Langit sore di Laut Selatan mulai berubah warna, berganti dari biru cerah menjadi jingga keemasan. Ombak bergulung perlahan, memantulkan cahaya matahari yang mulai condong ke barat. Di atas dek kapal riset Super Atlantis, suasana hening namun penuh konsentrasi.
Di ruang kendali utama, Dr. Ziyad Al-Faruqi menatap layar sonar dengan tatapan tajam. Di sampingnya, Joe Takeshi, sponsor utama ekspedisi MBLA, berdiri dengan tangan disilangkan, mencoba memahami pola-pola aneh yang tertangkap alat sonar.
“Ini… ini bukan formasi alami,” gumam Dr. Ziyad, menunjuk bayangan simetris di kedalaman layar.
Dr. Zee Andini, sang sejarawan muda, membungkuk di belakang mereka. “Terlalu teratur untuk batuan vulkanik… seperti pilar atau kolom.”
Joe mengangguk. “Apakah kita sudah masuk ke zona yang diyakini sebagai pusat peradaban bawah laut itu?”
Dr. Ziyad menarik napas panjang. “Tepat di koordinat ini... Berdasarkan referensi dari manuskrip kuno dan data geologi, inilah titik pusat kemungkinan reruntuhan istana yang disebut-sebut dalam legenda sebagai peninggalan dari zaman Nabi Sulaiman.”
Suasana semakin tegang ketika Kapten Junanto, pemimpin tim kapal selam, memasuki ruangan.
“Kami sudah siapkan dua unit drone bawah laut. Siap diturunkan sekarang,” lapornya tegas dan keluar dari mulut Kapten Junanto.
“Laksanakan…!!!” jawab Joe mantap.
Di geladak belakang kapal, dua buah drone bawah laut berteknologi tinggi yang diberi nama Sheba-One dan Jinn-42 perlahan diturunkan ke laut. Setiap perangkat dibekali sonar 3D, kamera resolusi ultra tinggi, serta sistem pemetaan geospasial otomatis.
Detik-detik berlalu dalam ketegangan. Gambar yang ditangkap drone mulai muncul di layar monitor.
Tiba-tiba, semua mata terpaku.
Sebuah struktur muncul di layar—sebuah gerbang batu besar yang dipenuhi ukiran tak dikenal. Di belakangnya, bayangan seperti lorong memanjang masuk ke kedalaman bumi.
“Subhanallah…” ucap Dr. Ahmad Kahfi lirih, menyilangkan tangan di d**a. “Ukiran ini… mirip aksara kuno yang disebut dalam tafsir Quraish tentang ‘bangunan tinggi Sulaiman’.” kembali Dr Ahmad Kahfi melanjutkan perkataannya.
“Lihat di sisi kanan gerbang!” berkata secara tiba-tiba Dr. Ali Baba. “Ada patung singa… dan ini, seperti makhluk bersayap.” ia tampak takjub sekali.
Drone memperbesar gambar. Makhluk itu bukan sembarang ukiran—ia memiliki bentuk manusia bersayap, memegang sesuatu seperti gulungan kitab di tangan kiri, dan tongkat di tangan kanan. Wajahnya menghadap ke atas, seperti menatap langit.
“Mirip deskripsi malaikat dalam teks Yahudi dan Islam,” komentar Dr. Maria Casanova dengan nada takjub.
Joe Takeshi terduduk perlahan. Matanya tak lepas dari layar. dan ia berkata “Kita benar-benar menemukannya…”
Mata Joe Takeshi berbinar bahagia karena memang ia merasa misi MBLA ( Misi Bawah Laut Atlantis) tidak sia-sia.
Tak lama kemudian, layar drone menangkap pemandangan lebih luas. Di balik gerbang batu itu, terbentang kompleks reruntuhan besar: pilar-pilar tinggi yang tumbang, lorong-lorong batu simetris, dan sebuah struktur utama seperti menara menjulang yang kini miring, setengah terkubur lumpur laut.
Peta sonar menunjukkan struktur itu membentang hampir tiga kilometer di dasar laut. Sebagian besar masih utuh, walau tertutup karang dan pasir laut selama ribuan tahun.
“Jika ini benar… maka ini lebih besar dari yang ditemukan di Mesir,” kata Dr. Sherly Chintya, sejarawan dari Inggris, dengan suara nyaris bergetar.
“Bukan hanya besar,” sahut Dr. Ziyad. “Ini… terorganisir. Ada sistem drainase, terowongan… bahkan jaringan jalan yang mengarah ke pusat. Ini adalah kota!”
“Krek…!!!”
Tiba-tiba, sistem komunikasi drone berderak.
Sheba-One melaporkan adanya gangguan elektromagnetik yang tak biasa. Beberapa sensor tak lagi merespons, padahal perangkat baru saja diservis.
“Apakah ada indikasi logam berat?” tanya Joe Takeshi.
“Bukan logam… lebih seperti gelombang statis dari sumber energi tidak diketahui,” jawab salah satu teknisi anak buah Kapten Junanto.
Namun sebelum sempat mereka menarik kembali drone, kamera menangkap sesuatu—kilatan cahaya biru dari dalam salah satu lorong. Drone mendekat secara otomatis, tertarik oleh pancaran frekuensi tertentu.
Tiba-tiba saja…
Entah kenapa gambaran berikutnya mengejutkan semua orang.
Sebuah ruangan bundar, berdinding kristal, dengan pusat bercahaya yang terus berdenyut. Di sekeliling ruangan, terdapat ukiran berbentuk simbol-simbol geometris rumit yang tampak berpendar.
“Ini bukan sekadar ruang biasa,” bisik Dr. Zee. “Bisa jadi ini… pusat energi?” Dr Zee mengatakan hal itu dengan nada lirih dan takjub, karena ia melihat sebuah penampakan ruangan bawah laut yang di luar logika nya.
Dr. Ziyad berdiri perlahan. “Dalam literatur Sulaiman, disebutkan bahwa beliau memiliki kendali atas angin, jin, dan logam. Bisa jadi… ini semacam pusat kendali… atau reaktor kuno.” Dengan mata tajam penuh arti Dr Ziyad mengatakan hal tersebut.
Malam mulai turun. Suasana kapal menjadi lebih senyap, tapi setiap anggota tim merasakan detak jantung yang lebih cepat. Mereka semua sadar, penemuan ini bisa mengubah sejarah dunia.
Joe Takeshi mengumpulkan semua anggota tim utama di ruang briefing. Ia menyalakan proyektor yang menampilkan gambar dari drone terakhir.
dengan tenang Joe Takeshi berkata,“Apa pun ini, kita sudah melewati batas,” katanya tegas. ia kembali melanjutkan pembicaraannya, “Kita tidak bisa gegabah. Dunia belum siap untuk menerima kebenaran ini jika belum ada data yang bisa dipertanggungjawabkan.”
Dr. Ahmad Kahfi mengangguk. dan berkata, “Saya setuju. Dan saya kira kita belum boleh menyebut ini sebagai ‘istana Sulaiman’ sebelum kita temukan bukti konklusif. Tapi… apa pun itu, ini lebih dari sekadar reruntuhan.”
Dr. Ziyad menatap layar dengan mata berkilat. “Mungkin… kita baru saja membuka pintu menuju sesuatu yang selama ini disembunyikan oleh waktu—dan mungkin… oleh takdir.”
Di luar kapal, laut tampak tenang. Tapi di kedalaman gelap, drone yang masih aktif mendeteksi sesuatu aneh: gerakan halus, seolah ada yang mengawasi dari balik reruntuhan.
Gambarnya buram. Tapi cukup jelas untuk menimbulkan satu pertanyaan mencekam di benak semua orang:
Apakah mereka benar-benar sendirian di kedalaman ini…?
Kapal selam Aqua Prime perlahan mengambang di atas struktur batu purba yang menjulang dari dasar laut. Kamera drone bawah laut terus mengirimkan gambar ke monitor utama di dalam kabin. Di dalam ruang kendali, suasana terasa tegang sekaligus takjub. Semua mata tertuju pada layar.
Dr. Ziyad berdiri di tengah ruangan, tubuhnya bergetar pelan oleh rasa haru yang tak tertahankan. Ia memejamkan mata sejenak, mengatur napasnya, lalu berbisik pelan, nyaris seperti doa,
“Ini bukan sekadar reruntuhan... ini adalah saksi bisu dari kejayaan yang pernah menguasai bumi.”
Gambar di layar semakin jelas. Struktur yang mereka lihat bukanlah formasi acak semata. Itu adalah jalan batu besar yang tertata rapi, mengarah lurus ke pusat kawasan yang lebih luas. Di kiri kanan jalan, pilar-pilar raksasa menjulang sebagian runtuh, sebagian masih berdiri dan dikelilingi puing bangunan berukir, yang kini ditelan lumut dan karang.
“Lihat itu... seperti jalan masuk kerajaan,” gumam Joe Takeshi, matanya membelalak tak percaya.
“Dan... itu..???.” Dr. Zee Andini menunjuk sebuah bangunan megah di kejauhan. “Apakah itu... kuil..??? Atau istana..???”
Dr Zee sangat kaget karena ia melihat bangunan yang sangat megah, entah itu apa sebenarnya.
Suara teknisi mendadak memecah keheningan.
“Drone 2 mendeteksi peningkatan medan magnet, Doc. Alat navigasi sempat terganggu beberapa detik.” kata salah satu teknisi drone.
Dr. Maria mengernyit, dan berkata “Ada sumber energi aktif di bawah sana..???”
semua tetap hening, dan…
Dr Maria kembali melanjutkan pembicaraan “Belum bisa dipastikan,” jawab teknisi. dan kembali melanjutkan pembicaraannya “Tapi pola gangguannya bersifat siklikal. Seolah ada sesuatu yang hidup... atau teratur.”
Dr. Ahmad Kahfi masih menatap layar kecil di tangannya, membandingkan ukiran pada reruntuhan dengan database simbol kuno. Ia bergumam, “Beberapa simbol ini... mirip huruf Ibrani kuno. Tapi juga ada unsur Fenisia... dan bahkan aksara Mesir...”
Joe Takeshi berjalan mendekat ke jendela kapal selam. Sekilas, matanya menangkap sesuatu yang tak biasa—seberkas kilau cahaya biru dari balik reruntuhan.
“Cahaya itu... bukan dari drone,” kata Joe Takeshi lirih.
Semua menoleh. Drone diarahkan menuju sumber cahaya itu. Saat kamera berhasil fokus, seluruh ruangan mendadak hening.
Di tengah-tengah plaza reruntuhan kota itu, tampak sebuah orb kristal berdiameter sekitar satu meter, memancarkan cahaya biru lembut yang berdenyut perlahan, seolah memiliki detak jantung sendiri. Orb itu melayang pelan, diam tak bergerak, tapi aura yang dipancarkannya begitu kuat.
“Apa itu...?” tanya Dr Zee dengan suara gemetar.
Dr. Ahmad Kahfi memperhatikan denyutan orb melalui layar, lalu berucap, “Itu bukan mineral biasa. Dan bukan buatan alam. Medan energinya... stabil, tapi kompleks.”
Joe Takeshi menoleh ke Ziyad. “Kita harus melihat langsung.”
Ziyad mengangguk pelan, matanya tak lepas dari cahaya di layar. “Ya. Kita turun.”
Beberapa menit kemudian, tim utama bersiap di dalam kapsul kecil khusus untuk menjelajah daratan bawah laut. Mereka mengenakan exo-suit canggih, dengan helm transparan berteknologi HUD dan sistem komunikasi terintegrasi.
Pintu kapsul terbuka, dan mereka menjejakkan kaki untuk pertama kalinya di lantai kota purba, pada kedalaman 11.800 meter, dan rekor yang belum pernah dicapai manusia manapun sebelumnya.
Langkah demi langkah mereka ambil di antara batu-batu tua dan puing-puing bangunan. Cahaya dari lampu helm menari di permukaan pilar dan dinding ukiran. Aroma logam dan laut pekat terasa dalam setiap hembusan nafas di dalam helm.
Di hadapan mereka berdiri sebuah gerbang batu raksasa setinggi dua belas meter, separuh runtuh namun masih tampak megah. Ukiran-ukiran rumit memenuhi permukaannya, namun yang mengejutkan adalah: ukiran itu mulai bersinar lembut ketika mereka mendekat.
“Ukiran ini... bereaksi pada kita?” tanya Dr. Maria dengan napas tertahan.
Dr. Ahmad Kahfi segera menyalakan alat terjemah berbasis AI, mengarahkan sinar pemindai ke permukaan batu. Simbol-simbol perlahan dianalisis, dan terjemahan digital muncul di layar helmnya:
"Gerbang Hikmah Sulaiman.!!!"
semua terpaku dan diam, dengan ribuan pertanyaan di dalam pikiran mereka.
Dr Ziyad terdiam, bibirnya bergetar menahan gejolak. “Gerbang Hikmah... ini nyata...” jantung Dr Ziyad semakin berdebar kacang dan setelah mengatakan hal itu ia terdiam seribu bahasa.
Joe Takeshi menggeleng pelan, matanya nyaris berkaca. “Astaga... kita benar-benar menemukannya.”
Mereka pun melangkah melewati gerbang. Sebuah lorong panjang menyambut mereka. Lantainya terbuat dari batu hitam yang dipoles sempurna, pantulan cahaya helm mereka terpantul seperti cermin.
Namun ketika mereka memasuki ruang pusat, sesuatu yang ganjil terjadi.
tiba-tiba saja…
“Krezzz..!!!
“ ada sinyal lain…!!!”
Mereka serentak mengatakan hal itu bersamaan, karena kaget ada sinyal elektromagnetik yang lain terbaca atau terdengar jelas oleh mereka.
Suara dari sistem komunikasi mendadak terdistorsi. Lampu helm Joe Takeshi berkedip sesaat. Angin laut dalam terasa tak terasa, tapi udara di dalam suit menjadi lebih berat.
Tiba-tiba…
“Whuussss…!!!”
Entah dari mana asalnya, dari balik pilar besar, sebuah bayangan besar bergerak cepat, melintas sekilas dengan cepat sekali tapi tidak jelas bentuknya, hal itu cukup untuk membuat jantung mereka berdetak lebih cepat.
“Sensor mendeteksi gerakan... tapi bukan drone kita,” lapor salah satu teknisi dari kapal selam anak buah Kapten Junanto.
Entah itu apa dan makhluk apa yang jelas itu wujud mahluk yang bisa bergerak dengan cepat dan semua tim melihat akan hal ini.
Dr Zee menghela napas berat. “Apakah... kota ini masih berpenghuni...?”
Dr. Ziyad menatap jauh ke dalam gelapnya lorong, lalu berkata pelan, “Kota bawah laut ini... mungkin tidak sepenuhnya kosong.”
Semua terdiam dan membisu karena penampakan bayangan tadi memunculkan tanda tanya besar di dalam benak mereka masing-masing, apakah itu makhluk luar angkasa ataukah makhluk cerdas bawah laut?
BERSAMBUNG