Chapter 44

1009 Words

Pukul sembilan pagi Fadli sudah berada di bandara menunggu jam penerbangannya. Ia duduk bersebelahan dengan istrinya sambil terus menggenggam tangan istrinya. Sedih rasanya harus meniggalkan istrinya walau hanya sebentar. Iya, dua minggu itu bukanlah waktu yang lama, tapi baginya meninggalkan Dira selama dua minggu sama seperti dua tahun. Fadli menolehkan kepalanya, melihat istrinya yang tengah menundukkan kepalanya. Ia tahu istrinya sedih karena harus berpisah dengannya. Melihat istrinya menunjukkan wajah sedih membuatnya semakin tidak tega untuk meninggalkan istrinya dan calon anaknya. Laki-laki itu merangkul bahu Dira sambil mengusap-usap punggung tangannya. "Jangan sedih, nanti baby nya juga ikut sedih kalo Mamanya sedih. Ayo senyum, hari ini aku belum liat kamu senyum lho." Dira me

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD