Desakan
Cecilia menatap kartu nama pria bernama Johan dengan resah, ini adalah satu-satunya kesempatannya. Jika menerima tawaran itu, dia bisa membuka toko bunga impiannya. Lagipula, dia hanya bertugas sebagai pengantin bayaran di atas altar saja bukan? Menggantikan posisi tunangan pria m***m itu selama belum sadar dari komanya. Dan juga hanya enam bulan saja, itu bukan waktu yang lama pikirnya.
Waktunya tidak banyak, Cecilia harus cepat mengambil keputusan, uangnya juga bisa dipakai untuk membayar seluruh tagihan hutangnya. Selain itu dia juga bisa bersantai selama enam bulan ke depan tanpa harus memikirkan biaya sewa apartemen atau makan sehari-hari. Dan yang terpenting, dia tidak perlu bekerja keras. Dan yang paling utama adalah, mendapatkan tempat tinggal sementara dan juga bisa menikmati makanan enak selama perjanjian itu berlangsung. Lagipula hanya akan tinggal satu atap bukan satu kamar.
"Lebih baik aku terima saja, tidak merugikan untukku juga" gumamnya "aku harus menghubungi tuan Johan besok" lirihnya lagi dengan mantab.
Cecilia memejamkan matanya lelah seraya menghela nafas, untung hari ini sedang libur di Casino jadi malam ini dia bisa mendapatkan istirahat yang cukup.
Pagi sekali, seperti biasa, Cecilia harus mengantarkan s**u untuk para pelanggannya, lalu siangnya akan kembali bekerja di toko bunga. Rencanyanya hari ini Cecilia akan izin setengah hari mengingat hanya memiliki waktu sampai malam ini untuk memberikan keputusan.
"Cecil" tuan Jim menghampiri Cecilia yang sedang meletakkan milk basket di tempatnya.
Cecilia menoleh sebentar "ada apa, tuan Jim?" tangan mungilnya kembali bergerak mengeluarkan botol kosong dan menaruhnya di wastafel.
Jim mendesah samar yang masih bisa didengar oleh Cecilia. "Maaf nak, aku harus menagih pinjamanmu sebab cucuku membutuhkan uang yang tidak sedikit jumlahnya" ucapnya menyesal.
Cecilia kembali menoleh lalu tersenyum kaku. "Saya akan segera melunasinya, tuan"
"Bisakah kau mengembalikannya besok pagi, nak? Sebab aku harus mengirimnya segera"
Cecilia kembali tersenyum kaku. "Akan aku usahakan, tuan"
"Maafkan aku, Cecil" gumam Jim lirih hampir seperti bisikan.
Cecilia menggeleng, tak menyetejui permohonan maafnya. Karena menurutnya itu adalah hak tuan Jim. "Itu memang sudah hak anda, tuan"
"Kau gadis baik, semoga Tuhan selalu melindungimu, nak" Cecilia tidak menjawab kakinya mulai melangkah menuju pintu.
"Aku pulang, tuan Jim, sampai jumpa" Cecilia melambaikan tangannya dengan senyum mengembang walaupun hatinya gelisah bukan main.
Jim terkekeh dan ikut melambaikan tangannya. "Sampai jumpa besok, gadis cantik"
Cecilia tertawa renyah mendengar penuturan tuan Jim, kakinya melangkah semakin menjauh dari kedai s**u. Setelah selesai mengantarkan s**u Cecilia kembali ke apartemennya, baru saja sampai didepan pintu suara Nyonya Gloria menghentikan pergerakannya.
"Cecilia" panggil Gloria.
Cecilia memutar tubuhnya "Ya, Nyonya Gloria?" sahutnya lalu menunggu Nyonya Gloria menghampirinya.
"Ada yang harus saya bicarakan denganmu, ini sangat penting" ucap Gloria dengan mimik serius.
Cecilia mengerutkan keningnya dalam tak urung mengangguk. "Silahkan masuk, Nyonya" ucapnya kemudian setelah membuka pintu kamarnya.
Gloria duduk di sofa dengan wajah serius membuat Cecilia gugup. "Begini, Cecil, maafkan saya sebelumnya. Tapi saya membutuhkan uang besok siang, apakah kau bisa melunasi tunggakanmu malam ini?"
Mata Cecilia terbelalak "Kenapa mendadak sekali, Nyonya? saya belum memiliki uangnya jika malam ini"
"Tolong kamu usahakan, ya, saya ada keperluan mendesak untuk anak saya" desak Gloria memaksa.
Cecilia mengambil nafas sejenak lalu tersenyum getir. "Baik, Nyonya, akan saya usahakan memberikan pada anda malam ini"
"Saya tunggu nanti malam, jika kau tidak bisa membayarnya terpaksa saya akan menyewakan kamar ini pada orang lain" ucapnya dengan sedikit mengancam.
Mata cecilia kembali terbelalak kepalanya menggeleng cepat "jangan Nyonya, saya mohon. Saya akan usahakan malam ini melunasi sisa tunggakannya pada anda"
"Baik kalau begitu, saya tunggu!" Nyonya Gloria langsung keluar dari kamar Cecilia. Sebenarnya dia tidak tega dengan wanita muda itu, namun tawaran uang yang lumayan besar dari seseorang yang memintanya melakukan hal ini tidak bisa dia lewatkan begitu saja.
Cecilia memejamkan matanya pedih, sepertinya dia memang harus mengambil tawaran itu. Tadi pagi pemilik kedai s**u juga menagih hutang padanya, kenapa semua jadi serba mendadak dan mendesak seperti ini pikirnya heran.
Dengan ragu Cecilia mengambil ponselnya lalu menghirup udara sejenak kemudian menekan angka yang tertera pada kartu nama tersebut dengan tangan sedikit gemetar. Sambungan telepon terhubung, dengan gugup sambil menggigiti kuku jari tangannya Cecilia menunggu panggilan itu dijawab oleh tuan Johan.
“Halo, dengan tuan Johan?”
“Ya, dengan siapa saya berbicara?”
“Saya Cecilia, Sir. Eum, bisakah kita bertemu sore ini di Cafe kemarin?”
“Tentu, Nona”
“Baiklah, kalau begitu pukul lima sore saya tunggu anda di sana, Sir”
“Oke Nona, saya pasti akan datang”
“Thank you Sir, sampai berjumpa nanti”
Begitu telepon terputus Cecilia langsung menghirup nafas sebanyak mungkin, rasanya pasokan oksigennya menipis saat berbicara dengan tuan Johan barusan.
Sementara diseberang sana Johan tersenyum lebar, tidak sia-sia dia sedikit mengancam dan memberikan uang tutup mulut pada semua orang yang berhubungan dengan tunggakan wanita itu. Hanya tinggal selangkah lagi dia akan berhasil memancing wanita cantik itu.
Pada akhirnya Cecilia tidak dapat beristirahat karena rasa gugup yang meliputi hatinya, dia memutuskan untuk membersihkan Apartemennya dan mencuci pakaian saja sambil menghabiskan waktu sebelum pergi bekerja ke toko bunga.
******
"Selamat siang, Madam Emma" sapa Cecilia tersenyum manis.
Madam Emma membalas senyum Cecilia "Hai sayang, kemari sebentar ada yang ingin Madam sampaikan padamu" lalu mengajak Cecilia masuk ke ruangannya.
"Ah, kebetulan saya juga ingin minta izin setengah hari, Madam" celetuk Cecilia sedikit sungkan.
Madam Emma tersenyum lalu meminta Cecilia untuk duduk "duduk dulu Cecil, apa kau ingin teh hangat?"
"Terima kasih madam, jika tidak merepotkan, boleh"
Sambil mengaduk teh buatannya Madam Emma berbicara serius "maafkan Madam sebelumnya Cecil, ini masalah pinjaman yang masih kau miliki. Begini, kau tau bukan jika akhir-akhir ini toko bunga sedang sepi pengunjung. Madam terpaksa harus menagih pinjaman itu padamu"
Cecilia mengangguk kaku "ya Madam, saya paham. Maafkan saya sebelumnya"
"Oh, tidak apa-apa sayang, justru Madam yang harus minta maaf karena harus menagihnya mendadak seperti ini. Eum, kira-kira kapan kau bisa melunasinya, Cecil?"
"Secepatnya Madam, saya akan lunasi tunggakan saya secepatnya. Tapi sebelumnya saya mohon izin sampai pukul empat sore ini Madam, bisakah?"
Madam Emma tersenyum lembut "Sure sayang, kau bisa izin hari ini"
"Terimakasih banyak dan maaf Madam" dengan tulus Cecilia berucap.
"It's oke Cecil, Madam paham masalahmu" Madam Emma menatap iba gadis cantik yang duduk di hadapannya saat ini.
"Terimakasih Madam, saya akan melanjutkan pekerjaan saya sekarang" pamit Cecilia yang diangguki oleh Madam Emma.
'Semoga kebahagiaan lekas menghampirimu sayang, maafkan Madam'
Begitu keluar dari ruangan Madam Emma tubuh Cecilia langsung lemas, untung saja dia sudah menghubungi tuan Johan tadi. Ternyata keputusannya tidak lah salah. Setidaknya dia sudah memiliki gambaran untuk melunasi semua tunggakannya.
******
Tepat pukul empat sore Cecilia bergegas merapikan dirinya, bersiap untuk bertemu tuan Johan di Cafe seberang sesuai dengan janji mereka sebelumnya. Jam lima kurang sepuluh menit Cecilia sudah tiba di sana menunggu dengan gusar, setiap detik yang dilaluinya seperti satu tahun saja lamanya.
Matanya melirik tubuh tegap pria cukup berumur yang baru saja membuka pintu Cafe, tubuh Cecilia menegang ketika pria itu berjalan menghampirinya.
"Selamat sore Nona Cecilia, apa saya datang terlambat?" Johan berbicara dengan senyum sopan.
"Ah tidak Sir, silahkan duduk" ucap Cecilia seraya tersenyum canggung.
Johan mengangguk, menarik kursi kemudian duduk persis di hadapan Cecilia "Jadi bagaimana? Apa anda sudah mengambil keputusan?" Tanya Johan to the poin.
"Maaf sebelumnya Sir, apa jika saya menerima tawaran itu saya akan langsung menerima uangnya? Karena saya harus membayar tunggakan saya kepada beberapa orang malam ini" dengan gugup dan menekan rasa malunya Cecilia bertanya pada Johan.
Johan kembali tersenyum, sepertinya rencananya akan berhasil.
"Sure Nona, tapi sebelumnya anda harus bertemu dengan tuan Devan terlebih dahulu dan menandatangani kontrak perjanjian secara tertulis"
"Oh tentu Sir, kira-kira kapan saya bisa bertemu dengan tuan Devan?" Tanya Cecilia sedikit tidak sabaran.
"Jadi anda memutuskan untuk menerima tawaran ini bukan, Nona? Karena jika tidak, anda tidak perlu menemui tuan Devan" Johan memicingkan matanya menatap penuh selidik pada wanita cantik yang ada di hadapannya saat ini.
"Eum ya Sir, saya akan menerima tawaran ini" ucap Cecilia dengan wajah tegang.
Johan mengangguk paham "baiklah jika seperti itu, sekarang mari kita langsung ke kantor tuan Devan untuk membicarakan perjanjian ini"
Cecilia tersenyum dan mengangguk kaku "baik, Sir"
Setelah membayar tagihan minuman Johan langsung berdiri berjalan ke luar Cafe menuju mobil, tangannya terulur membuka pintu penumpang mempersilahkan Cecilia masuk.
Mereka pergi kekantor Devan menggunakan mobil mewah milik pria m***m itu, Johan sendiri yang membawa langsung mobil tersebut, dengan wajah gugup Cecilua duduk disebelah Johan yang sedang mengemudikan mobil. Walaupun dalam hati Cecilia tidak bisa menutupi rasa kagumnya pada mobil yang sedang dia tumpangi saat ini, tidak pernah terpikirkan olehnya sebelumnya bisa menaiki mobil semewah ini.
Sepanjang perjalanan Cecilia tidak dapat menyembunyikan rasa gugup dan gelisahnya. Mereka tiba di kantor Devan, Alexander Group nama yang tertera besar didepan gedung tinggi dan mewah tersebut. Cecilia menatap kagum interior kantor tersebut, sangat mewah dan berkelas dan tentu saja nyaman.
Tungkai kakinya mengikuti langkah Johan yang berjalan di depannya, matanya tidak bisa berhenti untuk melihat sekeliling dan setiap sudut ruangan kantor mewah tersebut.
"Anda tidak perlu tegang Nona, tuan Devan sebenarnya orang yang sangat baik" ucap Johan melihat ketegangan di wajah Cecilia.
"Ah iya Sir, saya akan usahakan" jawab Cecilia sambil tersenyum kaku.
Johan tertawa kecil lalu mengangguk "anda hanya perlu menandatangani kontrak tersebut lalu semua selesai, Nona"
Cecilia ikut tertawa "hem, mungkin karena saya terlalu gugup, Sir" balas Cecilia meringis malu.
Lift berhenti pada angka dua puluh lima, dimana letak ruangan Devan berada. Cecilia berjalan di samping Johan dengan jantung bertalu, begitu sampai didepan ruangan Devan tangannya langsung berkeringat dingin. Cecilia meremas kuat tangannya, mereka disambut oleh sekertaris Devan. Memberikan hormat kepada Johan sekertaris itu mempersilahkan keduanya untuk masuk kedalam ruangan kerja Tuannya.
Cecilia kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling menatap ruangan kerja Devan, dengan wajah takjub dia berdecak kagum saat melihat interior ruangan tersebut. Mewah, berkelas dan manly. Devan memang benar-benar mempunyai selera yang baik dalam menata ruangan kerjanya sehingga terasa nyaman walaupun berjam-jam harus berkutat dengan dokumen penting.