Sepulang dari rapat madrasah, Alif langsung pergi ke Rumah Reza—sahabat lamanya. Sesuai janjinya kemarin kepada Khadijah, kedatangannya untuk menepati janji itu.
“Kenapa ke sini? Kok, tiba-tiba banget?” Reza menaruh dua cangkir teh di atas meja.
“Gue ada urusan sama, lo. Dan urusan gue ini, berhubungan dengan pekerjaan lo, Za.”
“Urusan apa?” Reza memicingkan matanya penasaran.
“Lo kenal Aisyah, kan?” belum ada jawaban dari Reza. Pria itu tampak berpikir sebentar dari diamnya. “Ya Allah, Za... Ya kali lo gak ingat! Mantan calon bini gue!?”
“Ah, ya, ya... Gue baru ingat!” Reza tertawa geli melihat wajah Alif yang kesal. Sebenarnya ia pura-pura tak ingat tadi, hanya ingin membuat Alif kesal saja. Rupanya rencananya itu berhasil.
“Harus gitu, gue ngomong ngegas? Makek flashback masa lalu lagi. Lo pasti sengaja, nih!” Alif mendengus. Reza yang melihat itu tambah tertawa puas.
“Afwan, deh... Gak maksud, gitu. Salah sendiri lo ngegas!”
Alif tidak mempermasalahkan obrolan ini. Ia segera mengganti topik obrolan, sebagaimana tujuan ia kenapa datang. “Gue dateng ke sini mau minta tolong.”
“Minta tolong apa?” tanya Reza menaikkan alisnya sebelah.
“Itu... Salah satu karyawati Aisyah lagi buat skripsi akhir. Nah..., tema skripsi-nya itu tentang pernikahan. Itu kan, bidang lo banget, Za. Gue pikir, pasti lo bisa bantuin dia. Makanya gue dateng ke sini.”
“Oh, jadi lo minta tolong gue nih, ceritanya?” Alif mengangguki lontaran pertanyaan Reza. “Bisa-bisa aja, sih, gue. Sekarang dia sendiri, kapan bisanya?”
“Nanti gue tanyai ke dia, kapan bisanya.”
Reza mengangguk. Teh di atas meja ia minum, lantas Reza bertanya lagi. “Btw, siapa namanya? Cewek atau Cowok?”
“Cewek... Namanya, Khadijah.”
Sontak Reza terbatuk, ketika Alif menyebutkan nama Khadijah. Melihat Reza yang terbatuk tak henti-henti, buru-buru Alif masuk ke dalam rumah. Keluar dari dalam rumah Reza, segelas air Alif berikan.
“Hati-hati dong, kalo minum. Baca bismillah gak sih, tadi pas minum?”
“Baca—uhuk!” jawab Reza dengan terbata-bata di sela-sela batuknya.
“Kok, bisa batuk? Keselek apaan sih, lo? Batuknya melebihi orang sakaratul maut.” Alif kembali duduk, setelah merasa batuk Reza reda.
“Keselek cintanya Ukhty Lala.” Reza sempat tertawa, namun terhenti akibat batuknya yang masih terasa sedikit.
“Hah, kan, batuk lagi, lo! Ngomong sih, halu-nya ketinggian!”
“Lo juga sering halu, botcjah!” balasan Reza membuat Alif tertawa.
Obrolan mereka yang damai, tentram, tanpa adanya gangguan, harus terusik oleh kedatangan seseorang. Apa lagi seseorang itu datang-datang langsung berteriak, menambah rasa kesal dalam diri mereka berdua.
“REZA! REZA!”
“Astaghfirullah!!!” Alif dan Reza memegang arah d**a mereka masing-masing lantaran terkejut dengan kehadiran Daniel. Napas mereka tak beraturan. Mereka berdua coba menormalkan detak jantung yang seperti ingin lepas dari tempatnya.
Seperkian detik berikutnya, mata Reza langsung memicing tajam ke arah Daniel. “Lo kenapa sih, hah?! Datang langsung ngagetin! Gak pakai salam lagi!”
Amukan Reza yang tak henti-hentinya di balas kekehan tak berdosa oleh Daniel. Sembari menggarut tengkuknya yang tak gatal, Daniel berucap, “Sorry, gue lupa, Za! Oke, gue ulang lagi salamnya. Assalamu'alaikum, Akhtareza Firdaus Al-Mahdhoor.”
Mata Reza berputar malas ketika Daniel mengucapkan salam dengan menggunakan kepanjangan namanya juga. Apa lagi pria itu menyebutkan salam sambil menunjukkan senyum mengejek.
“Wa'alaikumsallam! Nah! Lo mau ngapain ke rumah gue pagi-pagi begini?” Reza tak bertele-tele, langsung bertanya pada intinya. Intonasi suaranya terdengar ketus juga.
“Santai, Mas bro! Gue ini mau Silahturahmi ke rumah, elo. Bukannya di suruh masuk kek, atau dibuatin kopi, teh, apa jus jeruk, tapi malah dimarahin!” mata Reza membulat saat Daniel yang entah kenapa berceloteh, padahal dia yang sedang kesal.
“Heh! Elo minta dibuatin kopi, teh, jus jeruk, di-kate rumah gue ini warteg apa?!” kali ini teriakan Reza lebih kencang. Matanya membulat sempurna.
“Ya Allah, Za... Jangan ngegas dong, sans ae.” Celetuk Alif merasa jengah. Kupingnya berdengung hebat mendengar teriakan Reza, maka dari itu Alif bertindak. Tadi Daniel yang berteriak, sekarang malah Reza.
“Eh, elo siapa?” tanya Daniel, menyadari sosok orang asing yang berada satu tempat dengannya. Jari telunjuk Daniel kemudian mengarah ke arah Reza. “Lo kenalan orang aneh ini, ya?”
Alif mengangguk mengiyakan. Sebentar Alif menatap Reza yang memasang wajah kesal karena Daniel mengatainya sebagai orang aneh.
“Salam kenal. Nama saya, Alif. Sahabat Reza pas kuliah. Kami satu fakultas.” Alif menjabat tangan Daniel. Daniel mengangguk, memberikan senyuman. Senyuman. Kedua tangan Lelaki itu saling berjabat, pertanda awal mula persahabatan.
“Jangan formal gitu, lah. Lo gue aja, biar makin deket kita.” Daniel mengambil duduk di sebelah Alif, melupakan Reza yang masih berdiri memandangnya cengo.
“Woy, lu pada berdua malah ngerumpi lagi!” Reza berteriak dengan kedua tangan berkacak pinggang. Secara bergantian ia menatap Alif dan Daniel. Di antara dua orang itu, tatapan tajam Reza lebih mengarah ke Daniel. “Eh, urusan lo belum selesai, ya? Ngapain lo dateng ke rumah gue segala?”
“Gue mau minta tolong, Za...” Daniel mendadak memasang wajah penuh belas kasihan. Wajah belas kasihan yang tiba-tiba itu, membuat Reza bingung.
“Minta tolong apa?” tanya Reza, berjeda sebentar dia berucap lagi. “Awas lo minta tolong yang aneh-aneh. Gak mau gue!”
“Yaelah... Selalu seudzhon lo, jadi sahabat!” Daniel sedikit meninggikan suaranya. Ia menatap Alif. “Nih orang seudzhon mulu dah, bawaannya! Heran, gue.”
“Maklumin aja, mungkin lagi PMS dia.” balas Alif santai.
“Sabodo aing! Mau lo apa?” Reza menunggu jawaban dari maksud kedatangan Daniel. Dia kembali duduk di posisi semula.
“Tolongin gue, Za... Bantuin gue buat hijrah... Temen gue yang bener cuma lo, doang. Di tambah Alif sih, sekarang yang bener kayak, lo.” Daniel melirik Alif yang tampak diam mendengarkan. Lain halnya Reza yang memasang wajah syock.
Karena tak mendapatkan jawaban dari Reza, Daniel pun berteriak kencang. Cara itu ia lakukan agar Reza sadar. “Woy, jangkung meletup pletak dor, gue ngomongin ini! Jangan di kacangin!”
“Gak usah teriak, bisa gak, sih?” Reza menggosok-gosok kupingnya yang berhasil dibuat berdengung oleh teriakan Daniel hari ini. “Iya-iya... Gue bakalan bantuin lo buat hijrah!”
“Asiiikkk... Makin cayang deh, acuh!” suara manja sekaligus teriakan Daniel itu, Reza tatap jijik. Alif pun sama, tapi tidak terlalu ia tunjukkan.
“Eh, sebelum lo mau mulai hijrah, lo sendiri tau gak, apa arti hijrah itu?” Alif menatap Daniel yang terdiam. Cukup lama Pria itu terdiam mencari jawaban.
“Nggak!” jawab Daniel tanpa dosa setelah lama semua orang menunggu dia yang sedari tadi diam. Helaan napas kesal dari Reza dan Alif sebab ulahnya barusan, ditanggapi tawa garing olehnya. “Emang hijrah itu apaan, sih?”
“Hijrah adalah tentang proses bagaimana seseorang merangkak, kemudian berjalan dan sampai bisa berlari mengejar ridho illahi.” Alif mengambil jeda. “Hijrah itu mudah, Niel. Yang sulit istiqomah. Istiqomah untuk menetap pada pilihan yang telah lo pilih di tengah-tengah peperangan fitnah Dunia.”
“Jadi... Gimana gue bisa mulai hijrah.”
“Dengan Sholat.” Jawab Alif dan Reza serempak penuh kemantapan.
“Kenapa sih, harus Sholat?! Kenapa, woi!” Daniel berteriak. Reza dan Alif memandang Daniel yang mengacak-ngacak rambut frustasi. Geram dengan Daniel yang tak berhenti dari aksinya, suara Reza menginterupsi.
“Karena emang gitu aturannya! Sholat itu kewajiban yang harus dipatuhi oleh setiap umat Islam. Kalau kita mau hijrah, ya dahulukan yang kewajiban dulu baru sunnah."
Daniel menghembuskan napas panjang. Kepalanya mendongak ke atas dengan posisi badan yang menyender ke kursi. Daniel menoleh sembilan puluh derajat ke arah Reza. “Gue males banget Sholat, Bro.”
Pengakuan terus terang Daniel membuat dua orang yang mendengar itu membulatkan mata. Alif terus memandangi wajah Daniel yang terlihat lesu. Ia merasa kasihan, juga miris.
“Kenapa lo bisa males Sholat?” suara Alif terdengar dingin.
“Kayak ngerasa berat aja, gitu.” Daniel menjawab ragu-ragu. Mungkin merasa tidak enak hati dengan Alif. Dari suara Alif yang terdengar dingin, Daniel berpikiran jika Pria itu tengah marah padanya sekarang.
Helaan napas terdengar dari Alif. “Bro, Sholat itu sesungguhnya gak berat. Cuma niat tulus dari hati lo untuk Sholat itu aja yang gak ada. Coba deh, belajar hijrah karena Allah. Percaya sama gue, pasti Sholat yang dilakukan lima kali dalam sehari itu gak akan berat sama sekali.”
“Sebenarnya gue bingung sama, lo” sahut Reza tiba-tiba. “Apa yang membuat lo mendadak pengen hijrah?”
Pertanyaan dari Reza tak dijawab oleh Daniel. CEO itu terdiam seolah bisu. Entah sengaja atau dia memang tak tahu harus berkata apa. Daniel menatap Reza dengan tatapan yang sulit diartikan. “Ya, karena cewek itu...” Daniel bersuara pelan.
“Jadi... Cuma karena Hamba Allah aja, lo tiba-tiba mau hijrah mendadak?” langsung saja Reza menarik kesimpulan. Reza tidak berpikir itu benar, namun nyatanya Daniel mengangguk membenarkan.
"Bro, gue kasih tau... Misalnya mau hijrah, bukan karena si dia, tetapi karena Dia. Hijrah karena Allah! Bukan karena jodoh! Biar proses hijrah jadi berkah!” Reza menjeda ucapannya. Tampak dia berpikir dalam diam. “Lo suka Aisy karena dia cantik, kan?”
Ucapan asal dari Reza tadi, spontan membuat kedua bola mata Daniel membulat. “Demi upil Kingkong Madagaskar! Lo ngomong gak pakai rahang, ya! Gue suka Aisy karena akhlak-Nya, lah!”
Celotehan Daniel tersebut dibalas anggukan serta gumaman dari Reza. Alif yang diam, membuka suara. Pria itu memanggil Daniel yang dibalasnya deheman.
"Carilah wanita yang menuntunmu hingga ke bukit. Bukan wanita yang menunggumu dari bukit." alis Daniel bertautan satu sama lain menatap Alif.
“Maksudnya?”
“Maksud..., carilah wanita yang mau hidup susah senang bersama. Bukannya pas lo udah kaya aja,”
Daniel mengangguk berkali-kali. Mulutnya membentuk bulatan ber-O ria. Detik berikutnya ia bertanya lagi. “Terus, gue harus gimana?”
“Jadinya. Lo. Harus. Sholat. Dong. Daniel...” Reza memotong cepat, Alif yang ingin menjawab. Alif yang ucapannya di potong, diam saja. Jika dia yang menjawab, pasti lebih sedikit sopan. Tidak seperti Reza yang memakai emosi menekan tiap ucapan.
“Kapan gue harus mu—“
“Banyak tanya bener lo kayak bus tayo!” untuk yang kedua kalinya, Reza menyela. Alif menahan tawa, melihat interaksi antara dua sahabat ini.
Mulut Daniel tertutup rapat. Seram juga jika dipikir-pikir kalau Reza marah. Dia memilih diam. Pertanyaan tidak dia lontarkan, sampai kumandang Adzan terdengar dari Masjid. Kebetulan Masjid itu terletak tak jauh dari Rumah Reza. Karena itulah suaranya sangat jelas.
AllahuAkbar! AllahuAkbar!
“Eh, kalian mau ke mana?” Daniel memandang bingung Reza dan Alif yang beranjak berdiri.
“Pergi ke Masjid, mau Sholat. Lo gak mau Sholat?” Reza bertanya balik.
“Santai aja Bro, nantikan juga bisa. Ini masih Adzan. Waktu Dzuhur itu juga lama,” Daniel menyenderkan tubuhnya. Bergantian dia menatap Alif dan Reza dengan senyuman tenang.
"Bro, Allah itu manggil kita tiga kali dalam kehidupan. Panggilan Sholat, panggilan Haji atau Umroh, dan panggil kematian. Kita bisa meninggalkan panggilan Sholat dan Haji, tapi kita tidak bisa meninggalkan panggilan kematian. Kematian itu pasti. Dimana saja kita berada, kematian akan mendapatkan kita, walaupun kita di dalam benteng yang kokoh sekalipun.”
Seketika senyuman santai Daniel tadi menghilang. Daniel terdiam kaku mendengar penuturan Alif. Mulutnya terasa kelu.
“Gue ngerasa lo itu terkena Istidraj, Niel.” sahut Reza berhasil menimbulkan kerutan alis di dahi Daniel. “Maaf gue nanya tentang hal ini... Lo pernah gak sedekah?” Daniel menggeleng pelan.
“Sekalipun?” Reza terkejut. Apa lagi melihat Daniel mengangguk, mengiyakan lagi.
Reza menghembuskan napas panjang. Ia merasa kasihan melihat sahabat karibnya ini. Sebagai sahabat, Reza ingin Daniel berubah menjadi lebih baik lagi.
“Sholat bolong, puasa bohong, sedekah gak pernah, tapi rezeki cukup, kesehatan prima, banyak temen, urusan lancar, hidup bahagia. Pernah gak sekali aja berpikir kenapa Allah masih ngasih kenikmatan itu tanpa henti? Karena Allah sengaja melakukan pembiaran tersebut, bertujuan untuk memberikan adzab yang pedih bagi orang itu di hari pembalasan.”
“Gue emang gak seharusnya ikut campur masalah kehidupan lo, tapi sebagai sahabat, gue cuma pengen lo berubah jadi manusia yang lebih baik lagi, Soalnya lo itu adalah seorang imam bagi istri lo kelak nanti." setelah berkata itu Reza terdiam sebentar menunggu jawaban dari Daniel, tapi sahabatnya itu sama sekali tidak membalas ucapannya.
“Kalo lo mau Sholat, lo nyusul aja ke Masjid sebelah, tapi kalo lo mau pulang, yah gak papa. Gue sama Reza pergi Sholat dulu. Assalamu'alaikum.” Alif dan Reza beranjak pergi meninggalkan Daniel yang masih saja duduk diam di tempat semula.
“Apa bener gue terkena Istidraj? Jadi, apa yang harus gue perbuat?” gumam Daniel sangat pelan seperti berbisik.
°°°