BAB 12

1599 Words
“Tidak, aku mau Mommy. Mommy!” Teriakan itu membuat Ethan dan Dira berpandangan dan dalam hitungan detik keduanya sudah berpisah. Dira buru-buru mengenakan kemeja Ethan kemudian bergegas keluar untuk menemui putranya. Begitu pintu terbuka Dira melihat Noah yang sedang meronta, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman pengasuhnya. “Noah!” Anak kecil itu menoleh, tangisnya pecah saat berlari dan masuk ke dalam pelukan Dira. “Mommy di sini, Sayang. Tenanglah, oke?” ucapnya lembut, mengelus-elus pundak putranya untuk menanangkannya. Ia menatap wanita paruh baya itu dengan wajah penuh tanya. “Noah ingin bertemu denganmu, tapi karena… karena sepertinya kalian sibuk….” Pengasuh itu tidak lagi melanjutkan kata-katanya. Wajahnya yang merah padam menahan malu telah memberitahukan Dira apa maksud ucapan wanita itu. Dira mengumpat dalam hati. Ethan membuat mereka menjadi tontonan. Laki-laki itu benar-benar telah mempermalukannya dan bukan hanya itu… Ethan juga berusaha melucuti perasaannya. Ngeri membayangkan apa yang akan terjadi seandainya Noah tidak datang, Dira merasakan dorongan kuat untuk menjauh. Saat ini, ia belum siap bertatap muka dengan Ethan. “Apa yang terjadi? Semua baik-baik saja?” Dira berdoa dalam hati semoga pria itu sudah mengenakan pakaian. Apa saja selama tidak menunjukkan otot dadanya yang telanjang. Dira berbalik, lega melihat Ethan sudah mengenakan kemeja. Satu alis Ethan terangkat, tapi Dira mengabaikannya. “Kau membuat Mommy menangis?” Bukan hanya Dira, Ethan juga terlihat terkejut mendengar pertanyaan putra mereka. Noah tidak terlihat marah, hanya bingung. Bulu matanya yang lentik mengedip beberapa kali, mengawasi Ethan. Ethan melangkah mendekat, wajahnya melembut dan sorot matanya memancarkan emosi yang selama ini tidak pernah ditunjukkan Ethan pada Dira. Pemandangan itu berhasil membuat perasaan Dira terjun bebas. Ia memalingkan pandangan, takut air matanya jatuh di depan putra mereka. “Tidak, tentu saja tidak,” jawab Ethan lembut. Ia merentangkan tangan, menunggu Noah datang. Hening selama sesaat, tapi akhirnya Noah mendekat dan mengalungkan tangan di leher Ethan. “Bagaimana kalau kita bermain di pantai, apa kau menyukainya?” tanya Ethan lembut saat menatap putranya. “Pantai?” Ethan mengangguk. “Pantai yang sangat indah, kau pasti menyukainya.” Noah berusaha melepaskan diri dari Ethan, begitu kakinya yang kecil menginjak lantai dia melompat kegirangan. “Horee! Kita pergi ke pantai.” Mendadak dia berhenti. Wajah polos tanpa dosanya menatap Ethan dengan ragu. “Apa Mommy ikut?” Kali ini Dira tidak butuh berpikir untuk menjawab. Ia mendekat, mencium puncak kepala putranya sebelum mengatakan, “Tentu saja Mommy ikut.” Noah kembali melompat kegirangan. Matanya yang berbinar dan bercahaya menatap Ethan dan Dira bergantian. *** Ethan dan Dira turun ke pantai Glyfada yang memukau. Pantai itu terhampar di depan mereka, dikelilingi tebing-tebing hijau dan air laut biru jernih yang bergulung lembut, menciptakan riak kecil di tepi pasir keemasan. Ethan menggandeng tangan Noah yang tak sabar berlari ke pasir, sementara Dira mengikuti di belakang, melihat senyum di wajah putra mereka yang tampak bahagia. Noah segera melepaskan genggaman tangan Ethan, berlari menuju air dengan tawa riang. Ombak kecil yang memeluk kakinya membuat bocah itu melompat kegirangan. Ethan menggeleng pelan, tersenyum melihat pemandangan putra mereka yang bermain air dengan penuh semangat. “Glyfada selalu terlihat cantik,” gumam Dira, lebih kepada dirinya sendiri. Ethan pernah membawanya ke pantai Glyfada saat mereka mulai berkencan. Kenangan di tempat ini sama indahnya dengan pemandangan yang ditawarkan pantai Glyfada. Seulas senyum tipis membayang di wajahnya yang cantik saat mengingat momen-momen yang mereka lewatkan bersama. Di tempat ini, mereka benar-benar bebas. Hanya ia dan Ethan. Tidak ada wartawan, pekerjaan dan pengawal. Pengawal. Kata-kata itu menyentak kesadaran Dira. Ia mengedarkan pandangan, seketika menyadari kalau pengawal dan juga pengasuh tidak ikut turun seperti yang ia duga. Ethan tidak pernah pergi tanpa pengawalnya, hanya sekali pria itu melakukannya dan itu tidak berakhir dengan baik. “Di mana para pengawalmu?” tanyanya terkejut. “Mereka tidak ikut.” “Kenapa? Kau tidak pernah pergi tanpa pengawal.” Ethan menatapnya secara menyeluruh. “Aku tidak ingin mereka melihat istriku yang setengah telanjang.” Sebelum Dira sempat memprotesnya laki-laki itu sudah melangkah menuju air, menanggalkan kausnya dan mendekati Noah. Bocah itu menyambutnya dengan lompatan penuh semangat. Ethan mengangkat Noah tinggi-tinggi, memutarnya, membuat anak kecil itu tertawa. Wajahnya yang ceria tercermin dalam tatapan Ethan yang menghangat saat menatap putranya. Dira tersenyum melihat pemandangan itu. Ia berbohong jika berkata tidak pernah membayangkan Ethan menggendong anak mereka. Mimpi itu menari-nari dalam benaknya, hanya saja ia mengusirnya begitu tahu ia dan Ethan tidak berbagi mimpi yang sama. Rasanya menyakitkan menginginkan pria yang tidak menginginkanmu dan melakukan cara yang sangat buruk untuk menunjukkannya. Seandainya ia tidak pernah mengetahui kebenarannya, selamanya ia akan terjebak dalam hubungan yang dipenuhi dengan kebohongan. Dira buru-buru memalingkan pandangan saat melihat Ethan mendekat dengan Noah dalam gendongannya. Putra mereka tampak puas dan senang, begitu pun dengan Ethan. Begitu berada di wilayah aman, Ethan melepaskan Noah dan membiarkan putra mereka bermain pasir. “Kapan kau akan mengatakannya?” Dira tahu maksudnya, hanya saja ia memang belum menyiapkan diri untuk melakukannya. “Aku…tidak tahu.” Ethan memicingkan matanya. “Aku tidak akan menunggu selamanya, Dira. Lakukan atau aku yang ambil alih dan saat itu terjadi jangan salahkan aku kalau kau tidak akan menyukai metodenya.” Ancaman tersirat dibalik kata-kata itu menyulut emosinya. “Jangan coba-coba mengancamku,” ucapnya mendidih. “Aku akan mengatakannya saat waktunya tepat.” “Lakukan sebelum kita pulang karena aku tidak akan menunggu lebih lama dari itu. Sebentar lagi akan ada pesta penyambutan untuk Noah. Aku akan mengumumkan keberadaannya. Orang-orang harus tahu dia keturunan sekaligus pewaris Alexander.” Dira mengerjap. “Maksudmu, kau akan mengumumkan pada seluruh dunia kalau Noah putra kita?” bisiknya dengan suara tercekik. “Kenapa itu membuatmu terkejut?” “Karena aku tidak berpikir ada manfaat dari melakukan hal itu,” tukasnya jengkel. Dira memijit pelipisnya. “Kalau kau melakukannya… wartawan akan mulai mencaritahu, mereka akan mengorek informasi. Bagaimana kau akan memberitahu media tentang keberadaanku selama 5 tahun belakangan?” “Kenapa? Takut media mengetahui rahasia kelammu?” ejeknya. Dira mendekat, warna mulai menghilang dari wajahnya. “Aku tidak peduli pendapat orang lain tentangku Ethan, tapi aku tidak akan membiarkan kau mencemari masa depan putraku.” Rahang Ethan mengeras. “Dan apa menurutmu aku akan melakukan itu pada Noah? Di antara kita berdua, kaulah orang yang paling berpotensi menghancurkan masa depan Noah, camkan itu,” balasnya sengit. “Aku tidak—“ “Kalau kau sanggup menyembunyikan kebenaran demi kepentingan pribadimu kau bisa melakukan tindakan keji lainnya untuk mendapatkan keinginanmu,” balasnya tajam. “Lima tahun bukan waktu yang singkat, Dira. Seandainya orang-orangku tidak pernah melihatmu aku yakin sampai detik ini aku tidak akan pernah tahu keberadaan Noah.” Ethan menyeringai puas melihat wajah Dira memucat. “Tapi itu tidak penting untuk dibahas.” Lanjut Ethan kemudian. “Mungkin menurutmu ini ide yang buruk, tapi aku tidak ingin bersembunyi saat bersama putraku. Noah anakku, tidak ada alasan kenapa aku harus menyembunyikannya. Dengan mengumumkan keberadaannya kita mencegah spekulasi buruk bermunculan. Kecuali kau punya ide lain?” satu alisnya terangkat angkuh. “Kapan pestanya diadakan?” “Begitu Noah tahu yang sebenarnya, aku akan menyuruh orang-orangku menyiapkan pestanya. Ouh satu lagi, peranmu sebagai istri yang setia harus terlihat meyakinkan,” gumamnya mulus, membuat Dira membelalak karena terkejut. “Dunia harus tahu kalau kita keluarga yang sempurna. Aku tahu kau pandai berpura-pura, seharusnya itu bukan masalah ya ‘kan?” Brengsek. Kedua tangan Dira terkepal erat. “Apa mencekikmu termasuk bagian dari rencana?” “Simpan tenagamu di ranjang. Kau akan membutuhkannya.” “Kau—“ telunjuk Dira teracung tepat di depan hidung Ethan. Seringai angkuh dan penuh percaya diri pria itu muncul. Wajahnya yang tampan dan kejam mengandung cemoohan. “Jika bukan karena Noah yang tiba-tiba muncul,” ucap Ethan dengan suara rendah namun penuh ejekan, “Kau tahu betul, Dira, kau pasti akan berakhir pasrah di bawahku. Berhenti berpura-pura kau bisa melawan godaan, karena pada akhirnya kau selalu menyerah.” Mata Dira berkilat marah. Ia mencengkeram pasir pantai di bawah kakinya, berusaha meredam gejolak emosinya yang membara. “Kau selalu merasa begitu berkuasa, Ethan. Apa kau pikir aku ini mainan yang bisa kau kendalikan sesuka hati?” Ethan tertawa, sebuah tawa dingin yang lebih terdengar seperti tantangan. “Kendalikan? Oh, tidak, Sayang. Aku hanya menikmati bagaimana kau selalu terlihat berusaha keras untuk menahan diri di depanku, padahal aku bisa melihat bagaimana matamu merindukan sentuhanku.” Dira mengangkat dagunya, menatap Ethan tajam. “Omong kosong. Kau ingin tahu yang sebenarnya? Saat kau melihatku mengenakan pakaian ini, kau terlihat seperti pria kelaparan yang tidak bisa mengalihkan pandangan. Sebenarnya, siapa yang tidak bisa menahan diri? kau atau aku?” Ethan tersenyum miring, senyumnya perlahan menghilang digantikan ketegangan. Ia mendekat, nyaris menyentuh wajah Dira dengan wajahnya sendiri. “Jangan bermain api, Dira. Kau tidak tahu apa yang kau hadapi.” Dira melangkah mundur, tapi tatapan tajamnya tidak berpindah dari wajah pria itu. “Dan kau pikir aku takut? Dengar baik-baik, Ethan, kau mungkin berpikir kau bisa mengendalikanku seperti dulu, tapi aku bukan lagi Dira yang sama. Aku tidak akan membiarkanmu kembali berkuasa atas hidupku.” Tatapan Ethan berubah dingin, seperti samudra yang berubah menjadi badai dalam hitungan detik. “Kau boleh menolaknya sekarang, tapi pada saatnya kau akan menyerah. Ini hanya soal waktu.” Ethan tersenyum tipis, menatap Dira dengan tatapan penuh kemenangan, lalu berbalik perlahan, meninggalkan Dira yang terdiam di tempatnya. Langit mulai berubah warna menjadi gelap, dan angin laut yang dingin menyapu kulit Dira. Namun, yang terasa paling dingin adalah ketakutan di balik dadanya. Ketakutan bahwa, mungkin Ethan benar. Mungkin pada saatnya nanti, ia benar-benar tidak akan berdaya melawan godaan dan kuasa pria itu. Dira mengepalkan tangan. Apa sebenarnya yang direncanakan Ethan? Dan seberapa jauh permainan ini akan membawa mereka?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD