Sore harinya. Waktu terus berputar. Seharian Nada memikirkan apa yang Daniel dan Aisy ucapkan kemarin. Hatinya berteriak ingin. Sedangkan Otaknya secepat itu juga menghempaskan keinginan itu. Selesai melaksanakan sholat Ashar, Nada tidak melepaskan mukenanya. Dia tetap pada posisi semula. Duduk dan diam dengan tatapan yang kosong menuju kaligrafi Allah dan Muhammad di hadapannya. Matanya berkaca-kaca menatap kaligrafi dua nama indah itu. Raganya memang di sini, namun jiwanya berkelana entah ke mana. Satu persatu kejadian masa lalunya bersama sang Papa terus melintas dalam pikiran. Perkataan Daniel dan semua orang kemarin juga ikut andil memasuki pikirannya menjadi satu. “Aku harus apa sekarang, ya Allah... Aku bingung... Aku tak tahu harus berbuat apa?!” Nada menangis sejadi-jadinya. H

