka dari itu, Nada terima saja. David menjual, Nada pun membeli.  “What does that mean?” Nada memasang wajah sombong.  “Attractive, brilliant, cute, dazzling, excellent, funny, gorgeous, hot...” “Ouw... Sosweet.” Namun, Nada teringat tiga huruf yang belum David sebutkan. “Sorry, Sir... You forget something. What is the purpose of IJK?” “I'm just kidding.” Seakan tak berdosa, David berucap demikian. Nada yang sudah senang, harus menelan rasa pahit begitu dalam. °°° Beberapa menit berlalu, hidangan pecel lele pun dihidangkan. Nada menatap berbinar-binar ke arah lauk pauk pecel lele di hadapannya. “Bapak kok gak makan?” “Sendok, garpu, dan pisaunya di mana?” ketika mendengar pertanyaan dari David yang berturut-turut spontan saja membuat aktivitas makan Nada berhenti. “Hellow, Bapaaakkk! Hari gini makan pecel lele pakek sendok? Apa kata netijen?! Di mana-mana tuh ya, makan pecel lele pakek tangan!” “Tidak, Nada!" tolak David tegas. "Berikan aku sendoknya sekarang.” Nada menatap tajam ke arah mata David, dan kedua bola mata Nada pun berputar malas. “Iya, dah, iya!” dari pada berdebat, lebih baik Nada menuruti saja keinginan bosnya yang paling tampan ini. Mereka berdua menyantap makanan dengan khidmat. Sebelum makan, tak lupa Nada berdoa terlebih dahulu. Apa yang Nada lakukan, David perhatikan keseluruhan tanpa berkedip.  “Kau sedang apa?” “Berdoa sama Allah.” Nada tersenyum lebar. “Biar apa yang kita makan ini jadi berkah, dan juga Setan gak ikut makan. Dalam ajaran Agama Nada, sebelum memulai sesuatu itu harus berdoa. Salah satunya, mengucap basmallah.” “Kenapa ada aturan seperti itu?” David lebih mendekatkan kursinya ke depan. Topik pembahasan ini berhasil memunculkan jiwa penasaran dalam dirinya.  “Karena Allah sayang.” Jawab Nada singkat, padat, jelas, dan penuh hikmah.  “Allah? Who is Allah?”  “Allah... Tuhan kami. Dia-lah yang menciptakan manusia, bumi, langit, serta seisinya. Dan tiada siapa pun yang bisa menandingi kehebatan, ketinggian, dan kekuasaan-Nya.” setelah mengatakan seperti itu, mendadak tak ada lagi percakapan diantara mereka. David hanya menatap hampa ke arah Nada. Sementara Nada pura-pura sibuk mengaduk makanannya, agar ia tak merasa canggung karena ditatap David terus-menerus.  “Apa buktinya, jika Tuhanmu itu sayang?” suara David terdengar lagi. Untuk yang kedua kalinya Nada kembali tersenyum, ia memperbaiki posisi duduknya, dan menghela napas sejenak.  “Bukti Allah sayang kepada hamba-Nya, yaitu Dia tak meminta imbalan kepada hamba-Nya kecuali hamba-Nya tersebut harus berbuat pahala atau kebaikan di dunia. Contoh Allah sayang, saat ini kita menghirup oksigen dengan puasnya. Jika dipikir-pikir, misalnya Allah meminta imbalan untuk satu tarikan napas per detik yang kita hirup, bagaimana? Mampukah kita membayarnya?” Ucapan Nada menggantung sejenak. Lantas wanita itu menggeleng kecil, diselingi dengan kekehan. “Nada rasa gak akan bisa. Sekaya apa pun manusia itu, jika harus membayar pasokan oksigen per detik untuk hidup, maka dia akan bangkrut! Orang nomor satu terkaya pun, pasti akan jatuh miskin dalam hitungan jam. Dijamin, deh!” Perkataan Nada tersebut, tak bisa dibalas oleh David. Ia terdiam, tapi dalam hati juga berpikir seperti apa yang Nada ucapkan barusan. Jika satu tarikan oksigen per detik dibayar, mampukah ia membayarnya? Pastilah kekayaannya akan lenyap dalam hitungan tiga hari saja. Begitu lah yang dipikirkan dia. Di saat mereka terfokus dengan makanan di hadapan, tiba-tiba dua orang anak kecil menghampiri mereka. Satu anak membawa dua botol air mineral dan satunya lagi mangkuk plastik yang berisikan banyak uang recehan.  “Permisi, Om, Tante...” anak yang memegang kedua botol tadi pun mulai mengeluarkan suara. Lagu Law Kana dinyanyikan oleh dua anak kecil itu. Lagu yang mengingatkan Nada pada Rasulullah.  Sesampailah di puncak lagu, Nada tak kuasa membendung air mata yang sedari tadi ia tahan. Air mata merosot begitu saja, ketika ia mendengar nama Rasulullah di nyanyian nan merdu itu. “Terima kasih!” lagu nan merdu itu pun selesai. Nada bertepuk tangan, dan secepat kilat ia menghapus air matanya. Dari tadi, rupanya David melihat Nada menangis. Sampai lagu habis dinyanyikan, pria itu tak henti-hentinya menatap Nada. “Hey, nama kalian berdua siapa?” tanya Nada lembut, dengan suara lirih. “Namaku Yudha, Tante.” jawab anak kecil yang bernyanyi tadi dengan suara lantang. “Dan ini adikku, Naufal.” lanjutnya, sembari menunjuk sang Adik.  “Umur kamu berapa, Yudha?” tanya Nada lagi. “Tujuh tahun, Tante.” “Kalo adik, kamu?” “Empat tahun,” sahut si adiknya malu-malu.  “Kalian... Tinggal di mana?” saat Nada berbalik menatapnya sambil tersenyum gemas, anak yang masih berusia empat tahun itu pun bersembunyi di balik tubuh sang Kakak.  “Gak jauh dari sini kok, Tante.” “Tinggal dengan siapa di rumah?” tiba-tiba anak yang bernama Yudha itu terdiam. Diamnya anak itu yang begitu mendadak, membuat Nada aneh sendiri. Pasalnya ketika Nada bertanya hal demikian, mendadal saja kepala anak itu menunduk dalam. “Orang tua kalian ada di mana?” Yudha tetap tak menjawab. Ia masih diam dan tetap menunduk. Nada menoleh ke arah David. Begitu pun pria itu. Seakan mereka sedang berbicara lewat kontak mata saat ini. “Ibu sama Ayah ada di Syurga, Tante.” sahutan dari seorang anak kecil yang masih belum pandai berbicara itu sontak membuat Nada dan David menoleh. Yang bersuara tadi bukanlah Yudha. Melainkan adiknya, Naufal. Ucapan anak kecil yang lugu itu sontak saja membuat hati kedua insan ini memcelos. Anak kecil berusia tujuh dan empat tahun harus bekerja, lantas hidup sebatang kara tanpa kedua orang tua? Yang benar saja. Itu lah yang dipikirkan mereka. Pemikiran mereka tak jauh beda sebelas dan dua belas. °°° “Yudha, Naufal.... Kalian tinggal di sini yah, sekarang.” Yudha dan Naufal menatap keseluruhan rumah besar di hadapannya. Di sana tertera tulisan 'Panti Asuhan Cinta Kasih Ibunda'. Panti asuhan milik Aisyah. Kini mereka berada di panti Aisyah sekarang. “Assalamu'alaikum... Kenalkan, nama bunda, Aisyah.” sapa Aisyah hangat sembari tersenyum manis khas keibuan. “Nama kalian siapa?” “Yu... Yudha, tante.” jawab Yudha gugup. “Loh... Kok Tante? Panggil bunda lah, Sayang.” “I— iy— iya, bunda.” Lantas Aisyah berbalik menatap seorang anak kecil yang sedari tadi mencuri pandangannya. Ia berjongkok. Mensejajarkan tingginya dengan Yudha dan Naufal. “Hey, kalo kamu namanya siapa?” Naufal tak menanggapi pertanyaan Aisyah itu. Ia terus saja bersembunyi di balik punggung sang kakak. Tetapi, lambat laun anak kecil yang manis itu pun berani mendekati Aisyah, walaupun malu-malu. “Na... Nama aku... Naufal, Bunda,” “Oh... Naufal...” Aisyah mengangguk seperti anak kecil dengan wajah konyol. Kedua pipi Aisyah tampak gembul saat ini. “Naufal mau gak, tinggal di sini? Bareng Bunda, sama Kakak Yudha?” pertanyaan dari Aisyah itu membuat Naufal kembali terdiam. Kepalanya lantas mendongak ke arah Nada yang berada di sampingnya. “Tapi, Tante cantik ini ikut gak?” tanya Naufal ke Aisyah. Telapak tangan anak itu mendadak menggandeng erat telapak tangan Nada. “Aduuhh... Gak bisa dong, Sayang .” mendengar penolakan lembut dari Aisyah, membuat kepala Naufal menunduk sedih. “Tante cantik ini harus kerja. Lagian kalo tante cantik ikut tinggal di sini bareng Naufal, entar Om ganteng yang itu marah, loh.” Penuturan asal dari mulut Aisyah ini, lantas membuat mata Nada dan David sama-sama melotot. “Di sini kan, banyak temen-temen. Naufal sama kak Yudha bisa main bareng temen-temen. Ya, kan?” sambung Aisyah berusaha membujuk Naufal menunduk lemas dengan mulut yang mencebik. Tambah membuatnya semakin lucu. Tanpa sadar Aisyah mencubit gemas pipi gembulnya Naufal. “Jadi, Naufal mau kan, tinggal di sini?” “Iya! Naufal mau!” jawab anak kecil itu bersemangat. °°° Secara mendadak, Daniel mengadakan pertemuan antara dirinya, Reza, Alif dan Faisal. Ia melakukan itu karena ingin sharing mengenai ilmu Agama pada Faisal. Menurutnya, Faisal harus mengetahui hal itu, terutama pasal pernikahan.  “Nah, Reza, Alif, ini dia Faisal yang gue ceritain. Reza udah kenal pastinya sama Faisal, secara dia yang jadi penghulu.” Daniel memberi kode ke Faisal untuk berkenalan pada mereka berdua. Faisal, Reza, dan Alif saling berjabat tangan. Mereka berkenalan satu sama lain.  “Gimana pernikahannya? Semoga Samawa,” Reza bertanya demikian, karena teringat pernikahan Faisal. Kentara sekali, jika mereka menikah tanpa cinta.  “Apanya yang Samawa, malahan banyak drama.” Faisal tersenyum kecut. Pandangannya menunduk. Reza menatap aneh. Sepertinya pernikahan mereka masih sama.  “Maksudnya banyak drama?” alis Reza mendadak berkerut bingung setelah Faisal berucap demikian. Faisal mengendik bahu ragu-ragu. Dia mengangkat kepala. Menatap serius tiga orang dihadapannya.  “Gue masih gak bisa cinta sama dia. Dan mungkin, gak akan pernah! Cinta itu gak bisa dipaksain!” “Sal...” Reza menggelengkan kepala tanda tak setuju. “Cinta emang gak bisa dipaksakan, atau pun dipaksa setia. Namun, lo harus ingat! Sejatinya hati manusia itu mudah berbolak-balik, jika doa Istri lo dikabuli sama Allah. Gue pastiin, cepat atau lambat lo bakalan jatuh cinta sedalam-dalamnya ke dia.” Ucapan Reza benar-benar serius. Faisal saja dibuat bungkam tak bisa menyahuti. Alif yang sedari tadi diam, hanya menyimak mulai buka suara.  “Faisal, lo mungkin belum bisa mencintai dia. Emang gak mudah menerima seseorang yang datang dalam hidup. Terlebih kalian sama sekali gak kenal sebelumnya. Tapi kalo lo gak cinta sama dia, setidaknya lo jangan membencinya. Kalo lo gak bisa buat dia tersenyum, setidaknya lo gak buat dia menangis.” “Kalo lo gak bisa buat dia bahagia, setidaknya jangan buat dia menderita. Dan kalo lo gak bisa memuji dia, setidaknya lo jangan cela dia hingga alasan itu lo buat sebagai alasan untuk berpaling. Istri itu amanah untuk di jaga, bukan disakiti.” Kini pikiran Faisal mendadak di penuhi oleh Sandryna. Pikirannya terbagi antara Liana dan Sandryna. Ucapan kedua Lelaki yang baru ia temui hari ini, berhasil membuatnya bimbang.  Kebimbangan Faisal membuat Daniel tertawa geli. Sahabatnya seperti orang yang kebingungan. Daniel ikut andil berbicara. “Sal... Bagi gue pribadi nih, ya, lo itu adalah Pria yang paling beruntung di dunia. Beruntung karena mendapatkan Istri lo itu. Sementara gue? Lagi mati-matian dapati calon Istri yang sejenis Sandryna.” “Lo mau tau gak, istri lo itu termasuk ciri-ciri wanita penghuni Syurga. Mau gue kasih tau, wanita penghuni Syurga itu kayak apa?” kepala Faisal seperti ada yang menggerakkan tapi bukan dirinya, kepala Faisal mengangguk patuh. Mengangguki ajuan pertanyaan dari Reza.  “Wanita penghuni Syurga itu ciri-cirinya, Wanita yang penuh kasih sayang, selalu kembali pada Suaminya, selalu taat dan patuh pada Suaminya, selalu tersenyum menyambut Suaminya sepulang bekerja, berucap penuh kelembutan saat berbicara pada Suaminya, menyalami suaminya sebelum dan sepulang bekerja, takkan bisa tenang jika Suaminya belum pulang, karena dia tau, ridho Syurga-Nya ada di bawah telapak kaki Suaminya. Karena dia tau, Suaminya itulah teman seperjuangan dunia dan akhirat sampai maut memisahkan. Apa yang gue ucapi tadi, ada didiri Istri, lo?” Kepala Faisal mengangguk berkali-kali. Tangannya mencengkram kuat, begitu mendengar ucapan Reza barusan. Sekarang hanya ada Sandryna di pikirannya. Tidak ada lagi Liana.  “Maka dari itu, ingat-ingat lagi saat menyakiti hati istrimu. Dia telah rela menolak banyak laki-laki yang mungkin lebih baik darimu, dan memilih ikhlas memilih laki-laki seperti dirimu. Istrimu... Adalah wanita yang telah ikhlas menerima segala kekuranganmu. Bahagiakanlah dirinya selagi ada. Membahagiakan istri itu tak mesti dengan uang, dan harta.”  “Cukup ajarkan ia ilmu agama, jaga perasaannya, dan jadilah teman yang terbaik sepanjang hidupnya. Karena sejatinya, perempuan itu sekalinya cinta maka cintanya sangat besar. Walaupun sudah disakiti, sudah dibohongi, sudah ditinggalkan, sudah diabaikan, tapi tetap saja cintanya masih utuh dan bertahan.” sambung Reza dan d**a Faisal semakin sesak.  Dapat dirasakan matanya mulai memanas. Setitik ego rupanya masih ada. Faisal merasa berada pada banyak pilihan bercabang. °°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD