Part 9

3368 Words
Senyuman tak henti-hentinya hilang di bibir Sandryna. Sandryna pulang dari Butik lebih awal. Dia pulang cepat semata untuk memberikan Faisal sebuah jam tangan, yang tak sengaja ia lihat di Toko pagi ini. Sandryna pikir, jam tangan ini pasti cocok Faisal kenakan.  “Assalamu'alaikum, Mas... Sandryna pulang...” senyuman Sandryna menghilang, begitu ia baru memasuki rumah. Tubuhnya kaku di tempat. Jam tangan yang ia genggam, terjatuh di lantai. Air matanya jatuh, melihat sesuatu yang tak seharusnya ia lihat. Hati Sandryna hancur.  “Astaghfirullah, Mas Faisal!” Sandryna berteriak. Berjalan cepat menghampiri Faisal yang memeluk Liana erat. “Ribut banget, sih!” Liana berdiri diikuti Faisal. Liana bersedekap d**a. Menatap angkuh Sandryna yang dilinangi air mata.  “Mas Faisal, astaghfirullah! Kenapa Mas bawa wanita ini ke rumah kita, dan... Meluk dia?! Kalian gak seharusnya begitu! Kalian bukan, mahrom—“ “Terus, kalo kami bukan mahrom, kamu mau apa?!” Faisal menyela ucapan Sandryna. Intonasi suaranya meninggi. Sandryna yang di bentak, menundukkan kepala takut. “Terserah saya, dan kamu jangan ikut campur! Ingat, posisi kamu, ya? Kamu itu bukan siapa-siapa saya!” “Sandryna istri, Mas Faisal! Istri sah Mas yang tercantum dalam buku nikah!” “Di buku nikah, tapi gak di hati saya!” Faisal meraih tangan Liana. Di genggamnya tangan Liana erat, lantas ia menunjukkan genggaman tersebut ke hadapan Sandryna. “Harusnya nama Liana yang tercantum di buku nikah, bukan nama kamu! Kalo kamu sadar diri, seharusnya kamu pergi dari kehidupan saya selamanya!” “Emang dasar dia aja yang gak tau malu, yang.” sahut Liana sinis. Sandryna spontan mendongak menatap Liana tajam. Liana yang di tatap tajam seperti itu merasa kesal. “Kenapa, lo? Gak seneng gue bilang gak tau malu! Emang lo gak tau malu, udah ngerebut pacar gue!" “Kamu itu yang gak tau malu!” Sandryna mengepalkan kedua tangannya. Rasanya Sandryna ingin sekali menampar wajah wanita yang tak tahu malu ini. Jari telunjuknya ia arahkan tepat di wajah Liana. “Kamu boleh sekarang tertawa bahagia, tapi besok kamu yang akan menangis penuh derita. Mungkin saya kini sedang di rundung kesedihan, tapi InsyaAllah besok saya yang akan tersenyum lebar. Hidup ini bagaikan roda yang berputar. Saya akan ikuti alur cerita Allah. Bila sudah waktunya, kita lihat saja.” Penekanan di setiap kata yang Sandryna ucapkan, menimbulkan rasa takut dalam diri Liana. Wajah Sandryna memancarkan keseriusan. Faisal yang melihat wajah pucat pasi Liana, bergegas ingin beranjak membawa wanita itu pergi.  “Apa-apaan, kamu! Kamu mengancamnya?! Pasti kamu mau berbuat jahat sama Liana, iya?”  “Mas, bukan Sandryna yang ingin berbuat jahat, tapi wanita ini! Dia udah berbuat jahat pada Keluarga kecil kita!” “Liana itu wanita baik-baik!” “Wanita baik-baik nggak akan merebut suami orang lain, Mas!” Sandryna mengatur napasnya yang naik turun. Dengan mata yang berkaca-kaca Sandryna menatap Faisal penuh pilu.  “Mas... Sandryna mohon, belajarlah mencintai Sandryna meski itu sulit. Jika Mas Faisal masih nggak bisa mencintai Sandryna, setidaknya pura-puralah mencintai Sandryna. Pernikahan itu ibarat dua kaki Manusia, Mas. Jika salah satu kaki terluka, maka kaki lainnya yang menopang. Tapi walaupun begitu, Manusia nggak akan bisa berjalan normal dengan satu kaki, Kan? Gak sempurna, bukan? Kayak gitu juga pernikahan, Mas. Saling melengkapi kekurangan pasangan. Dan Sandryna butuh Mas Faisal untuk menyempurnakan kekurangan pernikahan ini.” Faisal tertegun. Segala yang Sandryna ucapkan, terasa tidak ada kebohongan dalam tangkapan matanya. Semuanya tulus atas dasar cinta. Faisal meneguk saliva susah payah. Tenggorokannya terasa tercekat melihat air mata Sandryna yang baru saja terjatuh.  “Enyahlah dari kehidupan saya. Saya sudah begitu muak dengan kepura-puraan yang kamu buat. Kamu selalu menebarkan senyuman seolah bahagia, namun nyatanya hati kamu sakit. Pergilah secepatnya dari hidup saya, Sandryna. Saya sangat tidak mengharapkan kehadiran, kamu. Kalau kamu tetap nggak mau pergi juga, saya harap semoga Tuhan yang menyeret kamu pergi.” Deg!  Faisal berlalu pergi. Menggenggam erat tangan Liana, setelah ia berucap hal yang menyakiti hati Sandryna. Tubuh Sandryna ambruk di lantai. Wanita itu terduduk menatap arah pintu di mana Faisal pergi. Air mata Sandryna berjatuhan.  “Mas... Jika benar aku pergi, siapa yang akan membuatkanmu sarapan pagi dan menghantarkan makan siang? Jika aku pergi, senyuman siapa yang akan kamu lihat setiap saat jika bukan senyumanku? Jika aku pergi, siapa yang akan mengingatkan kesehatanmu? Jika aku pergi, siapa juga yang akan mengurus segala kebutuhanmu bekerja?” kepala Sandryna mengarah ke atas.  “Ya Allah... Jika aku pergi, aku harap semoga kepergianku bukan karena ia menyuruhku pergi. Bukan juga karena keinginanku untuk pergi. Bukan pula karena dia berhasil menggoda suamiku... Yaa Allah... Aku sangat berharap semoga jika aku pergi, karena tugasku dalam menemaninya di bumi telah selesai dan ku harap kami bisa menjadi sepasang yang dirindukan Syurga-Mu. Aamiin...” °°° Pada pagi hari ini, Daniel bersama Aisy kembali bertemu untuk melihat lahan pembangunan Food Court. Tibalah mereka di sebuah lahan yang sangat luas. Masih sedikit di tumbuhi beberapa pohon dan tanaman liar. Udaranya pun masih sejuk sekali. Dan Aisy sangat menyukai tempat ini. Membuatnya seketika fresh. “Gimana, Sy? Suka?” tanya Daniel, beberapa saat mereka menikmati udara sejuk yang berada di sekitar. “Lahannya strategis, terus udaranya masih sejuk banget! Gak kayak di kota. Lahan ini cocok buat food court nanti.” Aisy mengangguk antusias, membuat Daniel tersenyum. Wanita itu juga masih sibuk menikmati udara yang menerpa wajahnya. Melihat wajah bahagia Aisy, membuat Daniel ikut bahagia. “Maaf, Mas, Mbak! Saya telat datang!” sahut seorang Lelaki paruh baya yang memakai baju kaus oblong.  “Tadi, ada urusan sebentar,” lanjut lelaki itu tersenyum ramah. “Ah, iya, Pak! Gak papa!” Aisy menangkupkan kedua tangan saat bapak itu ingin berjabat tangan dengannya. “Gimana, Mas, Mbak? Apa jadi mau beli lahan saya?” tanya Bapak itu langsung to the point. Daniel mengangguk yang diikuti Aisy juga. Rupanya kedua orang itu setuju untuk membeli lahan ini. “Iya, pak! Saya dan istri saya sudah sepakat mau beli lahan bapak ini.” spontan Aisy terbelalak, begitu mendengar Daniel menyebut dirinya sebagai istri. Sejak kapan Aisy resmi dinikahinya? Lamaran saja belum. “Soalnya lahan ini sangat strategis! Cocok sekali untuk Food Court kami yang memang bertema gardening.” lanjut Daniel lagi, tanpa rasa bersalah sudah mengklaim Aisy sebagai istrinya. Padahal CEO itu sempat menatap Aisy yang sudah melotot ke arahnya sebagai peringatan. “Syukurlah, kalau mas sama mbak udah cocok sama lahan saya ini, jadinya saya gak perlu repot-repot lagi untuk bangun Masjid.”  Mendengar kata pembangun Masjid, lantas membuat Aisy menoleh sarkatis kepada Bapak itu. Menurut Aisy, ada yang salah dengan lahan ini.  “Untuk lahan masjid? Maksudnya, pak?” tanya Aisy, coba memperjelas semuanya. “Sebenarnya ini tanah wakaf peninggalan Ayah saya. Beliau berpesan untuk tanah ini, agar di bangun Masjid bagi warga. Tapi, menurut saya mah, lebih baik di jual. Bisa dapat untung dari pada bangun Masjid, yang pasti saya juga turut mengeluari biaya.” jelas Bapak itu yang diangguki Daniel sambil bergumam. Melihat Daniel yang mengangguk tanda menyetujui tindakan Bapak itu, lantas membuat Aisy geram. Sudah jelas apa yang dilakukan Bapak itu salah, masih juga dibenarkan Daniel. Karena itulah Aisy geram juga dengan Daniel, hingga wanita itu kembalu melotot ke arah Daniel. Yang dipelototkan malah pura-pura bingung. “Maaf nih, Pak!” sahut Aisy agak ragu-ragu untuk bicara. “Saya sama sekali tidak sependapat dengan cara bapak itu.”  “Ini kan tanah yang sudah di wakafkan, oleh mendiang Ayahanda Bapak. Sudah seharusnya, Bapak sebagai anak untuk melaksanakan amanah dari orang tua, Bapak. Amanah orang tua itu harus di jaga, loh, Pak. Dosa kalo kita ngelanggar. Terlebih lagi amanah orang yang sudah almarhum. Dan juga... Amanah dari beliau itu sangat mulia. Tanah ini ia wakaf-kan untuk pembangunan Masjid yang akan menjadi tempat ibadah bagi seluruh ummat Muslim. Jika Bapak menjalankannya, maka insyaAllah bapak akan menerima ganjaran pahala, yang masyaAllah besar banget!” jelas Aisy yang tampak diangguki oleh Bapak itu.  “Terus, kalo masalah biaya untuk pembangunan Masjid, Bapak gak perlu khawatir. Uang yang akan bapak gunakan untuk pembangunan Masjid nanti, akan berlipat ganda. Allah yang akan ganti. Percaya deh, sama Allah. Anggap aja uang yang bapak keluarkan nanti, sebagai tabungan amal bapak di akhirat kelak.” Dan untuk yang beribu-ribu kalinya, Daniel terpukau akan Aisy. Daniel merasa Aisy adalah wanita terbaik yang ia temui setelah Ibunya. Tekad Daniel semakin bulat untuk berhijrah ke jalan yang benar. Karena merasa apa yang dilakukannya sudah salah, akhirnya Bapak itu tidak jadi menjual tanah tersebut. Ia lebih memilih untuk menjalankan amanah Ayahnya, dan hal tersebut tentunya membuat Aisy senang. “Nanti kita cari aja lahan yang lain lagi,” Daniel coba memecahkan keheningan di saat mereka berjalan menuju mobil. Memang mobil sengaja diparkirkan, jauh dari lahan Food Court tadi. Aisy mengangguk. Setuju akan saran Daniel. “Iya. Aku juga gak mau beli lahan itu. Sesuatu yang kita mulai dari jalan haram, maka akan seterusnya haram. Tanah yang menjadi wakaf itu, kalo disalah gunakan akan jadi haram hukumnya.” Selepas mengatakan hal itu, suasana di antara mereka kembali hening. Hanya terdengar suara burung yang berkicau menghiasi hari.  “Aisy!”  “Apa?” Aisy menoleh, ketika mendengar suara Daniel memanggilnya. Pria itu diam. Tak melanjutkan ucapannya lagi. Padahal Aisy sudah menunggu. Rasanya Daniel bingung untuk sekedar membuka suara.  “Ciri-ciri calon Suami kamu itu gimana sih, Sy?” setelah lama berkecamuk dengan pikirannya, Daniel pun akhirnya mengeluarkan suara.  Pertanyaan Daniel ini, sungguh tidak tertebak oleh Aisy. Ia bingung harus menjawab apa. Sorot mata dan nada bicara Daniel tampak serius. “Kalo insyaAllah aku akan di jemput jodoh dulu baru kematian, aku pengen punya sosok imam yang bisa menuntun aku ke Jannah-Nya. Imam merupakan tuntunan sebuah keluarga dalam meraih Jannah-Nya. Misalnya imam keluarga itu tidak baik, bagaimana mau menuntun keluarga untuk meraih Jannah Allah, sementara dia saja mana mungkin bisa meraih Jannah-Nya.” Daniel terdiam setelah mendengar kriteria Pria yang Aisy impikan. Semuanya tidak ada di dalam diri Daniel. Daniel merasa sedih. Ribuan pertanyaan berputar di kepalanya sekarang. Apa dia bisa menjadi calon Suami Aisy? Belum lagi mencoba melamar dan hijrah saja, Daniel telah merasa kalah.  “Emangnya... kamu kenapa nanya hal begitu?”  Lamunan Daniel buyar saat mendengar suara Aisy. “Eh! Enggak, kok! Cuma, lagi pengen nanya aja,” alibi Daniel sembari menggarut tengkuknya yang tak gatal. Aisy mengangguk saja. Padahal nyatanya Aisy penasaran. Aisy menebak pertanyaan Daniel pasti ada maksud terselubung. Pikiran Aisy mulai berpikir yang aneh-aneh.  “Kenapa ya, Daniel nanya pasal suami? Apa... Jangan-jangan Daniel mau ngela—astaghfirullah, Aisy! Kok bisa-bisanya mikirin hal gituan?! Nggak Aisy, nggak! Jangan ge'eran dulu! Ya Allah... Jagalah hati hamba agar tetap mengukir nama-Mu. Jangan sampai, hamba mengukir cinta salah satu makhluk-Mu yang tak tentu.” pikir Aisy, di batin.  °°° Aisyah beserta Bundanya tengah berada di kamar dirinya. Kemarin pagi Bunda baru pulang dari Jeddah setelah sekian lama. Tampak Aisyah sedang menyisiri rambut bundanya dengan lembut. Sesekali Aisyah menatap pantulan wajahnya dan Bundanya di pantulan cermin. “Aisyah seneng deh, Bun... Karena Bunda udah pulang lagi ke sini.” Aisyah tersenyum manis sambil menyisiri perlahan rambut Bundanya yang mulai memutih. “Jadinya, rumah kita gak sepi lagi,” Lantas setelah mengatakan hal demikian, Bundanya tiba-tiba mendongakkan kepala untuk menatap Aisyah. Hal ini mampu membuat Aisyah memberhentikan aktivitasnya yang sedang menyisir rambut Bundanya itu. “Besok Rumah kita bakalan rame, kok!” “Maksud Bunda apa?” alis Aisyah saling bertautan. Ia bingung akan ucapan bundanya ini. Tidak ada jawaban dari Bundanya. Hal tersebut semakin membuat Aisyah bingung. Tetapi, Aisyah tak lagi menghiraukan ucapan Bundanya. Ia lebih memilih melanjutkan aktivitasnya yang menyisir rambut Bundanya lagi. “Aisyah... Bunda minta, besok kamu harus sambut mereka yang akan datang ke sini dengan senyuman.” °°° Kupu-kupu berwarna-warni nan cantik tengah beterbangan di sebuah taman. Taman itu sangat indah. Ditumbuhi banyak bunga cantik dengan banyak warna. Semerbak harum bunga-bunga itu menyebar hingga ke penjuru taman. Ada sungai dan air terjun yang tak luput menghiasi taman tersebut. Banyak pepohonan yang ditumbuhi berbagai macam buah. Satu lagi hal yang sangat mengejutkan dari taman tersebut. Air yang menggenangi sungai itu terbuat dari s**u putih. Jernih sekali. Di sana Aisyah sedang duduk berdua di taman itu bersama Ibundanya. Wajah mereka tampak berseri. Tercetak jelas raut wajah bahagia dari ibu dan anak itu. Kicauan burung sangat menjelaskan kebahagiaan mereka. “Bunda gak akan pergi lagi, kan? Jangan ke mana-mana lagi. Aisyah takut sendirian di Rumah. Sepi banget tanpa Bunda.” Aisyah berbaring di pangkuan ibunya.  Wanita paruh baya itu terus mengusap lembut puncak kepala Aisyah. Ia tidak menjawab pertanyaan Aisyah tadi. Dia hanya tersenyum.  “Aisyah rindu..., banget sama Bunda! Bunda segala-galanya. Aisyah sayang Bunda.” Tak lama kemudian, datang seorang Lelaki paruh baya. Ia memakai baju putih bersih sama seperti baju yang dipakai Aisyah dan Bundanya. “Ayah!” Aisyah spontan berdiri dan langsung memeluk Ayahnya erat. Ia sangat merindukan sosok Lelaki ini. Wajahnya seakan tidak pernah menua. Sama seperti disaat muda. “Ayah kok ada di sini?” tanya Aisyah yang masih setia tersenyum. “Ayah mau jemput bunda kamu,” ucap Ayah Aisyah sambil memegang pipi anaknya sayang. Raut wajah Aisyah berubah drastis. Ia sangat bingung sekaligus ketakutan. Sang ayah telah memegang tangan ibundanya. Ibundanya pun membalas dengan seulas senyum lebar. “Aisyah jaga diri baik-baik, yah!” Bunda Aisyah menangkup kedua pipi anaknya. “Nggak! Gak! Bunda sama Ayah mau ke mana?” tanya Aisyah sangat cemas. Wanita paruh baya itu sama sekali tidak menjawab pertanyaan Aisyah. Ia masih terus saja menangkup kedua pipi Aisyah. Bundanya menatap ia penuh arti. Seketika itu pula Bunda Aisyah tersenyum tulus khas seorang Ibu. “Bunda sama Ayah pamit pergi yah, Nak! Jangan pernah mengkhawatirkan Bunda. Bunda sudah aman dan bahagia bersama Ayah.”  Kemudian sepasang insan itu berjalan pergi meninggalkan Aisyah. Mereka berjalan menuju sorot cahaya terang benderang. Sangat menyilaukan mata. Mereka berdua sempat menoleh ke belakang dan tersenyum penuh kebahagiaan. “Assalamu'alaikum, Aisyah...” mereka berdua memberi salam, sebelum memasuki cahaya terang itu. “Bunda jangan tinggalin Aisyah, Bunda!!!” Aisyah berteriak histeris terduduk di rerumputan. Ingin sekali Aisyah beranjak dan mengejar kedua orang tuanya, tapi tubuh Aisyah seakan terpaku di bumi. Ia tidak bisa berdiri maupun bergerak. Hanya isakan tersedu-sedu dan air mata lah yang menghiasi.  “BUNDAAAA....!!!” Aisyah bangun dari tidurnya dan terduduk. Pelipisnya bercucuran keringat. Matanya mengeluarkan butiran bening. Aisyah mengusap pelan wajahnya. “YaaAllah ternyata cuma mimpi,” gumam Aisyah sembari meremas tangannya cemas. Aisyah menoleh ke samping. Bundanya tertidur lelap. Aisyah tersenyum legah memandang wahah damai Bundanya. Mimpi tadi seolah nyata.  “Astaghfirullahal'adzim...” Aisyah beristighfar. Mencoba menghilangkan pikiran buruk yang menguasai otaknya.  Adzan subuh pun berkumandang merdu. Tiba saatnya seluruh ummat Islam untuk menunaikan Sholat subuh dua rakat. Tak terkecuali pun Aisyah.  “Bun... Bunda, bangun. Sholat subuh yuk, Bun.” Aisyah menepuk pelan lengan Bundanya. Kedua mata wanita itu berkedip berkali-kali. Seulas senyuman terbit di saat ia sepenuhnya sadar dari dunia mimpi.  “Eh, udah subuh, ya?” tanya Bundanya dengan suara serak.  Aisyah mengangguk. Dia berdiri. Tangannya menggenggam telapak tangan Bundanya. Membantu Bundanya untuk beranjak berdiri. “Aisyah yang jadi Imamnya, ya, Bun?” Bundanya mengiyakan. Selesai mengambil wudhu, mereka pun melaksanakan Sholat subuh berjamaah. Sesuai apa yang di katakan Aisyah. Yang menjadi imam dalam Sholat subuh kali ini, yaitu dirinya. Sedangkan bundanya menjadi makmum. Aisyah mulai membaca takhiatul akhir, lalu selepas itu salam ke kanan dan ke kiri. Tiba waktunya untuk Aisyah meminta kepada Sang Pencipta. Dia pun berdo’a di dalam hati. “Yaa Allah, Yaa Tuhanku... Berilah kepanjangan umur, serta kesehatan jasmani dan rohani untuk Bunda hamba. Jauhkanlah dia dari segala fitnah dunia maupun fitnah akhirat, yaa Allah. Senantiasa teguhkanlah hatinya, agar ia selalu mengingat-Mu, yaa Rabb... Aamiin yaa rabbal 'alamin...” Selepas berdo'a kepada Sang Pemilik Alam Semesta, Aisyah pun berbalik menatap bundanya yang berada di belakang. Niat utama Aisyah yaitu, untuk menyalami tangan bundanya. Tapi, ketika ia menghadap Bundanya, alis Aisyah mengkerut seperti orang bingung, tatkala ia mendapati Bundanya yang masih dalam posisi sujud. Sepuluh menit berlalu, tapi Bundanya itu belum bangkit dari sujudnya. Dengan hati yang sedikit ragu, Aisyah mulai mengguncangkan pelan pundak Bundanya yang dalam posisi sujud. “Bun... Bunda!” tidak ada jawaban. “Bunda! Bunda, ini Aisyah udah selesai loh, Sholatnya!” masih tetap tidak ada jawaban. Aisyah pun mulai panik. “Bun! Bunda! Bangun, bun!” Tubuh bunda Aisyah yang semula sujud, tergeletak jatuh ke samping ketika Aisyah mulai menambah guncangannya. “Astaghfirullah, Bunda!!! Bunda kenapa, Bun?! Bunda, bangun, Bunda!!!”  Rasa panik dalam diri Aisyah memuncak. Bundanya tak sadarkan diri, dan air mata mulai membanjiri pipinya. Jari telunjuk Aisyah mulai mengecek pernapasan bundanya. “Nggak! Gak mungkin!!!” kepala Aisyah menggeleng berkali-kali. Matanya mulai di penuhi air.  “INI GAK MUNGKIN!!!” kembali Aisyah coba mengecek denyut nadi Bundanya. Berharap kalau dugaannya itu salah.  Tapi... Allah berkehendak lain.  Bundanya... Malaikat tanpa sayapnya... Telah kembali ke Sisi Sang Pencipta... “Innalillahi... Wainna'ilaihi... Roji'un...” Aisyah menangis hebat sembari memeluk tubuh bundanya yang tak bernyawa.  “BUNDAAAAA!!!” Ternyata memang betul ucapan almarhumah Bunda Aisyah, kalau akan ada ramai orang yang datang ke Rumah. Iya... Sangat ramai sekali. Tetapi bukan dengan kebahagian serta senyuman yang menghiasi wajah mereka, tetapi kesedihan dan tangisan. Suasana duka sangat terasa di kediaman Aisyah. Telah banyak orang yang datang di sana. Para sahabat Aisyah pun sangat terguncang hebat. Kabar meninggalnya Bunda Aisyah sungguh mendadak bagi mereka. Anak-anak panti pun tak hentinya menangis sedari tadi, melihat tubuh lemas Bunda Aisyah yang dibacakan surah Yaasiin oleh banyak orang. Tok! Tok! Tok! “Syah! Aisyah!” Keempat Sahabatnya sibuk menggedor pintu kamar Aisyah. Mereka sungguh cemas akan keadaan Aisyah. Dari tadi ia belum keluar kamar. Padahal jasad bundanya akan di kebumikan sebentar lagi. “Gimana?” “Belum ada jawaban.” Lala membalas pertanyaan Aisy dengan raut wajah murung. Sama sekali belum ada sahutan. “Mungkin, dia lagi Sholat Dhuha,” tambah Sandryna, melirik sekilas jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. “Ini juga masih jam setengah sembilan, kok!” “Udah... Biarin aja dulu. Aisyah butuh tempat sendiri saat ini.”    Intruksi dari Nada tadi, mengakhiri aksi Lala yang mengetuk pintu kamar Aisyah. Mereka akhirnya memutuskan beranjak pergi saja meninggalkan kamar Sahabatnya itu. Perkataan Nada ada benarnya juga. Aisyah pasti membutuhkan tempat sendiri saat ini. Ternyata memang benar dugaan Sandryna bahwa sahabatnya itu sedang melaksanakan Sholat Dhuha dua rakaat. Belum lima menit para sahabatnya beranjak dari pintu kamarnya, Aisyah telah selesai melaksanakan Sholat sunnah Dhuha. Di sana... Aisyah tampak menadahkan tangannya. Menatap nanar ke atas langit-langit kamar. Mulut Aisyah rasanya kelu untuk berucap. Ia tak sanggup mengutarakan do'a kepada Sang Pencipta. Dadanya sesak. Seakan oksigen enggan untuk dihirup. “Ya Allah... Hamba mohon... Apa yang terjadi saat ini hanyalah mimpi semata...” ujar Aisyah lirih, tak sanggup untuk melanjutkan kata-kata lagi. “Hamba mohon dengan sangat, jika ini mimpi... Tolong segerakan hamba untuk bangun... Tolong... Kali ini saja, kabulkanlah do'a hamba...” Tapi, nyatanya... Apa yang Aisyah harapkan, hanyalah angan-angan saja. Ini bukanlah mimpi. Semua tampak begitu jelas. Kaki Aisyah tak mampu melangkah, ketika ia mulai melihat tubuh Bundanya yang terbaring menghadap kiblat dari kejauhan. Semampu mungkin Lala dan Aisy untuk menopang tubuh Aisyah, agar bisa berjalan dengan baik. “Ini pasti cuma mimpi...” ucap Aisyah lirih, mulai segugukan. “Lala, Aisy, ngomong ke gue kalo ini cuma mimpi!!! Nggak mungkin... Ini pasti cuma mimpi. Aku cuma mimpi...” Aisyah menggeleng. Kenyataan pahit ini, sulit Aisyah terima.  Lala dan Aisy juga turut menangis hebat, saat melihat sahabatnya berlari kencang menuju tubuh Bundanya yang tergeletak tak bernyawa. Aisyah menangis hebat. Memeluk erat tubuh wanita yang terbaring di hadapannya.  Wanita yang telah mengandung dirinya selama sembilan bulan. Membesarkannya dengan ikhlas, tulus, tanpa meminta balasan. Wanita yang selalu mengajarkan kepadanya, arti dari sebuah kesabaran. Dan kini... Wanita itu telah pergi. Pergi meninggalkan ia selamanya. Pergi untuk kembali ke Sang Pencipta. Tugas wanita itu di bumi Allah ini juga sudah selesai. Dari sini Aisyah juga sadar bahwa, apa yang diucapkan bundanya kemarin, jika akan ada orang ramai yang bertamu ke rumahnya adalah ini. Lalu, tentang mimpi ia di datangi Ayahnya yang bilang akan menjemput Bundanya adalah ini juga.  Semua sudah jelas sekarang. Itu semua merupakan pertanda dari Allah maupun almarhumah, bahwa ia akan segera kembali ke sisi-Nya. Akan tetapi, Aisyah saja yang tak mengerti maksud tersebut. “Bunda... Jangan tinggalin Aisyah... Aisyah mohon... BUNDA BANGUN!!!” °°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD