Cecilia Pervita
"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Stevani teman kerja Cecilia.
"Huh? Tidak" Cecilia menggeleng setelah membuang nafas kesal, "aku hanya kesal dengan pelanggan yang baru saja aku hantarkan minumannya" sambungnya lagi seraya meletakkan nampan yang dia pegang sejak tadi di atas meja bartender.
"Dan siapa memangnya orang itu? Kenapa kau terlihat sangat kesal?" Stevani terlihat bingung sebab baru kali ini dia melihat wajah temannya sekesal itu.
"Kau tau, Stev? Orang itu Devan Alexander, salah satu Billionaire sukses itu" beritahu Cecilia dengan wajah kesalnya "dia bilang kalau aku jalang baru disini!" geramnya jika mengingat kembali ucapan pria itu.
Stevani tergelak mendengar kalimat terakhir Cecilia sambil geleng-geleng kepala. "Jangan bermain dengannya. Kau tau bukan? Seberapa berkuasanya dia di New York" peringatnya sembari mengangkat kedua bahunya.
Cecilia bergidik ngeri. Tanpa diberitahu pun dia sudah mengehtahuinya. Sebab nama pria itu kerap dia lihat dalam majalah bisnis atau portal berita. "Aku tau. Huh... semoga saja ini adalah pertemuan pertama dan terakhir kami"
Kini Stevani menilik wajah Cecilia cukup lekat. "Apa dia memberimu tip besar?"
Cecilia mengangguk seraya tersenyum sangat lebar "ya, untuk itu aku sangat berterima kasih padanya"
Stevani terkekeh tak percaya. "Kau benar-benar aneh. Semua wanita akan mencari perhatian pria itu, kau tau? Selain kaya dia juga sangat tampan" serunya dengan semangat.
Cecilia memutar bola matanya. Menurutnya, Stevani terlalu berlebihan. "Untuk apa kaya dan tampan? Tapi mulutnya tidak beretika" sarkasnya diakhiri dengusan kesal.
"Jaga ucapanmu. Jangan sampai kau terkena masalah karena omonganmu sendiri" nasihat Stevani penuh peringatan.
"Hm, kau benar, Stev. Semoga saja aku tidak berurusan lagi dengan pria itu. Sudahlah, lebih baik kita kembali bekerja. Tidak ada gunanya membicarakan orang yang tidak kita kenal" saran Cecilia yang diangguki oleh Stevani.
"Baiklah old maid, mari kita kembali fokus bekerja" ledek Stevani lalu terkekeh renyah.
Cecilia langsung melemparkan tatapan sengit begitu mendengar ejekan Stevani. "Berhentilah meledekku, Stev"
Setvani melirik Cecilia sejenak. "Apa? Memang benar bukan? Kau masih perawan di usiamu yang sudah dua puluh dua tahun" ejeknya lagi dengan wajah menjengkelkan.
"Terserah" geram Cecilia, ditanggapi dengan gelakan tawa oleh Stevani.
Mereka kembali disibukkan dengan pekerjaan, sebab masih banyak pelanggan yang harus mereka layani hingga shift kerja mereka selesai.
Johan tersenyum penuh arti setelah mencuri dengar dari balik tembok percakapan antara wanita cantik yang bernama Cecilia dan teman kerjanya "sangat menarik" gumamnya.
Setelah mendatangi ruang Manager dan meminta data Cecilia, Johan dengan cepat meminta salah satu anak buahnya untuk menggali lebih dalam tentang riwayat Cecilia.
******
Cecilia mengayunkan kakinya menyusuri blok untuk mencapai apartemennya. Dia tinggal disalah satu kawasan kumuh yang terletak tidak jauh dari tempatnya bekerja.
Wanita cantik itu mengeratkan coat lusuhnya menghalau dinginnya udara malam yang masuk melalui celah bajunya. Dia baru saja kembali bekerja saat pukul dua dini hari.
Begitu sampai di depan pintu apartemennya. Cecilia mendapati note yang tertempel pada daun pintu. Cecilia mengambil note tersebut lantas membacanya, isinya tentang tagihan uang sewa apartemen yang sudah dia tunggak selama tiga bulan terakhir.
Helaan nafasnya terdengar berat. Untung saja pria menjengkelkan tadi memberikan uang tip yang cukup besar padanya, sehingga dia bisa menyicil uang sewanya pada Nyonya Gloria pemilik apartemen yang dia tempati saat ini.
Dengan perlahan Cecilia mendorong pintu apartemennya. Tangannya beralih pada tembok, lantas menyalakan saklar lampu. Tidak banyak barang yang dia miliki. Hanya tempat tidur kecil, lemari plastik kecil, cermin dan meja rias, satu buah sofa dan meja kecil, serta kulkas mini.
Setelah meletakkan tasnya, Cecilia pun memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari bau rokok dan alkohol. Cecilia melirik jam kecil yang terletak di atas meja riasnya. Jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari, dia harus segera tidur sebab besok pagi masih harus bekerja menjadi pengantar s**u lalu melanjutkan pekerjaannya lagi sebagai pelayan di sebuah toko bunga.
Alarm berbunyi pukul lima pagi. Dengan malas Cecilia membuka kelopak matanya seraya menguap lebar, kemudian mengucek matanya. Meskipun masih sangat mengantuk tapi dia harus segera bangun untuk mengantarkan s**u pagi ini.
Dengan langkah gontai Cecilia memasuki kamar mandi. Setelah berpakaian cukup rapih dia beranjak keluar dari kamarnya. Kakinya kembali terayun menyusuri gang untuk mencapai kedai s**u.
"Selamat pagi, tuan Jim" sapa Cecilia begitu mendapati tuan Jim yang berdiri membelakanginya.
Mendengar namanya disebut, Jim pun memutar balik tubuhnya. Diawali senyum hangat, Jim pun balas menyapa "Pagi, Cecil, bagaimana harimu?"
"Seperti biasa, tuan, tidak ada yang berubah" sahut Cecilia lalu tertawa kecil. Tangan mungilnya dengan lihai memasukkan botol penuh berisi s**u ke dalam milk basket lalu meletakkannya di keranjang sepeda.
Seperti biasa, Jima akan menanggapi dengan senyuman hangatnya. "Sabar gadis cantik, Tuhan pasti akan membalas semua kesabaranmu"
Cecilia menoleh sejenak lantas membalas senyum pria paruh baya itu. "Aku sangat menantikan hari itu, tuan Jim. Aku pamit, Tuan, hari sudah semakin siang" balasnya seraya menaiki sepeda kemudian mengayuhnya secara perlahan.
"Hati-hati, Cecil" teriak Jim sebelum Cecilia menjauh dari kedainya.
Cecilia berhenti sejenak, dia mengangguk sambil tersenyum kemudian melambaikan tangannya. Kakinya mulai mengayuh kembali sepedanya menuju rumah para pelanggan s**u. Cecilia mengusap peluh yang bercucuran di kening dan lehernya, matahari sudah menyorot tinggi.
Tepat pukul tujuh lebih sepuluh menit dia sudah selesai mengantarkan seluruh pesanan s**u ke semua pelanggannya. Cecilia kembali untuk mengembalikan sepeda serta botol kosong di kedai.
Setelah Cecilia memarkirkan sepedanya sejajar dengan sepeda lainnya. Dengan segera dia mengangkat milk basket yang berisi botol kosong dan meletakkan di tempatnya.
"Aku pulang dulu, tuan Jim" Cecilia tersenyum manis begitu pekerjaannya selesai.
Jim mengagguk. "Hati-hati, nak"
Cecilia kembali menoleh lalu melambaikan tangannya "sampai jumpa besok, tuan Jim"
Kaki jenjangnya menyusuri gang menuju apartemennya untuk beristirahat sejenak. Sesampainya dalam kamar, Cecilia mengganti pakaiannya serta membasuh wajahnya. Setelah itu dia melanjutkan tidurnya yang sempat terpotong tadi.
Rasanya belum lama dia memejamkan matanya namun suara pintu apartemen yang diketuk diketuk dari luar membuatnya kembali terjaga. Tidak perlu menebak siapa yang berkunjung ke apatemennya selain Nyonya Gloria. Dengan malas Cecilia melangkah ke arah pintu, dan benar saja, karena begitu membuka pintu tatapan tajam Nyonya Gloria langsung menyambutnya.
"Kau sudah membaca pesanku Cecil?" tanya Nyonya Gloria sambil menerobos masuk ke dalam unit apartemen Cecilia.
Nyonya Gloria adalah pemilik gedung tempat dia menyewa kamar. Tubuhnya gemuk dengan rambut penuh dengan roll.
"Sudah, Nyonya, tapi saya baru memiliki setengahnya saja" jawab Cecilia takut-takut seraya menyerahkan sejumlah uang yang memang sudah dia persiapkan.
Nyonya Gloria mendelik dengan wajah garang. "Aku beri kau waktu satu minggu untuk menyerahkan sisa uangnya. Jika tidak, kau bisa angkat kaki dari sini!" ancamnya ketus lalu merebut paksa uang tersebut dari tangan Cecilia.
Cecilia menelan slavianya susah payah, dengan wajah lesu dia membalas, "baik, Nyonya, akan saya usahakan"
Nyonya Gloria tidak menanggapi ocehan Cecilia sebab maniknya sibuk menghitung uang sembari berjalan keluar kamar.
Begitu Nyonya Gloria pergi, Cecilia kembali menghempaskan tubuhnya di kasur kecilnya. "Dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu satu minggu?" gumamnya dengan mata terpejam. Lebih baik sekarang dia tidur memikirkan masalah uang membuat kepalanya ingin pecah.
******
Pukul satu siang Cecilia kembali bersiap untuk menuju toko bunga La Madame Florist tempatnya kerja paruh waktunya yang ketiga.
Dengan kantuk yang masih menguasai dirinya, Cecilia pun kembali menyusuri jalan setapak menuju toko bunga.
"Selamat siang, Madam Emma" sapa Cecilia begitu membuka pintu masuk.
"Selamat siang, sayang" sambut Emma dengan senyum hangatnya.
Pekerjaan ketiganya dimulai. Cecilia mengenakan apron dan sarung tangan. Lalu mulai mengecek bunga-bunga yang berjejer dalam pot.
Cecilia bekerja tanpa mengenal waktu, kerasnya hidup mengharuskannya untuk pontang panting mencari uang demi kelangsungan hidupnya. Demi uang yang tidak seberapa hasilnya, dia bahkan sampai kekurangan jam tidurnya. Cecilia hanya memiliki lima sampai enam jam sehari untuk tidur, itupun dengan waktu yang terpotong karena pekerjaannya. Diusia yang sudah memasuki dua puluh dua tahun, tak pernah sekalipun dia memiliki kekasih. Jangankan untuk memiliki, memikirkannya saja tidak sempat sebab waktunya dia habiskan hanya untuk bekerja dan bekerja.
******
Johan berdiri tepat di depan meja kerja Devan. Dalam genggaman tangannya ada sebuah map hasil laporan kerjanya.
"Bagaimana? Apa kau sudah mendapatkan apa yang aku inginkan?" tanya Devan tak basa basi pada Johan asisten pribadinya.
"Sudah, Sir" Johan menyerahkan map berisi laporan identitas wanita yang bernama Cecilia.
Devan mengambil map tersebut dan membacanya dengan teliti. Matanya menatap serius setiap huruf yang tertulis di kertas itu.
Data Pribadi
Nama : Cecilia Pervita
Usia : 22 tahun
Tinggi : 175cm
Berat Badan : 51kg
Ukuran Bra : 34
Ukuran Sepatu : 8
Status : Single, Belum pernah berpacaran dan masih Virgin
Bekerja Sebagai : pengantar s**u, pelayan toko bunga di La Madame Florist dan pelayan di New York-New York Hotel & Casino
Punya tanggungan hutang ditempat kerja dan apartemennya.
Anak : tidak diketahui (anak panti)
Orang Tua : tidak diketahui
Latar Belakang : lulusan Cathedral High School (dengan beasiswa)
"Wow, pantas saja, kemarin malam sewaktu dia melihatku sehabis mandi dan masih memakai handuk wajahnya langsung memerah" tawa Devan meledak mengingat wajah wanita itu kemarin malam.
Johan terkekeh, mengingat perbincangan wanita cantik itu kemarin, dia sudah bisa menebak bagaimana ekspresi wanita itu. Hatinya pun lega, setidaknya kandidatnya di terima dengan baik oleh Devan.
"Sangat menarik. Atur pertemuan kami" titah Devan lantas menyeringai.
Johan mengagguk. "Baik, Sir"
"Ah, ya, jangan lupa siapkan juga surat perjanjian untuk jangka waktu enam bulan. Berikan penawaran satu miliar untuk uang muka dan satu miliar setelah tugasnya selesai. Jika diperpanjang akan diberikan nominal yang sama, untuk poin-poinnya akan aku kirimkan lewat email" Devan berujar sambil mengusap dagunya. Benaknya sudah menyusun cara mengenalkan wanita itu dengan kedua orangtuanya.
Johan kembali mengagguk. "Baik, Sir, akan langsung saya kerjakan" sahutnya, setelah itu dia memutar tubuhnya dan beranjak keluar dari ruang kerja Devan.
Setelah Johan keluar, Devan langsung memutar kursi kerjanya menghadap jendela. Pemandangan kota New York langsung memanjakan penglihatannya.
"Hanya ini satu-satunya cara, sayang, agar kita bisa tetap bersama dalam ikatan pernikahan" gumam Devan sambil memejamkan mata. Pikirannya kembali menerawang memikirkan kondisi Grace yang masih terbaring lemah saat ini.
Ponsel Devan berdering, Mommy tercintanya menghubunginya. Devan menghela nafas berat, pasti wanita cantik kesayangannya ini ingin menanyakan kelanjutan acara penikahannya dengan Grace.
"Hai, Mom"
"Dimana kau, Devan?"
"Aku masih di kantor, Mom"
"Ada yang ingin Mommy bicarakan denganmu, sayang, ini mengenai kelanjutan acara pernikahanmu dengan Grace"
Benar bukan dugaannya? Devan menghela nafas.
"Oke, Mom. Aku akan ke mansion kalian nanti untuk makan malam sekaligus membicarakan masalah ini di sana"
"Oke, sayang, Mommy tunggu. See you sweety"
"See you, Mom"
Devan menghembuskan nafas berat begitu sambungan telepon terputus. Dia harus cepat membicarakan ini dengan wanita bernama Cecilia agar rencananya berjalan dengan baik. Dia juga akan mengatakan yang sejujurnya kepada kedua orangtuanya, mengenai rencananya yang akan menikahi wanita lain sebagai pengganti Grace di atas altar nanti.
Tepat pukul enam lewat tiga puluh menit Devan meninggalkan kantornya. Pekerjaannya sangat menumpuk dan banyak yang tertunda karena harus mengurus segala sesuatu untuk pernikahannya dengan Grace. Selama Grace koma, dialah yang meng-handle semua urusan pernikahan mereka.
Devan mengendarai mobil kesayangannya menuju mansion orangtuanya. Pagani Huayra Tricolore Mobil yang hanya dijual sebanyak tiga unit itu masing-masing dibanderol dengan harga US$ 6,5 juta atau sekitar Rp 92,2 miliar (kurs Rp 14.194/US$). Dan Devan adalah salah satu orang yang beruntung bisa memiliki mobil tersebut.