Para tamu undangan berbondong-bondong naik ke atas kursi pelaminan, untuk memberi selamat kepada pengantin baru. Sebisa mungkin Sandryna memasang senyuman palsu. Setidaknya untuk saat ini saja. Tidak seperti Faisal yang kentara sekali, jika ia membenci pernikahan ini.
“Selamat Sandryna, Dokter Faisal, semoga pernikahan kalian SAMAWA. Saya akan turut bahagia.”
Sandryna dan Faisal memandang Dokter Juna yang tengah memberi selamat pada mereka. Ekspresi suami istri itu berbeda, ketika menyambut kata selamat yang dokter Juna berikan.
“Aamiin, Dok. Semoga Dokter juga bisa nyusul Sandryna kedepannya.” Sandryna memberikan senyum terbaiknya.
“Aamiin, semoga saja saya bisa menemukan lagi Wanita Kahfi seperti kamu, San.” ucap dokter Juna terdengar sarkas, namun segera dokter itu mengalihkan pembicaraan karena merasa tak enak. “Mungkin saya harus sering mengunjungi Masjid atau pondok pesantren, supaya bisa ketemu Wanita Kahfi yang kedua.”
Dokter Juna beralih memberi selamat pada Faisal. Perubahan ekspresi terjadi, ketika dokter Juna menjabat tangan rekan sejawatnya ini. “Selamat, Dok! Anda Pria beruntung yang telah berhasil menghalalkan Wanita Kahfi saya. Cintai dia sepenuh hati, karena saya juga berupaya setengah mati untuk merelakannya. Dia wanita yang istimewa, asal Anda tau.”
Seketika ujung bibir Faisal tertarik, saat mendengar segala yang Dokter Juna ucapkan. “Oh, ya? Itu mungkin bagi Anda, tidak bagi saya. Dan satu hal lagi, Anda tidak pintar dalam hal berbohong, Dokter Juna. Ekspresi Anda berkata hal sebaliknya.”
Raut wajah dokter Juna menegang. Menyadari ekspresi Dokter Juna yang tak nyaman, Jenny yang dari tadi diam berusaha memecahkan suasana canggung. “Waahh, selamat, Mbak Sandryna! Makin sering deh, Mbak Sandryna dateng ke Rumah Sakit kalo begini!”
“Dan hati saya juga semakin sakit, Jen.” sambung dokter Juna dalam hatinya.
Tatapan Jenny beralih menatap Faisal. “Dokter Faisal, Mbak Sandryna ini jago banget masak. Masakannya itu, mirip-mirip Chef terkenal. Gak bakal nyesel deh, dokter nikah sama Mbak Sandryna!”
“Tau dari mana, kamu? Belum cicipi masakannya aja udah nyesel, apa lagi udah cicipi masakannya. Bisa keracunan saya, Jen.” batin Faisal kesal.
Kedatangan seseorang wanita yang tiba-tiba saja sudah bergabung, sungguh membuat Faisal terkejut. Bukan hanya Faisal, tapi dokter Juna dan Jenny juga sebab mereka mengetahui siapa orang ini. Hanya Sandryna yang tidak mengetahui perihal masalah ini.
“Liana?”
Faisal memandang Liana dengan berbagai macam ekspresi, sementara Liana tersenyum menatapnya.
“Selamat yah, Faisal! Semoga rumah tangga kamu bahagiaaaaa... Banget!" Liana menjabat tangan Faisal lama sekali, di sertai tatapan yang lekat.
Sandryna merasakan ada yang aneh dengan tatapan wanita itu. Dokter Juna dan Jenny malah melempar tatapan kasihan ke arah Sandryna.
“Makasih.” balas Faisal singkat, setelah larut dalam lamunan.
Kemudian Liana beralih menatap Sandryna yang melemparkan senyuman tipis. Senyuman canggung lebih tepatnya. “Jadi ini istri kamu, Faisal! Si pengganti aku itu?”
Sandryna dan ketiga orang lainnya yang mendengar, tersentak di tempat. Apa lagi Sandryna yang tampak sedikit mengetahui identitas dari wanita dihadapannya.
“Cantik banget! Kalian cocok, deh! Aku jadi iri! Semoga jadi pasutri yang harmonis terus romantis, yah! Suaminya harus dijaga terus, loh, Mbak! Hati-hati! Sekarang pelakor bertebaran di mana-mana. Apa lagi... Kalo Suaminya gak cinta sama, Mbak! Bisa bahaya, tuh!” sengaja Liana menekan dua kata nggak cinta sebagai sindiran.
“Kayaknya dugaan aku emang bener. Wanita ini, adalah salah satu orang yang hatinya patah selain Dokter Juna. Aku semakin merasa sebagai pemeran Antagonis di skenario ceritamu, Yaa Rabb...”
°°°
Masing-masing orang tua Sandryna dan Faisal setuju, jika anak mereka tetap di hotel sebagai tempat menginap malam pertama. Lantas, di sinilah Sandryna sekarang. Duduk melamun tak tahu harus berbuat apa, dan masih berpakaian pengantin lengkap.
Ceklek!
Pintu kamar bath up sekaligus kamar mandi yang menjadi satu terbuka, menampakkan sosok Faisal. Pria itu telah berpakaian rapih, seperti ingin bepergian.
“Mas... Mas Faisal mau ke mana?”
Kaki Faisal yang sebentar lagi ingin menuju pintu keluar, terhenti di tempat. Ia berbalik menatap Sandryna. “Bukan urusan, kamu, dan jangan mengatur hidup saya.”
“Tapi, Mas, Sandryna berhak karena Sandryna Istri Mas—“
“Istri?” potong Faisal cepat, membuat mulut Sandryna bungkam. “Jangan berpikir hanya karena saya menikah dengan kamu, kamu telah resmi menjadi Istri saya! Nggak akan pernah! Kamu itu hanya benalu merugikan yang tiba-tiba hadir dan mengacaukan segala kehidupan saya!”
Kepala Sandryna tertunduk dalam. Sebisa mungkin ia menahan air matanya yang terasa ingin di jatuhkan. “Tapi, ini malam pertama—“
Faisal tertawa sumbang, dan kedua kalinya menyela ucapan Sandryna. “Malam pertama kamu bilang? Ini yang namanya malam pertama? Setau saya, malam pertama hanya di lakukan oleh sepasang suami istri yang saling mencintai! Sementara kita? Jangankan mau mencintai kamu, menatap kamu pun saya gak sudi!”
Setetes air mata, merosot begitu saja di pipi Sandryna. Bahkan napas Sandryna yang telah bercampur dengan rasa sesak, menimbulkan suara tersedu-sedu. “Walaupun begitu... Sandryna... Sandryna mencintai Mas Faisal karena Allah.” ucap Sandryna lirih di sela-sela tangisannya.
Faisal tersenyum kecut. “Sementara saya membenci kamu karena Allah.” lalu Faisal pergi begitu saja dengan sekali bantingan pintu.
Pertahanan yang sedari tadi Sandrya buat untuk menahan air matanya, akhirnya hancur. Sandryna menangis kencang di dalam kamar yang tertata rapih penuh dengan bunga-bunga. Sandryna menyentuh tepat di dadanya yang terasa sesak.
“Yaa Rabb... Kuatkanlah hati hamba seperti baja, walaupun akan tetap rapuh seperti kaca. Tetaplah ukir namanya di hatiku, kalau pun mungkin namaku tak pernah terukir di hatinya. Hilangkanlah rasa sesak ini...” Sandryna menarik napas panjang. “Hasbunallah wani'mal wakil... Ni'mal maula... Wani’mannatsir...”
°°°
Nada di kejutkan dengan pesan yang Naya kirimkan tadi malam, bahwa CEO kejam itu menyuruhnya untuk datang ke kantor. Alhasil, pagi-pagi sekali seperti biasa ia berangkat bekerja, dirinya datang ke Perusahaan David kembali.
“Ada apa ya, Pak? Kok, saya di panggil lagi? Bukannya saya kemarin di pecat?”
“Kau tetap bekerja di sini.” bola mata Nada membulat sempurna, bertepatan dengan pernyataan David. “Aku membatalkan surat resign-mu.”
“What? Seriously?!”
“Jaga tata krama-mu, Riznada. Aku tak menyukai suaramu yang meninggi di hadapan Bos. Jangan sampai aku memecatmu untuk yang kedua kalinya.”
“Oh, Ma... Maaf, Pak! Jangan pecat saya lagi.” jawab Nada cepat serta gugup.
“Sepertinya kau takut sekali jika aku memecatmu. Memangnya kenapa, hm? Bukankah Sepupumu juga seorang CEO? Sudah pasti kau dengan mudah bekerja di sana.”
“Daniel sih, emang mau Pak nerima saya di sana. Maksa lagi, buat jadi Sekretarisnya. Tapi, sayanya yang gak mau. Saya takut aja, kalo kerja di sana entar makan hati.” di akhir ucapannya, Nada tertawa garing.
David berdehem. “Baguslah jika kau tidak menerima tawaran bekerja di Kantornya. Dia Pria yang licik.”
Nada sungguh dibuat terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar. Bisa-bisanya David berbicara terang-terangan tentang orang yang ia benci, kepada seseorang yang ada hubungan darah.
“Maaf, Pak, jika saya lancang. Saya cuma ingin memberi sedikit masukan, apa gak sebaiknya Bapak berdamai aja dengan Daniel? Padahal kalian dulu berteman dekat, masa hanya karena soal bisnis judi jadinya musuhan kayak gini? Jangan terlalu di perbesar lagi lah, Pak.”
Tampak David tersenyum miring, setelah selesai mendengar nasihat Nada tadi. “Saranmu boleh juga, Nada.” senyuman langsung timbul di bibir Nada, tapi secepat itu juga sirna. “Tapi, apa kau sudah berdamai dengan Arandito, huh?”
Deg!
“Seenaknya saja kau menyuruhku berdamai dengan Smith, namun nyatanya kau tak jauh beda denganku. Percayalah, kita ini sama, Nona Arandito. Sama-sama terjebak dengan kekejaman masa lalu.”
Entah apa maksud dari ucapan David, Nada tidak bisa menangkap apa yang baru saja Pria itu katakan. Rasa sakit yang mendadak muncul di dalam dadanya, lebih mendominasi.
Tubuh Nada ambruk ke bawah, mengakibatkan tasnya ikut jatuh ke bawah. Barang-barang yang ada di tas Nada pun berserakan di lantai. Wanita itu memegang erat dadanya yang semakin sesak. Suara nyaring yang berasal dari napasnya, juga mulai terdengar.
“Pak... Tolong... Tolong ambil Inhaler Nada... Di... Di dalam tas... Pak...” ucap Nada dengan napas terengah-terengah.
Awalnya sedikit pun David tak berniat membantu, namun saat melihat air mata kesakitan yang merosot di pipi Nada, entah kenapa hati kecilnya bergerak sendiri untuk menolong.
Secepat kilat Nada menyemprotkan Inhaler yang di berikan David. Hawa dingin mulai merambat masuk ke dalam paru-parunya. Seperkian detik kemudian, Nada beralih menatap David yang masih dalam posisi berlutut selepas mencari Inhaler-nya. Nada menatap David berkaca-kaca.
“Bapak jangan sebut nama Laki-laki itu lagi, ya? Tolong janji sama Nada. Nada gak mau denger nama pembunuh itu selamanya sampai Nada mati nyusul Mama. Dan Nada tau kok, Bapak itu ada sedikit sisi baiknya. Hanya sedikit emang, tapi setidaknya berguna.”
Nada tersenyum sebentar, lalu beranjak berdiri berniat pergi dari ruangan David. “Nada balik kerja lagi, Pak. Kalo butuh apa-apa, jangan segan-segan manggil Nada. Nada sedia dua puluh empat jam akan hadir membantu, Bapak!”
Meskipun Nada sudah tidak ada dihadapannya, tatapan David tetap tertuju di sana. Sedikit pun ia tak beranjak dari posisi semula.
“Nada? Barusan dia menyebut dirinya dengan sebutan Nada, dan melupakan embel-embel saya?” gumam David, tanpa sadar ia tersenyum. “Eum... Not bad, because i like this, Darling.”
Tiba-tiba pintu ruangannya terbuka, menampakkan sosok Pria paruh baya berpakaian formal sama sepertinya. Dan bertepatan dengan itu juga, David segera berdiri tegap lalu memasang wajah datar seperti biasa.
“Ada apa, Ryan?”
“Tuan, apa yang kau lakukan pada Nona Arandito?”
“Tidak, Ryan! Panggil dia Nona Nada, jangan Arandito!” sela David cepat, lantas dia terdengar bergumam sangat pelan. “Kau bisa mematahkan hati Malaikatnya, jika kau memanggilnya begitu.”
“Ah, sorry, maksudku... Apa yang telah kau lakukan pada Nona Nada? Aku tak sengaja berpapasan dengannya tadi, dan ku lihat matanya sedikit memerah? Seperti baru saja menangis.”
“Tentunya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan.”
Sebenarnya Mr. Ryan merasa tidak puas dengan jawaban David, namun ia coba tidak mempermasalahkannya.
“Lalu, kenapa kau tetap merekrutnya menjadi Sekretaris-mu. Bukankah kau kemarin memecatnya, Tuan?”
“Itu... Karena...” David tampak memikirkan jawaban yang tepat atas pertanyaan Mr. Ryan. “Aku merasa dia cocok menjadi Sekretarisku. Kau sendiri tahu, bagaimana mantan sekretarisku dulu. Mereka semua terlalu agresif ku rasa. Tidak seperti Nada yang aku yakin tak akan melakukan hal demikian.”
David menepuk sekilas kedua tangannya. “Yups! Ku kira hanya itu saja, dan waktu bertanyamu habis, Ryan. Datanglah kemari lagi saat aku benar-benar membutuhkanmu. Oke, kau boleh pergi.”
Mau tak mau Mr. Ryan pergi, karena ucapan David tadi merupakan sindiran telak. Ketika Mr. Ryan sudah benar-benar pergi, David kembali berucap satu hal.
“Bukan hanya itu, Ryan. Aku mempercayainya sebagai Sekretarisku, karena aku rasa kami memiliki sedikit kisah masa lalu yang sama. Dan mungkin suatu saat, kami bisa saling berbagi semangat. Karena kisah masa lalu kelam itu juga, aku enggan untuk menginjakkan kaki di tanah kelahiranku. Sepertinya aku akan menetap lama di sini.”
°°°
Devina menatap bingung Daniel yang lari terbirit-b***t menuju kamar mandi. Wajah Lelaki itu kusut masih setengah sadar, dengan tangannya yang menenteng handuk.
“Lo kenapa sih, Bang?”
“Gue telat, Dev! Mati dah, kena marah partner bisnis gue!”
“Elo sih, tidur aja jam empat pagi.” Devina menggigit roti panggang selai coklat yang telah ia buat. “Terus, tumben-tumbenan elo yang di marahi partner bisnis. Biasanya kan, elo yang marahin.”
“Lo kan tau sendiri, kalo gue abis pulang dari Bar, Dev. Udah jadi rutinitas malam gue, gak enak kalo tinggal semalam. Lagian partner bisnis gue kali ini beda banget!”
Penjelasan panjang lebar dari Daniel, diangguki Devina berkali-kali. “Nah, kalo elo ngerasa terlambat, ngapain lagi lo masih berdiri di sini?”
Daniel menepuk jidatnya pelan. “Anjir, lupa gue! Elo sih, ngajak gue ngerumpi!” bergegas pria itu berlari menuju kamar mandi. “Aduh... Udah jam setengah tujuh lagi!”
“Buruan, Daniel Smith... Jangan lupa sikat gigi bersih-bersih, entar keciuman bau alkohol lo semalam!” teriak Devina menyindir, lantas tertawa geli.
“Bacot lo, Devina Smith!”
Dengan kekuatan super kilat, Daniel pun selesai bersiap. Tanpa menyentuh sarapan atau sekedar melirik Devina saja, Daniel tidak sempat. Butuh lima belas menit bagi Daniel untuk sampai di Cafe yang Aisy janjikan.
“Aisy, kamu tau gak sih, kalo aku ini orangnya serba sibuk? Pikir-pikir dong, kalo mau nentuin jadwal!”
Aisy dan Nada menatap Daniel yang baru datang, dengan dahi berkerut heran.
“Eh, tunggu dulu! Kemarin baru aja aku bilang, biasakan ucap salam terlebih dahulu, tapi kamu langsung datang dan malah marah-marah gak jelas! Emang apa salahnya kalau aku nentuin jadwal pagi?”
Daniel berdecak, sekilas memijat pelan dahinya. “Sorry, Assalamu'alaikum!” dengan intonasi suara yang meninggi, Daniel mengulangi salamnya. Kembali Daniel menatap lekat Aisy. “Aisy, Aku ini banyak urusan dan CEO yang serba sibuk, bukan CEO yang pura-pura sibuk! Apa lagi kamu nentuin jadwalnya jam tujuh pagi, tanpa persetujuan aku!”
“Aku gak perlu minta persetujuan dari, kamu. Kalau kamu memang terbiasa Sholat Subuh, kamu gak akan keberatan kalau jadwal ke temuan kita jam tujuh pagi begini. Dan juga ini hari Minggu. Nggak ada orang Kantoran yang punya urusan atau sibuk. Hari Minggu itu harinya free bagi orang Kantoran."
“Tapi aku CEO Aisy, bukan pekerja kantoran!”
“Okay, kamu seorang CEO, tapi kamu kan Sholat Subuh dan pasti bangun sebelum jam lima pagi. Sudah pasti kamu bisa datang jam tujuh pagi tanpa telat, tanpa ngomel.”
“Apa? Daniel Sholat Subuh? Dunia kiamat kali! Kalau Daniel Sholat Subuh, bakalan ada trending topic di perusahaan Smith. Jangan kan Sholat Subuh, Sholat Idul Fitri aja yang setahun sekali gak pernah dilaksanain! Apalagi Sholat Subuh yang setiap hari. Udah mati kutu deh, nih bocah atu!” sahut Nada sarkas, dan secepat itu juga Daniel menatapnya tajam sebagai peringatan.
“Diem lo Adek durhaka, gue kutuk juga lo jadi peniti tetangga!”
“idih... Selow! Jangan esmosian, entar tua gue ketawain lo!”
Daniel lebih memilih tidak menggubris ucapan Nada. Ia kembali menatap Aisy. “Hijabers... Ya, aku yang salah, kamu selalu benar. Tapi kamu nggak harus ngomongnya mendadak dong. Kamu harusnya janjian dulu sama aku. Kita ini partner bisnis Aisy. Partner bisnis itu saling bekerja sama dan berkompromi satu sama lain.”
Aisy menghela napas panjang. “Daniel, meninggal aja datangnya mendadak! Masa kita mau janjian dulu sama malaikat kalo mau meninggal. Ya, nggak kan?”
Tiba-tiba bibir Daniel terangkat, membentuk seulas senyuman. “Betul. Sama kayak jatuh cinta, datangnya juga mendadak!”
Mendengar gombalan receh yang selalu saja Daniel selipkan di saat obrolan, bola mata Aisy berputar malas. Tidak terlebih Nada yang memasang wajah jijik.
“Dih, sa ae lo biji klepon!” celetuk Nada yang tak dihiraukan Daniel.
“Aisy, aku ada ide supaya aku gak dateng telat lagi.”
Aisy menatap was-was, merasa ragu dengan ide Daniel ini. “Apa idenya?”
“Gimana kalo kita meeting-nya gak usah pagi aja,”
“Jadinya kapan?”
“Malam aja.” sontak saja Aisy melotot, sedangkan alis Daniel naik turun. “Gimana? Bagus gak ide aku? Aku setiap malem selalu aktif dan free, jadi kita mudah ke temuan tanpa halangan kayak gini lagi. Kita ketemuannya di club langganan aku aja. Udah terjamin kualitasnya. Club bintang lima.”
“Wait, What? Club?”
“Iya... Club! Kamu mau gak? Kalo mau biar aku tentui—“
“Wait the minute, Daniel!” Daniel langsung terdiam. “Daniel, denger baik-baik! Aku bukanlah wanita yang sering kamu temui di luaran sana. Aku gak bisa keluar malem dengan seseorang Pria yang bukan mahrom aku, apa lagi ke tempat maksiat seperti Club! Kamu... Astaghfirullah, gila! Itu tempat yang sering kamu kunjungi tiap malamnya? Tempat maksiat penuh dosa itu?” Aisy geleng-geleng kepala tak habis pikir, sementara Daniel menatapnya bingung.
“Tempat itu buruk banget yah, di mata, kamu?”
“Sangat buruk, Daniel!” jawab Aisy sedikit membentak. “Dan bukan hanya aku yang ber-opini seperti itu! Orang lain yang Agamanya baik pun sama! Itu adalah tempat yang paling Allah kutuk. Tempat di mana Setan, dosa, maksiat dan para penghuni Neraka berkumpul.”
Daniel memandang Aisy sangat terkejut. “Berarti aku salah satu penghuni Neraka, dong?”
“Kalo kamu masih betah di tempat itu sampai ajal menjemput, maka di pastikan kamu salah satu dari penghuni Neraka. Hamba Allah yang paling tercela.”
Setelah mendengar itu semua, Daniel jadi merinding sendiri. “Yaudah, aku gak akan ke sana lagi, deh. Aku jadi kepengen masuk Syurga, biar nanti ketemu, kamu.”
“Belum tentu aku masuk Syurga nantinya. Yang menentukan tempat terlayak bagi aku itu, Allah. Tapi, untuk membuktikan aku bisa layak menjadi salah satu penghuni Syurga, aku terus mengumpulkan amalan baik agar dapat pahala. Pahala itulah yang akan menjadi bekal aku di akhirat.”
Segala yang Aisy ucapkan, membuat Daniel terpukau seketika. Hatinya semakin merasa tak karuan akan wanita bernama Aisy ini.
“Lo percaya gitu aja, Sy, sama Daniel?”
Alis Aisy berkerut menatap Nada bingung. “Emang kenapa?”
“Daniel itu orangnya pembohong! Dia bilang nggak sama lo, tapi di belakang lo tetap ngelakuin. Percaya sama Daniel, sama aja menduakan Tuhan.” Nada berbisik, namun ternyata masih dapat di dengar Daniel.
“Eh, Adek sepupu gue yang mulutnya ngalahin akun gosip lambe turah! Lo itu udah berhijab, seharusnya jaga akhlak. Buka aja ntuh hijab sekalian. Ngaku Muslimah, udah berhijab, tapi mulut lemesnya minta ampun.” Aisy dan Nada sama-sama tersentak.
Seketika suasana menjadi hening. Kening Daniel berkerut menatap kedua Muslimah di hadapannya tengah menatap tajam. Merasa risih terus di tatap seperti itu, Daniel pun bertanya.
“Apa?”
“Afwan, Daniel...”
“Ha? Bakwan?”
Aisy memejamkan mata kesal sembari berdzikir saat mendengar pertanyaan absurd dari Daniel barusan. Terlebih wajah cengo Pria itu.
“Afwan Daniel, bukan bakwan. Afwan itu bahasa Arab yang artinya maaf.” penjelasan Aisy hanya di balas anggukan oleh Daniel, lantas Aisy kembali melanjutkan ucapannya yang sempat terputus.
“Tolong jangan samakan Hijab dengan Akhlak. Hijab itu adalah suatu kewajiban yang harus dipatuhi oleh semua Muslimah. Sementara Akhlak adalah perilaku dari seorang Muslimah yang mungkin masih dalam proses Hijrah. Hijrah itu tidak semudah membalikkan telapak tangan.”
“Banyak sekali rintangan dan cobaan saat kita dalam proses Hijrah. Apa lagi kalau di Zaman sekarang ini. Orang baik dibilang sok alim. Kalimat itu kadang membuat kami down dalam melakukan proses Hijrah ini. Jadi, Daniel, kamu jangan seenaknya ngomong kalau belum merasakan susahnya proses hijrah tersebut.”
Penuturan Aisy ternyata berhasil membuat Daniel terpukau seketika. Saking terpukaunya Pria itu, ia lambat merespon ucapan Aisy tadi.
“Okay... Aku gak akan pernah mempermasalahkan Hijab dengan Akhlak lagi.”
“Bagus kalau gitu. Sekarang kamu minta maaf sama Nada.”
Kedua bola mata Daniel membulat. Ia memandang Aisy tidak percaya, lantas tatapannya beralih menatap Nada dengan tatapan jijik. Nada yang di tatap seperti malah balik menatap Daniel dengan senyuman lebar. Senyuman penuh kemenangan.
“Ayo, Daniel, buruan minta maaf! Kamu itu udah berdosa loh, sama Nada.”
Dengan sangat terpaksa demi Aisy, Daniel akhirnya mau meminta maaf terlebih dahulu. Daniel ingin menjabat tangan Nada, tapi Nada langsung menangkup kedua tangannya.
“Sebagai Adik sepupu yang baik, gue maafin lo.” Nada tersenyum manis tapi bagi Daniel itu adalah senyuman mengejek. “Bukan mahrom. Kita cuma sepupuan, bukan kandung.”
“Aku mau tanya, kita ini jadi gak bahas pembangunan food court kamu, Sy? Perasaan dari tadi kamu ceramahi aku mulu. Ini namanya tausiah, bukan meeting.”
“Tapi, kan, baik bagi seseorang menyampaikan suatu kebaikan meskipun sekecil biji zarrah yang penting ada pahalanya.”
“Iya, Sy, iya.” balas Daniel hanya bisa mengalah lagi. Melihat wajah kusut Daniel, kedua wanita di hadapannya tertawa geli.
“Eh, Sy, Niel, lain kali kalo kalian meeting lagi, gue gak bisa nemenin kayak gini, loh.”
“Lah? Emang kenapa, Nad?” tanya Daniel yang di balas anggukan oleh Aisy. “Serba sibuk banget, lo. Sekedar datang aja, kok susah.”
Bola mata Nada berputar malas, bersamaan dengan decakan. “Bukan gitu! Seudzhon bener, lo! Kalian itu kan udah gede, masa gue harus ngawasin meeting kalian, sih?”
“Karena musuh pebuyutan lo itu gak perbolehin gue pergi ke mana-mana dari sisi dia. Manja jadi cowok, sama kayak, lo!” batin Nada bersamaan.
“Tapi, Nad, kan gak baik kalo Lelaki dan Wanita yang bukan mahrom berduaan aja. Lo tau itu.” sahut Aisy yang dengan cepat Nada ralat.
“Gue tau kalian bukan mahrom, tapi ini lain ceritanya. Kalian itu ke temuan di tempat ramai, bukan tempat sepi. Jadi gak apa-apa, Sy. Seburuk-buruknya Daniel, dia gak akan berbuat hal gila ke elo. Kalo andaikan iya, tonjok aja mukanya, jangan ragu-ragu.”
Mendengar namanya yang di jelek-jelekkan, Daniel memberikan pelototan tajam pada Nada, tetapi Nada pura-pura tidak tahu. Dia memfokuskan tatapannya ke Aisy dari pada Daniel.
“Gak mungkin gue mau menjerumuskan lo ke dalam Lubang Buaya, Sy.” sambung Nada lagi, berupaya meyakinkan Aisy. Dan pada akhirnya sekian lama di bujuk terus menerus, Aisy menyetujui.
“Iya, Nada, gak apa.”
Spontan Nada memeluk Aisy. “Yeaayy, makasih, Aisy! Lo yang terbaik!”
“Kalo kalian jadi saudara ipar, kayaknya cocok! Aisy jadi Istri gue berarti.”
“In your dream!” teriak Nada dan Aisy tidak terima.
°°°