09 Kegundahan

2027 Words
Kegundahan Setelah makan malam dan berbincang sebentar dengan Shara dan Robert, kini mereka tengah dalam perjalanan menuju mansion Devan. Sepanjang perjalanan Cecilia tidak berhenti bersyukur dalam hatinya, sebab Shara dan Robert mau menerimanya sebagai pengantin pengganti selama enam bulan kedepan. Perasaan Cecilia cukup lega. Setidaknya selama kontrak itu berlangsung dia tidak akan menemukan drama keluarga seperti cerita-cerita yang sering ditemukan dalam novel atau film. Dimana calon mertua akan membenci para pengantin pengganti seperti dirinya. Senyum manisnya menular pada Johan yang sedang mengemudikan mobil. Devan hanya menatap datar pada wanita yang tidak berhenti tersenyum sejak tadi. Bahkan, dia hampir lupa kapan terakhir melihat tawa lepas Shara dan Robert. Selama berpacaran dengan Grace, mereka tidak pernah sampai selepas itu tertawa. Bagaimana mungkin wanita biasa yang duduk disebelahnya saat ini bisa membuat kedua orangtuanya seperti itu. Walau sebenarnya tidak bisa dipungkiri bahwa hatinya menghangat melihat pemandangan itu. Tapi, tetap saja Devan tidak terima, seharusnya Shara dan Robert bisa melakukan hal yang sama dengan Grace. Apalagi mereka sudah berpacaran hampir tujuh tahun lamanya dan itu bukan waktu yang sebentar. Harusnya Grace bisa membuat kedua orangtuanya bahagia seperti tadi. Tapi, kenapa setiap kali membawa Grace berkunjung, kedua orangtuanya hanya akan berbicara seadanya saja. Jangankan tertawa, bahkan tersenyum saja hampir jarang Devan lihat saat mereka sedang berkumpul bersama. Apa sebenarnya yang salah pada kekasih hatinya itu? Menurutnya, Grace itu sudah sangat sempurna dan layak untuk mendampingi hidupnya. Grace itu sangat elegan, berkelas dan berwibawa jika harus dibandingkan dengan Cecilia sangat jauh berbeda. Wanita yang ada disebelahnya saat ini sangat ceroboh, kampungan dan menyebalkan menurutnya. Apa yang bisa dibanggakan dari wanita itu. Satu-satunya yang bisa dibanggakan hanyalah keperawanannya saja. Cecilia bisa menjaga dengan baik dirinya hingga detik ini selebihnya tidak ada. "Silahkan, Sir." Lamunan Devan buyar saat mendengar suara Johan, ternyata mereka sudah tiba di mansion. Devan mengangguk lalu keluar dari mobil, membenarkan jasnya yang sedikit kusut. Tanpa menoleh lagi dia langsung memasuki pintu utama. Sementara, Cecilia menatap bingung punggung Devan yang semakin menjauh dari pandangannya. Lalu mengangkat kedua bahunya acuh, tidak perduli dengan pria m***m yang lebih dulu berjalan meninggalkannya. "Terima kasih, Jo. Aku akan masuk sekarang." "Sama-sama Nona, silahkan." Cecilia tersenyum ramah dan mulai mengayunkan kakinya ke dalam mansion besar milik Devan. Tepatnya langsung menuju kamarnya untuk membersihkan tubuhnya. Devan berkutat dengan banyak pertanyaan yang menghampiri otak cerdasnya, dia masih saja tidak habis pikir dengan respon yang diberikan oleh kedua orangtuanya. Tadinya, Devan sempat berpikir agak susah mendekatkan Cecilia dengan kedua orangtuanya karena sifat ceroboh dan kampungan wanita itu. Namun dia salah besar, justru sifat itulah yang membuat kedua orangtuanya tidak berhenti tertawa. Sepertinya Devan harus mencari cara bagaimana agar Grace juga bisa mendapatkan perlakuan yang sama seperti Cecilia. ****** Hari demi hari mereka lalui dengan sewajarnya. Devan yang bersikap dingin dan acuh. Begitupun dengan Cecilia yang tidak perduli dengan pria itu, hari-harinya dihabiskan di dalam rumah kaca memandangi bunga dan merawatnya itu sudah cukup untuk mengobati rasa bosannya di mansion besar ini. Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, sudah dua minggu lamanya Cecilia tinggal di mansion Devan. Sore ini Cecilia ingin sekali berenang. Setelah mendapatkan izin dari pria m***m itu melalui Sandra, kakinya langsung melangkah cepat ke arah kamarnya mengganti bajunya dengan pakaian renang yang memang sudah tersedia. Setelah cukup lama menimang dan memilih, bikini warna kulit mejadi pilihannya. Wanita cantik itu menikmati hembusan angin laut yang menerpa kulit putihnya. Devan yang baru saja tiba di mansionnya dan disambut oleh Sandra. "Dimana dia?" Tanya Devan sambil merenggangkan ikatan dasinya. "Di kolam renang, Sir." Jawab Sandra sembari menunduk sopan. Kini tatapan Devan beralih pada asisten pribadinya. "Kau langsung ke ruang kerjaku, Jo." Johan mengangguk. "Baik, Sir." Setelah mendapat perintah, Johan memutar balik tubuhnya menuju ruang kerja Devan. Sandra pun ikut pergi setelah Devan mengibaskan tangannya. Devan berjalan pelan menuju kolam renang yang terletak di belakang mansion. Begitu membuka pintu kaca angin laut langsung menerpa kulit wajahnya. Iris hijau kebiruan miliknya menangkap sosok wanita yang dia cari. "Apa kau masih belum puas?" Suara berat Devan berhasil membuat Cecilia mengalihkan tatapannya dari laut tenang. Iris biru terangnya terkunci dengan iris hijau kebiruan milik Devan. "Hari sudah semakin sore, lebih baik kau masuk." Devan berucap datar tanpa mengalihkan pandangannya dari laut di depannya. Tanpa menunggu lama, Cecilia langsung menyambar bathrobe dan memakainya. Tungkai kakinya mengayun melewati tubuh tegap Devan yang sedang menatap laut lepas. Cukup lama Devan berdiri di sana, sekedar merenungkan banyak hal. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, saat ini mereka sedang duduk untuk menikmati makan malam. "Besok kita akan fitting gaun pengantin untuk kau pakai saat acara pernikahanku." Ucap Devan tiba-tiba. Cecilia mengangguk. "Jam berapa?" "Mungkin setelah jam makan siang." "Oke." "Besok Mom akan ikut untuk melihatnya." Senyum Cecilia terbit. "Baiklah, aku juga sudah lama tidak bertemu dengan Mom." Katanya dengan riang. "Jaga jarakmu dengan Mommyku, kau harus tau dimana posisimu." Desis Devan tajam, tatapan matanya menyorot ketidaksukaan yang terlihat jelas Cecilia tersentak, menatap sendu pria yang baru saja memberi peringatan padanya. "Hanya untuk enam bulan saja, Dev. Apa aku tidak boleh dekat dengan Mommy?" Tanyanya dengan pelan. Devan menggeleng tegas. "Tidak! bersikap sewajarnya saja pada Mommyku. Aku tidak suka jika kau bersikap berlebihan padanya. Hanya calon Istriku saja yang pantas mendapatkan perlakuan seperti itu dari Mommyku. Kau hanya pengganti sementara saja ingat itu." Peringat Devan tajam. Cecilia kembali tersentak mendengar jawaban sarkas yang keluar dari mulut pria itu. Bahkan, Johan pun sampai mengerutkan keningnya, heran. "Aku tau." Cecilia sambil tersenyum pahit. "Tidak perlu kau ingatkan. Aku paham dimana posisiku." Ujarnya dengan wajah kecewa. "Bagus jika kau sudah paham, jadi terapkan itu dan jangan hanya kau simpan didalam otak kecil milikmu itu!" "Hem." Gumam Cecilia pelan, nafsu makannya langsung lenyap begitu saja. "Aku sudah selesai, aku pamit duluan." Cecilia meletakkan sendok dan garpunya lalu menyeka bibirnya dengan serbet. Kemudian beranjak dari duduknya dan langsung melangkah menuju kamarnya. Sungguh, hatinya sangat sakit mendengar kalimat sarkas dari mulut Devan. Bahkan, orang tua pria itu saja tidak keberatan jika dia harus mendekatkan diri pada mereka. Kenapa jadi pria itu yang melarang? Namun, Cecilia tidak bisa berbuat banyak. Karena kehadirannya disini memang dibayar untuk mematuhi semua perintah pria itu. Walaupun batinnya berteriak protes. Devan menatap kepergian Cecilia dengan pandangan rumit. Bahkan, wanita itu tidak menghabiskan makan malamnya. Devan hanya takut jika posisi Grace di hati kedua orangtuanya digantikan oleh Cecilia. Setelah menghabiskan makan malamnya, Devan langsung beranjak pergi ke ruang kerjanya diikuti oleh Johan dibelakangnya. Devan menghela nafas berat. "Jo, apa salah jika aku takut posisi Grace diambil oleh Cecilia? Mengingat kedua orangtuaku menyukainya." "Menurut saya itu tidak benar, Sir. Mereka mempunyai kedudukan masing-masing di hati kedua orangtua anda, dan berbicara seperti tadi pada Nona Cecilia menurut saya sangat melukai hatinya." Devan mendongak, menatap lekat asisten pribadinya. "Tapi, kedua orangtuaku tidak pernah bersikap seperti itu pada Grace, Jo. Bahkan, mereka tertawa lepas saat bersama Cecilia." "Itu tergantung bagaimana Nona Grace mendekatkan diri pada orangtua anda, Sir. Menurut saya sifat Nona Grace kurang terbuka jika bersama dengan kedua orangtua anda. Berbanding terbalik dengan Nona Cecilia. Mungkin itu yang menyebabkan kedua orangtua anda menyukai Nona Cecilia, Sir." Papar Johan berharap Devan bisa mengerti. Devan mengusap wajahnya kasar, tiba-tiba saja ada rasa bersalah yang menyergap hatinya. "Lantas aku harus bersikap seperti apa, Jo?" Tanyanya frustasi. "Anda harus bersikap sewajarnya, Sir. Anda tidak bisa melarang jika kedua orangtua anda menyukai Nona Cecilia. Lagi pula ini hanya untuk enam bulan ke depan, seharusnya tidak ada yang perlu anda takutkan." "Kau benar, Jo. Aku hampir saja lupa jika kontrak kami hanya untuk enam bulan ke depan." Kekeh Devan seraya menggeleng tak percaya. Ketakutan membuatnya lupa akan perjanjian itu. Seharusnya tidak ada yang perlu dia khawatirkan. "Betul, Sir. Anda tidak perlu khawatir soal itu. Lagi pula, Nona Cecilia hanya menggantikan tubuh Nona Grace saja, tidak merubah apapun termasuk status anda dan Nona Grace nantinya setelah kalian menikah." Devan mengangguk."Mungkin hanya ketakutanku yang terlalu berlebihan, Jo." Johan tersenyum dan mengangguk. "Anda mungkin hanya terlalu nervous menghadapi pernikahan anda yang sebentar lagi akan berlangsung, Sir." "Ya mungkin!" "Sebaiknya anda menjelaskan nanti pada Nona Cecil, saya melihat kesedihan dan kekecewaan dimatanya saat anda berbicara seperti tadi." "Aku tau dan aku juga melihatnya, Jo." Devan mendesah pelan. "Aku akan berbicara dengannya nanti." Johan mengangguk setuju. "Sebaiknya secepatnya anda berbicara dengannya, Sir. Saya takut Nona Cecil akan bersikap canggung di depan Nyonya besar besok." Saran Johan yang diangguki langsung oleh Devan. "Aku akan menemuinya." Devan beranjak dari kursinya. Lalu melangkahkan kakinya dengan ragu menuju kamar Cecilia. Johan pun tak berkomentar lagi, dia hanya menatap kepergian Devan dengan gelengan kepala. Cecilia menatap sendu dirinya dari pantulan cermin. Dia sudah selesai membersihkan tubuhnya sebelum beranjak untuk tidur. Bagaimana besok dia harus bersikap pada Mommy Shara jika Devan melarangnya untuk dekat dengan wanita paruh baya itu? Cecilia beranjak mematikan saklar lampu walk in closet dan kamarnya, menyisakan lampu tidur. Lalu menuju sofa yang ada di dekat jendela kamarnya dan duduk termenung di sana menatap kosong langit malam. Devan berdiri di depan pintu kamar Cecilia dengan perasaan tak menentu, dirinya sungguh dilema saat ini haruskah dia meminta maaf pada wanita ceroboh itu? Dengan tekat kuat, Devan mengambil nafas panjang sejenak sebelum membuka pintu kamar Cecilia lalu masuk ke dalam. Matanya menyipit sebab lampu kamar sudah mati. Namun Devan masih bisa melihat dengan jelas wanita ceroboh itu sedang duduk termenung menatap keluar jendela. Devan menutup pintu kamar dengan perlahan. Hatinya sedikit tidak enak menatap kesedihan di wajah wanita ceroboh itu. Dengan langkah pasti, Devan berjalan mendekat dan duduk persis disebelah Cecilia. Cecilia terlonjak kaget saat seseorang tiba-tiba duduk persis disebelahnya. Kepalanya menoleh cepat dan menemukan Devan yang sedang menatapnya dengan pandangan yang sulit dia artikan. 'Mau apa lelaki ini di kamarnya? sudah seperti hantu saja tiba-tiba ada disebelahnya' "Kenapa kau ada disini?" Tanya Cecilia heran, dia beranjak dari duduknya ingin menyalakan lampu kamar namun tangannya ditahan oleh Devan. "Duduklah." Perintah Devan datar. "Aku akan menyalakan lampu sebentar!" "Tidak perlu, aku juga tidak akan lama." Cecilia mengangguk saja, malas berdebat dengan pria angkuh yang ada disebelahnya saat ini. Cecilia kembali mengalihkan tatapannya ke arah jendela. "Ada apa?" Maniknya menyorot lekat wajah Cecilia yang terlihat cantik saat diterangi oleh sinar bulan malam hari. "Aku minta maaf soal tadi. Seharusnya aku tidak perlu khawatir dengan posisimu." Devan mengambil nafas sejenak menyenderkan kepalanya di sandaran sofa, "Aku hanya takut kau mengambil posisi Grace. Selama aku menjalin hubungan dengannya hampir tujuh tahun ini, belum pernah aku melihat kedua orangtuaku tertawa lepas seperti saat sedang bersamamu." Ungkap Devan jujur. Cecilia mengalihkan tatapannya, menatap lekat kedua bola mata pria itu dengan pandangan sedih. "Aku hanya ingin merasakan memiliki orangtua saja, setidaknya hingga kontrak kita selesai. Aku tidak pernah berpikir akan merebut apalagi mengambil posisi tunanganmu itu." "Aku paham, itu sebabnya aku meminta maaf padamu sekarang, aku tau kata-kata 'ku tadi melukaimu." Senyum kecut tersungging di bibirnya. "Sudahlah tidak apa-apa, lagi pula wajar bukan jika kau bersikap seperti itu. Aku hanya orang lain yang datang sementara dalam kehidupan kalian." Cecilia membalas tanpa melihat wajah Devan, iris biru terangnya kembali menatap langit malam. "Jangan kecewakan mommyku besok dengan sikapmu yang berubah kepadanya. Ini perintah dan kau harus menurut!" Titah Devan seenaknya. Dengan kesal Cecilia kembali menatap pria menyebalkan disampingnya. Menguap sudah rasa sedihnya ketika mendengar kalimat perintah dari pria m***m itu. "Terserah kau saja!" Sahutnya jengkel. Devan menarik sudut bibirnya ke atas membuat senyuman tipis. "Kalau begitu kau istirahat sekarang." Dia beranjak dari duduknya, "Jangan membuatku menunggu seperti kemarin, Cecil!" Sindirnya sekaligus mengingatkan. Cecilia memutar bola matanya malas. "Hem" Devan terkekeh menepuk pelan kepala Cecilia yang dibalas lirikan judes dari wanita itu. Setelahnya dia berjalan acuh menuju pintu kamar Cecilia dengan senyum samar. "Lain kali kunci pintunya" "Lain kali ketuk dulu pintunya sebelum kau masuk!" Balas Cecilia ketus lalu mencebikkan bibirnya kesal. Devan memasuki kamarnya dengan perasaan campur aduk. "Kenapa aku bisa tersenyum seperti itu?" Gumamnya, mengusap wajahnya kasar. "Harusnya aku bersikap tegas kepadanya." Devan mendengkus, kakinya kembali melangkah menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya dan menggosok giginya. Dengan tubuh telanjang hanya memakai boxer saja pria itu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Devan menatap langit-langit kamar, kedua tangannya menyangga kepalanya. Devan kembali mengingat wajah Cecilia yang terlihat sangat cantik di bawah sinar bulan. Kepalanya menggeleng cepat. "Aku sudah gila, untuk apa harus mengingatnya." Gumamnya kesal, dia memejamkan kedua matanya mencoba untuk tidur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD