Kapal masih terus berjalan mengarungi laut menuju ke laut selatan Yogyakarta, perjalanan diperkirakan memakan waktu 10 sampai 12 jam, dikarenakan kondisi laut memang sedang tidak memungkinkan, karena cuaca hujan dan ombak sangat tinggi.
Di dalam sebuah ruangan ViP kapal itu, dimana di ruangan itu sangat terlihat rapi dan begitu canggih, beberapa dinding ruangan dipenuhi layar lcd dan radar canggih tentang informasi perjalanan kapal canggih tersebut, dan interior di dalamnya juga sangat canggih dengan beberapa teknologi komputer berbasis Ai, tidak lupa di ruangan itu ada beberapa jendela yang bisa langsung melihat keadaan laut dan itu ternyata ruangan VIP milik Joe Takeshi, ia tampak kala itu sedang mengobrol serius dengan Dr Ziyad perihal tentang ekspedisi MBLA (Misi Bawah Laut Atlantis) yang sedang mereka lakukan saat ini,
“ Bagaimana dok, sejauh mana keyakinan anda jika misi kita ini, akan berhasil, jujur dengan presentasi yang anda lakukan di depan saya beberapa tahun yang lalu, ada memang keyakinan jika ini akan berhasil…”. Joe Takeshi berbicara dengan Dr Ziyad sambil merokok dan meminum kopi nya.
“ Saya yakin sekali Mas Joe… karena ini memang sudah impian saya dari dulu mencari misteri di balik peta kuno ini, dan saya yakin jika ini ada kaitannya dengan peradaban nabi Sulaiman dan kota Atlantis yang tenggelam, dan saya yakin peta kuno ini mengarah ke hal tersebut
…”. Dr Ziyad menjawab dengan rasa optimis dan sangat yakin.
“ Saya paham dengan keyakinan anda, tapi atas dasar apa anda mengatakan peradaban Nabi Sulaiman ada kaitannya dengan kota Atlantis yang tenggelam… saya agak penasaran akan hal itu…”. Joe Takeshi langsung menanggapi dengan rasa penasaran.
Dr Ziyad menarik nafas panjang dengan tersenyum berkata…,“keyakinan saya berdasarkan Al-Qur'an dan cerita ilmiah kuno, dan itu menjadi landasan berfikir saya dimana peradaban Nabi Sulaiman ada kaitannya dengan kota Atlantis yang selama ini menjadi cerita mitologi kuno, dan dalam penelitian Saya di Piramida Mesir kuno saya menemukan peta Bawah laut kuno ini dan peta bawah laut kuno ini menunjukkan ada istana yang tenggelam, keyakinan saya itu adalah istana atau peradaban Sulaiman, dan setelah saya tinjau lebih jauh ternyata letak geografis ada di sekitar laut Utara dan Selatan Indonesia, seperti yang kita bahas beberapa tahun yang lalu…”.
Dr Ziyad Al-Faruqi menjelaskan dengan panjang lebar pertanyaan dari Joe Takeshi, dan Joe Takeshi sendiri diam mendengar kan penjelasan itu dengan seksama sambil menghisap rokoknya dan meminum kopinya sesekali.
sambil serius dan menatap tajam Joe Takeshi bertanya ke Dr Ziyad, “ apakah doktor yakin akan hal, apa benar peradaban Sulaiman itu memiliki teknologi canggih?”.
Sambil tersenyum tenang, Dr. Ziyad menjawab, “Aku yakin. Di dalam Al-Qur’an banyak ditulis bagaimana teknologi di zaman Nabi Sulaiman sangat maju dan berkembang. Salah satu contohnya adalah bagaimana angin tunduk padanya. Dalam Surah Saba ayat 12, Allah berfirman: Dan (Kami tundukkan) bagi Sulaiman angin yang perjalanannya di waktu pagi sebulan dan perjalanannya di waktu sore sebulan…”
Suasana sempat hening sejenak, Joe tetap fokus mendengarkan penjelasan dan jawaban dari Dr Ziyad, sambil berpikir keras dan memahami jawaban dari Dr Ziyad,
Dr Ziyad kembali menjelaskan dan melanjutkan kan pembicaraan,“Coba pikirkan, Mas Joe. Perjalanan yang normalnya memakan waktu sebulan, bisa ditempuh hanya dalam setengah hari. Itu artinya ada teknologi transportasi kecepatan tinggi, dan kendalinya ada pada Sulaiman dan ini jika masuk dalam ilmu sains modern teknologi itu adalah pesawat terbang dimana dalam penjelasan sains aerodinamik itu masuk dalam hukum fisika dimana elemen pesawat terbang bisa menaklukan angin….”
Joe Takeshi mencondongkan tubuhnya, tertarik dengan jawaban menakjubkan tentang ayat Al Quran yang menjelaskan tentang nabi Sulaiman.
“Jadi maksud Anda, dia seperti teknologi kendaraan udara yang kita kenal di era modern adalah pesawat terbang?”
“Bisa jadi,” jawab Dr. Ziyad, matanya tajam menatap layar radar dan sambil tersenyum tenang.
Kemudian kepala Dr Ziyad menoleh ke Joe Takeshi sambil tersenyum dan berkata “Atau bahkan sesuatu yang melampaui itu. Kendali gravitasi? Manipulasi medan angin? Kita belum tahu pasti. Tapi pola sains-nya ada, memang pada masa itu ditafsirkan oleh para ahli tafsir kuno dengan makna Sulaiman naik permadani terbang atau singgasana terbang, karena memang di zaman itu belum mengenal teknologi pesawat terbang, makanya diartikan dengan permadani terbang atau singgasana terbang agar bisa dipahami dan dimengerti, tapi jika ditafsirkan dalam sudut pandang sains modern itu teknologi pesawat terbang”.
Suasana kembali hening hanya terdengar suara radar sonar digital Ai yang terdengar dan samar suara ombak di luar karena memang cuaca lagi mengalami gelombang tinggi karena hujan deras.
Dr Ziyad kemudian kembali bertanya ke Joe takeshi, “ bagaimana menurut mas Joe penjelasan saya, apakah kurang memuaskan atau memang membuka logika berpikir yang baru..? jika iman dan akal memang satu kesatuan bukan saling berseberangan justru jadi satu kesatuan kerangka berpikir”
Joe menarik nafas panjang dan langsung menjawab “ Anda benar Dok… dari jawaban anda barusan membuat logika saya menjadi terbuka dan memang Iman dan akal itu bisa jadi satu kesatuan yang saling melengkapi dan tidak berseberangan…”.
Dr Ziyad tersenyum lebar mendengar jawaban dari Joe Takeshi barusan.
Dan setelah itu…
Joe Takeshi tiba-tiba saja bertanya kembali “Lalu… bagaimana dengan pemindahan istana Ratu Bilqis? Saya dengar Anda pernah menyebut itu juga sebagai bukti mesin teknologi tingkat tinggi?"
Dr. Ziyad mengangguk mantap.
Dan Dr Ziyad langsung menjelaskan,
“Surah An-Naml ayat 40. Seorang lelaki yang memiliki ilmu dari al-Kitab berkata: ‘Aku akan membawanya kepadamu sebelum matamu berkedip.’ Dan benar, singgasana Bilqis tiba di hadapan Nabi Sulaiman secepat itu.”
Joe terdiam sejenak dan mulai berpikir dalam perihal jawaban dari Dr Ziyad barusan, matanya menatap kosong ke arah laut dari balik jendela kabin. Gemuruh ombak seakan mendukung heningnya.
Lalu kemudian tiba-tiba saja ia bicara pelan, nyaris seperti bertanya pada dirinya sendiri.
“apakah itu Teleportasi?”
Mendengar kata-kata samar dari Joe Takeshi membuat Dr Ziyad tersenyum.
Dr Ziyad berkata dan menanggapi sambil tersenyum “Atau mungkin... perpindahan dimensi. Kita belum bisa membuktikannya secara teknis dan penelitian ilmiah sains, tapi secara konsep teori ilmiah sains? Sangat mungkin, Ini bukan sihir, Mas Joe. Ini ‘ilmu pengetahuan dari kitab suci’. dan Bahasa Qur’annya jelas tidak multi tafsir.”
Joe mengangguk perlahan menandakan ia setuju dengan jawaban dari Dr Ziyad, kepalanya penuh dengan analisa.
Entah kenapa tiba-tiba Joe Takeshi kembali bertanya “Dan Bilqis kaget melihat lantai istana?”
“Ya,” sahut Ziyad cepat dengan senyuman lebar.
Dan Dr Ziyad langsung menjawab “Ayat 44 Surah An-Naml. Bilqis disuruh masuk ke dalam istana, dan ketika dia melihat lantainya, dia mengangkat pakaiannya karena mengira itu kolam air. Padahal itu lantai kaca.”
Setelah mendengar jawaban dari Dr Ziyad maka Joe Takeshi tersenyum sambil berkata, “Arsitektur futuristik.”
Dr Ziyad langsung menanggapi “Betul. Coba pikirkan. Kaca sebening air? Pada zaman kuno? Kita saja baru memproduksi bahan seperti itu dalam skala besar beberapa dekade terakhir.”
Joe Takeshi akhirnya berdiri dan berjalan pelan ke arah layar radar digital Ai yang menampilkan topografi laut dalam. Tangannya menyentuh layar.
Dan Joe Takeshi langsung berkata “Kalau memang benar… reruntuhan ini bukan hanya sisa peradaban. Tapi jejak teknologi masa depan yang pernah ditinggalkan masa lalu.”
Ziyad mengangguk cepat dengan senyuman lebar dan langsung berkata, “Dan jika itu milik Nabi Sulaiman… maka kita sedang berada di ambang membuka kembali pengetahuan yang dulu pernah menghubungkan langit dan bumi.”
Keduanya saling menatap dalam diam. Di luar, badai masih mengguncang lautan. Tapi di dalam kabin itu, keyakinan mulai menumbuhkan cahaya baru — bahwa ekspedisi ini bukan sekadar pencarian fisik. Tapi juga pencarian kebenaran besar yang selama ini tersembunyi di balik tirai sejarah, kitab suci, dan laut yang dalam.
Tak terasa sepuluh jam telah berlalu, dan ini tandanya misi akan segera dimulai.
Setelah sepuluh jam perjalanan penuh
guncangan ombak dan hujan deras, akhirnya kapal Super Atlantis mendekati koordinat utama yang ditandai dalam peta kuno yang ditemukan Dr. Ziyad. Laut mulai sedikit tenang meski langit masih kelabu.
Di ruang observasi utama, monitor menunjukkan data sonar dan kedalaman laut di bawah mereka. Detak jantung semua anggota tim terasa meningkat. Mereka tahu… ini bukan misi biasa, dimana ini puncak misi MBLA (Misi Bawah Laut Atlantis) akan segera dimulai, dimana akan ada penemuan yang akan menggemparkan dunia, Dr Ziyad dan Joe Takeshi tampak terlihat jelas jika mereka berdua dalam kondisi tidak karuan karena saat inilah pembuktian apakah benar peta kuno yang ditemukan Dr Ziyad adalah nyata adanya.
“Koordinat utama… tepat di bawah kita, kedalaman 11.800 meter,” ujar Kapten Santoso sambil menatap layar sonar.
Dan Kapten Junanto berdiri gagah mengenakan seragam kapal selam, mengangguk kepada Joe Takeshi dan Dr. Ziyad. “Kita siap. Kapal selam Aqua Prime sudah di hangar bawah. Siap untuk pelepasan kapan pun.”
Joe Takeshi menatap Dr. Ziyad. sambil berkata “Kita masuk sekarang?”
Dr. Ziyad mengangguk mantap. “Ya. Tim utama ikut. Aku, kamu, dan empat ilmuwan pendamping.”
Tak lama kemudian, seluruh tim inti bergerak menuju dek bawah. Lift khusus membawa mereka ke ruangan hanggar kapal selam. Di sana, Aqua Prime — kapal selam silinder canggih berwarna biru baja — sudah siap dengan segala perlengkapannya.
Tim yang ikut turun:
Dr. Ziyad Al-Faruqi
Joe Takeshi
Dr. Ahmad Kahfi
Dr. Maria Casanova
Dr. Zee Andini
Kapten Junanto
Dua teknisi pengemudi kapal selam, serta tiga belas a*k kapal selam.
Mereka mengenakan pakaian selam berteknologi tinggi, lengkap dengan sensor vital dan komunikasi. Saat pintu Aqua Prime tertutup rapat, suara sistem otomatis terdengar:
"System secured. Initiating descent sequence." terdengar suara Ai mengatakan itu.
Kapal selam mulai turun perlahan. Laut di luar jendela semakin gelap. Mereka menyusuri kedalaman yang tak pernah dijelajahi manusia sebelumnya.
Setelah hampir dua jam penyelaman, tiba-tiba…
“Hentikan! Ada struktur bangunan sana… seperti bongkahan bangunan kuno bawah laut..!!!!” teriak Dr. Zee Andini menunjuk layar radar.
Semua langsung menoleh ke luar jendela kapal selam. Terlihat samar… bayangan seperti bangunan batu raksasa… berdiri kokoh di dasar laut yang sunyi.
Drone bawah laut segera dikerahkan. Lampu sorotnya menyala menerangi kegelapan. Apa yang mereka lihat membuat semua terdiam.
Dinding batu besar dengan ukiran tak dikenal… menyerupai gerbang raksasa.
Ada tiang-tiang dan bekas bangunan runtuh… seolah-olah pernah menjadi kota megah.
“Masya Allah…” gumam Dr. Ziyad pelan, matanya berkaca, ia takjub dan tidak menyangka sama sekali apa yang terlihat jelas oleh matanya.
Joe Takeshi pun terdiam, wajahnya menegang antara rasa kagum dan tak percaya.
Dr. Maria berkata pelan, “Struktur ini… bukan buatan alami. Ini… buatan tangan. Tapi bukan teknologi modern.”
Dr. Ahmad Kahfi yang sejak tadi menatap layar tablet yang membandingkan simbol kuno bersuara lirih,
Dan Dr Ahmad Kahfi langsung berkata “Beberapa ukiran ini mirip aksara kuno Ibrani... dan... ada satu ukiran yang menyerupai nama Sulaiman…”
Semua saling menatap dan terdiam sambil menarik nafas panjang.
Dr. Ziyad menutup matanya sejenak, lalu berkata pelan, “Kita baru saja menemukan... jejak peradaban Sulaiman yang tenggelam.”
Bersambung