Moment sarapan pagi Faisal kali ini tampak berbeda. Biasanya setiap pagi hari, ada saja senyuman manis yang menyambutnya setelah selesai berpakaian. Tapi, kali ini sang pemilik senyuman mendadak memendamkan senyumannya dalam-dalam.
Sandryna memang tak menorehkan senyuman layaknya seperti biasa. Tapi, ia tetap melaksanakan tugasnya sebagai istri tiap paginya. Menghidangkan sarapan pagi untuk suaminya sebelum dia berangkat kerja.
Ada perasaan aneh yang merasuki relung hati Faisal tatkala melihat Sandryna diam seribu bahasa tanpa senyum manisnya. Ia sendiri bingung akan hatinya. Ia ingin Sandryna-nya yang biasa. Sandryna-nya yang selalu tersenyum ceria.
Ah, bisakah Faisal menyebut Sandryna sebagai Sandryna adalah miliknya? Mengingat apa yang selalu ia lalukan terhadap wanita itu selama ini. Tiap hari, menit, bahkan detik setiap helaan napasnya ia selalu menyakiti hati wanita yang berstatus istrinya itu.
Brak!
Meja digerbak oleh Faisal secara kasar. Dentuman keras yang berasal dari meja itu berhasil membuat jantung Sandryna berpacu kencang.
“Cukup! Sampai kapan kamu mau seperti ini?”
Sandryna masih diam tapi kali ini ia memasang raut wajah bingung. Melihat respon Sandryna yang begitu membuat Faisal tanpa sadar mencengkram kasar tangan istrinya.
“Berhentilah dengan akting bisumu, Sandryna! Jangan kekanak-kanakan hanya karena kejadian kemarin!”
Mata Sandryna menatap nanar wajah suaminya. Selain ucapan suaminya yang kelewat menyakitkan untuk didengar, Sandryna juga merasakan sakit di pergelangan tangannya. Cengkraman tangan Faisal sangat kuat. Mungkin kuku Pria itu sudah menancap sempurna di denyut nadi.
“Hanya karena?” tanya Sandryna dengan mata yang dipenuhi genangan air. Dan mungkin air itu akan segera tumpah. “Mas! Wanita mana yang gak sakit hati saat ngeliat Suaminya mesra-mesraan dengan Wanita lain? Terlebih lagi Wanita itu mantan kekasihnya? Bahkan Wanita seperti Liana yang tak tau diri pun bisa sakit hati!”
Mata Faisal melotot bertepatan dengan ucapan Sandryna yang mengatai Liana-kekasih hatinya sebagai wanita tak tau diri. Cengkraman Faisal semakin mengetat membuat Sandrya meringis kesakitan.
“Jaga ucapan kamu, Sandryna! Seenaknya saja kamu mengatai Liana seperti itu!”
Berulang kali Sandryna mencoba melepaskan cengkraman Faisal tapi hasilnya nihil. “Sakit, mas Faisal! Lepasin tangan Sandryna!” bukannya melepaskan cengkraman tangannya, Faisal malah semakin kuat mencengkram tangan istrinya. Bahkan kini dokter itu menyudutkan istrinya. Menatap tajam mata ketakutan istrinya.
“Ingat ini baik-baik. Liana jauh lebih baik darimu. Setidaknya dia tak berselingkuh di belakang suaminya sendiri. Di sini nyatanya kamu lebih tak tau diri dan murahan dibanding Liana. Terserah kamu mau marah atau tidak, karena saya tau kamu hanya mencari perhatian saya saja! Tidak ada yang perduli dengan kemarahanmu, Sandryna! Kamu hanya sebutir debu di antara tumpukkan perhiasan. Tidak ada yang melihatmu lebih! Hanya perhiasan itu yang di pandang banyak orang. Dan perhiasan itu Liana.”
Deg!
Bak disambar petir, hati Sandryna hancur berkeping-keping. Harapannya untuk membangun rumah tangga Samawa bersama Faisal hancur begitu saja bertepatan dengan ucapan menyakitkan Faisal. Air mata Sandryna mengalir deras. Rasa sakit ditangannya seakan menghilang. Rasa sakit dihatinya lebih terasa dibanding lengannya yang kini tampak sudah mengeluarkan cairan merah.
“Sampai kapan kamu seperti ini, Mas?” kepala Sandryna mengangguk samar berkali-kali. Dia tersenyum kecut. “Ya! Sandryna memang marah ke Mas Faisal! Apa itu salah? Apa setelah gak boleh mencintai, Sandryna juga gak boleh marah? Marah itu pasti ada alasannya, Mas! Gak mungkin Sandryna marah tanpa alasan dan dengan seenaknya Mas Faisal bilang Sandryna kekanak-kanakan?” senyuman Sandryna berubah pilu. Air mata perlahan mulai menggenang.
“Sandryna juga gak bermaksud mendiami Mas Faisal, Sandryna hanya ingin Mas Faisal sadar aja dan memperbaiki kesalahan Mas Faisal kemarin. Dan yang pasti, berjanji nggak akan mengulangi kesalahan yang sama. Tapi... Ternyata Sandryna salah besar. Apa yang Sandryna harapkan tak sesuai ekspetasi. Mas Faisal malah memarahi Sandryna. Dan Mas Faisal... Masih mencintai dia. Wanita yang sama sekali tak bisa Mas Faisal miliki lagi.”
Setetes air matanya jatuh. Secepat itu juga Sandryna hapus. Dia berusaha tegar. Meskipun menangis, Sandryna tetap berusaha tersenyum.
“Sekali-kali, Sandryna mohon tengok lah ke belakang, Mas. Ada seorang Wanita yang menantimu. Seorang Istri yang memiliki harapan besar terhadap cinta Suaminya. Dia sendirian di dalam rasa sakitnya. Berharap sang Suami mau berbalik mengejarnya ke belakang. Berharap sang Suami memeluknya dengan erat dan berjanji akan bersama di sisinya. Tak kan pernah pergi dan berpaling. Menjadikan ia sebagai ratu dalam kehidupannya. Apa itu terlalu sulit untukmu, Mas?”
Faisal tak menjawab. Ia hanya diam tanpa bisa merespon. Diamnya Faisal menjadi jawaban yang cukup bagi Sandryna. Semuanya sudah jelas. Suaminya sama sekali tak bisa mencintainya.
Sandryna menghela napas susah payah. Ia menghapus air matanya dengan sebelah tangan sementara tangannya yang satunya lagi masih dicengkeram Faisal. Jarak Faisal dan Sandryna sangat dekat. Kira-kira hanya lima centi saja. Deru napas kedua Hamba Allah itu pun saling beradu.
“Sandryna cuma pengen Mas Faisal menghargai Sandryna saja sebagai istri. Soal cinta, Sandryna serahkan semuanya kepada sang pemilik hati. Tapi, jika Mas saja masih tak bisa menghargai, bagaimana mau mencintai? Dan juga, berarti Allah tak merestui Mas Faisal untuk mencintai Sandryna. Jadi, untuk apa Sandryna memaksakan, bukan?”
Tanpa permisi Sandryna mengusap lembut rahang suaminya yang mengeras dengan sayang. Ia sangat mencintai pria yang berstatus suaminya ini. Sandryna menatap sendu wajah tampan suaminya. Seolah itu adalah hari terakhirnya menatap pria ini.
“Ketahuilah, Suamiku sayang... Walaupun kamu tak bisa mencintaiku sampai detik ini, tapi cintaku kepadamu takkan pernah hilang meski hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan bahkan tahun berganti tahun. Cintaku tetap sama. Lillahita'ala. Cinta ini akan tetap abadi sampai maut memisahkan nanti. Jika suatu saat nanti aku tak berada di sisimu lagi, tolong tetap ingat aku di hatimu. Biarlah kamu menyimpan memori kenangan itu dihatimu yang paling dalam, tapi tetaplah kenang aku. Istrimu ini. Ah, apakah Sandryna terdengar lancang mengucapkan kata Istri?”
Lantas setelah berucap demikian Sandryna tertawa getir. Ia menatap lama mata suaminya. Senyuman manis nan sendu yang ingin dilihat Faisal terbit kembali. Tatapan mata wanita itu sungguh pilu. Setetes air mata meluncur tanpa dosa di pipi mulus itu.
Entah dorongan dari mana Sandryna perlahan mendekatkan bibirnya ke Faisal. Wanita itu mencium suaminya. Sementara Faisal diam membeku di tempat. Ia sulit mencerna semua ini. Kejadian ini begitu mendadak. Detik berikutnya Faisal baru merespon ciuman Sandryna. Sandryna terisak menangis dalam ciuman pertama mereka setelah berstatus suami istri. Sungguh Sandryna tak menyangka jika Faisal akan membalas ciumannya.
Cukup lama mereka terlarut akan ciuman itu. Hingga Faisal merasa ada yang salah di sini. Terutama di hatinya yang terus saja bergemuruh. Sementara jantungnya tak mau berhenti berdetak kencang.
Faisal menghentikan ciumannya. Menatap tajam ke arah istrinya.
“Kamu memang benar. Kamu memang tak akan bisa mendapatkan cinta saya. Jadi, berhentilah berharap banyak, jika tak ingin membuat dirimu sakit hati terus menerus. Selamanya saya akan tetap membenci, kamu. Jika kamu sadar diri, harusnya kamu secepatnya mengurus surat cerai agar kita cepat berpisah. Kita sama-sama tersakiti di sini. Tangisan kamu dan segala ucapanmu tadi gak akan bisa buat saya berbalik mencintaimu.”
Sandryna mengangguk samar. Rasanya begitu menyakitkan. Hati Sandryna mencelos. Air mata terus mengalir seakan keran air matanya telah bocor.
“Sandryna tau, kok... Mas memang gak mencintai Sandryna. Tapi, Mas berhasil membuat Sandryna tetap menatap Mas Faisal di antara jutaan Lelaki di muka Bumi Allah. Mas Faisal berhasil membuat Sandryna bersyukur setiap saat, karena mendapatkan Suami seperti Mas Faisal. Dengan segala kekurangan dan kelebihan kita masing-masing, Sandryna ucapkan terima kasih untuk Mas Faisal. Walaupun nantinya kita akan berpisah, Sandryna gak akan pernah kecewa dengan pernikahan ini.”
Apa yang di ucapkan Sandryna ini tulus. Faisal sendiri dapat merasakannya. Malahan rasa getaran aneh di hatinya, ia rasakan dari awal Sandryna mengungkapkan perasaan. Namun Faisal membohongi dirinya sendiri.
Tak ingin membuat hatinya terus menerus aneh, sebelum pergi Faisal membisikkan suatu kalimat yang tambah membuat hati Sandryna runtuh.
“Menjauhlah secepatnya dari hidup saya. Saya sudah sangat muak akan drama yang kamu buat.” Faisal menyentak lengan Sandryna yang sedari tadi ia cengkeram. Sesaat pria itu terdiam mengurungkan niatnya untuk berhenti ketika ia melihat darah segar keluar dari lengan istrinya. Tapi, ia pura-pura tak mementingkannya dan berjalan pergi lantas menghilang dibalik pintu keluar.
°°°
“Ini tehnya,”
“Makasih, Mas...” teh pemberian Reza diminum perlahan oleh Khadijah.
Beberapa jam yang lalu mereka sudah berkenalan. Kini Khadijah sedang berada di ruangan Reza, untuk menanyakan perihal proses pernikahan sepupunya.
“Sebelumnya, makasih Mas, karena udah bersedia bantu skripsi akhir Khadijah. Semoga Mas mau ya, membimbing Khadijah.” ujar Khadijah, lalu ia tersenyum tipis.
“Selama apa yang kamu kerjakan bermanfaat, pasti saya akan membantu.” Senyuman manis ditunjukkan Reza.
“SubhanaAllah... Semoga jodoh Khadijah, Mas Reza, Ya Allah... Kalau nggak, orang yang akhlaknya sama kayak Mas Reza aja udah cukup kok!” Wanita itu membatin dan sesekali ia curi-curi pandangan untuk menatap Reza.
“Oh, ya, mas Reza!” panggilan Khadijah yang tiba-tiba, sontak membuat Reza yang melamun, menatapnya.
“Gak apa kan, Khadijah ke sini?”
“Maksudnya?”
“Eum... Maksudnya... Apa nggak ada yang cemburu?”
“Cemburu?” Reza mengulangi lagi pertanyaan Khadijah itu, kemudian dia tertawa hambar. “Nggak ada yang bakalan cemburu. Saya ini belum nikah, dan gak punya pacar.”
Pernyataan Reza, sungguh membuat Khadijah senang. Dalam hati Khadijah bersorak heboh sambil mengucap syukur berkali-kali.
“Alhamdulillah, ya Allah... Ternyata betul yang pak Alif bilang, kalau mas Reza masih jomblo. Belum ada yang punya! Berarti ada kesempatan besar buat aku untuk ngedeketin mas Reza. Siapa tau kami jodoh! Aamiin...”
“Kebetulan banget, saya ada jadwal pernikahan hari ini.” Suara Reza mengintruksi. Khadijah yang larut akan lamunan, berusaha bangkit. Ia memfokuskan pandangan. Menatap Reza lebih jelas. “Siap untuk pelajaran kamu yang pertama? Semoga aja ada hikmah yang dapat di petik.”
“Siap kok, Mas. Kapan aja, Khadijah selalu siap.”
°°°
Dari kejauhan, tampak mobil Faisal melaju sangat kencang. Tak henti-hentinya Faisal memukul setir mobil. Merutuki segala kebodohannya. Suara decitan terdengar begitu nyaring. Mendadak Faisal menghentikan spontan mobilnya di setapak jalan yang sepi.
“Kamu benci dia, kamu benci dia! Gak seharusnya kamu seperti ini!” Faisal terus saja memukul setir mobil, seakan itu menjadi tempat pelampiasan terbaik. “Kamu gak cinta dia Faisal! Sampai kapan pun kamu gak akan pernah mencintai dia! Enyahlah dari pikiran saya, Sandryna!”
Segala ucapan serta wajah Sandryna terus menerus berputar di dalam pikiran Faisal, bagaikan sebuah film. Air mata Sandryna, tawa Sandryna, bahkan tatapan sendunya beberapa menit yang lalu ikut andil memasuki pikiran Faisal.
“Sandryna cuma pengen mas Faisal menghargai Sandryna sebagai istri. Soal cinta, Sandryna serahkan semuanya kepada sang pemilik hati.”
Potongan kata yang diucapkan Sandryna hilir mudik menguasai pikirannya. Ada apa ini? Bukankah Faisal tak mencintai istrinya? Lantas kenapa bayangan istrinya senantiasa berada di dalam pikiran pria itu.
Triiinggg!!!
Dering suara ponsel terdengar nyaring menghiasi suasana mobil Faisal yang sunyi. Di layar ponsel itu, tertera jelas nama Liana. Faisal diam tanpa minat meraih ponselnya. Otak dan hati Faisal benar-benar kacau. Hanya ada Sandryna yang menghiasi pikirannya.
“Mas! Wanita mana yang gak sakit hati saat ngeliat suaminya mesra-mesraan dengan wanita lain? Terlebih lagi wanita itu mantan ke kasihnya? Bahkan wanita seperti Liana yang tak tau diri pun bisa sakit hati."
“Ingat ini baik-baik. Liana jauh lebih baik darimu. Setidaknya, dia tak berselingkuh di belakang suaminya sendiri. Di sini, nyatanya kamu yang lebih tak tau diri dan murahan dibanding Liana.”
Mendadak suara dering telepon berhenti. Sejenak suasana hening untuk sesaat. Akan tetapi, suara nyaring telepon kembali terdengar. Tangan Faisal terkepal kuat menahan emosi.
“Bukan telpon dari kamu yang saya butuh Liana!” ucap Faisal kuat spontan berbalik menatap layar ponselnya.
Tubuh Faisal menegang ketika melihat siapa gerangan yang menelepon. Orang ini lah yang nyatanya Faisal tunggu panggilan masuknya.
“Sandryna...”
Tetap pada posisi yang sama, Faisal masih diam membisu. Ia bingung antara harus mengangkat telepon Sandryna atau tidak. Layar ponsel itu pun mati menandakan sang penelepon sudah memutuskan panggilannya. Kembali Faisal merutuki segala kebodohannya. Ia memejamkan matanya lama. Mungkin, dengan cara itu ia bisa menjernihkan pikirannya. Bertepatan dengan itu juga memori akan Sandryna muncul.
“Sakit, Mas Faisal! Lepasin tangan Sandryna!”
Jeritan Sandryna yang memohon menggema hebat dikepalanya. Cairan merah kental yang menetes di denyut nadi wanita itu ikut melintas juga di pikirannya. Tubuh Faisal tersentak. Ia melakukan kesalahan yang sangat fatal.
“Tangannya... Tangannya berdarah! Dia terluka. Dan... Dan itu karena saya!” segera Faisal membelok arah untuk kembali ke rumahnya.
Pikiran buruk tentang Sandryna terus saja menghantui pikirannya. Mengingat dia seorang dokter, sudah sepantasnya ia menolong orang yang terluka. Terlebih lagi, luka itu disebabkan oleh kebodohannya.
Keberuntungan seakan tak memihak padanya. Jalanan mendadak macet. Entah apa yang membuat jalanan di penuhi berbagai kendaraan. Padahal, beberapa menit yang lalu semuanya tampak normal.
“Sial!” umpat Faisal kesal, memukul kuat setir mobilnya. Dan, Faisal pun harus menunggu dengan perasaan yang berkecamuk.
°°°
“Assalamu'alaikum...”
“Wa'alaikumsallam...” semua orang yang berada di ruangan rumah besar itu menjawab serempak salam dari Reza. Orang yang dari tadi di tunggu-tunggu sudah datang. Langsung saja Reza duduk di hadapan mempelai laki laki, yang di sebelah Reza adalah Ayah dari mempelai perempuan.
“Maaf telah menunggu. Tadi saya ada urusan mendadak.”
“Gak masalah kok, Pak Penghulu.” balas mempelai lelaki sembari tersenyum singkat.
Di sana kedua mata Reza tak sengaja melirik sosok Khadijah. Wanita berhijab itu tertunduk sambil tersenyum tipis saat Reza tak sengaja memandangnya.
“Baiklah, kita mulai saja proses akad nikah ini.” ujar Reza, lantas ia memperbaiki posisi duduknya. Sesuai dengan intruksi Reza tadi, Ayah mempelai wanita mulai memegang tangan kanan mempelai laki-laki. Kalimat basmallah pun di ucapkan oleh Ayah mempelai perempuan.
Mempelai Pria pun mulai mengucap kalimat akad, yang di mana itu sebuah sumpah terhadap Sang Maha Cinta. Telah selesai mengucapkan akad suara Reza kembali mengintruksi.
“Bagaimana saksi, sah?”
“TIDAK SAH!”
Pandangan semua orang mengarah ke sumber suara. Di sana seorang Wanita paruh baya yang memakai kebaya berwarna hijau tengah memandang tajam ke semua orang.
“Saya tidak rela anak saya menikahi janda satu anak ini!”
Mempelai pria sontak berdiri, menatap tajam juga ke arah wanita paruh baya itu. “Ma! Mama, please, jangan membuat masalah di hari kebahagiaan aku!”
“Pokoknya Mama gak akan setuju kamu menikah dengan dia!” mempelai wanita menunduk dalam, ketika ibu dari sang mempelai pria menunjuknya tajam.
“Emangnya apa salah Mawar, Ma?”
“Dia ini seorang janda, Iqbal! Harusnya kamu mendapati Wanita yang lebih baik dari dia. Dan satu hal lagi, dia ini hanya orang kelas bawah! Tidak cocok dengan keluarga kita!”
Mungkin karena tak tahan akan hinaan dari ibu calon suami dari anaknya, Ayah Mawar pun turut bersuara. “Ibu pikir saya setuju anak saya menikah dengan anak ibu?” Ibu itu lantas menoleh. Memandang sengit ke arah ayah mawar yang sedang bertanya. “Saya juga tak sudi buk, menikahkan anak saya dengan anak Ibu! Baru saja jadi orang kaya sudah sok!”
Lantaran kesal terjadi lah perang mulut antara calon besan. Padahal sebentar lagi kedua belah pihak ini akan menjadi sebuah keluarga yang satu, tetapi malah jadi terpecah belah akibat masalah adu mulut saja.
“Pak penghulu!” sahut ibu itu sangat tegas dan penuh emosi. “Saya gak mau tau, pokoknya saya tidak akan merestui pernikahan anak saya dengan janda ini!”
“Saya juga tak setuju, pak penghulu!" sahut bapak mempelai perempuan. "Enak saja saya akan ber-besanan dengan orang kaya sok macam dia!”
Kepala Reza rasanya pusing tujuh keliling mendengar ocehan kedua manusia itu. Tanpa toleransi lagi, Reza langsung menengahi adu mulut yang pastinya tak kunjung selesai ini.
“Cukup!”
Satu kalimat tegas tadi mampu membuat ibu dan bapak kedua mempelai itu terdiam. Suasana yang awalnya ricuh menjadi senyap dan sepi.
“Bapak dan ibu bisa tenang? Saya mohon jangan ada yang membuat kegaduhan, bisa?!” tak ada yang berani menyahuti pertanyaan Reza. Ibu dan bapak itu juga tak menyahuti. Mereka seakan bisu. Dan malah posisi awal mereka yang berdiri menjadi duduk akibat bentakan tegas dari Reza tadi.
“Apa salahnya menikah dengan janda?” suara Reza yang sedikit pelan akhirnya mengintruksi ruangan besar tanpa suara itu. “Apa mereka terlihat menjijikan, terlihat hina, tak pantaskah mereka untuk dinikahi?” masih belum ada yang berani merespon ucapan Reza.
“Jika ini pandangan kalian terhadap janda, berarti baginda Rasulullah kita yang tercinta adalah manusia hina? Karena dengan hinanya beliau menikahi ibunda Khadijah yang seorang janda berumur lebih dari empat puluh tahun.” sama seperti ucapan lainnya. Ucapan Reza kali ini pun tak ada yang berani menjawab. Reza menghela napas. Menatap satu persatu orang-orang yang berada di ruangan sana.
“Bu...” panggil Reza pelan kepada Ibu mempelai Pria. “Sebenarnya syarat untuk menikah itu cuma ada lima. Cukup ada mempelai pria, mempelai wanita, wali, saksi, dan ijab qabul. Jangan dipersulit dengan menambahkan syarat seperti, masih gadis, lulusan sarjana, punya kerja tetap, keturunan ningrat, punya rumah, usia sudah matang, gak melangkahi kakak, atau kekayaan. Nggak, Bu!”
Ucapan Reza berjeda seperkian detik. Ia menarik napas sebentar, kemudian kembali melanjutkan ucapannya yang sempat tertunda. “Wanita, dinikahi karena empat faktor, yaitu dari paras, kekayaan, takhta, dan akhlak. Maka carilah wanita yang berdasarkan akhlak, karena dialah orang yang pertama kali akan mendidik anak-anaknya kelak.”
Mata ibu itu yang semula menegang, lambat laun mulai mengendur. Ia menatap sendu ke arah Reza, dan detik berikutnya menatap ke arah mawar, calon menantunya itu.
“Dan untuk, bapak...” kini kepala Reza menoleh sembilan puluh derajat ke arah bapak mempelai perempuan. “Mulailah menanam sifat sabar dalam diri. Sabar itu ilmu tingkat tinggi, belajarnya setiap saat, latihannya setiap hari dan ujiannya kadang sering mendadak.”
Berkat nasihat Reza, proses akad pernikahan kedua mempelai pun terlaksana. Masing-masing kedua orang tua dari mempelai mau berdamai. Tak ada lagi perselisihan.
“Saya terima nikahnya Mawar permata sari binti Andi Hermansyah, dengan mas kawin seberat empat gram dibayar tunai!”
“Bagaimana para saksi? Sah?”
“SAH!!!”
Alhamdulillah, atas izin Allah, pasangan yang awalnya tak jadi di persatukan dalam janji suci walimah, kini sudah dapat tersenyum bahagia. Puji syukur atas kebaikan Tuhan Sang Maha Cinta yang telah menyatukan dua insan ke dalam janji suci tali pernikahan.
°°°
“Khadijah..., dari pernikahan tadi, apa hikmah yang bisa kamu dapat?” tanya Reza tiba-tiba, di saat mereka ingin masuk ke dalam kendaraan masing-masing.
Khadijah tampak berpikir keras. Mencari jawaban tepat yang bisa memukau Reza.
“Eum... Pilihan seperti ini dinilai sebagai tindakan yang baik, maka Insya Allah. menikahi seorang janda bagi ummat seperti kita pun bisa dinilai sebagai suatu kebaikan. Pilihan menikahi seorang janda bisa dikategorikan ke dalam tindakan yang akan membawa berkah dan juga anugerah bagi kita. Apalagi jika niatnya karena Allah untuk melindungi janda tersebut dari fitnah atau pun hal – hal buruk lainnya yang mungkin bisa terjadi.”
“Abu Hurairah berdasarkan sabda Rasulullah Saw dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, ‘Orang yang berusaha menghidupi para janda dan orang-orang miskin laksana orang yang berjuang di jalan Allah. Dia juga laksana orang yang berpuasa di siang hari dan menegakkan Sholat di malam hari.’.”
“Nah, alhamdulillah itu bisa menjadi salah satu bahan skripsi akhir, kamu.” Reza mulai menaiki motor. Memasang helm. Sementara Khadijah entah kenapa setiap melihat Reza sedikit tersenyum, dia ikut tersenyum. Padahal belum tentu senyuman itu tertuju padanya.
“Kalo menurut Mas Reza sendiri, gimana?” pertanyaan Khadijah menghentikan Reza yang sebentar lagi akan melajukan motor. Reza berbalik menoleh ke arah Khadijah. Sejenak Reza berpikir.
“Eum... Kalo menurut saya pribadi sih, nggak.”
“Loh? Kenapa nggak?”
“Nggak akan terjadi, insyaAllah. Saya pasti dapat yang masih baru.” lantas Reza tertawa akan lawakan garingnya tadi. Terpaksa Khadijah ikut tertawa. Terdengar tawanya sedikit tak mengenakkan.
Cekrek!
Tanpa mereka sadari, sedari tadi ada yang mengawasi mereka dari kejauhan. Orang itu menatap mereka dari dalam mobil. Dengan senyuman jahat, orang itu menatap layar ponselnya.
“Mampus! Foto ini akan jadi bukti terungkapnya kebusukan, lo!” setelah mengatakan hal demikian, Pria itu pun menutup kaca mobilnya. “Cih! Dasar bad boy sok suci!”
°°°