Alta menghela napas, semua sudah terjadi, hanya bisa memungut kepingan penyesalan.
“Alta!” terdengar suara si bos, “Kamu lekas belikan satu motor matic tahun terbaru untuk menggantikan motor gadis itu.”
“Baik, Tuan.”
“Lantas,” terdengar lagi suara Ruben,”Kamu kirim orang-orang yang menculik Amira keluar kota di ujung Indonesia ini!” diperintahkan agar si asisten mengirim orang-orang tersebut keluar dari Jakarta.
“Baik, Tuan.”
Sejurus kemudian dari bilik Amira keluar dokter Djarot,
“Maaf semuanya!” terdengar suara si dokter, “Apa ada keluarga Nona Amira Nuraini Djalal di sini?”
Ruben mendengar ini segera berdiri dan bergegas mendekati sang dokter.
“Dok!” disapa pria itu, “Saya keluarganya.” Dia mengaku sebagai keluarga sang nona.
“Anda keluarganya? Suami beliau kah?”
Ruben tersentak mendengar pertanyaan tersebut, lantas menghela napas, “Iya dok, saya suami dia,” Sahutnya Ruben, apa boleh buat mengaku sebagai suami si nona, agar tidak diketahui dia yang membuat sang gadis babak belur. “Gimana keadaannya, dok?” dialihkan pembicaraan karena dia sangat ingin tahu kondisi Amira saat ini.
“Lukanya tidak berbahaya, hanya perlu dirawat beberapa hari di sini.” Sahut dokter Djarot, “Maaf, apa yang sebenarnya terjadi dengan istri anda? Saya melihat dia dianiaya dan diperkosa.”
Ruben menghela napas, dirutuki Erika yang membuatnya menganiaya dan memperkosa Amira, gadis muda yang sama sekali tidak dikenalnya. Kini kondisi Amira boleh dikatakan terluka luar dalam.
“Tuan?” dokter Djarot menegur si bos.
“Emm,” Ruben memutar otak cerdas, “Dok, baiknya anda bikinkan visum agar Alta asisten saya membawanya ke paman saya yang petugas kepolisian.” Dia tidak memberikan jawaban yang diinginkan si dokter.
Jika mengatakan yang sebenarnya, mau ditaruh di mana muka keluarga Diablo? Di Carter Hospital ini, dari mulai Dirut sampai Satpam mengenal keluarga Diablo, karena keluarga tersebut selalu berobat di sana. Lantas juga ada saham di rumah sakit tersebut, plus rekanan dari 3 yayasan sosial milik Ruben.
“Baik, tuan.” Sang dokter paham mengenai Amira adalah urusan keluarga, “Saya segera siapkan kamar perawatan untuk istri anda.”
“Terima kasih, dokter.” Ruben setuju, “Alta, kamu urus administrasi kamar itu. Minta kamar VVIP untuk istri saya itu.” Diberi tugas tambahan ke sang asisten.
“Baik, tuan.” Sahut sang asisten, “Tuan, baiknya anda menemui nyonya.” Dia minta si bos menemui Amira, agar kebohongan sang atasan tidak terbongkar di depan dokter Djarot.
“Iya Alta.” Ruben paham permintaan asisten setia ini, “dok, saya bisa menemui istri saya?” dia bertanya dulu ke dokter Djarot.
“Silahkan.” Sang dokter memberikan izin.
“Terima kasih.” Sang presdir mengucapkan terima kasih, lantas bergegas masuk ke dalam bilik dengan raut wajah cemas.
Begitu di dalam bilik dia terhenyak melihat Amira berbaring dengan wajah pucat berhiaskan beberapa red border line berbubuhkan obat luka. Di lubang hidung si gadis terpasang selang nasal, lantas di pucuk salah satu tangan terpasang jarum infusan.
Hatinya menjadi kian bersalah ke gadis ini. Pelan dia duduk di kursi menghadap sang gadis. Diamati rupa gadis ini dengan teliti.
‘Hmm,’ desaunya, ‘Gadis ini jauh lebih cantik dari Erika.’ Dia menilai rupa si gadis lebih cantik dari Erika perempuan yang menghinanya, ‘Kecantikannya begitu alami, bukan dempulan make up,’ Imbuhnya merasa kecantikan yang ada begitu alami, lantas menghela napas, teringat kembali saat menganiaya dan memperkosa Amira.
Hatinya menjadi nyeri penuh penyesalan karena merusak si gadis. Lantas jika ini diketahui Bruce sang kakek, dia pasti kena hukuman berat, karena si kakek pantang membiarkan pria menganiaya perempuan, apalagi sampai memperkosa.
‘Maafkan aku.’ Bisik hatinya dengan nada penyesalan sambil memandangi Amira, ‘Aku pasti bertanggungjawab menyembuhkan semua lukamu ini,’ Imbuhnya berjanji bertanggungjawab menyembuhkan nona malang tersebut.
Tidak lama kedua mata Amira bergerak-gerak. Gerakan ini dilihat Ruben. Pria ini spontan saja mengulurkan satu tangan untuk menepuk-nepuk pelan salah satu pipi si gadis agar dibantu bangun.
Sang gadis pun terjaga, membuka kedua matanya, langsung melihat Ruben dihadapannya. Maniknya terbelalak sebab masih mengingat sosok pria tersebut yang tega menganiaya dan memperkosa dia.
“Akh!” menit kemudian terdengar jeritannya yang penuh ketakutan dan kemarahan, “Akh!”
Ruben terkesiap mendengar ini, lantas kebingungan karena teringat pula bagaimana dia melakukan kekejaman ke gadis tersebut.
“Akh!” kembali terdengar suara jeritan Amira, “Jangan!” dia yang dipenuhi ketakutan mengira Ruben akan kembali menerkamnya, “Akh!” dia pun segera bangun sambil mengibas-kibaskan tangan untuk menyingkirkan tangan tuan presdir yang tadi menepuk pipinya, “Pergi kamu! Kamu biadab! Pergi!” jeritnya mengusir pria itu yang semakin terlihat kebingungan.
Jelas kebingungan karena dipenuhi penyesalan yang datang terlambat, lantas sifat pria ini pun arogan enggan mengakui sudah berbuat kesalahan.
Alta dan dokter Djarot mendengar jeritan ini, segera ke dalam bilik, lantas menemukan Amira histeris mengibas-kibaskan tangan mengusir Ruben.
“Nyonya!” seru si asisten cepat mengatasi masalah karena dilihat si bos kebingungan menghadapi Amira, “Nyonya!” beliau memanggil sang nona dengan nyonya, “Anda tenanglah!” diminta si gadis untuk tenang, “Beliau ini tuan Ruben, suami anda,” Imbuhnya menunjuk sang atasan saat nona tersebut memandangnya heran karena dipanggil dengan nyonya.
“Suami aku?” Amira terkaget mendengar ini, dipandang Ruben dengan sorot mata penuh kemarahan, “Dia bukan suami aku! Dia pria tidak waras yang sembarangan menganiaya dan memperkosaku karena mengira aku adalah Erika perempuan yang menghinanya!” disemburkan kemarahannya.
Ruben dan Alta terkaget mendengar ini, saling berpandangan, harus melakukan apa karena Amira mengatakan semua itu dengan suara lantang.
Amira semakin histeris karena Ruben tidak juga pergi dari hadapannya, sehingga pria itu terpaksa menangkap kedua tangan sang gadis, lantas dibungkam bibir nona ini dengan kuluman bibirnya. Dia pun memeluk erat si nona yang meronta ketakutan. Saat itu pun dia mencoba berkomunikasi ke hati dan pikiran nona tersebut.
‘Amira,’ disebut nama sang gadis, ‘Aku bersalah ke kamu, aku pasti bertanggungjawab atas semua yang kamu alami. Kumohon kamu tenang, agar masalah itu tidak tersebar kemana pun demi nama baikmu sendiri, juga aku.’
Pelan dilepas ciumannya, ditatap kedua manik nona malang ini dengan pandangan menyesal dan kesungguhan hati untuk bertanggungjawab ke sang nona. Untuk pertama kali dalam hidup seorang Ruben Diablo berani mengakui kesalahan.
“Namamu Amira kan?” tanya sang presdir dengan suara pelan, “Aku tahu dari kartu identitasmu.” Imbuhnya karena kedua manik si nona selain penuh kemarahan, juga terlihat keheranan mengapa dia tahu nama sang gadis.
Amira menghela napas, “Pergilah!” diminta tuan muda meninggalkannya, “Aku tidak mau melihatmu!” imbuhnya tegas dengan sorot mata penuh kebencian. “Pergi!” dihardik sang presdir yang tidak juga beranjak pergi.
Alta segera membawa keluar dokter Djarot, agar persoalan yang terjadi dapat dirundingkan pasangan tersebut.
“Kumohon, Amira.” pelan terdengar Ruben membujuk Amira agar berhenti mengusirnya yang bagi seorang presdir arogan itu menghina sekali, “Tolong kamu tenang, percaya ke aku. Aku pasti bertanggungjawab ke kamu.” Dia memohon agar si gadis percaya ke dia, sehingga tetap tenang.
“Kamu takut, apa yang terjadi menyeretmu ke penjara?” pelan Amira bersuara dimana menatap pria tersebut dengan pandangan penuh kemarahan, kesakitan, dan dendam.
“Jika aku masuk penjara, lantas gimana sama kamu? Aku sudah tahu kamu baru dipecat dari Drive Indo tempatmu bekerja sebagai shuttle car driver, maka kamu perlu aku kan untuk menopangmu hingga sembuh agar bisa kembali bekerja?”
“Aku tidak butuh kamu,” Amira menyahut sengit, “Tidak akan butuh kamu. Kamu sudah merusak hidupku!”
“Lantas,” terdengar lagi suara Ruben, “Kamu ingin aku masuk penjara?” tanyanya sedikit kesal karena si nona tidak mau diajak berdamai.
“Iya!” sahut sang gadis menatap sengit pria ini, “Kamu takut mendekam di sana, hmm?”
“Aku tidak takut, tapi kamu akan mengalami kebuntuan jika merealisasikan itu.” Ruben kembali menjadi kesal, “Kamu tidak mengenalku, apa pekerjaanku, di mana rumahku tinggal, dan lainnya yang semua itu pasti ditanyakan pihak hukum,” Dijelaskan maksud perkataannya bahwa Amira akan mengalami kebuntuan jika tetap menuntutnya di jalur hukum, “Lantas, proses hukum itu tidak sebentar, sedangkan kamu dalam kondisi sakit. Kemudian aku sudah menjamin seutuhnya bertanggungjawab ke kamu, apakah polisi bisa menjebloskanku?”
Amira menyimak semua ini dengan otak cerdasnya, lantas teringat peristiwa yang dialaminya dan sang nenek di masa lalu, dimana mengalami kebuntuan untuk menjebloskan pelaku kejahatan sebab disinyalir adalah orang berada seperti Ruben. Para pelaku memiliki power dalam hukum.
“Mira,” terdengar suara Ruben di mana satu tangannya mengangkat pucuk dagu si nona, “Tolong beri aku kesempatan menebus kesalahanku itu.”
“Kamu pikir bisa menebus kesalahanmu? Kamu perkosa aku yang masih gadis.”
“Aku segera agendakan operasi keperawanan untukmu.”
“Apa dengan itu luka di hatiku hilang? Apa bisa kehormatanku sebagai perempuan kembali? Aku bukan perempuan kebanyakan yang bisa melakukan berkali operasi keperawanan!”
Pria ini terkesiap mendengar semua perkataan sang gadis. Tidak menduga masih ada perempuan seperti Amira yang sangat menjaga kesucian diri sebagai perempuan. Mahkotanya hanya untuk pria yang menjadi suaminya. Jika terjadi masalah seperti saat ini, pantang untuk dikembalikan keperawanan dengan operasi.
Amira melepas tangan tuan presdir ini dari pinggang dan punggungnya, lantas hendak mencabut selang nasal dan jarum infusan, tapi cepat dicegah pria tersebut.
“Mira!” terdengar suara Ruben sedikit menghardik, “Kamu masih terluka, butuh bernapas dengan bantuan oksigen, dan juga butuh obat dari infusan!”
“Anda tidak perlu menghardik saya!” Amira menjadi kesal, menyembur balik tuan presdir, “Saya tidak apa-apa! Lantas saya tadi mengatakan tidak butuh pertolongan anda!”
“Mira, siapa keluargamu?” tiba-tiba Ruben mengajukan pertanyaan di luar tema pembicaraan ini.
Amira terkesiap mendengar pertanyaan tersebut, lantas teringat sang nenek yang terbaring di ICU menanti dirinya membawa uang untuk operasi dan lainnya. Segera saja dia melepas selang nasal dan infusan, dipandang Ruben yang menghela napas melihatnya sangat keras kepala,
“Di mana pakaian dan barang-barangku?”
“Pakaianmu sudah rusak, tunggu aku belikan yang baru untukmu.” Sahut pria tersebut, “Barang-barangmu ada di Alta asistenku yang tadi kamu lihat.” Imbuhnya, “Kamu tetap mau pergi dari rumah sakit?”
“Andung nenekku membutuhkanku!” Amira terlihat panik saat ini, “Andung di ICU saat ini!”
Ruben mendengar ini terkejut bukan main, “Apa kamu bilang? Nenekmu sedang di ICU? Beliau kenapa?” dia pun bertanya karena menjadi cemas.
“Sudah, kamu tidak perlu tahu urusanku!” Amira tidak memberi jawaban, “Tuan, tolong barang-barang aku.” Dia meminta barang-barangnya kembali, “Aku harus segera ke Andung.” lantas segera menyibak selimut dari badannya, kemudian tergesa turun dari bed perawatan. Namun karena dia dalam kondisi terluka luar, membuat tenaganya menurun drastis, sehingga tersuruk jatuh,
“Amira!” pekik Ruben cepat menangkap badan gadis itu sebelum landing ke lantai, “Astaga, Mira!” pekiknya lagi karena tampak sang gadis terkulai lemas, lantas pingsan, “Amira!” jeritnya panik, “Dokter! Dokter, tolong istri saya!” dia pun menjerit minta pertolongan petugas medis sambil menggendong nona malang tersebut dengan wajah penuh kecemasan.