Gemercik air terdengar ribut dari salah satu ruangan di bilik kamar yang bernuansa hitam pekat. Tampak dari sudut ke sudut semua peralatan ruangan itu rata-rata berwarna hitam, bahkan cat nya sekalipun. Hanya beberapa yang berwarna lain.
Ruangan minimalis itu tampak simpel dengan satu bed kecil seukuran satu orang dan nakas di sampingnya, tak lupa sebuah lemari mini di dekat pintu kamar mandi.
Pasti semua orang yang masuk pasti akan merinding melihat ruangan ini, ruangan kelam yang menggambarkan kepribadian si pemilik.
Kriet~
Deritan pintu terdengar, lalu muncullah seorang pria tak terlalu tinggi dari balik pintu kamar mandi, berjalan dengan rambut yang masih terlihat basah. Ia sedikit mengusak-usaknya dengan handuk kecil yang melilit di leher putihnya. Tubuh seputih s**u miliknya terekspos jelas, hanya celana training hitamlah yang membalut tubuh mungilnya.
Srek~
Bed mungil itu berderit kala pria itu menghempaskan bokongnya cukup keras. Masih mengusak rambut dengan handuk, lalu mata sipit nya melirik jam di atas nakas.
05.12 KST
"Huh! Cepat sekali berlalu. Padahal hanya ku tinggal mandi sebentar," gumamnya.
Ia lalu beranjak menggantungkan handuk kecil di samping lemari dan mengambil kaos oblong hitam dari lemari mini itu. Setelah memakai nya, ia pun beranjak keluar. Menutup pintu perlahan, tersenyum tipis saat membaca tulisan di pintu bercat hitam itu.
Yogi Gamalia.
Setelah itu ia segera menuruni tangga, berniat mengerjakan tugas rutin nya dipagi hari. Saat sampai di dapur, ia mengulas senyum tipis kala melihat siluet wanita yang sedang memotong sayuran dengan posisi membelakanginya.
"Kebanyakan melamun bisa membuat gila."
Yogi berujar datar sambil mengambil pisau dari tangan wanita itu. Wanita itu tersentak kaget lalu langsung mengulas senyum tipis saat melihat siapa pelakunya.
"Ya ampun, sudah pandai ya tuan muda."
Wanita yang berstatus sebagai pembantu di keluarga Gamalia itu lalu mengusak rambut Yogi penuh sayang.
"Haruskah aku bersujud dulu baru bibi tak memanggilku tuan muda lagi, hm? Goda Yogi.
"Aish, aku ini sudah tua Yogi!"
Yogi hanya melirik kalsum yang sedang memanaskan minyak sambil menggerutu itu.
"Tapi kau masih cantik," goda Yogi lagi.
Kalsum terkikik geli, heran dengan kelakuan Yogi pagi ini. Sedang Yogi hanya menaikkan alis bingung melihatnya.
"Hahaha, kau ini. Masih kecil sudah pandai merayu orang tua, hem?" ucap Kalsum sambil menyentil dahi mulus Yogi yang membuat senyum tipis kembali terbit dari bibir merah pria itu.
"Tak apa, aku rela jika bibi tampar sekalipun. Karna hanya bibi yang mau seperti ini padaku," ujar Yogi lembut.
Senyum Kalsum luntur seketika, memandang miris pria di hadapannya yang sudah ia asuh sedari kecil ini. Kalsum kagum pada sosoknya yang masih berdiri tangguh dengan banyaknya beban di pundaknya.
"Dan satu lagi, aku bukan lagi anak kecil. Bahkan sebentar lagi aku memasuki sekolah tahap akhir," ucap Yogi yang membuat Kalsum terkekeh.
"Sebentar lagi kan? Itu artinya belum, dan bagi bibi, kau masih anak kecil yang suka meminta permen pada bibi," goda Kalsum gantian membuat Yogi mendengus.
Yogi lalu beranjak mencuci sayurannya di wastafel sambil berujar, "jangan terlalu banyak menghinaku, cepat kita selesaikan ini. Nanti keluarga Gamalia mengamuk."
'Padaku,' batinnya
"Siap, laksanakan bos besar!" Kalsum mengangkat tangannya tanda hormat, Yogi menanggapi dengan kekehan tipis.
'Bahkan aku lebih menyayangimu daripada ibuku ku sendiri bi," batinnya.
****
"Kak, jangan ambil ayamku!"
Arya, putra ke enam keluarga Gamalia itu memekik kala kakak ke-lima nya mengambil ayam dari piring makannya. Ya, keluarga besar Gamalia kini tengah sarapan bersama di meja makan.
"Kak Rafael, lihat kak Adit," rengek Arya pada kakak tertuanya.
"Adit ... jangan mengganggunya!" pekik salah satu kakak yang lain dengan kuat.
Yang di tegur hanya mendengus sambil mengambilkan ayam baru ke piring adiknya, Adit akan kalah jika kakak yang paling tegas itu menegurnya.
"Makasih kak William," ucap arya sambil tersenyum menggemaskan dengan gigi kelincinya karna William si kakak ketiganya membelanya.
"Ya ampun, adik bungsu kita ini sangat imut ya!?" pekik Andreas si putra kedua keluarga Gamalia sambil menoel pipi Arya.
Semua hanya mengangguk, mengiyakan perkataan Andreas, terkecuali satu orang yang sedang duduk di kursi ujung.
'Hah, lagi dan lagi aku tak di anggap disini.'
Srek~
"Aku selesai."
Seluruh penghuni meja makan itu langsung mengalihkan perhatian pada Yogi yang sudah berdiri hendak beranjak.
"Duduk, tak ada yang boleh pergi sebelum aku selesai," ucap sang kepala keluarga dengan dingin, tapi Yogi tak menghiraukannya dan tetap berjalan.
Ctak~
"KUBILANG DUDUK!"
Yogi sontak menghentikan langkahnya saat mendengar bantingan sendok, lalu membalikkan badan ke arah sang ayah, Dimas.
"Percuma, aku tak di anggap disini."
Srek~
Tap... tap....
Plak!
"Sopanlah sedikit! Harusnya kau bersyukur karna papa masih mengizinkan kau duduk bersama kami disini!" ucap Rafael garang tanpa rasa bersalah karena baru saja menampar Yogi.
"Kalau begitu usir saja ak__"
Plak!
"Berani sekali kau menentang kami!" ucap Rafael lagi dengan tamparan baru.
Yogi mendecih sambil menghapus darah yang keluar dari sudut bibir dengan ibu jari. Tak main-main, ternyata tenaga Rafael sangat kuat.
"Sudalah Raf! Papa sudah selesai, kehilangan nafsu makan. Nanti makan di kantor saja!" ucap Dimas meletakkan sendok lalu beranjak keluar.
"Mama juga sudah selesai," sahut wanita manis yang menyandang status sebagai istri Dimas itu, Meliana Fransiska. Dia juga beranjak masuk ke dalam kamar.
"Pengacau," ucap Andreas langsung pergi keluar rumah
"Perusak suasana," sambung William ikut mengekori Andreas.
"Aku jadi merutuki hari libur ini. Ayo dek kita main game!" ucap Adit ikut beranjak sambil menarik tangan Arya. Meninggalkan tiga pria yang masih mematung di tempat.
"Kau jangan bertingkah! Lihatlah, kau sendiri yang membuat kami semakin jijik padamu!" ucap Rafael sambil menunjuk wajah Yogi. Setelahnya, Rafael pergi membawa tas kebanggaan nya menuju tempatnya bekerja, Rumah sakit milik sang kakek.
"Dan satu lagi, bersihkan meja ini dan cuci semua piring kotor. Jangan enak-enakan karna ini hari libur," lanjut Rafael lalu benar-benar hilang tertelan pintu.
Yogi menunduk. Bukan, bukan ini yang ia inginkan tadi. Dia hanya sedikit cemburu kala semua orang menyayangi Arya dan menganggap Arya anak bungsu.
Ayolaah, Yogi ini hanya butuh di perhatikan. Walau sikap nya cuek dan terkesan dingin, tapi dia juga ingin merasakan yang namanya disayang. Yogi bukan ingin dimanja layaknya Arya, tapi dia hanya ingin dianggap. Sudah, selebihnya ia tak mempermasalahkan apapun itu.
Pluk!
Tiba-tiba ia merasa seseorang memegang pundaknya.
"Jangan terlalu difikirkan. Ayo, kakak bantu mengangkat piring kotor!" ucap seseorang.
Yogi mendongak, menatap wajah kakak ke-empatnya yang tengah tersenyum dengan tatapan teduh padanya.
'Kak Kristian,' batinnya.
"Tak usah, kau pergilah ke kampus," tolak Yogi lalu beranjak memunguti piring kotor yang masih terisi nasi di beberapa tempat.
"Hey! Panggil aku kak!" ucap Kristian sambil merajuk lucu.
"Kau terlalu pendek untuk di panggil kak!"
"Hey!!!"
'Kakak hanya berani begini padaku di belakang mereka.'