Napas Sandryna tak beraturan. Badan Wanita itu sudah terkulai di lantai sejak Faisal meninggalkannya sendirian. Darah terus mengalir keluar dari denyut nadinya. Rasa sakit hatinya lebih mendominasi dari pada perih di denyut nadi.
Pandangan Sandryna menatap lurus ke langit-langit. Pelupuk matanya di penuhi oleh genangan air. Tenggorokan Sandryna rasanya tercekat. Matanya mulai memburam. Layar ponselnya sejenak ia tatap. Senyuman miris terbit di bibirnya.
“Maafin Sandryna... Karena Sandryna, Mas Faisal gak bisa bahagia.” ucap Sandryna lirih dengan napas tersendat-sendat.
Tiada siapa pun yang menolongnya. Bahkan suaminya sendiri. Ia sendirian. Sandryna terdiam. Menunggu entah siapa saja yang akan datang. Lantas, bayangan dokter Juna merasuki pikirannya.
“Ya Allah... Ampunilah dosa hamba-Mu, tapi hanya dialah orang yang bisa menolong hamba saat ini.” jari jemari Sandryna mulai mencari nama dokter Juna di sana. Tangannya tak kuasa mengetik. Terlihat jelas jika tangan wanita itu bergemetar.
“Assalamu'alaikum... Kenapa Sandryna?”
Sekuat tenaga Sandryna mengatur deru napasnya yang memburu. Pita suaranya seakan enggan untuk dikeluarkan.
“Sandryna? Ada apa?” suara dokter Juna di seberang telepon mulai terdengar panik saat Sandryna tak kunjung menjawab.
“Dokter... Dokter Juna... To... Tolong... Tolongin Sandryna...”
“Kamu kenapa Sandryna?!” intonasi suara dokter Juna mendadak meninggi. Pria itu panik setengah mati.
“Gak apa... Hanya luka kecil...” Sandryna menjawab dengan suara yang lambat laun mengecil. Hal itu tambah membuat dokter Juna.
“Ka—kamu tunggu di situ! Saya akan segera ke sana! Jangan tutup teleponnya, dan kamu harus tetap sadar!” intruksi panik dokter Juna dari seberang telepon diangguki pelan oleh Sandryna. Ponselnya tetap menyala. Ia diam menatap langit- langit rumahnya. Menangis dalam diam. Meratapi nasibnya yang tragis. Bahkan, tanpa di sadari cairan merah juga ikut keluar dari lubang hidungnya.
Sementara dokter Juna yang tengah kebut-kebutan di jalan, beda dengan Faisal. Mobilnya masih terjebak kemacetan. Tampak Faisal terlihat gusar. Ia mengotak-ngatik layar ponselnya dan menekan nama Sandryna di sana.
“Mohon maaf, saat ini nomor yang Anda tuju sedang berada di panggilan lain. Silahkan cobalah beberapa saat lagi.” suara operator lah yang menyambut telepon Faisal disebrang sana. Bukan istrinya. Pikiran Faisal makin berkecamuk, ketika mendengar pesan operator yang mengatakan jalur panggilan istrinya sedang berada di panggilan lain.
“Sedang telfonan sama siapa dia?”
°°°
Brak!
Pintu terbuka secara kasar menampakkan wajah khawatir dokter Juna. Dokter itu berlari cepat menuju tempat tergeletaknya tubuh Sandryna.
“Sandryna! Hei, hei, sadar! Sandryna!”
Mata Sandryna lambat laun terbuka. Wanita itu tersenyum singkat. “Tolongin Sandryna...”
“Tangan kamu kenapa, Sandryna?! Tangan kamu berdarah! Saya akan bawa kamu ke Rumah Sakit!” sadar akan cairan merah yang menetes deras di pergelangan tangan Sandryna membuat mata dokter Juna melotot panik.
Saat dokter Juna ingin membopongnya, Sandryna malah mencegah. Ia tersenyum supaya dokter Juna tak khawatir. Sandryna menggeleng lemah. “Gak usah... Dokter Juna cukup bersihin darah di tangan Sandryna aja... Gak perlu di bawa ke rumah sakit... Ini hanya luka kecil...”
“Darah ini takkan berhenti. Ini pendarahan fatal. Ada sedikit robekan di pergelangan tanganmu, dan tepat sekali di denyut nadi. Saya gak mau mengambil risiko! Lihat! Hidung kamu juga berdarah! Turuti saja perintah saya untuk tidak menutup mata kamu. Tetap sadar selama kita dalam perjalanan ke Rumah Sakit.”
Tenaga dalam tubuh Sandryna semuanya telah hilang. Ia tak bisa menolak. Bahkan Sandryna tak bisa memberontak saat dokter Juna telah menggendong ia dalam pelukannya. Sandryna menatap wajah dokter Juna. Dia sangat berharap jika pria yang bersnelli putih ini adalah suaminya. Jika yang sedang menggendongnya ini adalah suami sahnya. Bukan pria yang pernah singgah dihatinya dulu.
“Ya Allah... Apakah hamba berdosa membiarkan Pria yang bukan mahrom ini menyentuhku? Dia bahkan menggendongku ke pelukannya sangat erat. Harusnya Mas Faisal yang gendong Sandryna saat ini. Bukan dokter Juna. Sebegitu bencinya kah dia denganku, hingga mengangkat telfon-ku saja sulit?” batin Sandryna, air matanya mengalir.
Tak lama berselang mobil dokter Juna melaju pergi dari pekarangan rumah bersama Sandryna, mobil Faisal datang. Pria ber-snelli putih itu datang terburu-buru. Membuka pintu secara kasar tetapi orang yang dicari sudah tidak ada.
“Di mana dia?” Faisal terus berjalan mencari keberadaan Sandryna, hingga langkahnya terhenti karena ia merasa menginjak suatu benda. Ponsel Sandryna tergeletak di bawah lantai. Di layar ponsel itu sangat jelas menampakkan sambungan telepon dari dokter Juna yang sudah terputus beberapa menit lalu.
“Kamu memang seorang Istri yang patut di ceraikan, Sandryna.” tangan Faisal mencengkram kuat ponsel Sandryna.
°°°
Bruk!
“Astaghfirullah!” Lala terpelonjak kaget ketika sebuah ponsel canggih mendarat di atas mejanya. Saat Lala mendongakkan kepala, terlihat kakaknya yang menatap dengan tatapan tak bersahabat. “MasyaAllah, kak... Dateng gak ngucap salam, terus ngejutin lagi.”
Bukannya menjawab, Ozan malah makin menyodorkan ponselnya kepada Lala.
“Kenapa ini?” Lala menatap bingung ke arah kakaknya.
“Lihat, tuh!” perintah Ozan yang tegas itu dituruti oleh Lala. Ponsel Kakaknya ia lihat dengan seksama. Seketika mata Lala tampak sedikit membulat. Lantas wanita berhijab itu kembali menatap bingung ke arah kakaknya.
“Ini... Reza, kan?”
“Benarkan yang kakak bilang selama ini. Reza itu cuma mempermainkan perasaan kamu aja, Lala. Dia itu pembohong besar!”
Lala kembali menatap layar ponsel kakaknya itu. Rasanya ia sungguh tak percaya akan yang dia lihat. Reza tersenyum manis di foto yang Kakaknya potret. Senyuman itu ia tunjukkan ke arah wanita berhijab. Sayangnya Wanita itu membelakangi kamera. Jadi, Lala tak mengetahui Wanita yang bersama Reza. Lala Berharap kalau ini hanyalah tipuan, tapi tidak mungkin juga foto ini bohong.
“Kakak dapet foto ini dari mana?” tanya Lala dingin, dengan menggoyangkan ponsel kakaknya itu ke udara.
“Jangan bilang kak Ozan mata-matai Reza?”
Cukup lama Ozan terdiam tak menyahuti pertanyaan Lala tadi. Ozan menghela napas panjang. Memperbaiki letak posisi duduknya.
“Ini semua kakak lakukan untuk kebaikan kamu, La.” mendengar jawaban jujur dari kakaknya itu, mampu membuat kepala Lala pusing mendadak. Wanita itu memijat pelan pelipisnya. Sungguh Lala tak habis pikir dengan apa yang dilakukan kakaknya kali ini.
“Astaghfirullah,” gumam Lala beristighfar. “Kak Ozan... Lala gak pernah nyuruh kakak untuk ngelakuin hal kayak gini.”
“Tapi, Lala... Kamu berhak tau semuanya, kalau lelaki yang selama ini kamu cintai, kamu puja-puja, sebenarnya gak baik dan sama sekali gak cinta sama kamu.” sebelum melanjutkan ucapannya, Ozan menghela napas terlebih dahulu. “Kakak gak mau kamu sakit hati. Foto ini udah jadi bukti, kalau Reza itu bad boy. Buktinya dia deket sama Wanita lain.”
“Kak! Kakak gak bisa nuduh orang tanpa bukti!”
“Tanpa bukti?!” semula sara Ozan lembut, menjadi sedikit meninggi. “Kamu mau bukti apa lagi, Lala! Ini udah jadi bukti yang kuat tentang kebusukan hati Reza-nya kamu itu! Lihat!” tunjuk Ozan tajam ke arah kamera layar ponselnya. “Dia aja senyum-senyum gitu ke arah cewek ini!”
“Reza itu orangnya ramah, kak! Dan bisa jadi aja cewek ini salah satu klien orang yang mau dinikahi Reza.” ucapan sengit dari Lala, entah kenapa membuat Ozan terkekeh hambar. Pria itu geleng-geleng kepala miris, dan detik berikutnya ia menghela napas.
“Sekarang Kakak kamu itu siapa, hah? Reza atau aku?!”
Mata Lala langsung terpejam kala mendengar bentakan yang sangat kuat ini dari Ozan. Seumur hidup Lala, ia tak pernah membentaknya sekuat ini.
“Rasanya aku ini kayak gak pernah di anggap jadi kakak, kamu.” bibir Ozan tertarik membentuk senyuman kecut. “Sama aja kamu kayak Reza, La! Pembohong! Kamu selalu membohongi diri sendiri. Katanya takut sakit hati, tapi masih saja memberikan kesempatan kepada dia untuk menyakiti. Katanya takut patah hati, tapi masih bermain dengan cinta yang tak pasti.”
Setelah mengatakan hal tersebut, tanpa salam Ozan langsung pergi meninggalkan ruangan kerja salon dan SPA Muslimah Lala. Lala mengusap wajahnya kasar sembari mengusap air mata yang sedari tadi ingin menetes.
“Ya Allah... Cobaan macam apa lagi ini?”
°°°
“Setelah saya memeriksa ibu Sandryna, sudah dipastikan beliau mengidap penyakit Hemofilia stadium C. Sudah memasuki stadium fatal. Bahkan, hemofilia yang diderita ibu Sandryna mengalami komplikasi. Komplikasi hemofilia pendarahan intrakranial. Pendarahan intrakranial adalah gejala pendarahan dalam tengkorak kepala. Penderita ini sangat membutuhkan penanganan khusus. Hanya 1 per 5 persen darah saja yang bisa dibekukan oleh penderita hemofilia stadium C ini.”
“Pengidap komplikasi hemofilia bisa mengalami pendarahan internal. Pendarahan ini kebanyakan terjadi di dalam otot yang saya sempat lihat di tubuh ibu Sandryna terdapat banyak sekali luka memar. Itu kemungkinan faktor dari penyakit hemofilia yang sukar sekali membekukan darah dan akibatnya darah banyak menggumpal di berbagai daerah pembuluh darah secara tak teratur.”
“Jika ini terus saja dibiarkan, sistem kerja metabolisme tubuh jadi terganggu dan lambat laun membunuh sel saraf serta kerja sistem organ lainnya. Dengan kata lain, bisa membunuh si penderita secara perlahan.”
Deg!
Perkataan dari seorang dokter wanita spesialis Jantung dan peredaran darah tersebut membuat dokter Juna kaku di tempat. Ia memandang sekilas wajah Sandryna yang tertidur pulas akibat obat bius untuk menjahit luka di pergelangan tangannya. Dokter Juna tak berada di rumah sakit milik Faisal, tetapi ia memilih membawa Sandryna di rumah sakit lain. Rumah sakit di mana ia dan Sandryna pertama kali bertemu.
“Apa tak ada cara untuk menyembuhkan penyakit yang diderita Sandryna, dok?” tanya dokter Juna penuh harap.
“Sayangnya para ahli medis belum bisa menemukan cara ampuh untuk menghilangkan penyakit hemofilia ini, dok. Tapi, rekan sejawat mendapatkan obat ampuh untuk meringankan penyakit hemofilia ini.”
“Apa itu, dok?”
“Untuk kasus komplikasi hemofilia stadium C yang diderita ibu Sandryna, saya sempat memberikannya suntikan nonacog alfa. Penyuntikan obat ini biasanya dilakukan dua kali dalam seminggu. Penyuntikan ini bertujuan untuk mencegah terjadinya pendarahan sekaligus menghentikan pendarahan.”
“Efek samping yang mungkin timbul akibat suntikan ini berupa mual, pembekakan pada area yang disuntik, pusing dan rasa tidak nyaman. Suntikan ini akan terus dilakukan seumur hidup dan perkembangan kondisi pasien yang akan terus dipantau secara rutin.”
Dokter Juna mengangguk paham setelah dokter itu selesai menjelaskan mengenai penyakit Sandryna ini. Lantas dokter wanita itu pun pamit undur diri selepas ia menyarankan Sandryna rutin melakukan suntik nonacog alfa yang disarankan tadi secara teratur dan melakukan pola hidup sehat mulai dari sekarang serta banyak mengonsumsi makanan berprotein.
Ketika dokter Juna kembali ke dalam ingin mengecek keadaan Sandryna, ia terkejut dengan apa yang akan dilakukan Sandryna saat itu. Wanita berhijab itu terlihat mencoba melepaskan jarum infus yang sedang mengalirkan darah segar ke tubuhnya.
“Apa yang kamu lakukan?!”
Sandryna tak mengindahkan ucapan dokter Juna. Ia seakan tuli.
“Sandryna, berhenti! Jangan bertindak bodoh!” bentakan dari dokter Juna itu rupanya berhasil. Sandryna menghentikan aksi gilanya itu. Ia diam dengan kepala menunduk. Sayup-sayup dokter Juna dapat mendengar suara tangisan Sandryna yang tertahan.
“Sandryna tau semuanya... Hidup Sandryna gak bertahan lama lagi kan, dok?” tak ada jawaban dari dokter Juna. Itu merupakan jawaban yang sudah layak Sandryna dapatkan. “Hemofilia stadium C. Akhirnya sekian lama, waktu itu datang. Udah saatnya Sandryna bertemu Papa. Rasa sakit di hati Sandryna akan segera berakhir.”
“Apa yang kamu ucapkan? Kamu gak akan pergi. Perjalananmu masih panjang.”
Sandryna menggeleng. Sekuat tenaga ia menahan air mata yang sebentar lagi akan jatuh. “Jangan hibur Sandryna. Terima kasih... Atas semua kebaikan dokter Juna selama ini pada Papa dan Sandryna.”
Dokter Juna diam. Lantas ia berdiri dan hendak pergi. “Saya akan beritahu dokter Faisal tentang keadaanmu.” bertepatan dengan itu juga Sandryna menahan agar dokter itu tak pergi.
“Tolong jangan kasih tau Mas Faisal...”
“Tapi dia suami kamu. Dia berhak tau keadaan istrinya saat ini!”
Sandryna menggeleng lemah. Menatap nanar ke depan. Pandangan wanita itu kosong. “Terus Sandryna harus apa, huh? Membiarkan Mas Faisal tau lantas ia harus mengurus istrinya yang sakit-sakitan?! Udah cukup selama ini Sandryna nyusahin dia! Sandryna gak mau buat Mas Faisal menderita untuk yang kedua kalinya! Dia harus bahagia! Sandryna sangat mencintainya.”
“Dan Sandryna harap, dengan adanya penyakit ini, Allah segera memanggil Sandryna untuk pergi selamanya. Pergi menjauh dari hidup Mas Faisal sebagai mana yang ia mau, agar ia bisa hidup bahagia bersama Wanita yang selama ini ia cintai.”
Melihat Sandryna yang meneteskan air mata membuat hati dokter Juna sangat sakit bagai di sayat pisau tajam.
“Ini yang saya gak suka dari kamu! Kamu ego, Sandryna! Kamu mementingkan kebahagiaan orang lain dibanding kebahagiaanmu sendiri. Faisal memang tidak pantas mendapatkan kamu. Dia adalah pria paling bodoh di dunia karena menyia-nyiakan wanita seperti kamu! Ini semua salah saya. Andai saat itu saya langsung melamar kamu dan tidak terlalu lama menunda-nunda! Sudah pasti saya akan memeluk kamu dengan sangat erat saat ini. Dan yang pasti, kamu tak akan menangis bahkan terluka seperti ini!”
Air mata kian membanjiri pipi nan mulus itu. Kata-kata dokter Juna mampu membuat d**a Sandryna sesak. Seakan oksigen enggan untuk ia hirup.
“Dokter Juna... Sandryna mohon dengan sangat, cukup Sandryna, dokter, dan Allah saja yang tau mengenai penyakit Sandryna ini. Nggak ada yang boleh tau. Semua orang termasuk Mas Faisal.”
Cukup lama suasana hening. Sedari tadi dokter Juna tak menuruti permintaan Sandryna. Hatinya sangat enggan untuk menyetujui permintaan Sandryna itu. Tetapi, ketika melihat mata Sandryna yang memohon beserta tatapan penuh air mata itu, akhirnya dokter Juna pun mengangguk pasrah.
“Makasih banyak, dok!” senyuman tipis terbit di bibir Sandryna. Lantas setelah berucap seperti itu, Sandryna berusaha melepaskan infus yang terpasang dipunggung tangannya. Tapi secepat kilat dokter Juna mencegah.
“Kamu mau apa?”
“Sandryna harus segera pulang. Mas Faisal pasti udah nunggu Sandryna di Rumah.”
“Kamu gak boleh pergi Sandryna, sebelum transfusi darah ini habis. Kamu kekurangan banyak darah. Tubuhmu juga masih sangat lemas. Istirahatlah sebentar di sini."
“Tapi, kalo mas Faisal liat Sandryna ada di sini—“
“Faisal tak akan tau. Ini bukan Rumah Sakit Effendi. Ini Rumah Sakit Arafah. Kebetulan saya ada jadwal praktik sebentar lagi. Jadi, tunggu lah sebentar saat kondisimu benar-benar pulih dan darah di kantong itu juga sudah habis.”
Selepas berkata seperti itu, dokter Juna ingin melangkah pergi tapi suara Sandryna kembali menginterupsi.
“Dokter, terima kasih lagi.” tatapan indah itu selalu membuat hati dokter Juna tak karuan. Ia sangat menyayangkan sikap bodoh Faisal.
“Saya akan terus membantu kamu selama saya masih bernapas. Tak kan saya biarkan Wanita kahfi saya terluka.”
°°°
Jam setengah tujuh malam Sandryna bersama dokter Juna pulang ke kediaman Sandryna. Tubuh Sandryna yang masih kurang sehat mengharuskan dokter Juna untuk membantu wanita itu sedikit berjalan.
“Pelan-pelan. Kamu masih belum pulih.”
Pintu Rumah tiba-tiba terbuka menampakkan sosok Faisal yang menatap tak bersahabat kepada mereka berdua.
“Oh... Jadi, gini yah kelakuan kalian berdua. Pakek pegang-pegangan tangan segala lagi. Gimana? Kencannya bagus?” ucap Faisal sarkastis.
“M—Mas Faisal... Ini... Gak seperti apa yang... Dokter Juna cuma...”
“Diam, kamu!” Faisal menatap tajam istrinya lalu ia menarik kasar lengan istrinya lagi untuk menjauh dari dokter Juna. “Dan kamu! Silahkan pergi!” sambung Faisal melirik tak kalah tajam ke dokter Juna.
“Dokter Faisal! Jangan kasar dengan Sandryna!”
“Sudah berapa kali saya bilang, Anda jangan pernah ikut campur masalah rumah tangga saya! Anda hanya bagian masa lalu istri saya yang tak berguna, jadi enyahlah!”
Kedua tangan dokter Juna terkepal kuat. Hatinya memanas. Kali ini emosinya tak bisa dikontrol lagi. Sudah cukup ia bersabar selama ini. Sementara itu, Sandryna terus berteriak meronta karena Faisal memaksanya untuk masuk ke dalam.
Bugh!
Satu pukulan mendarat tepat di pelipis Faisal. Kejadian mendadak ini sangat di luar dugaan. Melihat pertengkaran itu membuat Sandryna syok. Ia berteriak agar kedua lelaki itu tak saling adu pukul.
“Saya sudah cukup sabar menghadapi Anda dari tadi!” ucap dokter Juna emosi mencengkram kuat kerah baju Faisal. "Kamu memang Suami tak becus! Tak sepantasnya kamu mendapatkan dia! Anda tak lebih buruk dari seorang pendosa yang dilaknat Allah!”
“Dokter Juna, Mas Faisal, STOOOPPP!!!”
Kedua lelaki itu tak menggubris teriakan kencang dari Sandryna. Mereka malah semakin adu kekuatan serta emosi.
Bugh!
Kini satu pukulan didapat oleh dokter Juna. “Bilang saja kalau kamu iri tak bisa mendapatkan istri saya, bukan?!” Faisal tertawa meremehkan.
“DOKTER FAISAL!!!” dokter Juna berteriak, sekarang ia mencengkram kerah baju Faisal dan menyudutkan pria itu tepat di kaca depan mobilnya. Napas dokter Juna memburu. Menatap pria bodoh di hadapannya.“ISTRIMU ITU... ISTRI YANG SELAMA INI KAMU SIA-SIAKAN... DIA MENG—“
“DOKTER JUNA!!!” teriakan dari Sandryna yang tak kalah kencang berhasil menghentikan ucapan dokter Juna selanjutnya. “Jangan... Sandryna mohon...” ucap Sandryna lirih menatap dokter Juna dengan mata memohon.
Melihat tatapan permohonan dari Sandryna membuat dokter Juna mau tak mau melepaskan cengkeramannya dari kerah baju Faisal. Ia menatap sengit ke arah Faisal sebelum ia pergi.
"Saya ingatkan, jangan pernah menyianyiakan orang selalu ada untukmu. Jaga dia selagi ada, karena penyesalan tidak akan membuat dia kembali.”
°°°