Amukan Mommy Shara
Shara berniat membangunkan Cecilia, untuk melihat embun pagi yang ada di taman belakang miliknya. Sekaligus ingin memasak bersama untuk sarapan mereka pagi ini. Namun, begitu memasuki kamar Devan, matanya langsung melotot melihat putranya yang sedang asik memejamkan mata dan menenggelamkan wajahnya di sela d**a Cecilia.
Dengan langkah lebar, Shara menghampiri ranjang putranya. "Devan!" Pekiknya menggelegar di seluruh ruangan kamar.
Cecilia membuka sontak matanya, kaget mendengar teriakan Shara yang begitu keras. Belum sadar dengan keadaan sekitarnya. "Ada apa Mom? Kenapa Mommy berteriak?" Cecilia menegakkan kepalanya menatap bingung Shara yang terlihat marah.
"Kenapa Devan bisa berada disini?" Shara memegang dadanya, menetralisir nafasnya yang memburu cepat.
"Devan?" Cecilia mengerutkan dahinya bingung. Namun, begitu merasakan tubuhnya ditarik dan dipeluk matanya langsung melotot. Cecilia menurunkan pandangannya ke arah pria yang sedang asyik menutup matanya sambil memeluk erat tubuhnya. Dan tunggu, kenapa wajah pria itu ada disela dadanya. Wajah Cecilia langsung merah padam, ia melirik kaku ke arah wanita paruh baya yang sedang menatap murka pada pria disampingnya saat ini.
Dengan gerakan cepat, Cecilia menyingkirkan wajah pria m***m itu dari dadanya, melepaskan pelukannya dengan paksa dan menjauhkan tubuhnya. Ia menatap sangar pada pria yang mulai sadar dari tidurnya.
"Apa yang kau lakukan di sini? Kapan dan bagaimana bisa kau tidur di sini?" Cecilia bertanya dengan suara nyaring dan wajah frustasi.
"Apa sih?" Devan kembali menarik tangan Cecilia agar mendekat kepadanya.
Mulut Cecilia sudah terbuka lebar, belum sempat dia kembali bersuara, Shara sudah memukul wajah pria itu dengan bantal.
"Apa yang mau kau lakukan Devan?" Seru Shara nyaring seraya terus saja memukul putranya dengan brutal.
"Astaga Mom!!" Teriak Devan, menghalangi wajah tampannya dengan lengannya.
Robert melangkah cepat saat mendengar teriakan istri dan putranya. "Ada apa ini?"
Mereka semua mengalihkan pandangan ke arah pintu. Di sana Robert berdiri dengan raut wajah bingung. Dengan gerakan cepat Devan bangun dan berlindung dibelakang tubuh Cecilia, membuat wanita itu langsung mendelik tajam. Namun, Devan tidak perduli. Ia menjadikan wanita itu tameng dari amukan mommy-nya.
"Apa yang kau lakukan Devan? Menyingkir dari belakang tubuhku!!" Geram Cecilia, mencoba melepaskan tangan Devan yang melilit pinggangnya dengan erat.
"Diamlah, Cecil! Kau tidak lihat Mommy sedang mengamuk?" Gerutu Devan kesal.
Shara mengalihkan kembali pandangannya ke arah Devan. Matanya makin melotot melihat tingkah putranya. "Lepaskan Cecil, Devan!! Apa yang kau pikir sedang kau lakukan, huh?"
"Devan! Pakai pakaianmu dan bersihkan dirimu cepat!" Perintah Robert tegas, menginterupsi mereka semua. "Ayo, honey. Kita pergi dari sini." Sebelah tangannya terangkat agar istrinya mendekat.
Dengusan jengkel Shara terdengar sangat jelas. Dengan wajah kesal, ia meninggalkan putra semata wayangnya dan Cecilia dan melangkahkan kaki menghampiri suaminya yang menunggunya di ambang pintu.
Devan melepaskan pelukannya saat pintu sudah tertutup sambil menghembuskan nafas lega. Dengan wajah tak berdosa ia turun dari ranjang, tanpa menghiraukan tatapan horor Cecilia yang melihatnya hanya menggunakan boxer saja.
"Tuhan!! Apa yang sudah pria m***m itu lakukan padaku?" Gumam Cecilia frustasi.
Devan berjalan keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit pinggangnya. Ia melirik wanita yang sedang memalingkan wajahnya yang sudah memerah.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa wajahmu merah begitu?" Tanya Devan dengan wajah tak berdosa.
Cecilia menatap sinis pria m***m itu. "Kenapa kau bisa tidur disini? Kapan kau masuk? Kenapa kau seenaknya memelukku?" Cecilia balik bertanya dengan wajah garang.
"Yang pertama ini kamarku, yang kedua reflek habis empuk." Jawab Devan acuh.
Cecilia menerjapkan matanya, mulutnya menganga tak percaya. "Apa kau bilang?" Tanyanya sambil meremas selimut yang masih menutup sebagian tubuhnya.
"Apa? Sudah, lebih baik kau mandi dan ganti pakaianmu. Senyaman itu kau memakai bajuku?" Cibir Devan, membuat Cecilia langsung gugup ditempatnya.
"Aku tidak! Mommy yang menyuruhku memakai bajumu untuk sementara." Kilah Cecilia tidak terima disalahkan.
"Alasanmu saja itu!"
Dengan kesal, Cecilia menyibakkan selimut yang masih menutupi tubuhnya lalu menuruni ranjang dengan kasar. Namun, gerakannya terhenti saat melihat kancing kemeja bagian atas sudah terbuka hingga ke perutnya. Seingatnya, semalam ia sudah mengancingkan kemejanya dengan benar.
Sedetik kemudian, kepalanya menoleh menatap tajam pria yang juga sedang menatapnya. "Kau yang membuka kancing kemejanya, bukan?" Mata Cecilia memicing tajam.
Devan mengangguk polos tanpa dosa. "Rasanya tidak nyaman jika ada kancing di wajahku." Jawabnya enteng.
Cecilia menarik nafasnya dalam sambil memejamkan kedua matanya, mencoba untuk tidak mengeluarkan amarahnya yang sudah mengepul di ujung kepala. "Apa maksudmu?" Tanyanya penuh penekanan.
"Entahlah." Devan mengangkat kedua bahunya acuh. "Itu pakaian ganti 'mu sudah aku bawakan disebelah sana." Ia lalu menunjuk paperbag yang ada di atas nakas dengan dagunya.
"Ya Tuhan, Devan!" Jerit Cecilia frustasi. Ia mengambil dengan kasar paperbag itu kemudian berjalan dengan langkah lebar ke arah kamar mandi. Lama-lama, ia bisa gila berada dalam satu kamar dengan pria m***m itu.
Cecilia menghentak-hentakan kakinya kesal, rambutnya kusut berantakan karena terus dia acak-acak. "Apa yang pria m***m itu lakukan padaku? Kenapa aku tidak sadar? Dasar pria m***m, sialan, otak kotor!"
Selama mandi, Cecilia terus saja menggerutu. Bibirnya tak berhenti komat-kamit mencaci maki dan melayangkan umpatan kasar untuk Devan.
Devan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Pantas saja tadi mommy-nya mengamuk padanya. Ia menunggu wanita itu selesai mandi, duduk dengan nyaman di sofa yang ada di kamarnya.
Cecilia keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah rapih. Rambutnya masih sedikit basah. Ia melirik sebentar ke arah Devan, lalu beranjak menuju pintu untuk segera pergi dari kamar terkutuk ini, dan meninggalkan pria m***m yang sedang menatap bingung kepadanya.
"Mau kemana kau?" Tanya Devan sebelum Cecilia membuka pintu.
Cecilia membuang nafas kesal, lalu memutar tubuhnya menghadap Devan. "Menemui Mommy, memangnya apa lagi? Aku sudah berjanji padanya akan menemaninya membuat sarapan pagi ini."
"Tunggu, kenapa kau tidak memberitahuku jika ingin bermalam disini?"
"Mommy yang menyuruhku! Lagi pula, kau sudah lihat aku kemarin pulang bersamanya."
"Ya, tetap saja! Menurut poin, kau harus memberitahuku kemana saja kau pergi."
"Aku sudah mengatakannya pada Johan semalam."
"Memangnya kau bekerja untuk Johan!?" Tanya Devan tidak terima.
Cecilia menghembuskan nafas berat. "Sorry, aku pikir ada pengecualian jika aku pergi dengan orangtuamu."
"No! Kau harus tetap memberitahuku."
Cecilia memutar bola matanya. "Oke! Lain kali jangan seenaknya memelukku dan membuka pakaianku!"
"Anggap saja itu perintah!"
"Huh! Terserah kau sajalah!" Dengan kesal, Cecilia membalik tubuhnya, membuka pintu kamar dengan kasar lalu keluar dari sana.
Cecilia berjalan menghentakkan kakinya kesal, mencaci maki Devan dengan sumpah serapah dalam hatinya. Iris biru terangnya menatap punggung Shara begitu ia tiba di dapur. Cecilia memberanikan diri memanggil Shara yang belum menyadari kehadirannya.
"Mom.."
Shara dengan cepat membalik tubuhnya. "Sudahlah tidak usah membahasnya, anak kurang ajar itu memang selalu seenaknya." Ucapnya begitu melihat raut wajah tidak enak dari Cecilia.
"Aku benar-benar tidak tau jika Devan semalam tidur disini, Mom."
"Sudah lupakan." Shara tersenyum hangat. "Tapi kau masih perawan, bukan?" Tanyanya, membuat wajah Cecilia memerah.
"Ap-apa yang kau bicarakan Mom? Tentu saja." Jawab Cecilia gugup, lalu menunduk malu.
"Baguslah, Mom jadi tenang." Shara menyemburkan tawanya melihat betapa merah wajah Cecilia saat ini.
"Sudah aku katakan bahwa anakmu itu menyebalkan! Dia selalu seenaknya saja." Geram Cecilia jengkel.
"Memang!" Sahut Shara tanpa pikir panjang
Devan yang mendengarnya hanya mendengkus, telinganya panas begitu tiba di ruang makan ternyata mommy-nya dan wanita ceroboh itu sedang bergosip tentang dirinya.
"Apa kalian tidak punya kegiatan lain selain membicarakan aku pagi-pagi begini?" Cibir Devan dengan raut masam.
Shara dan Cecilia sontak menoleh tajam mendengar suara Devan.
"Tidak!" Sahut Shara dan Cecilia kompak dengan kepala menggeleng cepat.
"Astaga! Bahkan, menjawab saja kalian kompak." Devan menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Itu memang karena kau pria b******k!" Rutuk Robert yang sudah duduk di kursi makan.
"Apa maksudmu, Dad?"
"Ya, kau memang b******k, Son. Bisa-bisanya kau memeluk wanita lain saat tunanganmu itu sedang koma." Robert tersenyum mengejek. "Jangan menjadi serakah dengan menginginkan keduanya." Cibirnya meremehkan.
"Aku tidak begitu!" Kilah Devan, "siapa suruh dia tidur di kamarku." Lanjutnya lagi tidak terima.
"Dan siapa yang menyuruhmu datang bermalam disini?" Tanya Shara membuat Devan terpojok.
"Aku hanya mengantarkan pakaian gantinya saja." Alibi Devan kesal.
"Alasan kau saja itu!" Geram Robert. "Pulang saja sana kau, wanitamu menunggumu di sana. Biarkan Cecil disini. Lagi pula, kau hanya membutuhkan dia nanti saat di altar bukan?"
Devan menatap datar kedua orangtuanya. "Aku akan membawanya membeli cincin."
Shara mendelik. "Padahal, Mommy ingin mengajakmu pergi membeli beberapa tanaman dan membuat cup cake strawberry."
"Mungkin lain kali, Mom." Balas Cecilia, bahunya merosot lesu.
Pagi ini, Devan benar-benar menahan kesal. Bagaimana tidak, dirinya habis di caci maki oleh kedua orangtuanya bahkan Cecilia juga ikut andil.
******
Dengan perasaan tidak rela, Cecilia ikut dengan pria menyebalkan yang sedang mengemudikan mobil disebelahnya. Setelah sarapan tadi dan berbincang sebentar dengan kedua orangtua pria itu, Cecilia langsung diseret pergi ke Mall untuk membeli cincin untuk pernikahan palsunya nanti.
Cecilia mengapit lengan kekar Devan saat memasuki pusat perbelanjaan, dengan wajah kesal.
"Berhenti menunjukkan wajah jelek itu." Geram Devan, mulai bosan melihat raut wajah masam Cecilia.
"Kau yang membuat wajahku seperti ini, Dev." Rajuk Cecilia jengkel.
Devan memutar bola matanya. "Berhentilah merajuk, Cecil!"
Cecilia mendengkus, melepaskan kaitan tangannya dari lengan Devan.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya devan.
"Apa?" Cecilia melirik sekilas.
"Berhenti bersikap kekanakan, Cecil. Cepat kemari!" Titah Devan gemas.
"Kau sangat menyebalkan." Rutuk Cecilia kesal, ia kembali mendekat dengan wajah datarnya.
Mereka memasuki toko perhiasan yang cukup terkenal.
"Selamat siang, Sir. Ada yang bisa kami bantu?" Sapa pelayan toko, ramah.
Cecilia mulai mengamati sederet cincin mewah yang berada dalam etalase kaca. Iris birunya tertuju pada cincin sederhana dengan hiasan berlian kecil di atasnya.
"Coba lihat yang ini."
Pelayan toko mengangguk, mengambil cincin yang di maksud lalu meletakkannya di atas etalase.
Cecilia mengambil cincin itu, lalu mencoba di jari manisnya. Senyumnya terbit. "Ini saja, Dev. Bagus aku suka." Kepalanya menoleh menatap Devan yang berdiri di sebelahnya.
Devan menggeleng. "Tidak, ambilkan cincin yang paling mewah dan bagus yang kalian punya."
"Baik, Sir." Pelayan toko mengambil dari etalase khusus cincin yang bernilai fantastis.
"Ini, Sir. The Pink Star, sebelumnya dikenal sebagai Steinmetz Pink, adalah berlian dengan berat 59,60 karat, dinilai dalam warna sebagai Fancy Vivid Pink oleh Gemological Institute of America. The Pink Star ditambang oleh De Beers pada tahun 1999 di Afrika Selatan, dan beratnya kasar 132,5 karat." Pcap pelayan toko, menjelaskan.
Devan mengangguk. "Aku ambil yang ini."
Cecilia menganga karena harganya pasti tidak murah. "Dev, itu terlalu berlebihan, terlalu mahal."
"Diam saja kau, aku yang bayar kenapa kau yang pusing."
Pelayan toko masih diam menunggu keputusan.
Devan menatap tajam pelayan toko yang masih diam. "Cepat bungkus cincinnya. Apalagi yang kau tunggu, huh?"
"Baik, Sir."
Mereka memilih cincin setelah melalui perdebatan yang cukup sengit. Cecilia menyukai cincin sederhana dengan mata berlian kecil, sementara Devan ngotot ingin membeli yang paling mewah dan mahal.
Cecilia mendelik. "Itu hanya cincin yang akan aku pakai sementara, Dev. Kenapa harus model itu?"
Mereka berdua sudah berada dalam mobil menuju mansion Devan.
"Walaupun hanya sementara, tapi pernikahanku nanti diliput oleh banyak media. Dan aku tidak ingin nama Grace tercoreng karena kau memilih cincin murah itu."
Cecilia langsung terdiam tak bersuara saat mendengar jawaban Devan, bibirnya langsung terkunci rapat.
"Apa nanti aku akan memakai topeng, Dev? Mengingat pernikahanmu nanti diliput banyak media?"
"Tidak perlu, untuk apa?"
"Tapi, nanti mereka akan bingung saat tunanganmu itu bangun."
"Aku akan menggelar konferensi pers nantinya."
"Huh? Sepertinya akan banyak yang akan menawariku menjadi pengganti nantinya." Cecilia terkekeh kecil membayangkannya.
"Kau bilang akan membuka toko bunga. Kenapa jadi memikirkan menjadi pengganti untuk orang lain lagi?"
Cecilia mengangkat kedua bahunya acuh. "Aku akan tetap membuka toko bunga. Tapi, aku tidak akan menolak tawaran pekerjaan itu. Selain uangnya besar, aku tidak perlu repot memikirkan harus tinggal dimana."
"Kau akan direndahkan banyak orang nantinya."
"Tidak masalah. Lagi pula, aku akan selektif memilih nantinya. Selama ada perjanjian hukum yang kuat kenapa tidak."
Devan menggeleng tidak habis pikir. "Terserah kau saja!" Sahutnya sewot.
Johan membuka pintu mobil saat Devan sudah tiba. Dengan langkah cepat, Devan keluar dari mobilnya dan meninggalkan Cecilia. Mendahului wanita itu menuju kamar Grace, wanitanya.
Sementara, Johan dan Cecilia saling tatap. Johan bertanya melalui tatapannya, lalu dijawab oleh Cecilia dengan gelengan kepala tak mengerti.