episode 4.

1202 Words
Camelia pov. Dari semalam handphone ku terus berdering , Rama nama yang tertera di depan layar yang menyala. Tapi ku biarkan saja sebab belum ingin mendengar kata - kata yang akan melukai hati ini, dan aku juga belum bisa melupakan kejadian kemarin. Jujur aku berharap kejadian kemarin hanyalah mimpi yang merusak tidur indah ku. Berharap bahwa hubungan ku dengan Rama masih baik, tapi ternyata itu bukan hanya sebuah mimpi belaka. Jauh di lubuk hati yang terdalam aku masih sangat mencintai Rama, ya karna memang selama ini memang hubungan kami baik - baik saja. kami tidak pernah bertengkar lama, palingan hanya sekedar ribut kecil lalu kembali biasa. Memang dua bulan belakangan ini rama agak sibuk, dia beralasan sedang memeriksa skripsi para mahasiswanya, dan jujur aku memakluminya karena kadang aku juga suka lembur di kantor sehingga kadang terlalu sibuk dengan urusan kantor. Jadi aku tidak menaruh rasa curiga sedikit pun, tapi ternyata itu adalah awal dari semua yang sekarang kurasakan dan alami. Aku masih di kantor padahal jam pulang sudah lewat satu jam, tapi entah lah aku merasa malas untuk pulang. Aku bingung bersikap kepada kak siska, apa aku harus membenci kak siska..? Atau memaafkan kak siska untuk Rama.. ? Memikirkan nya saja aku sudah pusing..Akhirnya aku putuskan untuk pulang sikap yang harus ku lakukan , entahlah aku pusing yang penting aku harus pulang sebab bunda pasti akan khawatir, kalau sampai aku pulang terlalu sore. Begitu sampai di rumah aku sudah di suguhkan dengan kehadiran dua orang yang seharian ini, menguasai otak dan pikiran ku, bahkan mereka bersikap biasa saja seolah tidak ada yang terjadi kemarin. Awalnya aku yang akan bersikap biasa - biasa saja, entah kenapa justru langsung marah melihat mereka berdiri bersisian. Ternyata memang hati tidak bisa bohong, kalau ternyata aku memang terluka dan sakit hati dengan kenyataan yang sebenarnya. Bahkan ketika bunda bertanya pun aku jawab agak ketus dan dingin.Tidak mencerminkan sikap ku yang biasanya ceria dan hangat, entahlah tapi itu yang spontan yang keluar tanpa ku sadari.Aku juga tidak berniat untuk sekedar menatap mereka atau pun menyapa mereka, serakah menjawab pertanyaan bunda aku langsung melangkahkan kaki ku ke lantai atas, di mana tempat kamarku berada. Ku buka pintu kamar lalu masuk dan menutup pintu kamar dengan cepat takut bunda akan menyusul. Air mata yang tadi aku coba tahan akhirnya jatuh membasahi pipi, ku coba untuk menahan isak yang akan keluar agar tidak ada orang yang mendengar kalau aku sedang menangis. ku pukul d**a ku pelan untuk mengurangi sesak yang kurasakan, tapi ternyata itu tidak mengurangi sedikit pun beban dan kesedihan yang sedang aku rasakan. Setelah merasa agak tenang aku mengunci pintu dan berniat menuju balkon supaya udara segar bisa masuk, mungkin sedikit mengurangi sesak yang aku rasakan.Namun urung aku lakukan setelah melihat kak siska sedang berlari lalu menghampiri rama di balas dengan senyum manis rama, yang biasanya hanya dia berikan untuk ku tapi sekarang kakak ku juga mendapatkannya. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi yang pasti air mata yang tadi berhenti kini mengalir lebih deras lagi. Rama dengan kak siska saling tertawa bersama, bahkan mereka juga berpelukan. Apa mereka memang sudah tidak memikirkan perasaan aku lagi ? pikir ku dengan tak percaya. Setelah mereka melakukan itu, yang bisa aku lakukan hanya tersenyum getir melihat kelakuan mereka berdua. Tanganku ku kepala erat untuk menyalurkan kebencian dan kesakitan yang aku rasakan. Baiklah jika itu yang kalian inginkan, akan ku berikan. Mulai sekarang aku akan membenci kalian berdua untuk selamanya. Nikmati kebahagian yang kalian bangun dengan menyakiti hatiku, human ku dalam hati sambil menatap mereka dingin ### Setelah kejadian aku yang menyaksikan kak siska dan Rama berpelukan aku memutuskan akan benar - benar melupakan semua kenangan, yang pernah aku miliki dengan Rama. Bukan ikhlas atau aku sudah tidak sakit hati, aku hanya akan menganggap kedua orang itu tidak ada. Aku akan membuat mereka menyesal dan menyadari yang mereka lakukan sangat melukai ku. Waktu makan malam pun tidak, seperti biasa aku berusaha ceria di hadapan kedua orang tua ku. Didepan ayah dan bunda aku harus melakukannya supaya mereka tidak curiga. " Malam bunda..Malam ayah.. " sapa ku seceria mungkin di depan orang tua ku. " Malam sayang, ko tumben tadi kata bunda kamu pulang agak telat..? " kata ayah bertanya padaku.. " Biasa yah.. lagi banyak kerjaan.. ! sahut ku beralasan. sambil mengambil nasi beserta lauk untuk ku santap. " Oh ya lia, ayah minggu besok mau ada perkumpulan untuk naik gunung kamu mau ikut.. ? tanya sang ayah tiba - tiba. Aku berpikir sejenak, apakah aku harus ikut rasanya akan menyenangkan aku bisa sedikit melupakan kejadian baru - baru ini. " Emang bunda gak ikut.. ? " tanya ku pada bunda kemudian melirik kembali pada ayah. " Bunda mau ke rumah bude rina, kan ayu mau lamaran.. ! " jawab bunda. " Emm.. Boleh deh dari pada aku di rumah gak ada kegiatan.. " jawab ku setelah aku memikirkannya. " Tenang saja di sana juga banyak anak - anak muda kok.. ! " canda ayah dengan senyum jail. " Hush ... Ayah ini lia kan sudah ada Rama, ayah lupa y.. " Ibu mengingatkan. Ayah melirik bunda seraya berpikir. " Lia dah putus kok bunda.. ! Iya kan kak.. ! " ucapkan sambil menatap kak siska yang dari tadi terus diam tidak bergabung berbicara dengan ku maupun ayah dan bunda. Kak siska gelagapan mendapat pertanyaan dari ku yang pasti tidak dia duga. Sebelum dia sempat menjawab aku lebih dulu menyela, " Lia selesai ... ! " ucap ku memotong ucapan yang akan yang akan kak siska yang akan bicara. Aku langsung bangkit dari duduk dan membawa piring bekas makan ke westapel yang ada di dapur. Lalu melangkahkan kaki ku menuju kamar, setelah pamit kepada ayah dan bunda. Aku berdiri di balkon kamar dengan pandangan kosong, menatap entah apa yang aku tatap. Tok... Tok.. Tok.. Bunyi pintu yang di ketuk menyadarkan lamunan ku, ku langkah kan kaki dengan malam ke arah pintu. Tapi aku menyesal telah membuka pintu, di depan sana kak siska sedang menatap ku dengan pandangan yang tak bisa aku baca. " Lia kakak ingin bicara, sebentar..kakak mohon..! " mohon kak siska dengan ekspresi sendu. Aku tidak menjawab hanya menatap dingin dengan sebelah alis aku angkat agak tinggi. " Kakak akui kakak salah, karena menerima cinta Rama, tapi kakak juga tidak bisa membohongi kalau kakak juga tertarik dengan Rama.. " aku kak siska tanpa merasa bersalah. " Jadi kakak merasa perbuatan kakak dan Rama itu benar.. menusuk adik sendiri dari belakang itu di diperbolehkan.., ? tanya ku dingin menanggapi perkataan kak siska. Ku lihat kak siska tidak bisa menjawab pertanyaan yang ku ucapkan " Tapi... Tapi kami saling mencintai lia.. Apa salah kalau kami mempertahankan apa yang kami rasa.. ? " pertanyaan tak tahu malu yang di ucapkan kak siska membuat ku terkekeh lucu dengan jawabannya. " Ha... Ha... Ha.. kalau begitu lanjutkan saja, aku menyumbangkan laki - laki tak setia itu pada kakak.. ! " jawab ku dengan nada mengejek. " Tapi semoga nasib kakak tidak seperti aku.. " Setelah berkata begitu ku tutup pintu kamar ku langsung, tanpa sempat kak siska membalas ucapan ku. Walaupun sudah aku tahan, tapi ternyata air mata ku tidak bisa aku cegah untuk keluar, mungkin mewakili sakit yang di rasakan hati memang perih. by cha88.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD