Halu(ti)nation

632 Words
Once upon a time, there was a not-so-beautiful-girl named Joddy. She lived unhappily with Jakarta's traffic and wrong name. One day, an invitation to a ball at the Luxury Wedding Party arrives. *** I must be proud of myself, at least. Karena meski nggak pakai gaun rancangan designer terkenal, gaun yang aku rancang sendiri malam ini keliatan berkelas —menurutku. Gaun berwarna biru dari bahan beludru yang bahannya aku beli dari Pasar Mayestik semakin wow dengan ornamen mutiara-mutiara kecil melingkar di bagian leher. Cukup puas dengan model A line karena membuat badanku jadi lumayan seksi dan jenjang.  Di bagian punggung juga aku design sedikit terbuka biar ada public attention nya lah khusus malam ini. Tapi aku curiga bahan yang aku beli kelebaran, jadi bapak penjahit langgananku berinisiatif menaruh sisa kain di bagian ekor gaun. Karena di design yang aku gambar, bagian ekor nggak sepanjang ini seharusnya. Bagus-bagus aja hasilnya, cuma jadi repot pas jalan. Serasa nyapu lantai. Untungnya kondangan kali ini di salah satu Hotel Mewah Jakarta, nyapu karpetnya rela deh sekali-kali. Dengan harapan kisah cintaku bisa seperti temanku—Bella—si pengantin wanita malam ini—yang berhasil memikat hati pengusaha muda tanah air, aku memberanikan diri datang kondangan sendirian. Harapan tambahannya, bisa menemukan jodohku malam ini. Kata Nadia, kalau mau panjat sosial jangan nanggung-nanggung harus sekalian di lingkungan yang—kurang lebih— kayak di Ballroom Hotel ini. Setelah mengucapkan selamat kepada Bella dan suami, aku menyapu pandangan ke seluruh sudut. Berakhir dengan senyum kecut, karena laki-laki yang unyu berdatangan dengan gandengan.  Yah, karena aku nggak tertarik untuk menjadi selir ataupun dayang ditambah nggak menemukan satu sosokpun yang aku kenal jadi aku putuskan untuk langsung pulang aja. I dressed up for nothing. Aku menekan tombol G di dalam lift sambil  berulang kali membenarkan ekor gaunku setiap ada orang yang masuk lift. Hanya memastikan kakiku tidak terbelit ketika aku mundur. "Repot ya?" tanya orang di sebelahku. Aku yang sedari tadi sibuk membenarkan gaunku reflek melihat ke arah sumber suara. Aku masih terpaku melihat pria yang literally bicara padaku. Gara-gara gaun sialan ini sampai ada pria setampan ini masuk lift aku nggak sadar. "Sini, pindah di belakang saya." katanya, seraya melangkah maju, lalu aku reflek menepi di dinding lift membiarkannya berdiri tepat di depanku. "Biar nggak mundur-mundur lagi kalau ada yang masuk." lanjutnya. Mendadak jantungku berdetak lebih cepat, ketika aroma parfum pria ini sampai di indera penciumanku. Oh my days. Parfum apa ini kenapa bisa membuatku kecanduan menghirupnya. "Lantai berapa?" tanya pria itu tanpa menengok ke belakang. Aku kembali kekesadaranku ketika layar lcd dalam lift menunjukan huruf G. "Di sini." jawabku tepat saat pintu lift terbuka. "Thanks ya." ujarku tulus, lalu berjalan menuju keluar. "EH!! EH!! Itu roknya." teriakan panik Ibu-Ibu di dalam lift membuatku menengok ke belakang. Aku ikut panik melihat ekor gaunku nyaris terjepit bersamaan pintu lift yang hampir menutup. Aku spontan menarik rokku, tapi terlambat pintu lift tertutup. Wajahku sudah pucat sampai dua detik berikutnya pintu lift kembali terbuka. Yang membuatku melihat pria tadi membungkuk, memegang ekor gaunku dan memindahkannya. Aku menelan ludah. Antara malu dan kesal. Malu karna—kenapa sih yang nolongin drama gaun sialan ini nyangkut harus pria setampan ini. Nggak elegan banget! "Sorry ya, jadi ngerepotin." kataku dengan nada yang aku pastikan penuh dengan penyesalan di dalamnya. Pria tampan ini tersenyum, dan— ya ampun lesung pipi nya. Triple KILL nggak sih?!!! "Duh, aku jadi nggak enak. Kamu jadi keluar lift." kataku lagi, beneran merasa bersalah. "Harusnya gaunku kamu tendang aja padahal dari dalem. Nggak apa-apa tahu." kataku lagi, yang direspon dengan tawaannya. "Ditendang?" tanyanya, menyelipkan tawa kecil dan menunjukkan deretan giginya yang bersih. Melihat dia tertawa membuatku agak rileks, setelah tiga menit yang lalu aku merasa menua 10 tahun karena serangan panik. "Joddy." kataku. "Bukan. Saya Abi." jawabnya, seraya mengulurkan tangan. "Oh bukan. Maksudku, aku Joddy."  KAN. Harusnya aku bilang namaku HERA aja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD