Tawaran
Devan sedang duduk di ruang makan di kediaman kedua orangtuanya. Dengan santai dia memakan makanannya tanpa terganggu dengan tatapan serius Mommy dan Daddynya.
"Jadi bagaimana rencanamu kedepannya, Devan?" Tanya Mommy Shara setelah selesai mengunyah makanannya.
Devan meneguk air mineralnya sebelum menjawab "Aku akan membayar pengantin pengganti untuk Grace di acara pernikahan kami" jelas Devan tenang.
"What? Apa maksudmu, Devan?" Tanya Daddy Robert begitu terkejut. Suaranya pun meninggi dengan mata melebar.
Devan mendesah berat "Aku akan tetap menikahi Grace, meskipun pengantinnya bukan dia nanti di altar" terangnya kemudian.
"Maksudnya, kau akan membayar wanita lain untuk menggantikan Grace di altar begitu? Tapi tetap menyebutkan nama Grace saat pernikahan kalian?" Tanya Mommy Shara memastikan.
"Hem, something like that, Mom"
"Are you kidding me? Kau pikir pernikahan itu main-main?" Daddy Robert menatap tak percaya pada putra semata wayangnya.
"Nope, Dad, aku tidak mungkin membatalkan acara pernikahan kami bulan depan. Tapi kau tau sendiri bukan, bagaimana kondisi kesehatan Grace saat ini?" Devan kembali mendesah saat melihat reaksi penuh pertentangan dari Mommy dan Daddynya.
"Siapa wanita itu?" Todong Mommy Shara dengan raut wajah penasaran.
"Aku sudah ada calonnya, Mom, sekarang sedang aku usahakan untuk berbicara dengannya"
"Gila!" Pekik Daddy Robert lalu membanting sendok-nya dengan kasar.
Mendapat respon seperti itu dari Daddynya membuat Devan menarik nafas dalam-dalam seraya memejamkan matanya sejenak, lalu menyorot serius pada Daddynya. "Daddy, please, tolong mengerti posisiku saat ini. Aku sangat mencintai, Grace, Dad. Dan tidak adil baginya jika aku harus meninggalkannya disaat kondisinya seperti saat ini"
Daddy Robert menopang kepalanya sambil menekan pangkal hidungnya, mencoba untuk meredam amarahnya. "Son, Daddy bukan tidak mau mengerti posisimu. Dad hanya memikirkan bagaimana ke depannya?"
"Aku akan membayarnya untuk kontrak per enam bulan, Dad" jawab Devan tanpa keraguan.
"Apa kau yakin dia tidak akan menuntut banyak hal dan membuat kacau nantinya? Mom ragu dengan semua wanita liar di luar sana, sayang"
"Mom tenang saja, aku akan membuat surat perjanjian dengannya. Dan poin yang aku gunakan nantinya cukup untuk mengikatnya agar dia tidak bisa macam-macam"
"Terserah kau saja! Pokoknya Dad tidak mau sampai ada kekacauan nantinya, dan bumerang untuk dirimu sendiri" peringat Daddy Robert yang sudah tak mampu mencerna isi kepala putranya.
Mendapat angin segar, Devan pun mengguk yakin. "Sure, Dad"
"Sebelumnya, Mom ingin kau bawa dulu wanita itu ke mansion ini. Mom ingin melihat secara langsung pilihanmu itu!" Seru Mommy Shara.
"Oke, Mom, setelah semua beres aku akan langsung mengenalkan kalian dengannya"
Mommy shara mendesah pasrah kemudian melirik suaminya yang sudah menunjukkan wajah tak bersahabat.
Sadar jika kedua orangtuanya masih menyimpan keraguan, Devan pun menatap keduanya datar, lalu membersihkan mulutnya dengan serbet. "Aku sudah selsai"
"Kau tidak ingin menikmati makanan penutup, sayang?" Tanya Mommy Shara seraya melirik kembali suaminya yang sudah membuang wajahnya.
"No, Mom, aku akan langsung kembali sebab pekerjaanku menumpuk" setelah mengatakan itu, Devan beranjak dari duduknya.
Hanya Mommy Shara yang mengantarnya hingga ke pintu utama. Devan pun tidak mempermasalahkannya, dia yakin jika Daddynya hanya mengkhawatirkannya saja.
Setelah berpamitan, Devan mengendarai mobilnya menuju mansionnya.
******
"Dengan, Nona Cecilia?" sapa Johan ketika melihat wanita yang sudah ditunggunya berjalan sendirian.
Cecilia menghentikan langkahnya, keningnya berkerut menatap lamat pria yang ada di hadapannya.
"Ya, benar, anda yang kemarin malam di Casino dengan pria yang memesan minuman itu, bukan?" tanyanya sedikit ragu sebab dia hanya bertemu satu kali.
"Betul, Nona, bisa kita bicara sebentar?"
Cecilia menatap lekat pria asing itu, lalu mengamati sekitar sebelum mengangguk ragu. "Oke, mau bicara apa?”
Mendapat persetujuan dari Cecilia membuat Johan sedikit bersemangat. "Mari ikut saya, Nona, tidak mungkin kita berbicara di tengah jalan seperti ini"
Cecilia menatap waspada pada pria asing itu, mau apa pria itu pikirnya. "Sebenarnya ada apa?"
Johan tersenyum maklum menanggapi. Tidak ada yang tidak curiga dengan ajakannya yang terlalu tiba-tiba, terlebih lagi mereka baru bertemu satu kali. "Nona tenang saja, saya tidak akan berbuat macam-macam. Kita akan berbicara di cafe diseberang sana" ucapnya lalu menunjuk Cafe yang lumayan ramai.
Cecilia melirik Cafe tersebut lalu mengangguk ragu. "Baiklah" jawabnya pada akhirnya.
Johan menunduk sopan seraya mempersilahkan wanita cantik itu berjalan lebih dulu. "Mari, silahkan, Nona"
Dengan langkah ragu, Cecilia mengayunkan kakinya lebih dulu menuju Cafe tersebut diikuti oleh pria asing itu dibelakangnya.
Sesampainya mereka dalam Cafe, Johan langsung mempersilahkan Cecilia untuk duduk lalu memesan beberapa menu makanan dan minuman.
"Silahkan di nikmati" ucap pelayan Cafe setelah meletakkan semua menu pesanan pelanggannya di atas meja.
"Terimakasih" Johan menjawab diselingi senyum tipis diikuti oleh Cecilia.
"Silahkan, Nona, tidak perlu sungkan"
Cecilia melirik sejenak hidangan di hadapannya "Thank you, tapi bisakah kita langsung pada intinya saja?"
Johan mengagguk, kini wajahnya berubah menjadi serius. "Begini, Nona. Saya ingin menawarkan pekerjaan kepada anda. Ini tidak berat hanya untuk jangka waktu enam bulan saja dan anda akan mendapatkan satu milliar dimuka lalu satu milliar lagi setelah selesai"
Cecilia menganga begitu mendengar jumlah uang yang di tawarkan tidak sedikit jumlahnya. "Maksud anda bagaimana, Sir?"
"Begini, Nona Cecilia, pekerjaan ini berhubungan dengan tuan Devan"
Tanpa sadar Cecilia mendengus seraya memutar bola matanya begitu mendengar nama pria menjengkelkan itu. "Apa, jelaskan padaku?" Tuntutnya tidak sabaran.
Awalnya Johan sedikit terkejut mendapati reaksi wanita cantik di hadapanny. Namun, dia tidak melakukan apapun selain tersenyum canggung. "Maaf, Nona, ini akan melibatkan hidup anda selama enam bulan ke depan. Tuan Devan memiliki tunangan yang sedang koma saat ini, sementara bulan depan mereka harus melangsungkan pernikahan. Semua persiapan sudah dilakukan dan semua tinggal menunggu waktunya saja. Tidak mungkin Tuan Devan membatalkan acara pernikahannya karena seluruh undangan sudah tersebar. Untuk itu, tuan Devan berniat mencari pengantin bayaran untuk menggantikan Nona Grace saat di altar nanti, hingga enam bulan kedepannya. Untuk berjaga seandainya Nona Grace belum juga sadar dari komanya. Tetapi, jika Nona Grace sudah sadar sebelum masa kontrak habis, anda bisa langsung pergi dan kontrak dinyatakan selesai. Jadi berdasarkan penilaian kami, anda adalah kandidat yang paling pantas untuk menggantikan Nona Grace nantinya. Anda dan Tuan Devan akan tinggal dalam satu atap selama kontrak berjalan, tapi dengan kamar yang terpisah"
Rahang Cecilia seakan jatuh, begitu mendengar penjelasan dari pria di hadapannya saat ini. Bisa-bisanya Devan memiliki ide segila ini. Apakah Devan pikir Cecilia akan tergiur begitu saja? Tentu saja. Dia memang sangat membutuhkan uang saat ini. Terlebih uang yang di tawarkan tidak main-main jumlahnya. Tawaran ini seperti angin surga untuknya. Namun, Cecilia tidak boleh gegabah dalam mengambil keputusan besar.
"Maaf, dengan tuan?" Tanya Cecilia.
"Johan, saya asisten pribadi tuan Devan"
"Baik, begini, tuan Johan, apa anda yakin? Eum..., maksud saya pernikahan itu bukan hal main-main dan kalian dengan gampangnya mencari pengantin bayaran?"
Johan tersenyum simpul. "Maaf, Nona, tapi saat di altar nanti tuan Devan akan tetap menyebut nama Nona Grace sebagai mempelai wanitanya. Anda hanya akan menggantikan tubuhnya saja di sana, jadi saya rasa tidak masalah"
Cecilia mengetuk telunjuknya di atas meja. "Bisa saya pikirkan terlebih dahulu?"
Johan mengangguk. "Saya hanya akan memberikan waktu pada anda hingga besok malam, Nona. Jika anda bersedia, anda bisa langsung menandatangani kontraknya dan saya akan menyerahkan satu miliar sebagai uang mukanya. Ini kartu nama saya, anda bisa langsung menghubungi saya jika anda sudah mendapatkan keputusan. Ini adalah peluang yang bagus untuk anda, Nona. Tuan Devan bukan orang yang sembarangan dalam memilih partner kerja. Anda bisa menggunakan uang ini untuk membangun bisnis yang anda inginkan.
Cecilia menerima kartu nama tersebut, lantas mengamatinya sejenak. "Baik, Sir, kalau begitu saya akan langsung menghubungi anda nanti jika saya sudah menentukan pilihan" ujarnya. Lalu kini maniknya tertuju pada hidangan yang belum sempat di sentuhnya. "Eum..., bolehkah saya membawa makanan ini?" Tanyanya dengan malu yang dia tekan sedalam mungkin.
"Silahkan, Nona, sebanyak yang anda mau" sahut Johan tanpa ragu, kemudian tersenyum.
Dengan canggung dan wajah malu Cecilia meminta Waiters untuk membungkus makanan yang tersaji di atas meja. Semua makanan itu cukup mahal dan terlihat menggiurkan. Cecilia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan langka ini begitu saja. Meskipun dia harus menekan sedalam mungkin rasa malunya. Namun, demi mengisi kekosongan perut yang belum sempat terisi, Cecilia rela memintanya.
******
Johan sudah berada di mansion Devan. Lebih tepatnya diruang kerja Devan. Dia ingin melaporkan seluruh perkembangan tugasnya.
"Bagaimana? Kau sudah mendapat hasilnya?" Devan bertanya tanpa basa basi pada asisten pribadinya yang berdiri di depan meja kerjanya.
"Saya sudah menjelaskan semuanya pada Nona Cecilia, Sir. Tetapi, Nona Cecilia meminta waktu untuk memikirkan jawabnya. Dan saya memberikannya waktu hingga besok malam, Sir. Saya yakin dia akan menerima tawaran yang kita berikan. Melihat dari responnya tadi sewaktu mendengar nominal yang akan dia terima"
"Bagus, kau pantau terus perkembangannya. Pastikan dia terdesak dan menerima tawaran itu. Orangtuaku sudah mengetahui rencana ini, mereka ingin bertemu secara langsung dengan Cecilia secepatnya. Sebelum acara pernikahanku dilangsungkan"
"Baik, Sir, anda tenang saja. Saya akan pastikan dia akan menerima tawaran itu besok. Dan ini surat perjanjian yang sudah saya buat berdasarkan poin-poin yang anda minta, Sir"
Devan mengambil map berisi surat perjanjian itu, membacanya dengan wajah puas.
"Good. Dia tidak akan bisa berkutik dengan semua poin ini" ucap Devan dengan senyum miringnya.
Johan tekekeh. "Tentu saja, Sir, semua poin itu sangat menguntungkan untuk anda secara pribadi" sahutnya, diakhiri nada jenaka pada kalimatnya.
"Tentu saja" balas Devan tertawa. Tentu saja semua poin dia buat sedemikian rupa, sehingga semua keuntungan berpihak padanya.
Jangan lupa, jika Devan adalah seorang pembisnis handal. Dan dalam hal seperti ini, dia benar-benar mengatur strateginya dengan baik. Segala sesuatunya dia tolak ukur seperti bisnisnya.
Melihat Devan yang tampak puas dengan hasil kerjanya, membuat Johan tersenyum lega. "Kalau begitu saya pamit permisi, Sir"
"Ya, silahkan, Jo. Terimakasih untuk hari ini" ucap Devan dengan tulus diakhiri senyuman.
Johan balas tersenyum seraya mengagguk. "Sama-sama, Sir, sudah menjadi tugas saya" balasnya tak kalah tulus.
Begitu Johan keluar dari ruangannya, Devan kembali membaca surat perjanjian itu dengan wajah puas. Seringai liciknya terbit. "Kita akan bermain untuk enam bulan ke depan, Cecilia" gumamnya.
Setelah membaca ulang dan memastikan tidak ada yang keliru, Devan pun menyimpan surat perjanjian itu dalam brankas yang terletak di kabinet.
Devan beranjak dari kursi, kakinya terayun keluar menuju kamar yang ditempati tunangannya, Grace. Begitu membuka pintu, hanya kesunyian yang menyambutnya serta bunyi monitor denyut jantung.
Dengan perasaan berat hati kakinya melangkah menuju ranjang tempat wanitanya masih memejamkan mata dengan tenang. Tatapannya tidak lepas sedikitpun dari tubuh pucat yang tidak bergerak itu.
Devan merangkak naik ke atas ranjang lalu merebahkan dirinya di samping tubuh dingin Grace. "Hai.., honey, bagaimana kabarmu hari ini? Apa kau tidak lelah menutup matamu, cantik?" Ujarnya seraya membelai pipi mulus Grace dan mengecup sekilas bibirnya. Hatinya berdenyut perih melihat Grace yang hanya bisa bertahan hidup dengan bantuan alat medis.
"Maafkan aku, sayang. Bukan maksudku untuk mengkhianatimu. Tapi semua ini aku lakukan agar kita tetap bisa bersama. Kau akan tetap menjadi istriku, ratu di hatiku" ucap Devan lalu menghela nafas berat, "cepatlah bangun, sayang, i miss you so much"
Cukup lama Devan mengamati wajah cantik tunangannya untuk sekedar mengobati rasa rindunya. Setelah puas dia menuruni ranjang. Kakinya kembali terayun menuju kamarnya untuk beristirahat. Devan butuh mengistirahatkan otak dan tubuhnya dari semua masalah yang membuat penat.