Part 3

1159 Words
Duk! Pyar! Yogi menyentuh pelipisnya yang berdenyut kala vas mungil hiasan meja keluarga telah mendarat sempurna di sana. Alisnya saling bertautan merasakan sensasi denyutan yang hadir sambil memandang sayang ayah selaku pelaku utama, tengah berjalan dengan wajah memerah ke arahnya. "Sini kamu!" Yogi hanya diam kala tangan kurusnya ditarik paksa oleh Dimas. Tak ada niatan untuk berontak, sebab ia tau papa nya akan semakin marah jika ia banyak bicara. Mata Yogi membulat saat melihat Dimas menggiringnya ke dalam gudang belakang rumah yang posisi nya terpisah dari mansion megah itu. Hatinya mendadak cemas dengan tatapan tak fokus. "Pa ...." Ceklek! Bruk! "Diem di sini, renungin kesalahan kamu seperti biasa. Besok bangun pagi dan sekolah, bi Kalsum bakal bukain pintu pagi-pagi." Klik! "Pa ...," ujar Yogi melirih. Tangannya mendadak gemetar saat pintu sudah tertutup menenggelamkan sosok Dimas hingga kegelapan sukses mengambil alih atensinya. Lepas sudah topeng datar yang selama ini dipakai oleh remaja itu. Ia berusaha menarik gagang pintu besi itu, sedikit memekik guna meminta belas kasihan pada siapapun yang mendengar. Namun nihil, ia seolah hanya angin tak penting bagi Dimas, dan semua orang. "Astaga ...." Tubuh yang tengah bersandar di pintu itu lantas merosot. Yogi menekuk kaki kecilnya, lalu setelahnya, tetes demi tetes buliran air mata mulai meluruh dari mata kecilnya. Bibirnya bergetar, tangannya sudah mendingin. Yogi benci gelap. Tak lama kepala itu pun mendongak dengan surai gelap yang menutupi kening mulusnya, mata sipitnya mulai menyusuri keadaan sekeliling. Kotor, Gelap, Pengap, Seram. "s**t, gue tidur gelapan lagi?" Yogi berbicara seakan benda di sekelilingnya dapat mendengarnya. Ia lalu menghapus jejak air mata itu dengan kasar melalui jemarinya yang bergetar. "Gue nggak apa-apa, oke. Cuma malam ini, semua bakal baik-baik aja." Yogi menarik napas dan berulang kali mengucapkan sugesti pada dirinya sendiri agar rasa aneh di hatinya segera enyah. Ia berusaha menepis tubuh yang sudah bergetar ketakutan. Yogi memang bukan sekali dua kali dihukum di sini, tapi entah mengapa ia selalu merasa takut. Ayolah, ia masih bocah tujuh belas tahun yang masih berada dalam fase beranjak dewasa. Wajar jika takut dengan suasana menyeramkan seperti ini. Lagi pula, Yogi itu benci gelap. Remaja pendek itu lalu berdiri dengan sedikit terhuyung. Kepalanya mendadak pusing akibat tekanan takut yang berlebihan. Ia meraba benda usang di sekitar, memanfaatkan cahaya yang masuk melalui celah ventilasi udara. Kursi lapuk, televisi rusak, kerangka motor bekas dan banyak barang yang menghambat jalannya. Hingga matanya berbinar kala mendapati tikar lipat yang masih terbentang apik di sudut ruangan melalui cahaya minim. Lalu ia beranjak membaringakan tubuhnya yang bergetar di sana. "Keknya besok kudu taroh bantak ama selimut di sini dah, antisipasi kalo di hukum dadakan kayak gini." Kepalanya sudah semakin pusing. Tak ada yang tahu, atau lebih tepatnya tak mau tahu bahwa Yogi sebenarnya memiliki sistem imun yang lemah, rentan hawa dingin dan mudah lelah. Tapi karena sipatnya yang dingin, semua itu sukses menyembunyikan kelemahannya. "Ya Allah, besok gue masih hidup nggak ya?" Lalu mata kecil itu pun tertutup sempurna. ▪▪▪▪ Kriet~ Kristian membuka selebar-lebarnya pintu gudang yang sudah usang itu, memancing agar cahaya pagi masuk agar ia bisa menemukan sang adik. "Dek?" Kaki mungil Tian mulai memasuki gudang lusuh itu, melangkahi barang-barang yang menghambat jalannya. Ia sudah bisa menebak keberadaan sang adik. Di sana, tepatnya di pojok ruangan dengan beralaskan tikar tipis, ia melihat sang adik bungsunya tengah meringkuk, berusaha mengahalau dingin yang menusuk di pagi buta seperti ini tanpa sehelai kain pun menutupi tubuhnya. Tian lantas menghampiri sang adik, seperti biasa, saat Yogi dihukum saat melakukam kesalahan-kesalahan kecil maupun besar. Tak ada yang peduli, ke lima kakaknya bahkan ikut kedua adik kembarnya juga tak ada yang sudi membukakan pintu gudang di pagi hari untuk Yogi. Hanya Tian yang peduli, walau, Sedikit. "Yogi, hey ... bangun ...." Tian menepuk-nepuk pipi yang sudah sangat dingin bak es batu itu. Sedikit terpaku kala melihat bibir tipis itu memucat, dapat Tian lihat beberapa kerutan menghiasi dahi putih sang adik. "Bangun, Dek, udah pagi. Sekolah nggak?" Tian kembali menepuk-nepuk pipi Yogi. "Eungh ...." Mata kecil itu perlahan terbuka, mendapati wajah teduh Tian yang tengah memasang senyum manis ke arahnya. 'Wuih, masih hidup ternyata,' batinnya. Tanpa mengucap sepatah kata pun, Yogi segera berdiri hendak beranjak. Namun baru berdiri, ia sudah terhuyung. Entahlah, pusing yang ia tahan sedari tadi malam belum juga menghilang. Untung ada tangan kekar Tian yang dengan sigap menangkap tubuh kecilnya. "Dek, kenapa?" Tian panik, ia melihat Yogi tengah menggeleng-gelengkan kepala berusaha menghalau pusing di tengah pelukannya. "Awas!" ujar remaja itu ketus lalu menghempaskan tangan Tian dengan kasar. Detik selanjutnya ia pun lanjut berjalan dengan bantuan dinding sekitar. "Gi! Yogi tunggu!" "Apa sih! Nggak usah sok peduli. Gue bosen." ▪▪▪▪ "Masem banget, kenapa sih lu, Gi?" Ferry merangkul pundak Yogi, berjalan memasuki ruang kelas bersama. Yogi pun hanya bungkam. "Eh kambing, kembaran kulkas! Suka banget ya nyuekin gue, biarin gue ngomong sendiri mulu." Ferry memberengut kesal sebab Yogi tak kunjung meresponnya. Remaja pendek itu terlihat berjalan dengan kerutan yang menghiasi keningnya. Oh ayolah Ferry, tak tahukah kau dengan kondisi temanmu itu saat ini? "Beruang kutub, lu kenapa?" "Eh iya, ini pelipis lu kenapa? Kepentok dispenser?" "Atau lu kemaren setres mikirin cogan kayak gue?" "Lu nggak mandi ya makanya ngantuk? Bawaannya males mulu, iya 'kan?" "Lu marah gue becandain mau mati kemaren? Astaga, Gi! Pan udah baikan kemaren." "Adeknya kulkas tiga pintu, ngomong dong!" "Bilang A aja deh nggak apa-apa, coba bilang AAAAAAAAA." "Ayo katakan Gi, AAAAA." Ferry terus mengoceh yang mengundang tatapan aneh siswa lain yanh melintasi keduanya. Namun seakan tuli, Yogi tetap tak menggubrisnya sedikitpun. 'Untung sayang, Gi!' batinnya. Ferry pun akhirnya diam, ia membiarkan Yogi yang membisu hingga sampai di kelas. Setelah Ferry melepas rangkulannya dari punggung Yogi, sang empu langsung duduk di kursinya yang berada tepat di depan kursi Ferry. Yogi langsung menenggelamkan kepala di antara lipatan tangan mungilnya. Ferry hanya mengernyit, lalu menghampiri sahabatnya itu. "Gi, sakit apa gimana?" tanya Ferry sambil meraba dahi Yogi. Sang empu masih diam. "Kali ini serius, lo kenapa? Kalo sakit ayo ke UKS." "Diem, Fer. Ngantuk. Kalo ada guru buu bangunin." Ferry ingin bertanya kembali, seakan peka keadaan, Yogi kembali menyela. "Gue beneran pusing, ngantuk, mau tidur, oke?" Ferry pun mengehela napas, mengangguk paksa lalu menepuk pundak Yogi. "Oke. Nanti kalo guru masuk, gue bangunin. Lo nya jangan luoa bangun btw." "Hm." Ferry pun kembali duduk di kursinya, bermain ponsel untuk sekadar memecah bosan sambil menunggu kedatangan guru. ▪▪▪▪ "Gi, bangun! Gi ...." Ferry menarik-narik seragam belakang Yogi yang masih tertidur pulas. Berusaha memelankan suara sekecil mungkin. "Gi, bangun! Aelah kambinh! Bangun! Pak Will ud--" "Ada apa, Ferry?" Ferry kicep. Ia langsung menegakkan diri, membuat segala atensi mulai terfokus padanya. Tapi hanya sebentar, sebelum ucapan si pengajar kembali terdengar dan mengalihkan fokus pada sosok di hadapannya. "Siapa itu yang tidur?" "Y-yogi, Pak." "Suruh bangun." "Em—" "YOGI YUDHISTIRA GAMALIA!!!" "Ngh ...." Yogi mendongak kala mendengar seseorang memanggilnya dengan kasar. "Enak tidur?" tanya William, guru yang tengah menatapnya tajam saat ini. Yogi hanya diam. Masih linglung dengan keadaan sekitar. "Berdiri di lapangan sampai jam saya selesai, SEKARANG!" 'b*****t, b*****t. Punya guru abang sendiri juga nggak ada gunanya.'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD