So scared of getting older
I'm only good at being young
So I play the numbers game
To find a way to say that life has just begun — John Mayer, Stop this train
Hal paling menyebalkan saat mudik ke kampung halaman adalah, pertanyaan 'kapan nikah?' yang selalu menggema dimana-mana sudah seperti adzan.
Walau setiap tahun selalu banyak activist amateur yang menyuarakan bahwa pertanyaan basa-basi tersebut masuk ke golongan 'basa-basi yang tidak sopan' tapi tetap ada aja yang masih menganut mazhab pertanyaan kapan nikah sebagai topik obrolan paling umum.
Dan akhirnya akupun menggunakan jawaban paling diplomatis yang biasa orang-orang gunakan yaitu
'Doain ya supaya cepat ketemu jodohnya,' sambil tersenyum setulus mungkin.
Aku berharap orang yang bertanya juga benar mendoakan aku sungguh-sungguh, bukan hanya basa-basi yang beneran basi.
Karena bertemu dengan orang yang pas dan cocok di usiaku sekarang lebih susah daripada saat aku masih di awal 20-an.
Biar aku elaborasi. Waktu masih berumur 18 sampai awal 20-an aku nggak punya kriteria khusus untuk pasangan.
Standar aja, diajak ngobrol nyambung, penampilan nggak perlu tampan rupawan yang penting lumayan, bisa jadi kenal karena satu kampus atau mutualannya teman, nggak masuk dalam pertimbangan tuh historikal keluarga, ras-nya dari mana, profesinya apa, gimana style-nya, selera parfum sampai selera musiknya.
Kalau sekarang? Setelah usia mulai kayak lari sprint menuju tiga puluh, penghasilan juga mulai stabil tapi membuat selera ketertarikan terhadap kaum adam semakin banyak kriterianya.
Seperti ketertarikanku yang tiba-tiba padam pada pria yang duduk disebelahku. Padahal postur badannya tinggi tegap, wajah juga lumayan. Tapi...
"Dari liburan?" tanyanya padaku sambil mengunyah bekal nasi rendang yang baru dia keluarkan dari tas.
Terima kasih untuk Mas ini karena sekarang satu gerbong bisa merasakan aroma nasi padang.
Dilema apabila bertemu stranger yang mulai bertanya-tanya, jawab jujur jangan?
"Dari pulang Mas." aku memilih menjawab jujur.
Si Mas mengangguk. "Orang Bandung ya. Ke Jakarta kerja?"
Sekarang gantian aku yang mengangguk. Padahal sebenarnya aku bukan orang Bandung, hanya orang tua dan keluarga memang sudah lama tinggal di Bandung. Tapi nggak perlu kan dijelaskan?
Kami berdua kembali tidak bersuara. Aku pun kembali melihat ke jendela, menikmati pemandangan dan si Mas ber topi kembali sibuk dengan nasi rendangnya.
Mungkin karena aku sudah kelamaan jomblo dan sangat ngebet untuk menikah, jadi setiap bertemu laki-laki otomatis aku langsung membuat penilaian yang berujung dengan konklusi apakah laki-laki ini bisa masuk kategori 'berprospek' atau nggak.
Aku menengok tipis ke-arah si Mas supaya tidak terlalu terlihat kalau aku tengah mengintip dia.
Dari sepatu yang dia pakai kayaknya dia lebih sering di lapangan, karena sneaker putihnya hampir berwarna coklat kehitaman, setiap dia bergerak dari baju hoodie-nya tercium aroma minyak angin bukannya wangi parfum dan sekarang dia sedang sibuk foto nasi rendang yang udah hampir habis.
Aku menghela nafas, sudah cukup observasinya. Bukan tipeku.
"Maaf ya nggak nawarin, cuma bawa satu." si Mas tiba-tiba menawari aku. Sontak aku yang sedang melihat dia makan sambil sedikit melamun langsung terpekik kaget.
Aku tersenyum simpul. "Nggak apa-apa Mas, saya sudah makan."
"Maaf juga ya kalau baunya menyengat." Lanjutnya. Duh, kalau sadar diri gini aku jadi nggak enak tadi sempat protes walau dalam hati.
"Dibawain Mama saya, jadi saya harus lapor kalau makanannya udah saya makan. Biar senang." aku si Mas sambil nyengir lalu menunjukkan hasil foto makanan di layar ponselnya.
Mendadak hatiku menghangat. Semua penilaian yang minus-minus dari si Mas langsung bubar jalan. Tergantikan dengan perasaan kagum. Ada berapa banyak anak laki-laki yang nggak malu makan bekal dari Ibunya yang dibungkus kertas minyak pakai karet dan di makan di perjalanan?
Astaga. Aku benar-benar terpukul. Ternyata nggak bijak buat menilai orang hanya dari penampilannya aja.
"Pasti enak ya, habis gitu." ujarku untuk mengurangi perasaan bersalah karena tadi sempat jadi orang yang judgemental.
Dia tertawa. "Iya, enak. Belum sarapan juga."
"Ke Jakarta liburan?" giliran aku yang bertanya. Pelan-pelan ingin mengorek informasi tentang cowok ini.
"Lagi ada kerjaan."
Aku manggut-manggut.
"Suka design?" tanyanya seraya melihat ke buku berjudul Work for Money, Design for Love yang sedang aku pegang.
"Oh, iya tapi bukan profesional. Aku bikin tote bag gitu, terus model-model gambarnya aku coba design sendiri." jelasku dengan semangat.
Menit berikutnya aku tahu kalau dia adalah konsultan design interior yang hobi naik gunung.
Sepanjang perjalanan kami mengobrol tanpa henti, dari bercerita tentang seni, hobi, sampai ke Issue lingkungan saat ini.
Sampai kereta kami berhenti di Gambir.
"Dijemput?" tanyanya padaku ketika kami sama-sama keluar gate.
Aku menggeleng. "Ojek online, deket kok."
"Raga!" teriak seorang wanita berambut panjang terurai sambil setengah berlari menuju ke arah kami. Tanpa basa-basi langsung menghabur ke pelukan si Mas nasi rendang yang ternyata bernama Raga.
Saking serunya ngobrol sampai lupa bertukar nama.
Aku menepi, meninggalkan mereka dengan urusannya.
Takdir memang lucu, aku yang awalnya nggak suka, sampai akhirnya kenal dan tertarik, tapi kemudian dibuat patah hati bahkan sebelum aku diberi kesempatan buat mengenalnya lebih dalam lagi.
Selalu begitu.
Aku suka, tapi dia nggak suka.
Aku suka, tapi dia ada yang punya.
Aku suka, dia suka tapi setelah dijalani banyak hal yang sulit dikompromi.
Dia suka tapi aku nggak cocok.
Entah kapan kata 'tetapi' tidak ada diantara aku dan 'siapapun dia'.