Proses penguburan jenazah Ibunda Aisyah menuju peristirahatan terakhir sangat mudah sekali. Tiada halangan sekalipun. Kini, Aisyah terdiam dengan mata yang sembab. Menatap kosong tanpa arah.
Semua orang yang berkumpul membaca surah Yaasiin juga telah pergi. Cuma ada keempat sahabat Aisyah. Anak panti beserta Khadijah, sudah pulang beberapa menit yang lalu.
“Ayo, Aisyah! Makan! Sedikit aja!” Lala mengulurkan sesendok nasi beserta lauk pauk. Aisyah menggeleng. Satu sendok pun tidak ada yang dilahapnya hari ini.
“Makanlah, Aisyah...” Aisy memasang wajah memohon. "Entar lo sakit, gimana? Satu sendok aja.”
“Gue gak mau makan, Sy...” jawab Aisyah lirih.
“Terus, lo mau makan apa? Biar gue beliin.” Sandryna pun ikut bertanya.
“Bubur ayam.”
“Astaghfirullah, Aisyah... Mau dapet bubur ayam dari mana? Ini udah malam, dan gak mungkin ada bubur ayam malam-malam begini!” Nada melotot mendengar permintaan sahabatnya.
“Tapi, gue maunya bubur ayam, Nad!” Aisyah tetap pada pendirian awal. Kalau tak dituruti keinginannya itu, sudah dapat mereka tebak Aisyah tidak mau makan. Dari mana mereka akan mendapatkan bubur ayam?
Diam-diam Alif mengintip kelima hijabers itu dari kejauhan. Daniel yang tak sengaja melihat Alif, menghentikan langkahnya. Matanya menyipit curiga gerak-gerik Alif. Reza yang bingung kenapa Daniel berhenti, bertanya.
“Eh, kenapa lo berhenti? Bantuin gue angkat piring, ini malah bengong!”
“Diam dulu, kutu kupret!” Daniel melambaikan tangannya. Memberi kode agar Reza mendekat. “Sini dulu, lo!”
“Kenapa, sih?” Reza mendekat sesuai intruksi.
“Itu Alif, kan?” Daniel mengarahkan telunjuknya. Dia berbisik. “Ngapain dia ngintip-ngintip, gitu? Mencurigakan bener.”
Reza melirik Daniel. “Lo juga kenapa ngintip-ngintip? Sama aja kayak dia.”
Daniel berdecak. “Seriously, Reza...” Daniel melangkah lebih dekat. Reza ia tinggalkan dengan perasaan heran akan tingkahnya yang mengendap-ngendap. Jaraknya dan Alif sudah sangat dekat. Merasa jarak mereka dekat, Daniel menepuk pundak Alif diiringi teriakan.
“Woy!!!”
“Astaghfirullah!” Alif terkejut. Bungkusan yang dipegang Alif sedari tadi jatuh ke lantai. Alhasil, apa yang berada di dalam bungkusan putih itu tumpah ke lantai. Kejadian ini juga membuat kelima hijabers yang berada di ruang keluarga, spontan menoleh ke arah Alif.
“Aduh... Sorry! Gak sengaja!” Daniel memandang bubur yang berserakan di lantai. Reza yang melihat adegan ini, berjalan cepat menghampiri.
Aisyah berdiri. Wanita itu berjalan pelan menuju Alif yang terdiam kaku menatap dirinya. “Bubur ayam?” tanya Aisyah lirih, disertai tatapan nanar kepada Alif.
“Ma... af, Syah! Aku tadi—“
“Kenapa kamu gak ngasih makanan ini dari tadi ke aku?” sela Aisyah cepat. “Dari tadi kamu di sini, iya, kan?” tidak ada respon dari Alif. Ia diam tak tahu apa yang harus ia perbuat. Setetes air mata meluncur di pipi Aisyah. “Berarti kamu tau aku mau bubur ayam, kenapa kamu gak kasih? Kenapa kamu cuma diam aja, huh?”
“Pasti bakalan ada drama, nih!” Daniel berbisik di antara suasana tegang.
“Hus! Lo bisa kicep bentar gak?” Reza melirik Daniel tajam.
“Ngapa? Bentar lagi drama antara lo dan Lala pasti! Kisah kalian berdua ternyata gak jauh beda.”
Reza menghela napas lelah. Celotehan Daniel tak ia gubris. Reza kembali memfokuskan pandangannya ke Alif dan Aisyah.
“Tadi itu aku mau ngasih, cuma...”
“Cuma apa?” untuk yang kedua kalinya Aisyah menyela.
“A— aku... Ragu...” jawab Alif terbata-bata.
Aisyah tersenyum miris. Aisyah menatap ke lain arah. Detik berikutnya, ia kembali memandang Alif dengan tatapan nanar. “Alif... Kamu tau... Niat baik bisa jadi buruk, karena hal sepele seperti keraguan. Mau memberi saja kamu sudah ragu. Apa lagi mau ngelamar aku.”
°°°
David kedatangan Paman dan Bibinya yang berasal dari Korea Selatan—Negara kelahirannya. Robert Helvin— merupakan Adik kandung dari Ayahnya— Andrew Helvin. Jika di pikir-pikir, nama mereka tidak mirip dengan Negara Korea Selatan, bukan. Memang begitulah kenyataannya. Keluarga David berasal dari Negara London, Inggris. Keluarga mereka beberapa di antaranya sengaja menetap di Korea Selatan untuk urusan bisnis.
“Aku senang sekali bisa berkunjung ke anak cabang Perusahaanmu, David. Kau memilih tepat yang bagus. Indonesia memang Negara yang tepat untuk urusan bisnis.” Kedua Lelaki itu berbincang sembari berjalan menuju ruangan CEO pusat— ruang kerja David. “Sampai kapan kau di sini? Apa kau tak ingin kembali ke Perusahaan pusat?”
“Apa Paman merasa keberatan memantau Perusahaan pusat?” suara David mulai terdengar dingin. “Kalau begitu kenyataannya, tak apa. Aku bisa—“
“Bukan, David. Bukan begitu! Sama sekali tidak. Aku sangat senang sekali membantumu.” terlihat Lelaki itu panik. Dia coba menjelaskan maksud dari perkataannya pada David sejelas mungkin. “Hanya saja...
Perusahaan pusat memerlukanmu sebagai sosok pemimpin. Beberapa bulan lagi juga Perusahaan pusat akan berulang tahun. Apa kau tak ingin merayakan pesta di sana.”
David tidak memberi jawaban. Dia terdiam. Mungkin tengah mencari jawaban. Atau sedang bergulat dengan egonya sendiri.
“Aku tau... Ini sangat berat untukmu, tapi kau jangan terus menerus terpuruk oleh kisah masa lalu.” sambung Pamannya tepat sasaran. Memang itulah yang menjadi alasan utama David tak mau kembali ke Korea Selatan. Kembali ke sana hanya akan membuatnya semakin terluka.
“Al-ḥamdu lillāhillażī anzala 'alā 'abdihil-kitāba wa lam yaj'al lahụ 'iwajā...”
Keheningan terpecahkan akibat suara seorang wanita yang sayup-sayup terdengar. Dua Lelaki itu saling berpandangan. Seolah dari pandangan itu mereka berbicara lewat kontak mata.
“Apa suara indah ini berasal dari pintu itu?” Paman David memandang pintu yang berada di sebelah mereka tengah berpijak. David mengangguk. Mengiyakan pertanyaan Pamannya.
“Itu Sekretaris Perusahaan cabang ini. Dia seorang Muslim. Kalau suaranya mengganggu menurut Paman, aku bisa menegurnya.” Tentu saja David tahu. Setiap hari Jum'at tiba, Dia selalu mendengar suara ini. Suaranya selalu berasal dari Ruangan Nada. Sudah pasti pemilik suara indah itu adalah Nada.
“Tidak! Jangan!” Paman David menggeleng tak setuju. David menaikkan sebelah alis bingung. “Justru sebaliknya. Aku menyukai hal ini. Sebuah kemajuan yang besar, kau mau berhubungan dekat dengan seorang Muslim. Aku pikir setelah kau mengetahui tentang masa lalu mu, kau tambah membenci Ummat Muslim.”
“Aku tetap membenci mereka semua!” beriringan dengan decakan, intonasi suara David meninggi. “Dan, Paman! Jangan kau sebut apa pun mengenai masa lalu bodoh itu! Aku sungguh muak! Terlebih dengan dua orang itu! Syukurlah mereka sudah mati, jadi aku tak perlu repot-repot membunuh mereka.”
“Tapi, mereka kedua orang tua kandungmu!” sela Pamannya, berhasil membuat David membeku. Mereka saling berpandangan. Pamannya menatap sendu. Tersirat rasa permohonan yang besar.
“Itu menurut Paman, bukan menurutku! Orang tuaku hanya Andrew Helvin dan Irene Helvin! Bukan mereka!” lantas setelahnya, David berbalik. Tanpa pamit atau apa pun, Pria itu berjalan pergi.
Ceklek!
Pintu tiba-tiba terbuka. Mengejutkan Robert. Sosok Nada berdiri memegangi knop pintu. Ia tersenyum canggung. Senyuman Nada pun di balas oleh Robert.
“Anda... Sekretaris David?”
Satu kali anggukan Nada berikan. “Iya, Om! Eh, Paman Pak David! Eh, maksudnya, Pak Robert! Saya Sekretarisnya.” kegugupan Nada membuat Robert tersenyum kecil. Mata Robert kemudian menatap penampilan Nada hingga ke bawah. Nada yang di lihat seperti itu semakin canggung. Robert menimbulkan seulas senyuman lagi.
“Senang bisa bertemu denganmu, Nona. Anda Sekretaris perdana David yang berhasil membuatku terpukau. Ini sebuah keberuntungan untukmu.”
Nada tertawa canggung. Gaya bicaranya agak sedikit tinggi. Karenanya Nada merasa tak nyaman. Nada terdiam, namun otaknya mengingat sesuatu. Sesuatu hal yang membuat dia kenapa keluar dari Ruangan. Ada sesuatu penting yang ingin Nada tanyakan pada Pria ini.
“Pak, apa saya boleh bertanya? Itu pun kalo Bapak memperbolehkan.”
“Silahkan, tapi aku tak berjanji bisa menjawab pertanyaanmu atau tidak.” Robert memasang wajah serius. Tatapannya menunjukkan, jika dia benar-benar ingin menyimak pertanyaan yang akan Nada lontarkan.
“Apa benar, pak David sebelumnya beragama Islam?” tanya Nada pelan. Penuh kehati-hatian. Bisa jadi dari ucapannya, Lelaki ini tersinggung. Atau yang lebih parahnya dia mengadu ke David.
“Dari mana Anda tau?”
“Saya... Saya tidak sengaja mendengar percakapan kalian tadi. Maafkan saya!” Nada menundukkan kepala. Kedua jemarinya saling ia remas.
“It’s, okay. Don't wory. Calm down, lady.” Robert berdehem. Kepalanya menengok ke kiri dan ke kanan sebelum ia mulai bercerita. “Baiklah, ini kisah yang sudah lama dan sangat rumit. Hanya kau orang asing yang satu-satunya aku beritahu masalah besar keluarga Helvin. Entahlah, aku merasa percaya saja denganmu.”
Nada spontan mendongak. Hatinya seperti tersentak. Ada sesuatu aneh yang menjalar di relung hatinya. Sayangnya Nada tak tahu perasaan apa itu.
“Dua puluh lima tahun yang lalu, keluarga Helvin menemukan David di sebuah rumah kosong. Rumah kosong yang sudah tak berpenghuni lagi, yang juga akan menjadi lahan pembangunan hotel baru keluarga Helvin. Angel Helvin yang memang di vonis dokter tak bisa memiliki keturunan, mengangkat David sebagai anaknya. Singkat cerita, David mengetahui jika dirinya Islam, sejak ia menemukan kalung saat dia kecil yang berbentuk kaligrafi. Kalung tersebut pun masih dia simpan. Tapi aku tak mengetahui di mana letak kalung itu sekarang. Mungkin ada di Ryan, atau ada pada David sendiri.”
Penjelasan Robert berhenti. Mendadak suasana hening. Masih ada rasa bingung terbesit di hati Nada. Tentang alasan David membenci Islam. Agamanya sendiri. Agama yang begitu mulia.
“Terus, kenapa pak David benci Agamanya sendiri?”
“Kebohongan.” Robert tersenyum. Bagi Nada senyumannya sungguh misterius. Alis Nada mengkerut. Ia bingung atas jawaban singkat Robert ini.
“Andrew Helvin, ayah angkat David berbohong. Dia berkata, jika David telah di buang oleh orang tuanya. Padahal, kedua orang tua David tidak membuangnya. Melainkan mereka dibakar hidup-hidup di rumah, karena Andrew menginginkan tanah orang tua David untuk pembangunan Hotelnya yang baru. Dengan cara membakar mereka hidup-hidup, Andrew bisa mendapatkan tanah itu secara gratis.”
“Bukan hanya untuk Hotel saja, melainkan Andrew juga membenci kedua orang tua David. Benci karena tak ingin menjual tanah mereka, dan benci karena mereka adalah seorang muslim. Andrew dan Angel memang tak memiliki Agama. Alasan mereka membenci Islam juga tak tentu. Karena David anak angkatnya yang nyatanya beragama Islam, Andrew pun mencuci otak David agar ia membenci orang tuanya dan agamanya sendiri.”
“Dengan cara berbohong?” tanya Nada yang langsung di beri anggukan oleh Robert.
“Karena itulah aku merasa senang David mendapatkan Sekretaris sepertimu. Aku berharap, kau bisa mengubah pandangan David sedikit demi sedikit tentang Islam. Agamanya sendiri.”
°°°
Langkah kaki Reza menuju ruangannya terhenti, kala dia merasakan ponselnya bergetar hebat di dalam saku jaket kulit di tubuhnya.
“Assalamu'alaikum, Lif? Ada apa?” rupanya si penelepon adalah Alif. Sahabat karibnya sejak di bangku perkuliahan.
“Wa'alaikumsallam... Reza! Lo siap-siap! Si Khadijah, yang gue bilang kemaren lagi otw ke kantor lo,”
Deg!
Ucapan Alif di telepon barusan, mampu membuat jantung Reza berpacu di atas normal. Ia sungguh tidak tahu kenapa dengan jantungnya yang mendadak seperti ini. Rasanya setiap mendengar mama wanita itu, tubuh Reza merinding dari atas hingga ke bawah.
“Ap... Apa?! Kok... Kok bisa?!”
“Udah... Santai aja, okay! Jangan terlalu panik, bro!” Alif terkekeh geli di seberang.
Tanpa menunggu waktu lama, Alif pun langsung memutuskan panggilan setelah mengucap salam. Guru agama tersebut bahkan tak memberikan Reza untuk membalas salam darinya.
“Aneh-aneh aja nih, orang!” Decakan kesal terdengar dari mulut Reza saat ia mematikan telepon.
Lalu, Reza pun kembali melangkah masuk menuju ruangannya, saat ia telah memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket. Tetapi, salam seorang Wanita dari arah belakangnya, membuat langkah kaki Reza berhenti.
“Assalamu'alaikum, Mas Reza?”
°°°