episode 36.

1323 Words
" Aku kangen kamu... maafkan aku ! "ucapnya lirih dengan suara sendu, Camelia merasa sesak di dadanya, mendengar suara seseorang yang pernah mengisi hatinya itu. " Semua sudah terlambat Rama, tidak ada artinya lagi buat gue. " ucap Camelia sambil berusaha melepaskan pelukan Rama pada tubuhnya. Rama yang melihat Camelia berusaha melepaskan pelukkannya bertambah menguatkan pelukkannya agar Camelia tidak bisa melepaskannya. " Kita bisa mulai lagi dari awal Lia, aku berjanji tidak akan ada wanita lain lagi selain kamu, hanya kamu satu - satunya. " Rama berucap tegas berusaha meyakinkan Camelia. " Bahkan aku dan Siska sudah putus, kami tidak menjalin hubungan lagi. Jadi ayo kita kembali bersama. " Camelia yang mendengar itu terkejut dengan apa yang ia dengar ,ia merasa Rama bersungguh - sungguh. Tapi sedetik kemudian ia sadar tidak ada jaminan Rama tidak berulah lagi nanti. Camelia menginjak keras kaki Rama, hingga akhirnya pelukan Rama terlepas. " Aaww ...." Rama mengaduh sambil memegang kakinya yang di injak Camelia. Plak. Camelia melayangkan tamparan ke pipi kanan Rama hingga menimbulkan rasa panas pada pipinya. " Gue ingetin sekali lagi, GUE GAK MAU BALIKAN SAMA LO, dan gak akan pernah. " tekan Camelia pada kalimatnya. Rama yang mendengar diam mematung jantungku berdenyut sakit menerima penolakan dari Camelia. " Dan jangan muncul lagi di hadapan gue lagi faham ... " ucap Camelia sambil meninggalkan Rama yang masih diam mematung. Rama yang tersadar Camelia akan masuk kedalam rumah langsung menarik tangannya dan dengan paksa langsung mencium bibir Camelia , Camelia mematung terkejut dengan apa yang di lakukan Rama, Ia berusaha mendorong tubuh Rama tapi dengan cepat Rama menahan kepala Camelia supaya ciumannya tidak terlepas. Rama mencium bibir Camelia bagian atas dan bawah, mengecap rasa yang sudah lama tak ia rasakan dari bibir manis Camelia. memaksa untuk memasukkan lidahnya yang berusaha di tolak Camelia. Walau Camelia menolak ia tetap menikmatinya menyesap bibir yang sempat menjadi candunya itu, meski Camelia terus berontak tapi tak menyurutkan niatnya untuk tetap menahan bibir Camelia. Hingga ketika Rama merasa mereka sudah kehabisan nafas akhirnya ia melepaskan ciumannya pada Camelia, ia menyatukan dahinya dengan dahi Camelia, mengatur nafas yang masih putus - putus. Rama yang merasa Camelia sudah tidak berontak lagi memeluk Camelia erat. " Aku mau kita bersama lagi. " bisik Rama di puncak kepala Camelia. Seakan tersadar apa yang terjadi, Camelia mendorong kuat tubuh Rama hingga akhirnya pelukan mereka terlepas. Plak... Bunyi tangan Camelia yang mengenai pipi Rama terdengar jelas, sekali lagi Camelia menampar Rama hingga pipi Rama kembali marah, " Berhenti untuk menyentuh gue, karena lo bukan siapa - siapa gue lagi... DAN GUE BENCI LO RAMADHAN WIGUNA... " teriak Camelia mengeluarkan emosi yang sedari tadi ia tahan, melangkahkan kaki setengah berlari meninggalkan Rama yang terdiam mendengar teriakan Camelia. " Lia ... Lia ...aku mohon maaf in aku, sayang. Aku mohon. " ucap Rama mencoba mengejar Camelia yang sudah lebih dulu masuk kedalam rumah dan menutup pintu juga menguncinya. " Lia ... CAMELIA ... Buka pintu nya aku mohon. " mohon Rama sambil mengetuk pintu dengan keras, " Hiks... Hiks... gue mohon. " Rama menangis dan menjatuhkan tubuhnya di depan pintu rumah Camelia. Camelia yang belum pergi dan masih menyandarkan tubuhnya di belakang pintu bisa mendengar apa yang di ucapkan Rama, jujur ia tak tega karena di hatinya Rama masih ada tapi perbuatan yang Rama lakukan juga meninggalkan sakit yang tak mungkin cepat hilang, itu sebabnya menguatkan hatinya. " Dek... " panggilan sang Beni mengejutkan Camelia di sebelahnya juga ada Hana dengan mata yang berkaca - kaca. Camelia langsung berdiri dan memeluk Beni sang ayah menumpahkan semua kesedihan yang ia rasakan. " Hiks... Hiks... Ayah... ayah... Adek gak kuat ayah, hati Adek sakit banget. " ucap Camelia dengan air mata yang terus berjatuhan semakin deras. Beni yang mendengarnya pun berkaca - kaca, menahan keras air mata supaya tidak jatuh, ia tak mungkin membiarkan putri bungsunya melihat ia menangis. " Menangis saja dek, keluarkan semuanya supaya perasaan kamu menjadi lebih lega. tapi kamu harus janji ini yang terakhir kalinya kamu menangisi hal seperti ini ya !! " ucap Hana sang bunda sambil mengusap lembut punggung Camelia. Camelia yang mendengarnya pun semakin mengeraskan tangisnya, menuruti apa yang di ucapkan bundanya. Sepasang mata juga ikut meneteskan air matanya, ia semakin merasa berdosa dengan apa yang ia lakukan dulu. " Maaf in kakak Dek... maaf in di kakak yang sudah membuat kamu jadi kayak gini. " ucap Siska sendu yang berdiri di balik tembok ruang tamu, ia mengusap air matanya yang juga menetes melihat luka yang ia berikan untuk adiknya itu. " Sudah ayo ayah antar kamu ke kamar, " ucap Beni sambil memeluk bahu Camelia mengajaknya masuk ke dalam kamar. " Bunda temenin kakak ya. " ucap Beni tanpa suara mengarahkan matanya pada Siska yang sejak tadi berada di balik tembok. Hana yang mengerti menganggukan kepalanya mengerti dengan isyarat yang di berikan suaminya itu. Beni merangkul Camelia berjalan menuju kamar Camelia, meninggalkan putri sulung dan istrinya tersebut. Ia yakin bahwa putri sulungnya juga sekarang sedang terluka melihat apa yang terjadi pada adik bungsunya tersebut. " Sini peluk bunda... " ucap Hana mengagetkan Siska yang tidak menyadari ke hadiran Hana , ia langsung memeluk bundanya tersebut menangis menumpahkan semua rasa bersalah nya untuk Camelia adiknya. " Hiks ...Kakak jahat banget bun... udah merusak kebahagian Lia, kakak gak pantes jadi kakak karena ngambil apa yang seharusnya milik si Adek... " tangis Siska sambil memeluk bundanya erat, menyalurkan rasa sesal yang sedang ia rasakan. " Huss... Kakak gak boleh bilang begitu, gak ada kakak yang sempurna di dunia ini. Tapi memang apa yang kakak lakukan kemarin itu salah banget, dan itu pasti melukai Adek banget. Bukannya Bunda gak mau menghakimi salah satu tapi alangkah baiknya kakak minta maaf sama si Adek, kakak ngertikan? " ucap bunda lembut yang di balas anggukan kepala oleh Siska. " Sudah kakak jangan sedih lagi, nanti kalian bicarakan baik - baik bunda yakin kalian bisa menyelesaikannya, kalian sudah dewasa jadi kalian bisa mengambil apa yang terbaik buat kalian. " Hana berucap sambil menghapus air mata yang masih ada di pipi si sulung. " Sudah bunda ke depan dulu, mau nyuruh nak Rama pulang tak enak sama tetangga sudah malam. Nanti banyak yang terganggu ya ... " ucap Hana meninggalkan Siska yang menganggukan kepalanya walau masih terisak pelan. Rama yang masih berlutut di depan pintu rumah Camelia, terisak pelan ia merasa hancur dengan penolakan yang di lakukan Camelia walau ia sudah bisa memperkirakan sebelumnya. Menyandarkan tubuhnya di daun pintu Rama masih mengetuk pintu walau pun tak keras. " Lia ... sayang... aku mohon buka pintunya, aku mohon beri aku satu kesempatan lagi, ayo sayang. " ucap Rama pelan dengan air mata yang terus jatuh. Ceklek. Terdengar pintu terbuka dari dalam, Rama langsung bangun berharap Camelia luluh dan mau memaafkannya. Tapi ternyata yang keluar Hana bunda Camelia. Rama kecewa ternyata bukan Camelia yang keluar, ia menunduk sedih. Hana yang melihat itu tersenyum lembut, ia tahu Rama salah tapi ia bisa apa tak mungkin ia memaki juga kan ,karena semua sudah terlanjur terjadi. " Nak Rama pulang saja, biarkan Camelia tenang dulu bunda yakin nanti kalau ia sudah tenang ia akan menemui kamu. " ucap Hana lembut. Rama yang mendengar ucapan lembut bunda Camelia merasa malu karena pasti Hana kecewa dengan dirinya " Maaf in Rama bunda, rama pasti sudah membuat bunda kecewa dengan apa yang Rama lakukan pada Camelia. " Rama berucap lirih. Menghembuskan nafasnya Hana kemudian berkata. "Bunda memang kecewa tapi kecewanya bunda tak sebanding dengan sakitnya Camelia jadi bunda mohon, sekarang kamu pulang nanti kalau sudah lebih baik Camelia pasti akan menemui mu. " Rama yang mendengar itu mengangguk faham, walau pun tak rela. " Kalau begitu Rama pamit pulang bunda, " Rama mengecup tangan Hana lalu berjalan menuju mobilnya dengan perasaan kecewa, setelah Hana menganggukan kepalanya. Mendudukan badannya di kursi kemudi, ia menujukkan kepalanya agak keras ke atas kemudi mobilnya. " Aku harus gimana Lia... Aku menyesal benar - benar menyesal. " by Cha88. follow dan ♥️ jangan lupa makasih
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD