Part 4

2022 Words
Aisyah yang baru saja datang mengunjungi panti, langkahnya di hentikan oleh Khadijah yang datang menyampaikan sesuatu.  “Bu Aisyah, Alhamdulillah Guru ngaji untuk anak panti sudah ada. Beliau ada di belakang, lagi main sama anak panti, Bu. Apa Ibu mau bertemu?” “Oh, ya? Oke, saya mau ketemu deh, sama Beliau.” Sembari berjalan, Aisy bertanya banyak hal tentang Guru Mengaji itu, yang Khadijah ketahui. “Lelaki atau Perempuan, Jah?” “Lelaki, Bu. Dilihat dari wajahnya, masih muda gitu. Seumuran Ibu, lah.” langkah mereka berhenti, ketika sudah sampai di pekarangan belakang Panti. “Itu, Bu, orangnya.” Pandangan Aisy menuju ke arah di mana jari telunjuk Khadijah mengarah. Waktu seakan berhenti berputar, saat Aisyah telah mengetahui siapa Guru Mengaji anak panti nantinya.  “Alif...” Khadijah menatap Aisyah bingung, sebab wanita itu sudah mengetahui nama Guru Mengaji tersebut, tanpa di beritahu.  “Ibu kok udah tau, Beliau namanya Alif? Ibu kenal?” karena pandangan Aisyah terfokus menatap Alif saja, dia jadi tak mendengar lontaran pertanyaan dari Khadijah.  “Assalamu'alaikum, Aisyah.”  Tanpa di sadari, Alif sudah berada di hadapannya. Beberapa detik setelahnya, Aisyah baulah tersadar dari lamunan. “Wa'alaikumsallam, Lif.” Diri Khadijah merasa ini adalah percakapan privasi, maka dari itu ia pamit undur diri. “Eum, Pak Alif, Bu Aisyah, saya permisi gabung sama staff panti lainnya. Assalamu'alaikum.” salam Khadijah, di balas Alif dan Aisyah bersama. Setelah itu, keheningan menyelimuti mereka berdua.  “Aku sengaja jadi Guru ngaji di sini. Seperti kata aku kemarin, aku kembali untuk memenuhi amanah Nabila.” “Kenapa kamu ngelakuin hal gila ini, Lif? Aku gak mau berhubungan dengan masa lalu, jadi tolong jangan ungkit lagi.” “Aisyah, kamu selalu bilang jangan ungkit masa lalu lagi, tapi aku tau kamu masih menyelipkan nama aku dalam do'a, kan? Aku tau itu dari tatapan mata kamu, Syah, tanpa kamu beri tau.” Jantung Aisyah terasa berhenti berdetak. Perlahan Aisyah mulai memberanikan diri untuk menatap Alif. “Memang benar, namamu masih setia menggema dalam jantung do'a. Tapi mungkin tak kan selamanya. Barangkali setelah takdir memintaku untuk merela, semesta akan mempertemukanku dengan cinta yang berbeda.” Suasana mendadak hening. Tak lama, karena Alif coba memberanikan bertanya satu hal. “Apa cinta kamu emang udah hilang untuk aku, Syah?” Deg!  Aisyah menghela napas panjang. “Jika itu pertanyaan kamu, apa aku masih cinta... Jujur perasaan tabu dari Al-Wadud itu masih ada. Tapi... Apakah dengan cara kembali akan berakhir bahagia?” “Syah, aku menghilang setelah kepergian Nabila untuk lebih memantaskan diri pada sebuah pertemuan, supaya aku bisa menjemput kamu dengan keyakinan. Dan sekarang aku benar-benar yakin, kamulah jawaban atas segala do'a aku selama ini.” Senyuman getir seketika muncul di bibir Aisyah. Matanya sedari tadi telah di bendung air mata, namun ia tak berani memandang Alif. Ia memandang ke lain arah, karena dari tatapan merupakan Zina yang terkuat.  “Lif... Allah pernah mengajarkanku arti kehilangan. Aku tau itu salah satu cara Allah untuk memberikanku yang lebih terbaik kedepannya. Aku sangat berterima kasih akan cara indah Allah itu dengan tidak menyesali, mengenang, menangisi, bahkan menantang masa lalu. Karena yang ku cari sekarang... Adalah masa depan, di mana tidak adanya lagi hati yang terpatahkan.” Beberapa detik Aisyah terdiam. Sulit rasanya bagi Aisyah untuk sekedar melanjutkan kata-kata lagi.  “Terima kasih karena telah menjadi masa laluku. Terima kasih karena telah mengajariku arti sebuah kehilangan, rasa sakit dan kekecewaan. Mungkin dengan cara itu, aku tak akan berbuat hal sama untuk hati hamba Allah yang lainnya.” kaki Aisyah mulai melangkah pelan. “Satu lagi, terima kasih karena udah bersedia menjadi guru ngaji anak panti. Mulai besok, kamu udah bisa bekerja di sini. Untuk informasi lanjutannya, besok aku kasih tau. Permisi, Assalamu'alaikum.” Aisyah berlalu pergi menuju kamarnya. Sedangkan Alif, dia memang sudah menjawab salam Aisyah, tetapi otaknya masih sulit mencerna perkataan Aisyah tadi. Tubuhnya masih setia berdiri di sana, seolah terpaku di kulit Bumi.  “Kamu tau, Syah... Menyerah adalah salah satu hal yang paling Allah benci dari hamba-Nya. Dan aku, gak mau menjadi hamba yang Allah benci.” °°° Lala berbaring sembari memainkan ponselnya sebelum tidur. Merasa sudah terlalu lama memainkan ponsel, dan waktu semakin malam, Lala memutuskan untuk segera tidur. Takut nantinya ia telah bangun di sepertiga malam. Di taruhnya benda canggih persegi panjang itu. Namun tak lama Lala coba memejamkan mata, ponsel itu berdering menandakan sebuah pesan masuk.  Lala meraih ponselnya yang berada di atas nakas. Alisnya bertautan bingung, setelah mengetahui siapa gerangan pengirim pesan. Sebuah nomor tak di kenal. Sebuah salam yang mengawali pesan dari nomor tak di kenal itu.  “Siapa, ya? Kok dia tau nama aku?” Tring!  Pesan kembali masuk, dan kali ini raut wajah Lala berubah drastis. Ia tampak sangat terkejut sekali, dengan kedua mata yang membulat sempurna.  “Reza? Dari... Dari mana dia tau nomor aku?” Tring!  Nomor tidak dikenali.  Aku tau kontak kamu dari Daniel. Maaf sebelumnya. Seakan mengetahui apa yang Lala pertanyakan, Reza menjawabnya di pesan. “Daniel... Emang bener-bener ngeselin tuh, orang!” Lala tidak tahu harus menjawab pesan Reza itu bagaimana. Dia membiarkannya saja, mungkin Reza akan kembali mengirim pesan lagi. Sesuai dugaan, dering ponsel kembali berbunyi. Tetapi kali ini sangat nyaring, karena ternyata Reza menelepon. Hal itu semakin membuat Lala panik tak karuan.  “Ya Allah, Reza... Kenapa kamu malah nelfon aku, kenapa? Tolong matikan, aku mohon! Jangan pernah hubungin aku, Za!” saking paniknya Lala, tanpa di sadari air matanya menetes. Kedua tangannya bergetar hebat.  Dering ponsel mati tidak lama dari itu. Lala segera melemparkan ponselnya dan menjauh. Ia menghela napas panjang.  “Oke... Dia gak nelfon lagi, kan? Iya, kan?” Lala bertanya entah pada siapa. Beberapa detik Lala terdiam untuk memastikan apakah Reza akan menelepon kembali. Setelah lama di tunggu, tidak ada dering telepon. Lala merasa legah.  “Alhamdulillah...” Lala berniat mengambil ponselnya, namun niatnya ia urungkan karena Reza ternyata menelepon.  “Apa yang harus aku lakukan, ya Allah? Aku gak mau mendengar suaranya lagi, karena suaranya itu yang membuat hatiku jatuh sejatuh jatuhnya dulu. Aku gak mau jatuh ke lubang yang sama lagi...” Dering telepon mati, tapi Lala tahu jika Reza akan meneleponnya lagi. Dan benar saja, Reza kembali menelepon dan seperti tadi, Lala tidak berminat untuk menjawab panggilan.  Ketika panggilan yang ketiga, hati Lala merasa tergerak sendiri untuk menjawab panggilan. Dengan keteguhan hati, Lala mulai menggeser panel berwarna hijau.  “Assalamu'alaikum... Maaf atas segalanya—“ Belum sempat Reza melanjutkan ucapannya, Lala segera mematikan panggilan. Air matanya langsung tumpah, mendengar suara Pria itu di telepon.  “Gimana aku mau maafin kamu, sementara setiap aku dengar suara kamu, hati aku merasa tersakiti, Za... Apa kamu gak lelah, Za? Gak lelah membuat rinduku tanpa arah? Bukan kamu yang salah, Za, tapi aku. Dengan bodohnya aku membiarkan kamu mengetuk pintu hati dan singgah sekian lama lalu berlalu pergi begitu saja... Ujung-ujungnya, aku sendiri yang menuai luka dan air mata. Aku... Aku memang Perempuan bodoh...” °°° Sandryna sedang berada di luar halaman rumah. Mereka tengah membantu persiapan kedua mertuanya untuk berangkat menuju Maroko dan menetap di sana. Bisa di katakan, pasangan paruh baya itu ingin menikmati masa tua bersama. Sebenarnya Faisal sangat keberatan sekali akan keputusan kedua orang tuanya, karena begitu ia akan tinggal berdua saja dengan Sandryna.  “Sandryna sayang... Jaga diri kamu baik-baik!” wanita paruh baya itu memeluk Menantunya erat, sebagai salam perpisahan.  “Iya, Mi! Mami juga harus jaga diri baik-baik! Sandryna pasti bakalan rindu sama, Mami!"  Pria paruh baya itu berjalan ke arah anaknya, setelah mengangkut seluruh barang ke Mobil. “Faisal, ambil ini.” Faisal menatap bingung dua tiket penerbangan yang Papinya berikan. “Tiket ini untuk apa, Pi?” “Itu tiket ke Tokyo. Papi udah pesen dari jauh-jauh hari untuk kamu sama Sandryna honeymoon. Pasangan baru emang harus begitu. Masa cuma diem-diam aja di rumah, gak liburan bareng?" Faisal sangat terkejut dengan apa yang Papinya ucapkan. Rupanya obrolan dua Lelaki ini, tak luput dari pendengaran Maminya Faisal.  “Waahh... Tiket honeymoon yah, Pi? Bagus itu! Honeymoon... Cara ampuh, supaya bisa dapat Cucu!” Lantas suami istri itu saling tertawa bahagia, meninggalkan Sandryna dan Faisal yang sedari tadi di selimuti rasa canggung.  "Oke, waktu kita gak banyak, Mi! Jadwal penerbangan sebentar lagi!” mata pria paruh baya itu menatap semua barang-barangnya yang telah tersusun rapih. “Kayaknya barang-barang kita udah selesai, deh, Mi! Kalo gitu...Kita langsung berangkat aja.” Istrinya itu mengangguk, tapi sebelum memasuki mobil, ia menoleh ke arah Faisal. Tatapan wanita paruh baya itu menajam “Faisal Muhammad Effendi! Jaga Menantu kesayangan Mami baik-baik! Kalau sampe lecet sedikit...” Ia sengaja menjeda ucapannya. Jari telunjuknya ia arahkah ke leher, lantas menggesek-gesek layaknya sebuah pisau. “Awas aja kamu, Mami sembelih di tempat!” Faisal menganggukan kepala berkali-kali dengan ekspresi ngeri.  “Saat Honeymoon nanti, pokonya kalian harus sukses buat Cucu untuk Mami!” ucapan itu menjadi pesan terakhir Maminya setelah Mobil benar-benar melaju pergi, begitu pun sosok Faisal. Sandryna baru menyadarinya cukup lama. “Astaghfirullah, Mas Faisal udah pergi aja tanpa nungguin aku.”  Sandryna melangkah menuju ruang keluarga. Di sana, ternyata sudah ada Faisal yang fokus menonton televisi. Sandryna memberanikan diri duduk di samping Faisal.  “Eum, Mas Faisal...” tidak ada jawaban dari Faisal. Meskipun begitu, Sandryna tetap mencoba berbicara. “Mas, tentang honeymoon itu apa—“ “Kita gak akan pergi!”  Tubuh Sandryna kaku di tempat. “Tapi, Mas... Mami sama Papi nyuruh kita—“ “Kamu ini tuli apa budeg, sih? Saya bilang gak pergi, ya gak pergi!!!” oktaf suara Faisal semakin meninggi. Pria itu bahkan sudah berdiri.  “Sebenarnya tujuan kamu menikah dengan saya itu apa?!”  Bibir Sandryna terangkat membentuk sebuah senyuman tulus. “Sederhana saja... Tujuan Sandryna menikah sama Faisal semata hanya untuk ibadah, dan demi meraih Syurga Allah bersama.” “Syurga? Ini Neraka!!! Pernikahan ini adalah bencana bagi saya!!! Karena, kamu... Karena pernikahan bodoh ini... Hubungan saya dan Liana kandas!!! Puas kamu, hah?! Puas!!!” napas Faisal naik turun menatap Sandryna tajam. Sementara Sandryna telah menangis hebat dengan posisi kepala yang menunduk. “Lebih baik kita pisah aja.” Deg!  Sontak Sandryna menatap Faisal tak percaya. “Apa, Mas? Pisah?” “Secepatnya saya akan urus surat-surat perceraian kita, dan...” “Mas Faisal!!!” Faisal di buat bungkam akibat bentakan Sandryna. “Kenapa kita harus pisah, hm?” “Kamu tanya kenapa?” Faisal tertawa hambar. “Karena nggak ada lagi yang mesti di pertahanin di pernikahan ini! Sudah jelas bukan, kalau saya gak cinta sama, kamu? Dengan pisahnya kita, mungkin hidup kamu dan saya jauh lebih bahagia. Setelah kita pisah nanti, kamu bisa kembali ke dokter Juna dan saya sendiri bisa kembali kepada Liana. Cukup adil, bukan?” Sungguh Sandryna dibuat terbelalak akan ucapan enteng dari Faisal. Tenggorokan Sandryna terasa tercekat. Air matanya terus menetes, namun Sandryna tetap berusaha membuka suara.  “Mas... Ini pernikahan. Bukan hubungan tanpa status yang disebut pacaran. Nggak semudah itu untuk memutuskan bercerai! Terlebih lagi, Mas... Pernikahan kita ini belum genap sebulan. Masih seumur jagung! Allah sangat membenci pasangan yang memutuskan masalah menggunakan jalur perceraian! Dan Sandryna gak mau dibenci sama Allah!” “Terserah, kamu!!! Saya gak perduli!!!” lantas setelahnya Faisal berbalik ingin pergi, tapi suara Sandryna yang menyahuti menghentikan langkahnya.  “Tapi, Sandryna cinta sama, Mas Faisal!” ucapan tersebut membuat Faisal menoleh ke belakang. Seulas senyuman miring tiba-tiba terbit di bibirnya.  “Secepat itu?” tidak ada jawaban dari Sandryna. Wanita itu masih senantiasa diam dan menahan tangisan. “Hebat sekali... Haruskah saya memberi kamu sebuah apresiasi?”  Masih tetap tidak ada jawaban dari Sandryna. “Rendah sekali harga diri kamu, sampai mengemis cinta pada saya.” Mata Sandryna membulat tak percaya. Hatinya teriris mendengar Faisal mengatai sesuatu hal buruk tentangnya. Kepala Sandryna terangkat untuk menatap Faisal, namun Pria itu sudah tidak ada lagi di tempat. Dia sudah pergi sedari tadi.    Kepala Sandryna tiba-tiba berdenyut hebat. Cairan merah pun juga luruh dari hidungnya. Merasakah hal itu, jarinya perlahan mengusap darah yang keluar dari hidung tanpa sebab. Semakin lama kepala Sandryna terasa sakit. Sandryna mencengkram kepalanya kuat.  “Hamba mohon, jangan sekarang, Ya Allah... Setidaknya sampai hamba bisa merasakan cintanya dulu, baru engkau boleh mengambilku kembali ke sisi-Mu...” °°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD