10 Fitting

2170 Words
Fitting Sarapan pagi ini agak sedikit berbeda, Devan sejak tadi tidak berhenti tertawa melihat wajah jengkel wanita yang ada disebelahnya saat ini. "Kau memang benar-benar bodoh, untuk apa kau menceritakan pada mommyku jika kau masih perawan!?" Devan menggelengkan kepalanya tak percaya, apa saja isi otak wanita itu sampai semua rahasianya diceritakan pada mommynya. Johan yang berdiri di belakang Devan pun ikut menggeleng tak percaya, senyumnya terbit saat melihat wajah wanita cantik itu tidak sedih seperti semalam. Rupanya, Devan berhasil meminta maaf pada wanita cantik itu. Cecilia menggeram kesal. "Aku hanya menjawab pertanyaannya saja!" Elaknya ketus. Devan tergelak kencang. "Dasar bodoh! Kau wanita paling terbodoh yang pernah aku temui, Cecil." "Berhenti lah tertawa Devan! Apa kau tidak lelah menertawakan aku sejak tadi, huh??" Tanya Cecilia sengit, dirinya sungguh kesal ditertawakan dan diejek sejak tadi oleh pria m***m itu. "Tidak." Jawab Devan tanpa beban diiring gelengan kepala. Cecilia menarik nafas kuat-kuat, bahkan mencengkram sendok dan garpu yang dia pegang. "Terserah kau saja!" Balasnya kesal. Lebih memilih mengangkat kedua bahunya acuh, Devan tak perduli. Selesai makan dia langsung beranjak dari kursinya. "Jangan lupa pesanku semalam Cecil, jangan buat aku menunggu seperti kemarin." Telunjuknya mengarah persis di wajah Cecilia. "Yayaya, akan aku usahakan!" Cecilia berujar sambil menatap sinis pria m***m itu. Namun Devan tak perduli dengan tatapan wanita itu, dengan wajah tanpa dosa kakinya mulai melangkah diikuti oleh Johan. Cecilia menghembuskan nafasnya kesal. "Huft... Andai saja tunangannya itu sudah bangun, aku pasti tidak perlu menghadapi pria menyebalkan itu lagi." Gerutunya dengan wajah dongkol. Seperti biasa Cecilia akan pergi ke rumah kaca, tapi hanya sebentar saja. Dia ingin ke perpustakaan pribadi milik pria itu. Sejak kemarin sudah sangat penasaran ingin menjelajahi buku-buku di sana. Sudah lama rasanya tidak membaca lagi, terakhir membuka buku saat masih sekolah. Sambil bersenandung kecil, Cecilia melangkahkan kakinya menuju rumah kaca. Harum semerbak bunga langsung masuk ke dalam indra penciumannya. Bibirnya tertarik membentuk senyuman lebar dengan mata terpejam. "Sepertinya anda sangat menyukai berada disini, Nona." Ucap Cello, tukang kebun yang bertugas untuk mengurus semua bunga serta tanaman lainnnya yang ada di mansion Devan. Cecilia tersenyum manis. "Sangat, aku sangat menyukai bunga. Itulah sebabnya aku betah berada disini, Cello." Cello ikut tersenyum. "Wajah anda tampak lebih bersinar dan lebih cantik jika berada disini, Nona." Ungkapnya jujur. "Apa yang kau bicarakan? Mana ada yang seperti itu." Cecilia tersenyum malu mendengar ucapan Cello. "Itu benar, Nona. Wajah anda lebih segar jika berada disini." Ucap Cello lagi disertai anggukan kepala. "Ya mungkin, karena aku tidak berhenti tersenyum jika berada di tempat ini." Cecilia mengangkat kedua bahunya. "Baiklah kalau begitu, silahkan lanjutkan, Nona. Saya permisi mau mengecek tanaman lainnya." Pamit Cello sopan. Cecilia tersenyum dan mengangguk. Begitu merasa sudah cukup puas, Cecilia mengayunkan kakinya menuju perpustakaan pribadi yang ada di lantai tiga mansion itu. Kakinya menelusuri setiap rak yang terdapat banyak buku yang berjejer dengan rapi. Perpustakaan dengan jendela besar dan perapian, ada beberapa sofa dan meja, juga karpet tebal yang membentang luas dilantai. Devan memiliki banyak koleksi buku, dari buku kuno, buku bisnis hingga novel-novel semua lengkap ada disini. Cecilia mengambil buku yang berisi tentang puisi dan sastra lalu duduk di sofa mengangkat kedua kakinya menghadap ke jendela yang luas dan mulai membaca setiap bait kata. Jam sudah menunjukan pukul satu siang, sebentar lagi pria itu akan datang. Cecilia segera keluar dari perpustakaan kemudian menuju kamarnya untuk membersihkan tubuhnya. Hari ini Cecilia menggunakan dress berlengan panjang motif leopard warna hijau yang panjangnya hanya setengah paha saja. Pukul dua kurang sepuluh menit, Devan sudah tiba di mansionnya. Seperti biasa Johan mengikuti langkahnya dari belakang. "Apa dia belom selesai juga?" Tanya Devan pada Sandra. Sandra menggeleng pelan. "Belum, Tuan" Sandra menjawab seraya menunduk takut. Devan memejamkan matanya kuat-kuat, menahan rasa gemasnya. Rasanya ingin sekali dia raup wajah tanpa dosa wanita itu lalu dibuang jauh ke planet lain. Padahal, sebelumnya dia sudah mengingatkan wanita itu pagi tadi. Dengan langkah lebat Devan mendatangi kamar Cecilia dengan kedua tangan terkepal erat. "Jo, kau sudah memberitahu bagian butik untuk gaun yang akan Cecil pakai?" Tanya Devan disela-sela langkah kakinya. "Sudah, Sir." Sahut Johan. "Pastikan lagi, jangan sampai salah! Aku tidak ingin dia sampai memakai gaun milik Grace nantinya. Itu gaun impiannya, hanya Grace yang berhak memakai gaun itu." "Baik, Sir." Johan segera menjauh dari Devan dan menghubungi bagian butik untuk memastikan semuanya. Devan masuk ke dalam kamar Cecilia dan menemukan wanita itu sedang asyik mencatok rambutnya. Membuang nafas kesal, Devan menatap datar wanita itu. "Apa kau tidak mendengar apa yang aku ucapkan tadi pagi Cecil?" Devan mendekat dan berdiri tepat dibelakang Cecilia. Berbicara dengan suara rendahnya. Cecilia menatap Devan dari pantulan cermin." Apa kau tau urusan wanita itu tidak sebentar? Aku sedang merapikan rambutku, sebentar lagi juga akan selesai." Devan memutar bola matanya jengah. "Bagian mana yang kau sebut akan selesai itu? Bahkan kau belum memoleskan makeup ke wajahmu." Sindirnya geram. Cecilia mendelik, lalu detik kemudian memberikan cengiran khasnya. "Apa kau tidak ingin membantuku, Dev?" Tanya Cecilia sambil memberikan tatapan permohonannya. Devan menatap tajam perempuan ceroboh didepannya saat ini. "Kau ingin menyuruhku lagi?" "Tidak, aku tidak! Aku kan hanya bertanya, sudahlah lebih baik kau tunggu saja." Sahut Cecilia sedikit ketus. "Besok-besok bersiaplah tiga jam sebelum aku datang!" Titah Devan geregetan. Dengan sedikit kasar pria itu mengambil catokan dari tangan Cecilia, keningnya berkerut tak mengerti. "Bagaimana cara menggunakan alat ini?" "Begini caranya." Dengan senyum lebar Cecilia memberikan contoh pada pria pemarah yang ada dibelakangnya. "Kangan sampai kena tanganmu, itu sangat panas!" "Hem." Gumam Devan malas, dia mulai mencatok rambut halus Cecilia. Sementara wanita itu sibuk memoleskan sedikit makeup pada wajahnya. Dengan wajah serius dan sudah berkeringat, Devan terus menekan alat catok itu ke rambut Cecilia. "Saya sudah memastikan semuanya, Sir." Johan tiba-tiba yang berdiri tidak jauh dari mereka dengan tatapan anehnya. Devan dan Cecilia kompak melirik Johan lewat pantulan kaca cermin. "Oke, Jo. Thanks." Ucap Devan yang sudah selesai dengan mesin catok itu. "Ayo, kita berangkat sekarang, takutnya mommy akan menunggu lama." Devan membenarkan kembali jasnya di depan cermin. "Oke!" Cecilia berdiri kemudian memperhatikan penampilan Devan. Banyak peluh keringat di sekitar kening pria itu. Cecilia berdecak, mengambil tisu yang ada di meja rias. "Kemarilah!!" Cecilia melambaikan tangannya agar Devan mendekat. Devan mengangkat satu alisnya. "Mau apa lagi kau?" Dengan kesal, Cecilia berjalan menghampiri Devan, menyeka keringat di kening pria itu tanpa persetujuan. Jarak mereka sangat dekat bahkan hembusan nafas Cecilia menerpa wajah tampannya. Sementara, Devan berdiri kaku. Selama ini, dia belum pernah dapat perlakuan seperti ini dari tunangannya. Cecilia mengerutkan keningnya dalam ketika melihat Devan hanya diam saja. Padahal, dia sudah selesai menyeka keringat pria itu. "Apa yang kau lihat?" Tanya Cecilia bingung. Devan tersentak dari lamunannya, lalu berdehem. "Tidak ada, apa kau yakin tidak ada lagi keringat yang menempel di wajahku?" Tanyanya mencoba menghilangkan debaran jantungnya, bola matanya bergerak gelisah. Cecilia menggelengkan kepalanya, sekali lagi iris biru terangnya memperhatikan dengan lekat wajah Devan membuat pria itu sedikit gugup. "Ah, sudahlah kau terlalu lama, waktuku terbuang sia-sia!" Devan langsung memutar tubuhnya, lama-lama dia bisa jantungan jika ditatap seperti itu terus oleh wanita itu. Cecilia mendengkus. "Terserah kau saja!" Johan tersenyum tipis melihat perlakuan manis Cecilia pada Devan. Mereka berjalan beriringan melangkah menuruni tangga, Johan membukakan pintu mobil untuk keduanya. "Silahkan Sir, Nona." Devan hanya mengangguk sebagai jawabannya, sambil menunggu Cecilia untuk masuk terlebih dahulu. "Terima kasih, Jo." Cecilia tersenyum yang dibalas dengan senyum juga oleh Johan. Mobil melaju dengan kecepatan sedang, Cecilia yang sibuk dengan pikirannya sendiri tak menyadari sejak tadi ditatap oleh Devan. Otaknya sibuk memikirkan kira-kira gaun seperti apa yang akan digunakan olehnya nanti, tak pernah terbayangkan sedikitpun olehnya memakai gaun pengantin yang pastinya tidak murah harganya. Mengingat pria yang disampingnya saat ini memiliki kekayaan di atas rata-rata. Pasti bukan buatan perancang biasa, walaupun hanya sebagai pengganti saja tapi itu tetap membuatnya merasa senang bukan main. Mereka tiba di salah satu butik terkenal dan ternama Gown & Bridal Store Vera Wang Bride milik Vera Wang. Salah satu designer terkenal di kota New York. Gaun Pengantin yang banyak digunakan oleh para Selebritis dan kaum sosialita serta para crazy rich New York. Cecilia menyapu pandangannya ke seluruh sudut ruangan dimana banyak sekali gaun pengantin yang tergantung di dalam rak yang berjejer rapi. Hatinya menjerit takjub menatap sekelilingnya. Shara sudah sampai di sana terlebih dahulu. Wanita paruh baya itu langsung menghampiri Devan dan Cecilia dengan senyum yang merekah. "Kalian sudah tiba, bagaimana kabarmu, Cecil?" Shara mencium kedua pipi Cecilia sebagai sapaan. Cecilia tersenyum lebar. "Aku baik, Mom." "Ayo, kau coba dulu gaunnya." Seru Shara. Dengan semangat dia mengapit lengan wanita muda itu menuju ruang ganti yang tersedia di sana. "Ini adalah salah satu butik terkenal di kota ini, Cecil. Gaun disini sangat bagus dan expensive." Cecilia mengangguk membenarkan. "Sudah terlihat, Mom. Semua gaunnya sangat cantik." Pujinya dengan mata berbinar terang. Shara mendorong bahu Cecilia pelan begitu tiba di depan gorden panjang yang menggelantung hingga ke lantai. "Masuklah, dan coba gaun yang sudah disiapkan dan dipesankan oleh Devan sebelumnya." "Oke, Mom." Cecilia tertawa kecil. Kakinya melangkah masuk melalui gorden besar dan panjang, mencoba gaun yang sudah tergantung di dalam sana. Dengan hati-hati, Cecilia memakainya. Iris biru terangnya menatap kagum gaun cantik yang melekat indah pada tubuhnya. Dengan wajah malu, Cecilia keluar dari ruang ganti dan mendapatkan berbagai macam ekspresi dari Devan, Shara, serta Johan yang sedang menatapnya dengan lekat. "Apa ada yang salah?" Cecilia bertanya karena semua pasang mata menatapnya dengan berbagai macam ekspresi, lalu menatap dirinya sendiri dari atas hingga bawah memastikan semuanya sudah baik dan benar. Shara menatap bingung gaun yang dipakai oleh Cecilia. Karena seingatnya gaun pesanan Grace sangat glamour dengan banyak taburan berlian kecil disepanjang gaun tersebut. Tapi, yang saat ini digunakan oleh Cecilia hanya gaun pengantin biasa. Memang terlihat elegan dan expensive. Tapi, dia yakin bukan ini gaun yang seharusnya. "Sepertinya ada yang salah dengan gaunmu, Cecil." Shara beralih menatap putranya yang sedang menatap intens Cecilia tanpa berkedip. Devan tertegun, matanya menelisik penampilan Cecilia dari atas sampai bawah. Batinnya berteriak kagum. 's**t kenapa dia menjadi sangat manis memakai gaun ini.' "Devan, apa kau yakin ini gaun yang benar?" Pertanyaan Shara menyadarkan Devan dari lamunannya. Devan menoleh, lantas mengangguk. "Yakin, Mom. Ini memang gaun yang seharusnya." "Bukankah gaun yang dipilih oleh Grace itu khusus, dan bertabur berlian?" Tanya Shara bingung. "Ya memang!" Iris hijau kebiruan itu kembali menatap iris biru terang yang juga sedang menatapnya. "Lalu kenapa Cecil memakai yang ini?" Tuntut Shara tak mengerti. Devan mengalihkan pandangannya lagi kepada mommy tercintanya. "Mom, itu gaun impian Grace, dan hanya dia yang berhak memakainya." Shara menatap tidak suka pada putranya, untuk apa gaun itu dipesan jika tidak dipakai pikirnya. Toh yang menggantikan Grace di atas altar itu kan Cecilia. Apa salahnya jika wanita itu yang memakainya nanti. Sementara Johan menatap Cecilia dengan wajah tidak enak. Menurutnya tidak seharusnya Devan berbicara se-frontal itu di depan Cecilia, walaupun itu memang kenyataannya. Cecilia sedikit terkejut dengan jawaban Devan, hatinya sedikit nyeri mendengarnya. Namun, dirinya sadar betul bahwa dia hanyalah pengganti saja di atas altar dan itu hanya berlaku sampai enam bulan ke depan saja. "Mom, ini sudah sangat cantik, aku menyukainya." Ucapnya sedikit mencairkan suasana. "Huh terserah kau saja lah!" Gerutu Shara, lalu kembali menatap Cecilia dan mulai memutari tubuh wanita itu. Kepalanya mengangguk seakan puas. "Sepertinya tidak perlu ada yang dirubah, ukurannya sudah sangat pas di tubuhmu." Shara mengalihkan tatapannya ke arah Devan meminta persetujuan dan diangguki oleh putranya. "Kalau begitu kau ganti lagi, setelah ini kita ke rumah Mom saja untuk membuat kue." Ucap Shara lagi yang diangguki dengan senang hati oleh Cecilia. Mereka memisahkan diri begitu sampai di depan pintu masuk. Cecilia sudah lebih dulu ditarik masuk ke dalam mobil oleh Shara, begitu mobil yang ditumpanginya sudah berada didepan mereka. Sedangkan Devan dan Johan menuju kantor untuk melanjutkan kembali pekerjaannya. Lagi-lagi Devan merasakan hal itu. Shara tidak pernah sampai bersemangat sepertu itu jika bersama Grace. Bahkan, waktu pertama kali mereka merencanakan untuk memesan gaun, Shara hanya acuh saja. Padahal, Shara baru bertemu sebanyak dua kali dengan Cecilia hari ini. Apa sebenarnya yang menarik dari wanita itu? Devan memijit pangkal hidungnya, kepalanya mendadak pening memikirkan perbedaan sikap mommynya jika bersama dengan Cecilia. "Kau lihat reaksi Mommyku tadi, Jo? Mommyku tidak pernah seantusias itu pada Grace." Ungkap Devan sesuai isi hatinya. "Itu mungkin karena mereka mempunyai hobi yang sama, Sir." Devan mengangguk. "Ya, mungkin. Dan mudah-mudahan saja." Dia menarik nafas dalam untuk menetralkan hati dan pikirannya yang tidak menentu. "Anda tidak perlu merasa tidak nyaman seperti itu, Sir. Ini hanya sementara hingga Nona Grace sadar." Johan melirik wajah tidak bersahabat tuannya melalui kaca spion mobil. "Akan aku usahakan, Jo." Devan menghela nafas, sepertinya dia berpikir terlalu berlebihan. "Lalu apa kita harus menjemput Nona Cecilia nantinya?" "Tidak perlu, biarkan dia di sana dan kembali diantar supir Mommy." Devan membuang nafasnya kasar. Mungkin benar ucapan Johan, ini hanya ketakutannya saja. Buktinya dia juga merasakan hal yang sama, bagaimana wanita ceroboh itu bersikap dan mampu membuatnya tertawa. Dan tadi, wanita itu juga memperhatikan detail wajahnya saat menyeka keringatnya. Devan masih ingat betul bagaimana jantungnya berdetak dua kali lebih cepat ketika wanita itu menatapnya dari jarak dekat. Sepertinya, dia benar-benar harus memanggil Martin untuk mengecek kesehatan jantungnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD