Bab 2 Tuan Presdir Salah Menyasar

1607 Words
Tubuh Amira digeletakan di atas lantai marmer yang dingin di dalam satu kamar hotel mewah. Tampak di sana Ruben, memandang puas Amira yang dikiranya Erika. ‘Akhirnya,’ terdengar suara hati sang presdir, ‘Aku dapatkan juga kamu, Erika Khapoor!’ dia merasa puas bisa mendapatkan target incarannya, ‘Malam ini kamu akan menjadi perempuan paling menyedihkan, Erika Khapoor! Ini harga yang harus kamu bayar karena menghinaku dengan lantang di depan para pengunjung di night club sebulan lalu.' Ruben sangat sakit hati dihina Erika, sehingga bertekad menghancurkan hidup gadis itu yang sudah mengobral tubuh seksi si gadis ke banyak pria seperti dirinya. Sebulan lamanya dia mengerahkan anak buahnya menemukan Erika yang sengaja bersembunyi darinya. Kini dia merasa berhasil menangkap Erika. Saatnya membalas sakit hati. Amira mulai siuman, di mana kedua matanya dikerjap-kerjapkan, lantas menyisiri ke sekitar. Melihat si nona siuman, Ruben segera bergerak mendekati, lantas mencengkram kedua sisi pipi sang gadis, ditatap sengit penuh dendam. Pria itu tidak menyadari yang dihadapannya bukan lah Erika Khapoor karena profil wajah dan bentuk tubuh Amira sama persis dengan target si pria. “Tu, tuan siapa?” terdengar suara Amira yang gemetaran bertanya siapa Ruben yang menatapnya sengit. Ruben terkesiap mendengar pertanyaan Amira, diamati gadis itu, lantas terdengar hardikan lantangnya, “Jangan berlakon Erika Khapoor!” Ruben menghardik kasar sang nona, “Kamu mengenalku, Erika!” “Saya tidak mengenal anda, tuan.” “Begitu kah? Lantas siapa yang kamu hina sebulan lalu di depan semua pengunjung night club, juga di media sosial?” “Apa maksud anda? Saya tidak mengenal anda, mengapa bisa dikatakan menghina anda? Saya pun tidak pernah ke night club.” Ruben mendengar ini merasa sedikit terheran, karena sorot mata Amira saat bicara tiada berbohong. Namun dia meragukan itu karena kadung dendam ke Erika. Diberi satu hadiah di pipi si gadis dengan keras, membuat gadis itu tersuruk mencium lantai. Setelah itu dia mendekati Alta, mengambil cambuk dari tangan sang asisten, lantas dilayangkan cambuk tersebut dengan keras ke lantai. Amira mendengar suara cletar dari cambuk terkaget, langsung memandang ke sang presdir. Tubuhnya menjadi gemetaran sebab sorot mata pria itu sangat kejam, dirasa ingin mengakhiri hidupnya. Ruben yang dipenuhi dendam dan kemarahan melayangkan cambuk ditangannya ke Amira. Tidak memperdulikan pekik kesakitan si nona. Dia baru berhenti saat Alta menghentikannya karena melihat si gadis tidak bisa bertahan lebih lama. Sangat sayang jika berakhir ke alam abadi, karena sang gadis begitu cantik dan lembut. Sang asisten pun mulai merasa nona ini bukan Erika. “Mengapa kamu hentikan aku?” Ruben menatap tajam asistennya. “Tuan, saya merasa kita salah target.” “Salah target katamu? Hei, Erika itu perempuan penuh tipu muslihat! Buktinya sebulan ini kita tidak bisa menemukannya!” “Tuan, saya merasa nona ini memang bukan nona Erika, selain dari perkataannya yang berulang kali mengatakan bukanlah nona Erika.” Alta mengemukan pendapatnya, “Lantas Dino dan orang-orang utusan anda mengatakan nona ini mengendarai motor matic, dan keluar dari gedung kantor Drive Indo perusahaan jasa transportasi antar jemput,” Imbuhnya mengatakan alasan lainnya mengapa merasa Amira memang bukan Erika. Ruben terkesiap mendengar ini, segera didekati Amira yang sudah megap-megap kesakitan. Dicengkram wajah gadis itu, diamati dengan lebih teliti. Dia sangat ingat wajah Erika yang menghinanya. Sang gadis dihadapannya sama persis dengan Erika, bagai pinang dibelah dua. Tidak lama dia menarik kasar sang gadis berdiri, diseret ke ranjang, lantas dilecuti pakaian si gadis yang sudah tercabik akibat hadiah-hadiah darinya tersebut. Baru kemudian melecuti semua pakaian dari tubuhnya. “Jangan!” rintih Amira memandang Ruben dengan penuh ketakutan karena sang pria yang tanpa sehelai benang siap menerkamnya, “Akh!” pekiknya karena presdir itu merenggut kesuciannya. Ruben terkesiap mendengar pekikan ini, “Kamu masih perawan?” dipandang Amira yang kesakitan kena serangannya tersebut, “Apa kamu operasi keperawanan?” ditanya pula sang gadis, mengira perawan karena operasi keperawanan. “Anda memang tidak waras!” jerit sang gadis, “Aku memang masih perawan, bukan perawan karena operasi keperawanan!” “Tidak mungkin!” hardik Ruben masih tidak percaya dengan kenyataan yang ada pada Amira. Sang gadis memang masih perawan, tidak seperti Erika. Erika sudah mengobral oasenya ke beberapa pria seperti Ruben untuk kesenangan semata. “Akh!” terdengar lagi jeritan si gadis sebab Ruben melanjutkan aksinya itu, “Hentikan tuan! Akh!” jeritnya kesakitan sekaligus panik. Alta melihat semua ini menghela napas, merasa tuannya dikuasai dendam semata, sehingga tetap tidak menyadari sudah salah sasaran. Ruben akhirnya berhenti setelah mendapat puncak kenikmatan sekaligus kepuasan merusak si gadis. Namun dia terkaget ketika menemukan bercak red liquid di permukaan luar oase sang nona. Segera saja dia mengecek lengan nona ini, lantas terhenyak karena tidak menemukan tanda lahir di sana yang dimiliki Erika. “Tuhanku!” desaunya tersadar sudah menyasar ke orang yang salah, “Alta!” dijeritin sang asisten, “Alta! Lekas minta Darno bawa mobil saya ke teras depan hotel! Lekas Alta, saya mau gadis ini selamat!” jeritnya panik karena melihat Amira terkulai di ranjang antara sadar dan tidak dengan tubuh terhias red liquid. Segera pula dia kenakan pakaiannya, lantas membungkus tubuh Amira dengan selimut kain, baru digendongnya. Wajahnya terlihat luar biasa cemas. *** Ruben berjalan mondar-mandir di depan bilik yang tertutup tirai di IGD Carter Hospital tempat di mana Amira saat ini tengah ditangani dokter. Wajah pria ini terlihat sangat cemas berbaur penyesalan dikarenakan terbakar dendam ke Erika membuatnya merusak seorang gadis yang tidak dikenalnya sama sekali. Alta melihat kelakuan si bos menghela napas, ikut menyesal karena tidak mengecek dulu siapa gadis yang dibawa orang-orang suruhannya atas perintah sang atasan. Hatinya berharap sang gadis bisa diselamatkan dan dipulihkan. Namun apa bisa itu terwujud? Luka luar bisa sembuh, tapi luka hati? Amira masih gadis, tahu-tahu diperkosa, pasti akan melukai hatinya. Luka itu tidak bisa diobatin secara medis, hanya bisa disembuhkan dengan ketulusan si pemerkosa menyesali merusaknya. Namun apakah bisa Ruben yang di masa lalu yang terluka akibat Irma berselingkuh lantas mereka bercerai memberikan ketulusan penyesalan ke Amira? Apalagi pria itu punya sifat arogan dan tinggi gengsi. Ruben berhenti mondar-mandir, diputar pandangannya ke arah bilik, lantas merentakan satu kakinya ke lantai, “Dams!” terdengar rutukannya, “Sial! Mengapa salah target?” dia merutuki dirinya yang salah menyasar balas dendam, “I***t orang-orang suruhanku!” dirutuki pula orang-orang yang menculik Amira, “Tuhanku!” dia mengusap kasar wajahnya, “Tolong selamatkan gadis itu.” Dia memohon Tuhan menyelamatkan sang gadis. Alta mendengar ini mendekati si bos, “Tuan.” “Kamu!” terdengar suara sang atasan yang sedikit melengking, “Kenapa tidak mengecek dulu sebelum membawa dia ke saya?” disemburkan kekesalannya ke sang asisten. “Kan saya sudah mengatakan ada tanda lahir di salah satu lengan Erika! Gadis di dalam bilik ini tidak memiliki itu!” dia terus menyembur si asisten sambil mengacungkan telunjuk tangan kanannya ke arah bilik tempat si gadis berada. Alta menghela napas, sang atasan memang sudah mengatakan mengenai tanda lahir tersebut, sudah pula hal itu disampaikan ke orang-orang suruhannya. Namun namanya menculik, mana sempat mencari tanda lahir itu toh? Melihat si asisten hanya menghela napas, Ruben kembali merentakan satu kakinya di lantai sambil mendengus kesal. Dia pun kini berkacak pinggang, sesekali satu tangannya mengusap kasar wajah dan kepalanya. Seumur hidup, dia tidak pernah melakukan hal kejam ke perempuan. Namun ketika Erika menghinanya, entah kenapa dia sangat ingin berbuat kejam untuk membalas sakit hatinya ke si gadis. Sayangnya yang kena adalah Amira, bukan Erika. Ruben lantas lebih ke dekat Alta, “Apa kamu sudah mencaritahu identitas gadis itu?” ditanya si asisten yang disuruhnya mencari tahu identitas Amira. “Sudah, tuan.” Sahut sang asisten, karena kalau belum bagaimana bisa pihak IGD menangani sang gadis? “Apa anda mau mendengar laporan saya mengenai itu?” ditanya si bos apakah mau mendengar mengenai hasil penyelidikannya. Pria itu menganggukan kepala, lantas segera duduk di bangku panjang yang terletak di sebelah kanan bilik-bilik pasien. Alta segera mengikuti, tapi tetap berdiri tidak duduk disebelah si bos. “Ayo laporkan ke saya apa yang kamu dapat.” Terdengar suara sang presdir minta asistennya mulai memberi laporan ke dia. “Baik, tuan.” Sahut Alta, “Gadis itu bernama lengkap Amira Nuraini Djalal, berusia 25 tahun, berstatus lajang, bertempat tinggal di Gang Kluwek RT:009 RW:04, Pejaten Jakarta.” Diuraikan hasil penyelidikan sementaranya berdasarkan isi KTP sang gadis. “Namanya Amira Nuraini Djalal?” Ruben menyebut ulang nama lengkap si gadis, “Hanya itu yang kamu ketahui?” dipandang asistennya, “Apa benar dia bekerja sebagai shuttle car driver? Apakah di Drive Indo?” “Benar, tuan. Namun hari ini sudah tidak lagi bekerja di sana.” Ruben tercekat mendengar jawaban Alta, “Apa maksudmu?” “Saat saya menelpon ke perusahaan itu minta bicara dengan HRD manager, beliau mengatakan nona Amira diberhentikan dari sana.” Ruben terperanjat, sorot matanya tampak kebingungan berbaur kepiluan, “Apa alasan Drive Indo memberhentikan nona itu?” “Beliau tidak memberikan penjelasan.” Si bos menghela napas, hatinya terasa mengilu karena gadis yang dirusaknya baru kehilangan pekerjaan. Dia pun merasa pasti hati si nona tengah sedih karena kehilangan pekerjaan, lantas diperkosa pula olehnya. “Tuan.” “Lantas kamu ada bilang,” Ruben kembali bersuara setelah ditegur Alta, “Nona itu mengemudikan motor matic saat dihadang orang-orang saya.” “Benar tuan.” “Motor itu punya Drive Indo atau milik nona itu?” “Milik nona Amira, karena saya menemukan STNK dan BPKB motor tersebut di dalam tas slempangnya.” Ruben terhenyak mendengar ini, lantas memukul satu telapak tangannya dengan kepalan tangan lainnya dengan raut wajah penuh sesal. Dia memang memerintahkan menghancurkan kendaraan yang dipakai Erika, tapi tidak menyangka malah merusak motor milik Amira yang diyakini untuk si nona berangkat kerja ke Drive Indo demi menghasilkan uang sehari-hari dengan menjadi shuttle car driver.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD