Part 2

1284 Words
Tring!      Yogi mengalihkan mata sipitnya kearah ponsel yang bergetar tepat di samping buku pelajarannya. Sore ini hari mulai mendung, membuat siapa saja enggan beranjak dari rumah, termasuk dirinya. Yogi pun mengambil sang ponsel dan melihat sang pengirim notif. Ferry.      Langsung ia menggeser layar ponsel dan menampilkan deretan pesan yang belum sempat ia baca sedari tadi. Ferry "Kembaran kulkas, aku kangen." (09.05) "Satu hari bagaikan 24 jam." (09.07 ) "Gi, sibuk banget ya?" (10.37 ) "Temenin aku ke sungai han, Gi. Mau curhat.” (15.56 ) "Sumpah, kesel. Read dong anak nya papa Dimas!" (15.58 ) "Gi, kalo kali ini gak di bales besok kamu aku ketekin sampe henti jantung." (15.59 ) "Gi, papa sama mama aku berantem lagi. Rasanya aku mau tenggelemin diri aja kalo gini." (17.02 ) "Bodoh! Kau dimana?" (17.04 ✅) "Giliran aku mau mati, aja." (17.05) "Dimana?" (17.05 ✅) "Udah di sungai han." (17.06) "Otw." (17.07 ✅)      Yogi bergegas mengambil jaket hitam di lemari mini nya, meninggalkan tumpukan buku yang sedari tadi memenuhi otaknya. Kaki kecil nya kini melangkah menuruni tangga dengan tergesa.       Di tengah tangga tak sengaja ia bertemu dengan Kristian, mereka mengadu mata sejenak. Yogi melihat di belakang Kristian terdapat dua kakak kembarnya yang ikut menatapnya. Yogi hanya diam dan menunggu Kristian bertanya. 'Mau kemana dek?'       Tapi harapannya pupus kala melihat sosok Kristian berlalu begitu saja tanpa sepatah katapun, lalu diikuti Adit dan Arya yang ikut berlalu dengan tatapan datar. Yogi mendecih.      'Pengecut, apa yang kukatakan benar 'kan? Kak Tian berani bersikap manis padaku hanya di belakang mereka,' batin Yogi lalu segera keluar dari mansion megah keluarga Gamalia. *****       Yogi kalut, ia sudah berlari kesana-kemari guna mencari sosok yang tengah membuat hatinya kacau. Mata kecil miliknya mengedar, mencoba menelisik orang-orang yang berjalan melintasi area sungai.       Tak lama, akhirnya ia menghela napas lega kala sosok yang tengah ia cari sedang duduk di pinggir sungai sambil menenggelamkan wajah di tengah lekukan kakinya. Yogi segera beranjak menghampiri. "Banyak melamun bisa membuatmu gila."       Sosok itu lantas mendongak kala mendapati Yogi telah duduk di sampingnya, Yogi pun dapat melihat senyum sambutan terbit di bibir merah sahabatnya itu, lebih tepatnya senyum; Palsu. "Kau tak punya kata lain selain itu, hm?" tanya Ferry pelan.       Yogi tak menjawab, hanya mengangkat bahu acuh. Matanya menatap lurus pemandangan sore hari yang tampak indah dari atas air. Entah kemana perginya awan-awan mendung tadi. "Gi, aku ingin ma__"       "Jangan bodoh, Ferry! Kau pikir mati bisa menyelesaikan masalah? Kau pikir mati akan membuat papa mu kembali baik dan menyingkirkan jalang dari kehidupan rumit kalian!"       Yogi memekik sambil menatap Ferry dengan wajah memerah. Yang di tatap hanya menaikkan alis bingung.       "Kumohon, jangan tinggalkan aku. Aku tak lagi punya teman hidup selain dirimu. Semua orang membenciku," lirih Yogi.       Ferry mencelos, menatap Yogi yang sudah kembali memandang lurus kedepan.       "Mungkin aku akan ikut mati jika sampai kau mengakhiri hidup dengan bodohnya." Kembali ujaran itu menyadarkan Ferry.       "Hey kulkas! Memangnya aku mau kemana? Mati?" tanya Ferry.       "Hahahaha, makanya orang tua pada jaman dahulu menganjurkan jika orang lain belum selesai berbicara, jangan memotong. Tumben juga kau banyak bersuara, biasa nya aku kebanyakan bacot sama angin," gurau Ferry.       Yogi pun refleks mengalihkan atensi nya pada Ferry dengan tatapan tajam, yang dibalas tatapan konyol dari sang empu.       "Woaa, santai, Gi. Maksudku tadi, aku ingin makan, lapar. Kau tau sendiri lah, mama terlalu asik bertengkar dengan papa sampai dia lupa memasakkan ku," sambung Ferry sambil menampilkan senyuman manis nya, Yogi mendengkus.       "Cieee, yang takut aku mati," goda Ferry lalu menoel dagu Yogi yang sedang merengut kesal.      "Kau mempermainkanku!" pekik Yogi kemudian menepis kasar tangan Ferry, sang empu semakin gemas hingga tertawa terbahak.       "Hahaha, bagaimana keluarga Gamalia tak menyadari kemanisan anak bungsu nya ini, hem!" goda Ferry kembali. Yogi melotot pada Ferry.       "Hey, jangan menggangguku. Dan jangan bawa-bawa keluargaku!" desis Yogi.       Ferry pun segera menghentikan tawanya lalu ikut memandang kedepan seperti arah pandang Yogi.       "Tapi, Gi. Aku lebih suka kau seperti tadi. Kau yang banyak bicara, kau yang egois tak ingin kehilanganku, kau seolah sedikit membiarkan aku tau kalau kau juga butuh seseorang berada di sampingmu. Ayolah Gi, kita sudah lama berteman, kau masih tak ingin menumpahkan isi hatimu padaku?" tanya Ferry.       Yogi menunduk, membenarkan perkataan Ferry. Ia dan Ferry bukan hanya satu atau dua bulan berteman, melainkan dua tahun.       Semua ini bermula sejak mereka sama-sama menginjak bangku menengah akhir. Kepribadian mereka yang sangat bertolak belakang menjadi tali pengikat keketatan persahabatan itu. Ferry dengan sifat pecicilan dan banyak omongnya membuat sosok Yogi yang memiliki benteng kokoh itu sedikit membuka diri.       Tapi, bodohnya Yogi, ia belum juga siap menceritakan beban hidup nya pada Ferry. Yogi seolah masih membatasi kedekatan mereka.       "Jangan dipikirkan, aku akan tetap menunggu sampai kau benar-benar siap. Ayo, cari makanan. Aku lapar," ucap Ferry sambil menepuk bahu kecil Yogi dengan wajah dibuat menggemaskan.       Sang empu hanya menatap datar sambil berdiri lalu meninggalkan Ferry yang sedang memasang wajah masam.       "Ingin rasanya kucampakkan badan kerdil mu itu ke sungai, Gi!" gerutu Ferry lalu ikut beranjak, berlari mengejar Yogi yang sedang melenggang tanpa dosa. *****       Tampak dua pria tampan tengah menyantap mie instan yang masih mengepulkan asap, mereka duduk di bangku yang di sediakan oleh penjual mie pinggiran jalan, tempatnya pun hanya ditutupi oleh tenda tipis. Layaknya sepasang kekasih, mereka berdua tampak tenang menikmati makanan tanpa beban.       "Gi, kau tak apa jam segini belum pulang?" tanya Ferry di sela-sela seruputan mienya.       "Tak apa, bahkan aku tak pulang sekalipun mereka tak akan peduli," jawab Yogi acuh. Ferry pun memelankan aktivitas mengunyahnya, menaikkan alis bingung.       'Apa dia mencoba sedikit terbuka?' batin Ferry.       "Maksudmu? Apa masalah mu dengan keluarga mu sungguh besar? Mengapa sampai sebegitu pesimisnya kau akan perhatian mereka?" tanya Ferry berusaha memancing agar Yogi lebih memperdalam ceritanya.       "Ah lupakan!" sahut Yogi.       Ferry mendengus, alih-alih membuka cerita, Yogi malah menjawab amat pendek.       Yogi sedikit melirik jam di tangan mulusnya, 21.32 WIB.       "Fer, kau pulang lah setelah selesai. Jangan bertingkah bodoh, aku harus segera pulang," ucap Yogi cepat.       Ferry mengangguk samar, lalu membiarkan sosok itu mengeluarkan beberapa lembar uang dari saku jaket hitamnya dan menyerahkannya pada Ferry.       "Kau yang bayar, aku sudah tak sempat. Aku pulang!"       Ferry geleng kepala kala melihat Yogi sedikit berlari menjauh. Ia tau, beban yang dipikul Yogi mungkin lebih besar dari beban yang ia pikul. Tapi apa daya? Ia belum bisa memaksa Yogi agar terbuka padanya. Mengingat tembok yang dibangun Yogi sangat kokoh, bahkan berteman padanya saja butuh perjuangan untuk menipiskan sedikit tembok pembatas itu.       'Aku tak tahu apapun tentang kehidupanmu Gi. Yang ku tau kau adalah pria kerdil terdatar yang pernah hidup, dan pria yang memiliki topeng sangat tebal. Ku harap, aku bisa menjadi peringan bebanmu. Bukan hanya penambah beban seperti sekarang,' batinnya.     Lalu, Sehun pun segera membayar dan pulang menuju istana kelamnya. *****       Yogi menghela napas kala melihat pintu menjulang tinggi itu terbuka dijam yang sudah mulai larut ini. 'Aku ditunggu ternyata,' batinnya.       Sedikit menghirup udara, lalu ia pun melangkahkan kaki kecilnya memasuki pintu masuk mansion megah milih keluarga nya. Menusuk.       Adalah defenisi yang pas untuk menggambarkan tatapan-tatapan sambutan kedua orang tua dan beberapa kakaknya. Mereka semua tengah bersantai di ruang keluarga, beberapa ada yang sibuk dengan kegiatan masing-masing walau sedikit melirik. "Ck, masih kecil sudah berani melawan?"       Yogi yang masih berdiri di ambang pintu seketika membeku kala ucapan menusuk itu terdengar di kupingnya.       "Apa aku pernah mengajarkanmu untuk kelayapan jam segini, ha?!" sentak orang itu lagi. Yogi masih menunduk. Duk! Pyar! "Ikut aku bocah!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD