Wabah DBD dan hadirnya Baby Winnie

2698 Words
Reynold pun tersenyum getir dengan penolakan Hanen,Yogi hanya tersenyum mendengar pertarungan sengit Reynold dan Hanen. sesampainya di rumah Hanen pun langsung berlari dan masuk kerumah mencari Gilang "papa Hanen pulang, papa dimana pa" Gilang yang mendengar suara Hanen keluar dari kamarnya dan memeluk putri kesayangannya "Hanen,kamu masih hidup nak,ada apa dengan wajah mu, kenapa banyak luka,apa yang dilakukan nya kepada mu" Gilang pun menatap Reynold, dan melayangkan tinjunya ke wajah Reynold "kami tidak melakukan kesalahan apapun tapi kau menembak ku dan menyiksa putri ku juga dan kau masih berani menginjakan kaki mu didalam rumah ku" Reynold tidak menjawab ataupun membalas karena dia tau kesalahan nya fatal sekali " aku minta maaf tuan Gilang,pukul lah aku sesuka hati anda, asalkan ada maaf yang ku dapat atas kesalahan saya" Yogi terkejut melihat Gilang berani meninju Reynold, tapi itu sangat pantas untuk Reynold karena sudah menembak dan memukuli orang yang tak bersalah" kami pamit tuan, Hanen dan jaga diri kalian baik baik, kami minta maaf atas semua kekacauan ini" Hanen menahan Gilang supaya menahan amarahnya dan kasihan melihat wajah Reynold yang memar "Rey kamu tidak apa-apa kan,tunggu sebentar Rey" Hanen mengambil kotak P3K nya dan memberikan obat pada wajah Reynold Gilang diam saja karena anaknya dokter harus mengobati siapa saja sesuai pesan nya Reynold menatap wajah Hanen yang luka akibat ulahnya "maafkan aku Hanen, semoga kita bisa bertemu dengan keadaan yang sudah baik dan kau mau memaafkan ku suatu saat nanti" Hanen mengobati semua luka Reynold dan memberikan salep ke tangan Reynold untuk dibawa nya "oles setiap hari supaya cepat sembuh dan tidak berbekas" Reynold pun membuka salep yang diberikan Hanen dan mengolesinya ke luka memar Hanen "kau juga obati lukamu, jangan hanya memikirkan orang lain sesekali pikirkan dirimu" Tanpa sadar air mata Reynold hampir menetes melihat semua luka di wajah Hanen,d**a Reynold serasa sesak melihat kejahatan nya di wajah Hanen, Reynold mengoleskan semuanya,setelah itu Yogi dan Reynold pamit pada Gilang, mereka keluar dari rumah Gilang dan Reynold merasa sedih meninggalkan Hanen dan mungkin tidak akan bertemu lagi Yogi memancing Reynold untuk jujur "sudah ada cinta di dalam mu hati Rey, wajah mu seperti sedih meninggalkan Hanen" Reynold tidak mengerti akan perasaannya yang tiba-tiba hangat akan kehadiran Hanen "tidak akan pernah ada cinta untuk siapapun,karena aku hanya menggunakan wanita sebagai teman minum dan teman ranjang ku saja" jawaban Reynold untuk menutupi gengsinya Yogi pun mengangguk saja tapi tidak yakin sama sekali dengan ucapan Reynold "semoga kau benar tidak menyimpan perasaan kepada Hanen, karena Hanen berhak mendapatkan Pria yang lebih baik lagi" sesampainya Reynold dan Yogi dirumah,mereka pun membahas untuk mengganti keamanan rumah dan menghabisi Wenzar "kita mulai dengan keamanan rumah dulu,aku tidak mau ada penyerangan lagi seperti tadi,itu sangat berbahaya,untung Hanen dan yang lain tidak terluka" Reynold pun berbicara sambil sibuk dengan laptopnya "iya kita buat semua pengaman rumah ini dari baja, supaya tidak bisa ditembus peluru" Yogi pun mengusulkan cara itu supaya rumah lebih aman "iya, kemudian kita lapis ini semua dengan kaca anti peluru, supaya taman dirawat dengan benar dan juga danau kecil di belakang rumah bisa di gunakan lagi" Reynold memang menyukai nuansa alam di rumahnya "akan aku kerjakan, meskipun cukup lama untuk pengerjaan nya" Yogi hanya menurutinya dan mengurus semuanya Reynold pun menyalakan TV nya dan mencari berita yang tadi di tonton Hanen,dan dia melihat wabah DBD sudah semakin parah dan para sukarelawan mulai tertular. "Hanen,tidak usah ke tempat ini,itu bisa membahayakan nya" Reynold berbicara pada dirinya sendiri di rumah Gilang "papa, Hanen akan jadi relawan untuk mengatasi DBD di desa terpencil besok,papa tidak masalah kan Hanen tinggalkan" Hanen izin kepada Gilang untuk pergi ke desa itu "tidak nak, jangan tinggalkan papa lagi,itu penyakit menular dan berbahaya nak" Gilang menolak permintaan Hanen dia tidak mau kehilangan putrinya lagi "Hanen ini dokter pa,banyak nyawa yang bisa selamat jika Hanen bisa membantu" Hanen memaksa Gilang supaya di izinkan "tidak nak,papa tidak mau,kamu harta papa yang paling berharga" Gilang meninggalkan Hanen dan masuk kedalam kamarnya "papa kenapa jadi sedih gitu sih,kan dulu aku biasa pergi untuk jadi sukarelawan" Hanen naik ke atas menuju kamarnya untuk membersihkan dirinya di rumah Reynold Reynold yang sedang sibuk bekerja menerima telfon dari rumah sakit tempat Hanen bekerja "selamat malam pak,maaf jika saya mengganggu waktu bapak" suara perawat wanita terdengar dari seberang sana "ada perlu apa menelfon malam begini" kata Reynold yang melihat jam di tangannya "begini Pak besok akan ada sukarelawan medis yang akan berangkat ke desa yang terkena wabah DBD,kami sedang membuka rekening untuk membantu para pasien disana baik berupa makanan,minuman,obat obatan dan pakaian pak" perawat itu menjelaskan maksud nya menelfon "boleh saya tau siapa saja yang pergi untuk menjadi sukarelawan" Reynold takut jika ada nama Hanen disana "Dokter Hanen, Dokter Jimi, Dokter Erik dan para perawat lainnya juga pak" perawat itu memberitahu Reynold "coret nama Hanen dan ini rahasia,maka saya akan menyediakan semua yang kalian butuh kan,dan juga helikopter untuk mengantar langsung bantuan yang diperlukan" Reynold tidak mau Hanen pergi ke sana "kalau begitu bapak akan saya sambungkan dengan kepala rumah sakit kami" kemudian perawat itu menyambungkannya "bapak Soni,saya akan menjadi donatur tetap sampai wabah itu berakhir tapi jangan kirim Dr Hanen kesana karena kondisinya kurang memungkinkan untuk kesana" Reynold pun berbicara pada Soni "itu akan saya urus pak Rey, Dr Hanen akan menjadi pemantau dari rumah sakit saja" Soni memberikan keputusannya dan Reynold setuju. Reynold selalu menjadi donatur untuk rumah sakit manapun sekalipun dia mafia terkejam "kau tidak boleh pergi Hanen aku takut kamu celaka" Reynold melanjutkan pekerjaannya Hanen pun menerima telfon dari Soni,dan memberitahu jika dia hanya sebagai pemantau obat dan makanan saja tidak ikut terjun ke desa. "pak Soni jangan seperti itu saya kan seorang dokter,saya mau terjun langsung ke lapangan pak" Hanen mencoba tenang menjawab Soni. "mau bekerja sebagai dokter dirumah sakit atau anda silahkan istirahat di rumah saja" Soni menekankan kata katanya pada Hanen "ya sudah pak saya terima tawaran bapak" Hanen pasrah saja karena dia tidak mau jadi pengangguran keesokan harinya Reynold datang untuk menyerahkan bantuan yang dijanjikannya dan sudah ada helikopter yang disediakan untuk mengangkat tenaga medis ke desa itu "Dokter Jimmi disini semua sudah ada obat obatan lengkap jadi anda tolong tangani pasien yang membutuhkan bantuan,dan jangan tebang pilih" Hanen berpesan pada Jimmi kekasih hatinya "Dokter Hanen,saat saya kembali dari desa itu saya akan menikahi mu segera" Jimmi memang sangat mencintai Hanen Reynold mendengar semuanya dan merasa panas dihatinya dan tersenyum sinis "semoga wabah itu tidak berakhir dan kau tidak usah pulang sekalian" para tenaga medis yang akan berangkat ke desa itu berkumpul di lapangan untuk melepas kepergian mereka "aku ingin sekali kesana langsung mengobati mereka semu" Hanen duduk di ruangannya dan memantau lewat laptop nya. sedangkan Reynold masih melihat lihat anak baby yang ada di rumah sakit itu "kamu lucu sekali sayang". Hanen yang keluar dari ruangan nya melihat Reynold tersenyum melihat ruang bayi "jangan dekati mereka,aku tak mau mereka ketularan sikap jahat mu "apa aku begitu hina di matamu Dokter Hanen" Reynold merasa sedih dengan ucapan Hanen, ternyata belum ada maaf yang didapat Reynold Hanen tidak menjawab Reynold dan ikut melihat anak bayi lucu di ruang bayi "Dokter Hanen,tolong ada pasien yang harus segera melahirkan cepat tolong kami" teriakan seorang perawat membuat Hanen panik dan Reynold melihat Hanen berlari meninggalkan nya untuk menyelamatkan pasien nya "semoga kau berhasil Hanen, pergunakan tangan mu yang suci itu untuk menolong banyak orang" Reynold melihat Hanen yang berlari dan tersenyum Reynold penasaran dengan pasien yang akan ditangani Hanen,dia pun melihat seorang ibu muda yang mengalami pendarahan diatas tempat tidur yang sedang di dorong oleh para perawat '"cepat bawa dia ke ruang bersalin" Hanen berlari menuju ruang bersalin untuk menyiapkan dirinya "ini menyakitkan Dokter,aku tidak kuat. Aku mohon bantu aku" pasien wanita yang menahan sakit sudah menjerit kesakitan sekali "tolong bersabar ibu kita akan mulai, jangan berteriak itu akan membuat tenaga anda berkurang" Hanen memeriksa jalan kelahiran sang anak yang sudah cukup untuk dilahirkan normal. "suster ambil 10 kantong darah,sudah banyak darah yang keluar dari jalan lahir nya" Hanen melihat kondisi ibu sudah tak berdaya ibu muda itu pun mengejan sesuai perintah Hanen tapi tenaga nya sudah habis dan dia mulai hilang kesadaran para suster sudah panik dan menggerakkan pipi ibu muda itu agar tidak menutup matanya karena bayi kecil itu belum keluar dari perut ibu nya "jangan tutup mata mu aku mohon,ibu harus bertahan demi anak yang tak berdosa ini aku mohon" Hanen pun dengan sabar dan memberikan dorongan pada perut ibu muda untuk membantu bayi itu keluar, setelah lama menunggu akhirnya Hanen berhasil mengeluarkan bayi mungil itu. "kenapa dia tidak menangis dokter,lihat nafasnya mulai terhenti henti" perawat memberi tahu Hanen dengan perasaan cemas Reynold yang melihat dari kaca mulai gusar sekali melihat bayi dan ibu nya sama sama dalam keadaan bahaya, Reynold merasa sedih melihat bayi kecil yang tak berdaya Hanen pun memasukkan selang kedalam tenggorokan bayi itu dan memompanya supaya air ketuban yang masuk ke paru paru nya keluar sementara ibu bayi sedang ditangani para perawat. "sayang kita sama sama berjuang nak,aku mohon jangan jadikan aku dokter yang gagal menyelamatkan mu, izinkan aku mendengar suara tangisan mu untuk pertama kali,kau masih punya aku di sini" Hanen memompa pelan d**a bayi kecil itu Reynold kasihan melihat Hanen yang sedang berjuang keras ditambah lagi luka memar yang belum hilang dari wajah Hanen "bertahan lah nak,kamu sedang ditangani oleh dokter yang sangat baik dan cantik,jika kamu bertahan aku akan membelikan mu banyak boneka,aku akan menjadikan mu anak ku, tapi tolong selamatkan diri mu dan Dokter cantik yang sedang menunggu tangisan mu" Reynold memohon pada bayi yang lemah itu Dan semua gagal bayi lemah itu pergi menyusul ibunya yang sudah tak bisa diselamatkan tadi, Hanen meletakan bayi mungil itu di atas tempat tidur di samping ibu nya. Hanen menangis dan keluar dari ruangan bersalin,dia terduduk lemas di lantai tidak memperdulikan Reynold yang ada disampingnya "aku baru bekerja tapi tidak ada yang bisa ku selamatkan,dokter macam apa aku ini? 2 nyawa melayang sekaligus" Hanen menyalahi dirinya sendiri "kau sudah berjuang semampu mu jangan paksakan kehendak mu jika Tuhan menginginkan bayi itu kembali kepadanya, dia tidak akan punya siapa-siapa jika dia bertahan hidup" Reynold mencoba menenangkan Hanen. "Rey aku berdosa tidak bisa menyelamatkan nyawa bayi itu,dokter macam apa aku ini Rey,aku akan merawatnya Rey jika tadi dia mau hidup untuk ku, aku tidak akan membiarkan dia sebatang kara di dunia yang kejam ini" Hanen menangis dan memeluk Reynold, tangisnya semakin pecah "aku juga akan merawatnya tadi jika dia mau hidup, ikhlaskan lah Hanen masih banyak yang menunggu bantuan mu,dia sudah berada di tempat yang lebih baik lagi" Reynold pun menyemangati Hanen dan mengelus rambut Hanen agar dia tenang "kita akan merawatnya tadi Rey jika dia mau hidup" Hanen menangis dipelukan Reynold dan Reynolds pun senang dipeluk Hanen,bak mendapat durian runtuh "owek owek owek" tangisan bayi yang tadi sudah pergi itu kembali untuk Hanen dan Reynold setelah doa mulia yang mereka panjat kan. "Dia menangis Hanen dengar lah" Reynold menggoyangkan badan Hanen "dia hidup Rey" Hanen masuk kedalam lagi dan memakai maskernya,air mata Hanen tidak berhenti membasahi pipinya Reynold melihat lagi dari kaca dan Hanen memeluk anak bayi itu dengan perasaan bersyukur nya "terimakasih sayang, kamu sudah kembali untuk ku, aku akan menjagamu nak" Hanen sudah membungkus tubuh bayi itu dengan kain bedongnya dan menggendong nya sambil tersenyum kepada Reynold "bayi mungil itu pun tau jika kau Dokter yang sangat baik dan Tuhan langsung menjawab doa mu Hanen" Reynold mengusap kaca ruangan itu perawat mengurus mayat ibu muda itu karena suaminya sudah meninggal 3 bulan yang lalu, maka rumah sakit pun akan menguburkannya secara layak bayi itu pun dibawa keruang bayi beruntung hanya dia anak perempuan diruangan itu jadi Reynold tidak payah untuk mencarinya dan dia tidak akan mungkin tertukar "hallo sayang, terimakasih sudah datang kembali,kamu mau kan dirawat oleh Dokter Hanen dan aku" tangan Reynold memegang tangan mungil bayi itu "Rey jangan pegang sebelum cuci tangan dia bisa alergi" Hanen memperingati Reynold "apa aku terlalu kotor Dokter Hanen sehingga tidak bisa menyentuh tangan nya saja" Reynold protes pada Hanen Hanen pun tersenyum pada Reynold, sepertinya Reynold salah sangka dengan ucapannya "kesini lah Rey" Hanen menarik tangan Reynold dan mencuci tangan Reynold dan dia memberikan bayi mungil itu untuk digendong Reynold setelah memakai masker "hai anak baik,apa tadi kau mendengar doa kami berdua hingga kau menangis,kau ingin menunjukkan kalau kau memang ingin kami rawat,kau memang perempuan yang sangat-sangat tangguh seperti dokter Hanen" Reynold sengaja mengatakannya agar Hanen tidak lupa. "kamu mau kan dibesarkan oleh om Reynold dan mommy Hanen" Hanen berbicara sambil memegang botol s**u yang diminum bayi itu "aku bukan om nya,aku adalah Daddy nya" Reynold tidak mau kalah dan Hanen tertawa "siapa namanya Rey" Hanen ingin cepat mengurus surat-surat untuk mengadopsi anak itu sebelum diambil orang lain dan dia tidak sadar bersandar di tangan kekar Reynold "Winnie Hanen Anggara tuliskan nama itu di surat nya nanti Hanen,dia akan memakai nama itu" Reynold mencium pipi Winnie "ha, kenapa ada nama ku dan nama mu" Hanen merasa keberatan dengan nama yang diberikan Reynold "artinya dia menang melawan kematian dan hidup untuk kau dan aku" Reynold menjelaskan makna nama itu Hanen pun tersenyum melihat Winnie yang kuat sekali minum dan dia mengambil Winnie dari tangan Reynold dan menepuk punggung bayi mungil itu pelan dan dia pun bersendawa Reynold tertawa melihat wajah Winnie yang mengantuk dan tertidur kemudian setelah kenyang Hanen membawa Reynold untuk menandatangani surat surat adopsi Winnie dan Reynold menyuruh Aston mengawasi anaknya Winnie agar tidak ada yang mendekat kepada nya "silahkan masuk pak Reynold Anggara" Soni kepala rumah sakit berdiri dan menyalami Reynold. "bagaimana keadaan bapak apakah sehat" Reynold pun mulai basa basi kepada Soni agar urusan Winnie cepat di selesai kan "seperti yang bapak lihat,saya sekarang sangat senang dan sehat,karena dana yang bapak berikan dulu tidak tau entah kemana rimbanya, tapi berkat bapak semua sudah dipertanggungjawabkan oleh pihak yang memakai nya untuk berfoya-foya" Soni ditunjuk langsung oleh Reynold karena dia tau kejujuran Soni dalam mengurus keuangan "syukurlah pak, maksud dan tujuan saya kesini saya ingin mengadopsi bayi perempuan tadi yang dilahirkan tanpa orang tua lagi,saya sangat Ingin mengadopsi anak itu menjadi anak angkat saya,apa bapak keberatan dengan permintaan ini" Reynold langsung menanyakan pada Soni sedangkan Hanen diam saja. "dia sebatang kara sekarang dan saya sangat percaya kepada pak Reynold" Soni senang anak bayi itu akan di tangan Reynold sehingga bayi itu tidak akan kekurangan apapun "saya akan membesarkan anak itu dengan manja dan memberikan semua yang dia mau" Reynold tersenyum dengan senang saat pak Soni mengambil surat surat yang harus ditandatangani,Hanen menginjak sepatu Reynold dan melotot "dia tidak akan manja, dia harus dibesarkan dengan tegas dan disiplin" Hanen tidak suka Winnie akan dimanjakan berlebihan "kalau begitu kau suruh sekarang dia untuk belajar jangan tidur terus" Reynold protes pada Hanen "dia masih bayi Rey,tunggu dia besar dulu baru belajar" Hanen menggelengkan kepalanya dan mengurut pelan dahinya "ya sudah aku akan memanjakan nya menunggu dia besar" Reynold menyelesaikan perdebatan panjang mereka "maafkan saya pak, sesuai prosedur yang ada, wali perempuan dari bayi itu siapa pak" Soni tidak bisa memberikan bayi itu jika tidak ada wali perempuan nya "Dokter Hanen yang akan jadi wali nya" Reynold melihat pada Hanen "ya pak,saya wali perempuan nya dan pak Reynold wali prianya" Hanen membenarkan ucapan Reynold "kalian berdua orang tua angkat bayi itu sekarang dan silahkan ini semua Dokter Hanen" Soni memberikan beberapa kertas dan Hanen pun mengisinya Reynold pun sibuk dengan hp dan pekerjaan nya,saat Reynold bekerja dia sedang negosiasi dengan satu perusahaan besar karena ada masalah dengan preman preman yang mengusik karyawan nya. "aku akan selesaikan dengan cepat dan uang sudah aku terima" Reynold tersenyum senang sekali ditambah lagi akan ada tangisan anak bayi di dalam rumah nya setiap hari "jika aku pulang akan ada Winnie dan Hanen yang menyambut ku dirumah, terimakasih Tuhan lagi lagi kebaikan berpihak kepada ku" Reynold menikmati wajah cantik Hanen yang sedang serius mengisi data data Winnie
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD