Part 13

4279 Words
Sekarang Nada tengah berada di pekarangan belakang rumah Aisy. Ia bersama Aisy asyik mengobrol pasal oleh-oleh yang diberikan Daniel tempo hari. Dalam hati, Aisy berteriak kesal karena tingkat keppo Nada yang bisa dibilang cukup tinggi. Ia rela datang saat waktu masih pagi buta.  “Jadi, Daniel ngasih lo cuma oleh-oleh boneka ini?” Aisy mengangguki saja pertanyaan Nada. Ia tidak tahu jika ekspresi Nada bisa dibilang konyol melihat oleh-oleh dari Daniel hanyalah boneka.  Sebelah mulut Nada terangkat satu. Menampakkan wajah yang tak percaya. Adik sepupu dari Daniel ini tidak mengira kalau Daniel tega-teganya, memberi oleh-oleh boneka untuk Aisy.  “Gila si Daniel! Cuma ngasih lo boneka! Gak modal banget tuh, orang!” celoteh Nada menampakkan raut wajah kesalnya ke arah Aisy. Aisy tetap diam dan sibuk berkutat dengan make-up yang ia poles ke wajah. Bagi Aisy, biarlah Nada sibuk akan celotehan-celotehan yang tidak penting. Mungkin dengan cara itu, Nada bisa tenang. “Yang penting, dia ikhlas.” sahut Aisy melirik Nada sekilas. “Ikhlas sih boleh, Sy! Tapi mikir-mikir dulu dong, kalau mau ngasih oleh-oleh! Dia itu orang kaya, Sy! Masa gak bisa kasih yang lain!” jawab Nada makin sewot. Napas wanita itu pun jadi tidak teratur. “Ingat asma, buk!” Nada mengerucutkan bibir kesal. Ia sudah marah-marah karena ingin membela Aisy, tapi Aisy-nya sendiri tampak biasa saja. Tidak ambil pusing masalah kado Daniel. Nada masih menampakkan raut wajah kesal. Bahkan ia masih bisa berceloteh saat menyemprotkan obat asma ke dalam mulutnya. “Dalam Islam, sangat menganjurkan seorang muslim untuk menerima pemberian dari seseorang. Asalkan tidak ada tujuan maksud tertentu. Sebagai muslim kita harus menerima apa pun yang diberikan dan tidak memandang pemberian itu dari segi nominal ataupun barang. Kalau kita menolak, sama saja kita menyakiti hati orang yang memberi.”  “Hal itu juga bisa menimbulkan dosa. Rasulullah shallahu 'alaihi wassallam bersabda: 'Penuhilah undangan, jangan menolak hadiah, dan janganlah menganiaya kaum muslimin.' (HR. Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, Al Bukhari dalam Adabul Mufrad dan Shahihul Jami' Ash Shaghir [158].” jelas Aisy kepada Nada yang akhirnya membuka suara setelah sekian lama diam. Nada hanya terdiam tak bisa menyahuti lagi ucapan Aisy. Rasa kesal masih melanda diri wanita Muslimah berhijab itu. Boneka pemberian sepupunya ia pandang lekat dan tersirat rasa kesal dalam bola mata coklat itu. Andaikan boneka itu adalah makhluk hidup, sudah pasti Nada akan mencabik-cabiknya sampai tak tersisa. “Udahlah, Nad!” Aisy memperingati Nada yang sedari tadi ingin menjambak hijab boneka kesayangannya. “Lagian gue suka kok sama, Daisy.” “Daisy?” tanya Nada yang diangguki Aisy sambil bergumam. “Iya! Daisy! Boneka dari Daniel itu, namanya Daisy. Artinya Daniel, Aisy.” “Kok namanya Daisy sih?! Terus, kenapa harus ada nama Daniel? “Lah? Suka-suka Daniel, dong! Yang kasih nama dia!” ujar Aisy enteng. Spontan Nada terbelalak dengan mulut yang hampir sempurna terbuka.  “Kenapa gue mendadak curiga gini, yah?” Nada sepertinya mulai menjalankan aksi untuk menggoda sahabatnya. "Biasanya kalau ada hal yang berbau aneh kayak gini, elo marah. Gak kayak Aisy yang biasanya... Atau jangan-jangan elo udah mulai ada benih-benih rasa sama Daniel!” Aisy terkejut bukan main lantaran ucapan tak jelas dari Nada. Apa lagi sekarang Nada tengah memasang tatapan intimidasi yang sudah pasti membuat bulu kuduknya berdiri. Soalnya saat ini Nada sedang menatap intens wajah Aisy dengan tangan yang ditopang ke atas dagu. “Astaghfirullah, lo kenapa?! Selalu seudzhon mulu!” Nada mendesis. “Aisy, kenapa lo gak mau jujur juga sih, kalo suka sama Daniel? Kenapa elo mesti ngebohongin diri sendiri? Dosa besar Aisy! Orang gila pun tau, elo itu udah suka sama Daniel! Daniel juga selalu ngejar-ngejar lo, dan sekarang kenapa nggak elo balas cintanya? Setidaknya buka hati sedikit!” “Nad... Gue ini tipikal Wanita yang susah banget buat buka hati. Nih, gue kasih tau satu hal ke, elo. Gak semuanya Lelaki itu benar-benar mencintai. Kebanyakan mereka itu cuma mengejar-ngejar karena penasaran aja. Nanti setelah rasa penasarannya hilang, dia bakalan kayak biasa aja. Mungkin malah, si Wanita udah terlanjur jatuh hati dan ujung-ujungnya dia sendiri yang sakit hati. Jangan mudah jatuh ke dalam seribu rayuan yang di lontarkan Pria intinya, karena Wanita itu makhluk perasa. Hatinya mudah terisi oleh sesuatu yang hanya membuatnya takjub saja.” “Oh, jadi ceritanya elo lagi sok jual mahal, nih!” Nada menaik turunkan alisnya. Dia tersenyum lebar. Semakin gencar menggoda Aisy.  “Eh, Wanita emang perlu sok jual mahal. Bukan berniat sombong, tapi karena memang dia harus mengukur seberapa besar tekat Pria untuk mendapatkannya. Bukan sebatas mengejar saja.” °°° Seorang gadis baru saja keluar dari ATM. Seperti biasa, tampilan Devina mampu membuat pandangan kaum Adam tak henti-hentinya menyorot ke arahnya. Pastinya baju wanita itu tak pernah ada yang di bawah lutut. Semuanya pasti 5 Cm di atas lutut. “Lima juta. Uang segini enaknya dibeliin apa, ya?” gumam Devina sambil berjalan menuju mobilnya. Wanita modis itu sibuk berceloteh sembari menghitung uangnya, tanpa memperhatikan sekitar. Kebetulan saja, dua orang pria berbonceng menggunakan sepeda motor hendak lewat.  “Beli gelang emas atau kalung batu diamon?” sejengkal lagi, tampak dua pria bermotor itu hendak menghampiri Devina, dan... “COPEEETTT!!!” Teriak Devina histeris. Laju motor itu sangat kencang meninggalkan Devina yang tengah berteriak histeris.  “Tolooonggg!!! Copeettt! Sialan, gak ada yang mau nolongin gue apa?!” Kebetulan Alif yang sedang melintas tepat di daerah Devina berpijak mendengar teriakan nyaring Wanita itu. Awalnya haluan Alif lurus, tapi saat mendengar teriakan Devina yang berasal di arah kirinya, dia pun berbelok arah.  Saling beradu kecepatan motor, akhirnya beberapa menit kemudian Alif berhasil menghentikan laju motor dua pencopet itu dengan cara menghadangnya.  “Kembalikan tas wanita itu.” Dua pencopet itu lantas tertawa ketika mendengar ancaman dingin dari Alif. “Memangnya lo siapa berani merintah kita berdua? Cari mati bener, lo.” ujar salah satu preman bertindik didagu.  “Gaya macam Ustadz udah sok mau jadi pahlawan.” sambung preman berkepala botak. “Gini aja, mending lo pergi aja ceramah di masjid. Dari pada berantem sama kita berdua, malah tambah numpuk dosa.” Raut muka Alif tetap datar saat mendengar celotehan dari kedua preman itu. “Kalian pikir mencopet tak menumpuk dosa, gitu? Pintu Taubat Allah itu terbuka lebar bagi kalian. Bertaubatlah sebelum terlambat.” “Alah..., banyak bacot! Hajar!” sontak kedua preman itu menyerang Alif tanpa memberi jeda. Dengan sigap, Alif menangkis pukulan dari mereka bak angin. Jangan lupakan fakta bahwa, Alif adalah seorang sabuk hitam pencak silat.  Tak perlu memakan waktu yang lama, kedua preman itu langsung terbujur tak berdaya. Alif melafalkan istighfar dalam hati, ketika melihat kondisi dua preman itu akibat pukulannya. Dompet Devina yang tergeletak sembarang diambil sigap oleh Alif.  “Ampun, ampun..., jangan pukulin kita berdua lagi,” lantas setelah berkata demikian, kedua preman itu pergi meninggalkan Alif seorang diri.  Sementara dari kejauhan, Devina menatap Alif yang memegangi dompetnya. “Lah, bukannya itu dompet gue?” gumam Devina, sembari menaikkan kaca mata gayanya ke atas rambut. Dompet Devina dibersihkan oleh Alif agar bersih dari debu aspal yang sempat menempel. Sampai detik berikutnya, mendadak seorang wanita berpakaian modis langsung menyambar dompet berwarna perak itu.  “Sini dompet gue!” Wanita itu terlihat sibuk memeriksa dompetnya, tanpa memusingkan kehadiran Alif di sana. “Syukur deh, gak ada yang hilang.” Devina tersenyum legah.  “Lain kali hati-hati.” bariton seorang pria sontak membuat Devina mendongak ke sumber suara. “Layaknya sekuntum bunga, iman juga bisa layu jika tidak di sirami oleh taqwa dan ibadah. Iman seseorang itu naik turun kayak rollercoster. Niat awal memang tidak ingin mencuri, tapi saat melihat dompet berisikan uang yang banyak semua bisa gelap mata. Terlebih lagi di kota metropolitan seperti Jakarta.” Penjelasan Alif dua puluh persen didengar Devina, sementara delapan puluh persen selebihnya wanita itu sibuk memandang ketampanan Alif bak pangeran Arab Saudi.  “Iya, Mas, iya. Saya akan... Lebih berhati-hati lagi...” jawab Devina dengan suara pelan terbata-bata dan pandangannya tak terlepas sedetik pun dari Alif. Sementara Alif hanya membalas ucapan Devina dengan berdehem singkat. Lalu, guru agama tampan itu permisi hendak pergi.   “Saya permisi, Assalamu’alaikum.” salam Alif barusan tak dijawab oleh Devina. Mungkin karena pandangannya terfokus ke satu arah, yaitu ketampanan Alif. Sampai motor Alif pun melaju pergi, Devina tetap pada posisi dan ekspresi yang sama.  “OH MY GOOODDD!!! GUE KAYAKNYA JATUH CINTAAAA!!! DANIEEELLL, ADEK LO JATUH CINTA UNTUK YANG KESERIBU KALINYAAA!!!” teriak Devina begitu histeris. Banyak orang sekitar yang menatapnya aneh. Barulah Devina bersikap layaknya wanita normal. Wanita itu menatap tajam ke arah jalan dimana motor Alif mengarah.  Detik berikutnya mendadak Devina menepuk jidatnya, teringat akan sesuatu. “OMG!!! Gue belum tau nama tuh cowok!” ucapan Devina berjeda tiga detik. “Okay, ini adalah misteri yang harus dipecahkan oleh Devina Smith. Wahai ustadz ganteng, tunggu aku di KUA sebentar lagi.” °°° Ekspresi senang tetap tak luput dari raut muka Devina kala ia telah sampai ke rumah. Wanita itu berjalan riang sembari bersenandung. Tapi, langkah Devina terhenti ketika ia menangkap sosok kakaknya yang duduk di sofa. Tampak Kakaknya itu sedang melamun. Entah apa yang tengah dipikirkan.  “Bang!” tak ada jawaban. Nyawa Daniel masih terkurung dalam lamunannya.  “Bang!” masih tetap tidak ada jawaban. Bola mata Devina berputar malas beriringan dengan decakan kesal. Kesal dengan Daniel yang tak merespon, Devina mencengkram kuat dompetnya. Mengambil ancang-ancang memukul kepala Daniel.  “BANGKE!!!” Pletak!  “SAYUR KOOOLLL!!!” Daniel berteriak histeris sesaat Devina memukul kepalanya dengan dompet. Bukannya kasihan melihat kakaknya mengusap kepala kesakitan, tetapi Devina malah tertawa cekikikan.  “Julaeha! Lo pikir kepala gue ini gendang emak-emak kasidahan?! Seenaknya aja lo gebukin.” cerocos Daniel sedangkan Devina masih tertawa puas. “Bukan gendang emak-emak kasidahan, tapi rebana Nissa Sabyan!” balas Devina ngaco, semakin tertawa keras.  Daniel tak menggubris Devina yang menertawakannya. Hari ini ia sedang tidak ingin diajak bercanda. Mood-nya dalam kondisi buruk. Ada sesuatu yang tengah dipikirkan Daniel sekarang. Tawa Devina terhenti begitu saja, saat melihat Daniel yang malah kembali duduk diam di sofa. Biasanya Daniel akan mencaci dirinya bertubi-tubi jika mengganggunya seperti tadi.  “Woy! Udah ngopi belom? Diam-diam bae,”  Daniel berdecak kesal dengan kelakuan Devina yang baru saja meneriaki kupingnya. “Bang! Seriously! Lo kenapa, sih? Gak kayak biasanya tau.” Daniel menolehkan kepalanya. Menatap Devina dalam. Sangat serius. Devina yang di tatap tanpa berkedip seperti itu, merasa tak nyaman. Dia memasang wajah ngeri sekarang.  “Kenapa lo natap gue kayak gitu, hah! Nyeremin tau!” “Gue mau nikah, Dev!” “Anjir, kapan?!” sontak Devina berdiri. Berteriak histeris. Matanya melotot memandang Daniel tak percaya.  “Setan, gue kaget!” Daniel mengusap dadanya. “Ya, baru rencana, sih! Masih gue pikiri matang-matang dulu. Gue mesti lamar dia dulu, lah! Yang paling utama sih, hijrah dulu!” “Emang, lo udah punya calonnya? Siapa?” Devina kembali duduk di sebelah Daniel. “Kasih tau gue dong! Penasaran gue, mau tau siapa cewek yang berhasil nge-luluhin hati Abang bad boy gue ini!” “Ceweknya itu yang kemarin gue omongin di Jerman. Yang akhlak-nya sekelas Bidadari Surga.” “Alah..., lebay, lo!” Devina menoyor kepala Daniel. “Belagu bener, lo! Mana mau lah, dia sama makhluk buluk sejenis elo!” “Eh, anjir! Ngeremehin bener, lo! Jangan salah... Gue ini punya jurus pemikat!” “Terus, dia sekarang udah terpikat sama, lo?” Devina menaikkan sebelah alisnya. Tatapan yang ia pasang sangat meremehkan.  “Ya, belom, sih...” Daniel tertawa garing. Ia menggarut belakang rambutnya yang tak gatal. “Tapi, gue tau satu cara yang bisa buat dia luluh dalam sekejap!” “Apaan?!” Devina tetap memandang Daniel remeh. Dia juga mati-matian menahan tawa. Daniel lebih memandangnya serius.  “Dengan hijrah!” teriak Daniel heboh. Raut wajah Devina mendadak cengo dengan mulut yang menganga. Daniel menyambung ucapannya lebih bersemangat. “Gue mau berubah jadi lebih baik lagi. Allah udah ngasih kekayaan berlimpah buat gue, tapi gue gak pernah bersyukur kepada-Nya dengan cara menaati kewajiban dari-Nya. Kematian itu kapan aja bisa datang. Dan mulai sekarang, gue mau ngumpulin amal banyak-banyak buat bekal di akhirat nanti. Ayo, Dev, kita hijrah bareng!” “Gak, makasih.” Devina menampilkan senyum terpaksa. “Lo aja deh, Bang. Kalo misalnya lo udah hijrah, jangan ngajak-ngajak gue buat bom, ya?” Daniel geleng-geleng kepala tak habis pikir. Bisa-bisanya Devina berpikiran Islam penyebar bom. Padahal Islam merupakan Agama yang dianutnya. Suasana mendadak diam. Tak ada obrolan diantara kakak-beradik itu. Hanya terdengar suara televisi. Sampai, Devina teringat akan suatu hal.  “Eh, Bang, btw soal nikah, gue tadi ketemu cowok!” ucap Devina bersemangat.  “Terus?” Daniel melirik Devina sekilas. Ia sama sekali tak tertarik dengan topik pembahasan adiknya. Alur pembicaraan ini sudah dapat Daniel simpulkan. “Ganteng banget! Dia nolongin gue saat kecopetan.” “Ha? Lo kecopetan?! Ada yang luka gak?” Daniel terbelalak. Devina menggeleng pelan menjawab pertanyaan Daniel yang kelewat panik. “Terus pencopetnya—“ “Persetan dengan pencopetnya!” sela Devina, membuat Daniel bungkam. “Dengerin dulu cerita gue,” Daniel pun lantas duduk kembali ke posisi semula. Bibir Devina tertarik membentuk seulas senyuman lebar. Senyuman yang tengah ditampilkan Devina membuat Daniel takut sendiri. Pasalnya sang adik bukannya tersenyum manis baginya, tapi terlihat seperti senyum seorang Psikopat kelas kakap.  “Gue...” “Lo apa?” “Jatuh...” “Ha?! Lo jatuh?! Jatuh dimana?! Pasti jatuh karena pencopet itu, kan?! Tadi lo bilang gak ada apa-apa, lah ini lo bilang jatuh.” Kecemasan Daniel dibalas decakan kesal oleh Devina. “Bukan jatuh karena pencopet, Bang!” “Lah, terus?” “Tapi, gue itu...” Devina mengambil jeda agar terkesan menegangkan. “JATUH CINTAAAA!!!” Ekspresi Daniel nyatanya diluar ekspetasi Devina. Ia berpikir jika Abangnya akan marah-marah atau bisa jadi mencacinya. Layaknya Daniel mendengar berita biasa, begitu juga ekspresinya saat ini.  “Gue jatuh cinta, Bang!" ulang Devina lagi, bermaksud mempertegas ucapannya. Mungkin saja Daniel tadi tak mendengar.  “Ya..., terus?” “Kok, lo keliatan biasa aja?” “Ya, terus, gue harus gimana? Harus bahagia, gitu? Jingkrak-jingkrak? Atau buat acara selamatan? Bukan berita yang booming lagi kalo lo jatuh cinta. Kisah cinta lo itu melebihi dongeng pengantar tidur bagi gue." “Tapi, kali ini beda, Bang! Gue ngerasa cowok ini adalah cinta terakhir gue. Selain ganteng, dia juga baik. Dia yang nolongin gue dari pencopet itu. Untung ada dia. Kalo gak ada dia, udah raib duit lima juta dalam dompet gue.” “Cuma karena dia nolongin lo, jadinya lo langsung jatuh cinta sama dia?” Devina balas dengan mengangguk penuh semangat. “Siapa namanya?” “Gak tau.” Devina tertawa tak berdosa.  “Aneh, lo! Jatuh cinta sama orang, tapi gak tau namanya.” “Dalam Islam sangat menganjurkan nikah muda kan, Bang?” tanya Devina tiba-tiba. Perasaan Daniel merasa tak enak dalam sekejap. “Nikahin gue!” “What?!” Daniel melototkan mata lebar.  “Ni. Ka. Hin. Gue!” Devina menekan setiap ucapannya. “Gue mau nikah sama Ustadz ganteng itu! Siapa tau dengan gue nikah sama dia, gue bakalan berubah.” “Jadi Power Rangers?” spontan Devina memukul sadis kepala kakaknya yang baru saja menceletuk asal. “Kenapa kepala gue dipukul, anjir?!” “Emang harus dipukul!” sambung Devina terus memukul kepala kakaknya secara brutal. Dan kini, Devina beralih memukul kepala Daniel dengan bantal sofa. “Biar otak lo yang kependem, nimbul lagi!” “Eh, laknatullah! Berhenti gak, mukulin kepala gue?!” “Gak mau! Bilang dulu lo setuju kalo gue nikah sama tuh Ustadz!” “Gue Yaasiin bener lo, Devina! Adek durhaka, lo! Gue sumpahin dapat adzab, lo! Terkutuk bener lo, Adek laknat!" “Bodo amat!” °°° Tok! Tok! Tok! “Iye-iye, sabar tunggu sebentar!” Devina membuka pintu untuk melihat siapa gerangan yang bertamu. Ceklek! Mata Devina sedikit membulat. Bahkan wanita itu memandang orang yang ada di depannya dari atas hingga ke bawah. Orang yang bertamu ke rumah kakaknya tampak agak berbeda. Seorang wanita, berpakaian panjang dan sangat tertutup serta hijab besar nan lebar yang menutupi kepalanya.  Wanita yang bertamu ini juga tampak memandangnya aneh. Memandang dari atas hingga ke bawah pakaian Devina yang sangat tidak tertutup. Celana jeans mini super ketat, serta baju oblong tanpa lengan dan hanya bertali tipis. “Cari siapa?” tanya Devina, dengan ekspresi tak bersahabat. Tampak sekali ketika sebelah alisnya terangkat, serta kedua tangan yang bersedekap d**a. “Saya cari Daniel. Apa beliau ada di Rumah?” jawab Aisy canggung lantaran ada seorang wanita yang berada di rumah Daniel. Bukan bermaksud suudzon, tapi untuk apa wanita yang berpakaian kurang sopan seperti ini ada di rumah seorang lelaki? Dan jangan sampai hanya berdua. Aisy terus berkecamuk dalam pemikirannya sendiri. Tentang status Devina yang nyatanya adik kandung Daniel, Aisy sama sekali belum mengetahuinya. “Lo siapanya Daniel? Terus ngapain lo nyariin dia?” Lama-lama Aisy mulai jengkel. Wanita ini bertanya, tetapi dengan ekspresi yang kurang mengenakan. Seolah-olah ia menganggap Aisy ini adalah musuh yang patut diwaspadai. Aisy menghela napas panjang. Raut wajahnya pun berubah 180 derajat dari ramah menjadi auto jutek. “Saya klien bapak Daniel dalam kerja sama pembangunan Food Court. Hari ini adalah jadwal kunjungan kami ke lahan pembangunan—“ “Ah, iye-iye! Cerewet bener sih, lo, kayak mbak-mbak SPG kosmetik.” Hati Aisy tambah di buat geram lagi, karena dengan seenaknya saja Devina memotong ucapannya. Aisy sangat membenci orang yang seperti itu. Kedua jemari Aisy tampak memutih lantaran ia mencengkram kuat tali tasnya. “Daniel-nya lagi mandi. Tuh orang mandinya juga lama kayak cewek. Enak loe pulang aja, deh, dari pada nungguin dia.” lanjut Devina, semakin membuat Aisy harus berusaha sekuat tenaga agar tak terpancing emosi. Devina menatap Aisy tajam. “Yeeeewww... Ngapain lo masih diam aja di sini? Udah, pulang sono!” Brak! Pintu langsung saja ditutup Devina secara kasar. Sungguh tak ada sopan santun dan tata krama. Amarah Aisy rasanya sudah naik hingga ke ubun-ubun. Telapak tangannya ia usapkan ke d**a sembari membaca istighfar. “Cewek itu siapanya Daniel, yah? Apa mungkin pacarnya? Kok, pacarnya dibiarin berdua aja di Rumah, sih?!” Aisy terus saja bertanya-tanya, walaupun ia telah berada di dalam mobil. Ada perasaan kecewa di relung hatinya yang paling terdalam. Tidak mungkin ia mulai merasakan cinta, karena kebaikan Daniel dan godaan yang sering pria itu lontarkan. Tangan kiri Aisy yang terbebas dari kemudi, terlihat mengeluarkan benda canggih persegi panjang nan pipih. Jari jemarinya sibuk mengotak-ngatik layar ponsel tersebut. “Hallo assalamu'alaikum, Nad. Lo sibuk?” “Nggak, kenapa?” tanya Nada di seberang telepon.  “Bisa temenin gue ke lahan Food Court?” “Loh, emang Daniel ke mana?” “Kayaknya dia sibuk. Gue dengan lo aja, ya?” “Ho’oh... Iya-iya... Oke, gue temenin, lo.” “Hm, oke. Thanks, ya? Assalamu'alaikum.” °°° Senandung siul menggema di ruang keluarga. Daniel menuruni tangga, dan ia juga sudah tampak mengenakan kaos santai dengan handuk yang menggantung di leher. “Udah selesai lo, mandinya?” “Lo punya mata, kan? Udah jelas-jelas rambut gue basah kuyup kayak gini, masih juga lo nanya,” Devina hanya membalas ucapan Daniel yang terkesan sewot itu dengan deheman singkat. Sehari saja ia tak ingin terjadi perdebatan dengan sang kakak.  “Tadi ada yang nyariin lo, Bang.” sahut Devina memecahkan keheningan beberapa menit yang lalu. Ia berucap dengan pandangan fokus ke layar televisi. Kepala Daniel menoleh 90 derajat ke arah barat menuju Devina yang tampak sibuk memakan keripik singkong. “Siapa?” Daniel pun malah balik bertanya. Kedua bahu Devina terangkat, sebagai isyarat tak tahu-menahu. “Katanya sih, klien Food Court,” Sontak saja Daniel yang dalam posisi duduk santai, tiba-tiba berdiri. “Terus, kenapa dia gak lo suruh masuk? Sekarang dia ada di mana? Lo tau gak sih, Dev, dia itu cewek yang mau gue lamar! Cewek yang kita bahas tadi!” “Gue kan, gak kenal sama dia, jadi gue suruh pergi.” jawab Devina santai, bagaikan tak berdosa. Secepat kilat Daniel berlari menuju tangga, menghiraukan teriakan dari Devina yang terus memanggil namanya.  Tetapi, langkah kaki Daniel terhenti di tangga ke sepuluh saat suara adiknya kembali terdengar. “Eh, mau ke mana, lo?” “Jemput tulang rusuk!” °°° Mobil Daniel berhenti di sebuah pagar yang menjulang. Ia menatap arsitektur rumah Aisy yang berwarna coklat keemasan. Berbanding terbalik dengan rumahnya yang berwarna putih keemasan. “Permisi... Mas-nya cari siapa, toh?” suara itu membuat Daniel terkaget dari lamunannya. Seorang wanita paruh baya tengah bertanya dengan senyuman yang menghiasi wajah penuh keriput. Sepertinya ini asisten rumah tangga Aisy. “Aisy ada, Bi?” “Oh... Mbak Aisy lagi nggak ada di rumah, Mas.” ungkapan dari asisten rumah tangga Aisy, membuat kedua alis Daniel beradu.  “Aisy pergi? Pergi ke mana, ya, Bi?” “Katanya sih, pergi ke lahan Food Court.” Daniel mengangguk sekilas, lalu ia kembali bertanya lagi. “Dia perginya dengan siapa, Bi?” “Mbak Aisy pergi dengan Mbak Nada, Mas.” Tanpa bertele-tele lagi, di dalam mobilnya Daniel langsung mencari nama Aisy di kontak teleponnya. Sambungan telepon tersambung. Jari telunjuk Daniel sedari tadi terus saja mengetuk-ngetuk mesin kemudi. “Nomor yang Anda tuju sedang sibuk. Cobalah beberapa saat lagi.” Daniel tak menyerah. Ia kembali mengotak-ngatik ponselnya, dan terteralah nama Nada di sana. Sambungan kembali tersambung. Daniel menunggu dengan hati yang tak sabaran. Berharap jika Nada mengangkat panggilan telepon nya kali ini. “Nomor yang Anda tuju sedang sibuk. Cobalah beberapa saat lagi.” “Akh! Sial!” Yang kedua kalinya suara operator kembali menyambut di seberang telepon. Daniel mematikan ponselnya. Ponsel tersebut ia buang ke sembarang tempat. Pandangan Daniel menatap tajam ke arah kaca hadapan. Napas pria itu tak beraturan. Amarahnya sebentar lagi akan meledak. “Sialan lo, Devina!” °°° Dari seberang jalan, terlihat sebuah Cafe yang tertutupi banyak jendela tembus pandang. Seorang wanita berhijab menatap kosong ke arah kaca yang menyorot jalan setapak. “Sy! Aisy!” suara panggilan Nada sedari tadi sama sekali tak digubris olehnya. Dari tatapan wanita itu yang kosong, kentara sekali jika ia sedang berkutat pada pikirannya. Matanya tampak kelihatan sayu juga. Orang yang melihat, pasti mengira kalau Aisy tak memiliki semangat hidup. “Rohadatul Aisy Emran!” Barulah Aisy tersadar dari lamunannya, ketika Nada menyebutkan nama panjangnya tersebut. Nada geleng-geleng kepala gemas. Menurut Nada, hari ini Aisy lebih banyak diam dan termenung. Makanan yang ada di meja saja, belum satu inci pun ia sentuh. “Lo kenapa sih, Sy? Perasaan dari tadi melamun melulu. Lagi mikirin sesuatu? Cerita dong,” omelan Nada yang seperti biasa membuat Aisy menghela napas panjang. Baru saja Aisy termenung seperti ini. Tetapi, orang lain sudah dapat mengira jika ada yang ia pikirkan. “Nggak ada,” jawab Aisy singkat. Ia sedang malas saat ini untuk berbicara banyak. Apa lagi meladeni celotehan gila dari Nada yang mungkin bisa lebih banyak. “Nggak mungkin! Gue ini tau, kalo lo lagi ada pikiran. Lo sahabat gue, Sy. Lima tahun lebih udah kita sahabatan. Dan gue sudah tau semua tentang, lo!” Nada memperbaiki letak posisi duduknya. Lebih ia dekatkan jaraknya ke arah meja, agar lebih jelas menatap Aisy.  “Ini tentang Daniel?” pertanyaan Nada yang demikian, tampak membuat Aisy sontak menoleh. Dari tolehan Aisy yang spontan saja, Nada sudah dapat jawaban atas pertanyaannya. Ternyata memang benar. Semua karena ulah Daniel. “Emang sepupu gue yang gilanya pakek kuadrat itu ngapain, lo? Dia ada nyakitin, lo? Atau buat lo nangis? Cepet kasih tau gue!” Baiklah, sepertinya ini sudah membuat Aisy jengah. Pertanyaan Nada mulai bertubi-tubi dan sedikit memaksa. “Ah, iya, terus lo kenapa gak pergi bareng Daniel aja ke lahan Food Court?” pertanyaan Nada pun berlanjut. “Males aja. Gue gak mau ganggu weekend dia dengan pacarnya,” “Ha... Pacar?” Aisy mengiyakan pertanyaan Nada tersebut. Ekspresi Nada mendadak seperti orang bodoh yang terlihat kebingungan. Aisy hanya melirik sekilas wajah bodoh Nada. Malas untuk terlalu membahas pasal Daniel lagi. Andai saja Aisy tak mengunjungi Daniel. Andai saja Aisy menuruti saja perintah Daniel untuk menjemputnya di rumah. Sudah pasti Aisy tidak akan sakit hati seperti ini. “Eh-eh... Maksud lo apaan tadi? Pacarnya?” “Iya, Nada...” “Pacarnya di Rumah Daniel?” Aisy cuma berdehem singkat. Mood nya untuk berbicara sedang tidak ada hari ini. Tiba-tiba Nada tertawa sendiri. Tawa Nada ini membuat lipatan kerut di kening Aisy. Rasa kebingungan mulai merasukinya. “Ya Allah, Aisy... Pacar? Pacar rasa Adek kali, lah, iya!” lantas Nada kembali tertawa geli. “Maksud lo apaan, sih?” otak Aisy belum sepenuhnya dapat merespon apa yang Nada maksudkan. Pembicaraan wanita itu kurang jelas di cerna. Terlalu berbelit-belit sehingga susah untuk direspon. “Cewek yang lo temui di rumah Daniel itu namanya, Devina Smith. Adik kandungnya Daniel. Dia selama ini tinggal dengan nyokap bokapnya di Jerman. Tapi, tuh anak mendadak mau pindah ke Indonesia,” penjelasan dari Nada sungguh membuat Aisy terkejut.  Pasalnya wanita yang ia temui tadi tidak sama sekali mirip dengan Daniel. Makanya Aisy beranggapan, jika Devina adalah pacar Daniel. Kesalahpahaman yang Aisy buat, malah membuatnya malu sendiri. Tapi tetap saja Aisy kesal akan tingkah laku adiknya Daniel. Mengingat wanita itu sempat berbicara kasar. Apa mungkin itu semua faktor karena tinggal di luar negeri? Pakaian wanita itu juga sangat terbuka. Tidak pantas jika berada di luar, kalau dirinya memakai pakaian seperti itu. Ini semua hanya opini Aisy.  “Oh... gue tau sekarang!” suara meninggi Nada membuat Aisy terkisap. “Sahabat gue yang satu ini lagi cemburu ceritanya, nih...” Nada menaik turunkan ke dua alisnya. Kelakuan Nada ini, semata-mata demi membuat Aisy kesal. “Cieee... Yang cemburu, cieeee... Piwit!” Bola mata Aisy berputar malas. Rasa jengah sudah merasukinya. Aisy berdiri dari kursi, dan tanpa permisi ia meninggalkan Nada. Melihat Aisy yang meninggalkannya begitu saja, membuat Nada melongo. “Eh-eh, Aisy, lo mau ke mana? Tungguin gueee!” °°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD