11 Kamar Devan

2137 Words
Kamar Devan Cecilia menikmati waktu kebersamaannya dengan Shara. Dan saat ini mereka sedang asyik bereksperimen di dapur untuk membuat kue. Tadi, Cecilia minta agar Shara mengajarkan resep cheese cake kesukaan Devan. Bukan, bukan untuk pria itu dia meminta resep. Tapi, memang karena cake nya sangat lezat dan dia menyukainya. "Aduk yang rata satu arah Cecil." Shara memperhatikan Cecilia mengaduk adonan kue. Wajahnya tampak senang bisa mengajarkan Cecilia resep kuenya. Sudah lama sekali dia ingin memiliki teman yang juga memiliki hobi yang sama dengannya. "Baik, Mom." Cecilia menoleh sekilas lalu tersenyum lebar. "Nanti jika sudah selesai, tuang adonannya ke dalam loyang. Setelah itu kita berikan keju ditengahnya, lalu timpa kembali dengan sisa adonannya." Kata Shara dengan suara yang terdengar begitu bersemangat. Cecilia mengangguk paham. Sesuai dengan instruksi, dia mulai menuangkan adonan ke dalam loyang dengan hati-hati, memastikan sampai semua rata. Menaburkan keju yang sudah di parut, lalu kembali menuangkan sisa adonannya. "Aku tidak sabar menunggunya matang, Mom." Seru Cecilia ketika sudah memasukkan loyang ke dalam oven. "Mom juga mau merasakan kue buatanmu itu." Senyum Shara mengembang puas saat semua telah selesai. "Ayo kita minum teh dulu sambil menunggu kuenya matang." "Oke, Mom. Dimana Daddy? Aku tidak melihatnya sejak tadi." Tanyanya seraya melepas apron dari tubuhnya. Shara berdecak. "Daddymu sedang sibuk dengan selingkuhannya, stik golf itu." Cecilia tergelak. "Mana ada yang seperti itu, Mom." "Ada Daddymu, pria tua itu bisa seharian pergi hanya untuk bermain golf. Mungkin jika Dad tidak ingat sudah memiliki Istri, Dad akan bermalam di sana juga." Shara berujar geram begitu mengingat kelakuan suaminya. "Astaga, Mom!" Cecilia tak bisa menghentikan tawanya. "Sudahlah tidak usah membicarakannya, hanya membuat Mom kesal saja." Shara merenggut dengan wajah masam. "Baiklah, ayo, Mom." Cecilia mengapit lengan Shara dengan gemas. Shara tersenyum. "Maukah kau menginap disini malam ini, Cecil?" kepalanya menoleh menunggu jawaban, "Kau bisa tidur dikamar lama Devan yang jika kau ingin." "Sebenarnya, aku ingin saja, Mom. Tapi, aku tidak tau boleh atau tidaknya. Karena perjanjian dengan Devan aku harus izin dulu padanya jika ingin pergi." Cecilia mengangkat kedua bahunya tak mengerti. "Ck, bukankah Devan sudah melihat kau pergi dengan Mom tadi? Tidak perlu izin lagi padanya." Cecilia memiringkan kepalanya, berpikir sejenak. "Baiklah, Mom. Tapi aku tidak membawa baju ganti." "Kau bisa tidur memakai kaos atau kemeja Devan untuk sementara. Besok kita minta Johan membawakan pakaianmu, bagaimana?" Saran Shara bersemangat. "Oke, Mom." Cecilia tersenyum riang, "dimana taman bunga milikmu?" "Ah, ya, lebih baik kita minum teh di sana. Mom akan minta maid memberitahu jika cake-nya sudah matang." "Ayo, Mom." Cecilia mengangguk semangat. Shara terkekeh. "Ayo." Keduanya melangkahkan kaki ke arah taman belakang, setelah memberitahu maid agar menyampaikan pada mereka jika cake-nya sudah matang. Kedua bola mata Cecilia langsung dimanjakan dengan taman luas yang dikelilingi oleh bunga-bunga cantik berbagai jenis dan warna. Ada meja dan kursi santai di sana, bagian atasnya ditutup oleh kaca yang bisa dibuka dan tutup otomatis. "Astaga ini cantik sekali, Mom." Puji Cecilia, menatap takjub sekelilingnya. "Tentu saja." Shara tersenyum bangga. "Bunga apa yang kau sukai, Cecil?" "Aku sangat menyukai bunga mawar dan lilly, Mom." "Mom juga sangat menyukai mawar. Tapi, yang warna biru, itu sangat sulit didapatkan." Mereka duduk di kursi seraya memandangi semua jejeran tanaman bunga yang mampu membuat senyum mereka merekah sempurna. ****** Robert tiba dengan wajah ceria tanpa dosa, setelah melewati jam makan malam. Pria paruh baya itu tiba pukul delapan malam dan disambut wajah masam dan muram Istrinya. "Apa kau sudah selesai dengan selingkuhanmu itu?" Cibir Shara bertanya dengan ketusnya. "Kenapa kau selalu marah jika aku pergi bermain golf, honey?" Robert tertawa geli. Shara mendengkus kesal. "Kau selalu lupa waktu jika sudah bermain." Katanya dengan mata menyorot tajam. Robert tergelak kencang yang diikuti oleh tawa kecil dari Cecilia. Ini adalah yang pertama untuknya, Cecilia belum pernah merasakan kehangatan sebuah keluarga seperti ini sebelumnya. Dimana Shara yang sedang merajuk dan dirayu oleh Robert dengan senyum gelinya. "Aku tidak selingkuh, honey. Tadi banyak temanku yang datang bermain, jadi aku berkumpul sebentar dengan mereka." Kata Robert menjelaskan. "Sebentar apanya?" Shara mendelik. "Apa jam di tanganmu itu sudah mati?" Cibirnya geram. "Sorry, honey. Aku tidak akan mengulanginya lagi." Janji Robert dengan wajah serius. "Halah! Kemarin-kemarin kau juga berjanji seperti itu padaku!" Sahut Shara jengkel. Robert tersenyum geli lalu memeluk tubuh Istrinya dengan gemas. "Dimana Devan? Kau kesini dengan siapa?" Tanya Robert, matanya beralih menatap Cecilia yang sejak tadi memperhatikan. "Ah, tadi sehabis fitting gaun langsung kesini, Dad. Rencananya aku akan bermalam disini. Bolehkan?" "Sure, kenapa tidak. Pasti Mommy yang menyeretmu kesini." Robert melirik istrinya yang masih cemberut. Cecilia tertawa kecil. "Hum, mengajakku lebih tepatnya Dad. Bukan menyeretku." "Itu sama saja!" Mendengar itu, Shara menyipitkan kedua matanya, menatap suaminya penuh permusuhan lalu memalingkan wajahnya. "Dad, apa kau ingin mencoba cheese cake buatanku? Aku tadi diajari Mommy membuat cheese cake." Cecilia bertanya menatap bergantian kedua paruh baya didepannya. Robert tersenyum. "Benarkah?" Cecilia mengangguk cepat. "Tapi, tidak seenak buatan Mommy." Ucapnya sedih. "Oh ayolah Cecil, itu sudah enak untuk seorang pemula." Shara menatap Cecilia lekat. Robert berseru membuat mereka mengalihkan perhatian ke arah pria paruh baya itu. "Berikan padaku. Mommy itu sudah lama mencari teman untuk melakukan hobinya, menanam bunga dan membuat cake." Serunya antusias. "Benarkah Mom? Memangnya tunangan Devan tidak menyukai hal itu?" Cecilia bingung sebab bunga dan membuat kue adalah salah satu hobi para wanita pada umumnya. "Huh! Wanita itu memiliki hobi berbeda dengan Mom. dia hobi berbelanja dan menghabiskan banyak uang." Cibir Shara tidak suka. "Mom!" Peringat Robert tegas. Shara mendengkus. "Sudahlah, tidak perlu membicarakannya, itu hanya akan membuat Mommy sakit kepala saja." Cecilia mengangguk. "Kalau begitu, aku ambilkan dulu cake untukmu, Dad." Cecilia bangkit, kakinya mengayun menuju dapur dimana kulkas berada. Dia memotong kecil cheese cake-nya lalu menatanya di piring dengan cantik. "Ini Dad, silahkan dicoba." Cecilia menyerahkan piring dan berucap dengan senyum canggungnya. Menatap Robert, menunggu komentar pria paruh baya itu dengan wajah harap-harap cemas. "Eum, ini sudah enak, Cecil." Robert berucap setelah menelan potongan kecil cake. "Benarkah, Dad?" Tanya Cecilia dengan wajah senang. "Hem, ini sudah enak untuk seorang pemula sepertimu, Cecil. Sepertinya kau memiliki bakat yang sama dengan Mommy." Cecilia tersenyum sipu. "Aku harap bisa hebat seperti, Mom." "Tentu saja. Kau akan bisa jika kau terus belajar." Sahut Robert sambil terus memasukkan potongan kue ke dalam mulutnya. "Tentu, Dad. Aku pasti akan terus berlatih." Kekeh Cecilia riang. Mereka menghabiskan malam dengan canda tawa dan banyak cerita dari Cecilia dan tentu saja arahan serta nasehat dari Shara dan Robert. Cecilia memasuki kamar Devan pukul sepuluh malam. Kamar yang didominasi cat hitam dan putih, sangat luas dan aroma khas parfum milik Devan. Shara bilang tadi kamar ini sudah hampir tiga tahun tidak ditempati oleh Devan lagi. Semenjak pria itu sudah tinggal bersama dengan Grace di mansionnya sendiri. Tapi mengapa aroma pria itu masih ada, pikirnya bingung. Cecilia memasuki kamar mandi dan membersihkan tubuhnya, lalu memakai kemeja putih Devan yang terlihat kebesaran di tubuhnya. Panjang kemeja itu hampir menutupi seluruh pahanya. Setelahnya dia merebahkan tubuhnya di ranjang empuk milik Devan. Sebelumnya, Cecilia sudah bertanya pada Shara dan Robert apakah tidak masalah jika dia tidur dikamar Devan. Dia bisa tidur di kamar lain saja karena tidak enak jika harus tidur dikamar Devan. Tapi kedua paruh baya itu mengatakan bahwa tidak masalah, karena Devan sudah tidak menempatinya lagi. ****** Devan tiba di mansionnya pukul enam sore. Dia bertanya pada Sandra tentang keberadaan Cecilia. Namun, Sandra berkata bahwa wanita itu belum pulang sejak pergi tadi. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan lewat tiga puluh malam. Devan mendesah gelisah, kemana wanita itu dan kenapa tidak meminta izin padanya terlebih dahulu. Devan mendengkus jengkel dengan kesal mengambil kunci mobilnya lalu keluar dari ruang kerjanya. "Jo, kau tanyakan pada Cecil dimana dia sekarang." Perintah Devan dengan wajah kesal. "Baik, sir." Johan mengambil ponselnya lalu mengirim pesan pada Cecilia. "Nona Cecilia berkata jika dia diminta menginap oleh Nyonya besar, Sir." Beritahu Johan, begitu mendapat balasan pesan dari Cecilia. Devan memutar bola matanya, benar dugaannya pasti mommy-nya akan memaksa wanita itu. "Lalu kenapa dia tidak izin padaku?" "Nona Cecilia berkata, jika Nyonya besar yang menyuruhnya untuk tidak perlu memberitahu anda, Sir. Karena menurut Nyonya besar, anda sudah mengetahui jika Nona Cecilia pergi dengan Nyonya besar. Nona Cecilia juga meminta saya untuk mengantarkan pakaiannya besok atas perintah Nyonya besar." Papar Johan menjelaskan. Devan menggeram jengkel. "Kau minta Sandra untuk menyiapkan pakaiannya, biar aku saja yang mengantarkannya kesana sekarang." "Baik, Sir." Johan langsung beranjak pergi melaksanakan perintah Devan. Devan menggeleng tidak habis pikir. Grace saja tidak pernah diajak menginap oleh mommy-nya. Devan menarik nafas pahit, sebegitu berbedanya perlakuan mommy-nya terhadap Grace. Dia harus mencari tau ada apa dengan semua ini, karena menurutnya sangat aneh dan janggal. "Ini, Sir." Lamunan Devan buyar saat mendengar suara Johan. Setelahnya, Johan menyerahkan paperbag berisi pakaian untuk Cecilia. "Aku akan mengantarkan ini untuknya, Jo." "Baik, Sir. Jika anda keberatan biar saya saja yang mengantarkannya, Sir." "Tidak perlu, ada yang harus aku tanyakan padanya." "Baik, Sir. Anda akan bermalam di sana atau kembali lagi, Sir?" "Mungkin malam ini aku akan bermalam di sana, Jo. Lagi pula, besok sabtu, aku tidak harus datang ke kantor." Johan mengangguk, mempersilahkan Devan untuk pergi. ****** Devan sampai di mansion utama dan disambut oleh Sam. Shara sudah masuk kamar dan mungkin saat ini sudah tidur karena sekarang sudah pukul sepuluh lewat dua puluh menit, hanya ada Robert saja yang sedang menonton diruang keluarga. "Dimana dia, Dad?" Devan bertanya setelah duduk di sofa. Robert melirik putranya sekilas. "Sudah tidur mungkin." "Kenapa dia tidak disuruh pulang saja?" "Mommy yang memintanya untuk bermalam disini. Lagi pula, mereka tadi membuat kue dan menanam bunga. Biarkan saja, mommymu baru menemukan teman yang mempunyai hobi yang sama dengannya." Devan mendesah berat, ternyata yang diucapkan Johan tidak melenceng. Ternyata, mereka bisa dekat karena mempunyai hobi yang sama. "Dimana dia sekarang?" "Ada di kamarmu." "What? Kenapa harus di sana!?" Protes Devan kesal. "Kenapa memangnya? Lagi pula, kau sudah tidak menempati kamar itu lagi, bukan?" Robert mengangkat kedua bahunya cuek. "Tapi bukan berarti di kamarku juga, Dad. Grace saja tidak pernah masuk kesana!" Protes Devan tak terima. "Ck, salah wanitamu sendiri yang tidak pernah masuk kesana!" "Kenapa perlakuan kalian dengan Cecil begitu berbeda dengan Grace!?" Tanya Devan mengungkapkan isi hatinya. "Itu karena kau tidak mau mendorong Grace untuk dekat dengan kami. Lagi pula, wanitamu juga tidak berusaha untuk dekat dengan kami." Cibir Robert. "Tapi kalian terlalu membedakannya dengan Cecil! Dan aku tidak menyukai hal itu!!" Dengan emosi yang sudah naik, Devan kembali melontarkan isi hatinya. Robert menatap putranya sinis lalu tersenyum mengejek. "Wanitamu terlalu sibuk menghabiskan seluruh uangmu! Jadi dia tidak akan perduli dengan orangtua renta seperti kami. Bahkan, untuk sekedar menanyakan kabar kami pun saat bertemu tidak pernah dia lakukan! Lalu kau meminta kami untuk bersikap seperti apa?" Hardiknya dengan wajah penuh amarah. Devan terkejut mendengar jawaban daddy-nya. "Perlakukan dia layak, Dad. Seperti kalian memperlakukan Cecil." Pinta Devan memohon. "Kau tidak bisa memaksakan kehendakmu begitu saja, Son. Kami hanya reflek bersikap sebagaimana dia bersikap kepada kami." Jawab Robert jengah. Dia mematikan televisi kemudian pergi meninggalkan Devan begitu saja. Devan membuang nafas berat. Cukup lama dia termenung, memikirkan ucapan daddy-nya yang memang benar faktanya. Grace memang kurang perduli dengan kedua orangtuanya. Jangankan dengan kedua orangtuanya, dengan kedua orangtua wanita itu sendiri pun, Grace tidak pernah berkomunikasi. Grace memang sudah tinggal sendiri sejak lama. Grace mandiri dan menjadi tidak perduli dengan keadaan sekitar sejak orangtuanya memutuskan untuk berpisah. Wanita itu lebih mencari kesenangan untuk dirinya saja. Apa yang dikatakan Robert memang ada benarnya. Grace setiap harinya hanya sibuk berkumpul dengan kaum sosialita dan menghamburkan uangnya saja. Tapi, bukankah itu hal wajar? Mengingat wanita itu tidak pernah merasakan hal itu sebelumnya. Tapi, Cecilia jauh dari apa yang pernah Grace rasakan. Bahkan, wanita ceroboh itu tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari orangtua sejak bayi. Kepala Devan mendadak ingin pecah memikirkan perbedaan kedua wanita itu. Malas berpikir lebih banyak, dia beranjak dari duduknya menuju kamar yang sudah lama dia tinggalkan. Devan memasuki kamar lamanya. Gelap, ternyata wanita itu sudah tertidur pulas. Wajar saja sekarang sudah pukul sebelas malam. Devan memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Tanpa menggunakan kembali kaosnya, Devan membuka selimut. Matanya menyorot tajam pada wanita yang sudah tertidur pulas di ranjangnya. Wanita itu hanya memakai kemeja miliknya saja, sehingga saat tidur kemejanya naik ke atas memperlihatkan paha putih mulus dan sedikit dalamannya. Menelan ludahnya kasar, lalu manarik dalam nafasnya. Mencoba untuk tidak terpengaruh pada otak dan matanya yang tidak bisa teralihkan pandangannya. Perlahan kakinya menaiki ranjang dan merebahkan tubuhnya dengan kaku. Devan memandang langit-langit kamar, lalu menolehkan kesamping. 'Masa bodo, siapa suruh dia tidur di ranjangku.' Dengan gerakan masih kaku, Devan memiringkan tubuhnya kesamping persis di belakang tubuh wanita yang sedang memunggunginya. Perlahan namun pasti, Devan memajukan tubuhnya menarik tubuh wanita itu kedalam pelukannya. Wangi strawberry langsung masuk kedalam indra penciumannya. Devan membenamkan wajahnya persis dileher wanita itu, mencari posisi ternyamannya lalu memejamkan matanya. Tangannya melilit erat dipinggang ramping itu dan satu kakinya menyelinap masuk disela paha wanita itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD