episode 37.

1356 Words
Camelia bangun dengan mata bengkak, ia menangis terlalu lama semalam alhasil matanya bengkak sekarang. "Ck, nih kenapa mata lagi pake bengkak segala sih. " gerutu Camelia yang melihat matanya bengkak di cermin meja rias. " Huh tutupin pake apa lagi, aduh... S**l banget gue. Lagian nih mata cengeng banget sih nangis mulu. " Camelia tak henti - hentinya mengeluh melihat matanya yang seperti orang abis kena tonjok. " Bodo amat lah gue pusing. " Camelia memakai make up untuk menutupi mata bengkaknya mudah - mudahan gak ada yang memperhatikan batinya. Dengan wajah tak bersemangat ia turun menuju ruang makan, belum ada yang turun hanya ada bundanya yang sedang menyiapkan meja untuk sarapan pagi. " Pagi bunda... " sapa Camelia pada Hana yang sedang menyiapkan sarapan. " pagi Dek, tumben kamu turunnya pagi banget, biasanya agak siang. " Hana mengerutkan keningnya heran melihat putri bungsunya sudah rapi dengan setelan kerjanya. " iya bun, hari ini ada rapat dengan big bos. Mau bahas tentang gathering yang mau di ada in minggu depan bun... " ucap Camelia sambil mengoleskan beberapa lembar roti dengan selai coklat. " Oh gitu... Lho ko kamu makan roti kan bunda masak nasi goreng. " ujar Hana begitu melihat Camelia mengoleskan roti dengan selai. " buat ganjel aja bunda, nasi gorengnya mau lia bekal saja buat sarapan di kantor boleh kan bunda ? He he he ... " Camelia menjawab dengan cengirannya. " Ya boleh lah masa gak boleh, kamu ini aneh - aneh aja. " ucap Hana sambil menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan prasangka Camelia. " Ya udah bunda ambil tempat dulu buat makan kamu. " Hana beranjak ke dapur untuk mengambil kotak bekal untuk Camelia. " Oke sip bunda, tapi jangan banyak - banyak ya bun... " Camelia mengingatkan sang Bunda yang suka kalap kalau membuat bekal untuknya. " Iya ... bawel banget deh kamu ini. " ucap Hana sambil memasukkan nasi goreng kedalam tempat makan. " Bunda Adek berangkat, " ucap Camelia sambil mengambil kotak yang bundanya berikan setelah selesai mengisinya. " Berangkat ya bun ? " mengecup tangan Hana dan bergegas berangkat menuju kantornya dengan menggunakan motor. Hana yang melihat Camelia berjalan dengan buru - buru berharap putrinya itu bahagia. " Ya Allah semoga putri hamba segera menemukan bahagianya. Camelia dan Laras duduk bersama beberapa staf dari departeman lain, mereka menunggu big bos mereka untuk melaporkan anggaran dan rencana yang mereka setelah sepakati untuk gathering yang akan di lakukan mereka minggu depan. " Pak Arya tumben lama ya ? " tanya Laras sambil sibuk melihat catatan yang sedang ia pegang. " Sibuk kali, bisa jadikan. " jawab Camelia, yang sebenarnya merasa aneh karena tidak biasanya Arya datang terlambat. Obrolan mereka terhenti saat Arya memasuki ruang rapat bersama Toni dan juga Wina. " Maaf saya terlambat, tadi ada klien minta bertemu mendadak. " ucap Arya menjelaskan alasan yang membuat ia terlambat. Semua anggota rapat yang hadir hanya mengucapkan " tidak apa - apa " sebagai respon atas ucapan yang Arya sampaikan. " Jadi bisa kita mulai saja dengan pembahasan kita, supaya cepat selesai dan sepakat dengan apa yang sudah di rencanakan. " ucap Arya supaya cepat selesai. Semua anggota rapat menyampaikan apa saja yang mereka rencanakan, mulai dari dana anggaran, lokasi, penginapan, snaks dan komsumsi bahkan biaya yang di butuhkan mendadak kalau di perlukan. Acara gathering tahunan memang biasa di lakukan selama tiga hari dan di lakukan biasanya di akhir minggu, biasanya banyak di isi dengan lomba - lomba yang menarik dan dilakukan supaya semangat karyawan kembali lagi. Itung - itung penghilang stres katanya. Beberapa kali pandangan Arya dan Camelia bertemu, Camelia melihat wajah Arya yang tak seperti biasanya, biasanya mata jahil tak lepas dari Arya tapi sekarang mata itu seperti tak bersemangat. Sedangkan Arya merasa penasaran melihat mata bengkak Camelia, " Kenapa dengan mata si Cabe " itu yang di pikirkan Arya. Setelah semuanya selesai di bahas Arya memutuskan menyetujui semuanya karena ia rasa masuk akal dan sesuai dengan anggaran yang perusahaan berikan. " Baiklah saya setuju dengan semua yang telah di sampaikan dan saya harap semuanya berjalan dengan lancar dan tak ada kendala yang berarti. Dan jangan lupa dengan penginapan karena itu yang terpenting untuk semuanya, jadi pastikan lagi sebelum kita semua berangkat , mengerti. " ucap Arya panjang mengingatkan. " Baik pak " ucap semuanya serempak. Satu persatu anggota yang mengikuti rapat mulai meninggalkan ruang rapat, walau pun ada yang masih berada di situ untuk menyapa staf bagian lain. Ting ... Bunyi pesan masuk kedalam ponsel Camelia, Camelia yang masih membereskan kertas laporan untuk acara gathering, mengalihkan pandangannya ke arah ponsel yang berada di saku blezer miliknya. Camelia memelototkan matanya begitu melihat isi pesan yang masuk ke ponselnya. Seketika ia mengalihkan pandangannya pada sosok yang masih duduk di ujung meja dengan senyum menyebalkan miliknya. " Nanti malam kamu saya tunggu di parkiran, kita makan malam bersama ya CABE ( cayang bebeb ), gak ada penolakan. " ucap Arya menekankan kata Cabe, tapi bukan itu yang membuat Camelia melotot kaget tapi tulisan yang di dalam kurung itu yang membuat ia terkejut, cayang bebeb. " Apa maksudnya itu cayang bebeb? " tanya Camelia tak terima dengan panggilan yang diberikan Arya. Arya tak membalas pesan yang di kirim Camelia ia hanya tersenyum sambil menaik turunkan alisnya, kemudian berlalu pergi meninggalkan ruang rapat bersama Toni. Camelia yang melihat Arya pergi tanpa membalas pesannya mengerucutkan bibirnya kesal. " Lo kenapa Lia tuh bibir pake di monyongin segala hah, minta di tanin iya ? " tegur laras melihat wajah temannya itu. " Ck lo mah gak liat gue lagi kesel sama Jerapah rese? " jawab Camelia tanpa sadar. " Jerapah rese ... siapa? " tanya Laras bingung. " Eh... eh gak apa - apa ! " ucap Camelia gugup, ia merutuki mulutnya yang bisa keceplosan. " Ah terserah lo deh Lia , ayo buruan kita balik ke ruangan kita supaya jangan lembur hari ini gue mau kencan. " Laras menjawab dengan semangat. Arya yang baru sampai di ruangannya langsung di sambut dengan Wina yang memberitahukan rapat mereka selanjutnya dengan klien di restoran jepang ketika makan siang nanti. " Kamu siapkan berkas yang kita perlukan ya Win, kamu nanti ikut saya makan siang, soalnya Toni ada meting yang lain. " ucap Arya sambil melihat - lihat laporan yang harus ia bereskan sebelum makan siang. Wina yang mendengarnya pun sangat senang ,akhirnya ia bisa lagi makan siang dengan bos tampaknya tersebut. Sejujurnya ia menaruh rasa pada bosnya itu, karena selain tampan bosnya itu bisa di bilang baik walau pun agak dingin dan acuh. Tapi Wina yakin hampir semua wanita di gedung ini semua menyukai bosnya tersebut, dan ia salah satunya juga. " Baik pak saya akan segera menyiapkan nya. " ucap Wina senang, lalu ia beranjak keluar dari ruangan Arya. " Jangan lupa malam nanti, awas kalau kamu kabur duluan, saya kasih kamu hukuman. Saya mau meting dulu sekarang jadi hari ini kita gak bisa makan siang bareng. JANGAN KANGEN :D . " ucap Arya jahil sambil beranjak untuk meting sekalian makan siang dengan kliennya tersebut. Di ruangannya Camelia hampir melempar ponsel yang berada di tangannya lantaran kesal dengan kelakuan bos gilanya itu. " Jangan kangen, katanya gila kali gue kangen sama dia, Amit - amit ... " Camelia sambil mengetuk - ngetuk keningnya dengan tangan. " Lo kenapa sih Lia gue perhatikan lo aneh banget hari ini? " tanya Laras yang sudah cukup merasa aneh dengan semua prilaku temannya itu. " Iya bener itu, tadi pagi muka lo bengkak kayak habis kena tonjok, sekarang lo dari tadi ngomong sendiri. Iya gak Ras...? " Desi membenarkan apa yang di ucapkan Laras. Camelia mendengar itu hanya berlalu tak menghiraukan apa yang di ucapkan ke dua temannya itu, ia malah mengalihkan pertanyaan mereka. " Gue lapar kantin yuk , makan siang. " ucap Camelia yang sudah meminggalkan mejanya. Sedangkan Laras dan Desi seakan sudah paham jika Camelia sudah mengalihkan pertanyaan berarti ia belum mau untuk bercerita. " Ya udah Ayo... " ucap keduanya serempak bangkit dari kursinya masing - masing. Camelia merasa beruntung punya teman yang mengerti kalau ia belum bisa cerita. " terima kasih sudah mau mengerti. " ucapnya dalam hati. by Cha88. follow dan ♥️ makasih
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD