08 Mommy Shara And Daddy Robert

1652 Words
Mommy Shara and Daddy Robert Sejak memasuki mobil Cecilia tidak bisa duduk diam dan hal itu membuat Devan jengkel sendiri. Hatinya sangat gelisah sekarang, banyak keraguan dan ketakutan yang bersemayam dalam otak Cecilia. "Kenapa kau terus saja bergerak?" tanya Devan, wajahnya terlihat benar-benar kesal. Cecilia membenarkan posisi duduknya lalu menatap lekat pada pria yang duduk disampingnya. "Devan, bagaimana jika orangtuamu tidak menyukaiku? bagaimana jika mereka mengusirku? bagaimana jika mereka menyuruhmu membatalkan semuanya? bagai--" Ucapan Cecilia terhenti saat pria itu tiba-tiba membekap mulutnya. Wajah Devan sudah merah padam menahan emosi, kenapa wanita disebelahnya ini tidak bisa diam dan berhenti mengoceh sejak tadi membuat kepalanya pening "apa kau tidak bisa diam?" Devan bertanya dengan suara rendahnya. Cecilia menyentak tangan Devan dari bibirnya dengan kasar "apa yang kau lakukan? Aku kan hanya bertanya!" sahutnya sinis. "Kau sangat berisik!" Rutuk Devan jengkel, kobaran amarahnya terlihat jelas di kedua bola matanya. Wajah Cecilia merengut tidak suka lalu mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil, menatap pria menyebalkan disebelahnya saat ini hanya membuat darahnya mendidih. Sedangkan Devan hanya mendelik geram pada wanita disebelahnya. Johan yang melirik keduanya dari kaca spion mobil hanya mampu menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecil. Melihat perdebatan kecil tuannya dengan Cecilia yang berada di kursi penumpang belakang. Mobil memasuki kawasan yang tak kalah mewah dari mansion tempat Devan tinggal. Jantung Cecilia memompa semakin cepat begitu mobil terparkir di halaman luas didepan mansion milik kedua orangtua Devan. Kedua tangannya berkeringat dingin, wajahnya pun kian menegang. Mereka turun setelah Johan membukakan pintu, dengan wajah tegang Cecilia tanpa sadar meremas kencang lengan Devan membuat pria itu menatap tajam padanya. "Apa yang kau lakukan? Kenapa kau meremas lenganku sekencang itu?" Desis Devan tidak suka, lama-lama kesabarannya menipis menghadapi Cecilia. Cecilia nyengir, memperlihatkan gigi rapihnya. "Maaf aku kelepasan, aku sangat nervous sekarang." adunya dengan bibir sedikit maju. Devan memutar bola matanya jengah, "diam dan ikuti saja aku!" Bibir Cecilia semakin maju, lalu mendelik sinis pada pria itu dan sama sekali tidak diindahkan oleh Devan. Kedatangan mereka disambut oleh Sam kepala pelayan yang ada di mansion itu. "Selamat malam, tuan muda" sapa Sam membungkukkan badannya sopan. "Malam Sam, bagaimana kabarmu?" "Seperti yang anda lihat tuan muda, saya sangat baik" Tatapan Sam beralih pada wanita cantik yang juga sedang menatapnya dengan senyuman kaku di bibirnya. "Selamat malam, Miss" Sam kembali menunduk sopan. "Selamat malam, panggil aku Cecil saja" ucap Cecilia tersenyum sungkan. Sam membalas senyum wanita cantik itu dengan ramah, tatapannya kini beralih kepada tuan mudanya. "Tuan dan Nyonya besar sudah menunggu anda diruang makan, tuan muda" Devan mengangguk, kemudian berjalan dengan langkah pasti menuju ruang makan dengan Cecilia yang masih mengapit lengannya. Wajah Cecilia masih sangat tegang tidak bisa disembunyikan apalagi dihilangkan. Mereka disambut dengan tatapan penuh intimidasi oleh Mommy Shara dan Daddy Robert begitu tiba di ruang makan. "Malam Mom, Dad" sapa Devan mencium pipi Mommy dan Daddynya bergantian. Cecilia berdiri kaku didepan kedua orangtua Devan dengan senyum canggung yang menghiasi wajahnya. "Selamat malam Mam, Sir" sapa Cecilia menunduk sopan. "Ini adalah wanita yang aku ceritakan kemarin pada kalian" tutur Devan menjelaskan. Mommy Shara dan Daddy Robert mengangguk mempersilahkan keduanya untuk duduk. “Duduklah” jika Devan duduk dengan santainya. Tidak untuk Cecilia, wajah wanita itu semakin pucat karena ditatap intens oleh kedua orangtua Devan. "Jadi apa pekerjaanmu sebelumnya? Siapa namamu?” tanya Mommy Shara. Sejak tadi matanya tak lepas dari wajah wanita itu. "Namaku, Cecilia. Mam" jawab Cecilia kaku "sebelumnya pekerjaanku agak banyak. Aku mengantarkan s**u di pagi hari, lalu menjaga toko bunga disiang harinya, kemudian aku bekerja part time di NY-NY Hotel dan Casino sebagai pelayan di sana" lanjut Cecilia lagi. Mommy Shara dan Daddy Robert langsung mengalihkan tatapan mereka pada Devan begitu mendengar jawaban terakhir dari Cecilia. "Dia hanya bertugas mengantarkan minuman kepada pelanggan" ucap Devan menjelaskan. Mommy Shara menyipitkan matanya menatap Cecilia penuh selidik begitupun Daddy Robert. "Aku harus bekerja part time di sana Mam, untuk memenuhi semua kebutuhanku" ucap Cecilia pasrah saat mendapatkan tatapan penuh selidik dari kedua orangtua Devan, terserahlah bagaimana penilaian kedua orangtua Devan padanya nanti. Daddy Robert menganggukkan kepalanya mengerti, sementara Mommy Shara masih menatapnya penuh intimidasi. "Berapa usiamu sekarang?" tanya Mommy Shara lagi. "Dua puluh dua, tahun ini. Mam" jawab Cecilia tersenyum ramah. Mommy Shara mengangguk "kau sebelumnya bekerja di toko bunga mana?" "La Madame Florist, Mam" "Milik Madam Emma??" "Betul sekali, Mam" Cecilia menjawab dengan senyum merekah. "Apa kau menyukai bunga?" Senyum Cecilia semakin lebar seraya mengangguk cepat "sangat Mam, aku ingin membuka toko bunga suatu saat nanti" seru Cecilia dengan wajah berbinar. Mommy Shara menaikkan satu alisnya "oh ya? apa kau bisa merawat bunga?" "Tentu saja Mam, aku suka merawat bunga" balasnya tersenyum "bolehkah aku merawat bunga anda di rumah kaca yang ada di mansion Devan?" tanya Cecilia penuh harap. "Dari mana kau tau itu milikku?" "Sandra yang mengatakannya padaku, Mam. Tadi aku cukup lama duduk di sana hingga hampir lupa jika harus kesini" jawab Cecilia lalu tertawa kecil. "Sudah ada tukang kebun khusus yang merawat semua tanaman itu di sana, tapi jika kau masih mau merawatnya ya silahkan saja. Tapi pastikan semua bungaku terawat dengan baik" ucap Mommy Shara sedikit memberi peringatan kecil. "Pasti, Mam" balas Cecilia dengan senyum merekah dan anggukan senangnya. Daddy Robert mengangkat kedua alisnya sambil memangku kedua tangannya "kau tau apa tugasmu nanti, bukan?" "Sure Sir, aku akan menjadi pengantin pengganti di altar nanti dan untuk enam bulan kedepannya. Aku juga sudah menandatangani kontrak kerja dengan Devan Sir" jawab Cecilia dengan lugas. "Bagus jika kau sudah paham tugas dan posisimu" ucap Daddy Robert. "Tentu sir, anda tidak perlu khawatir soal itu. Saya paham siapa saya dan dimana posisi saya" Daddy Robert menganggukkan kepalanya "kau boleh memanggilku Daddy, seperti Devan hingga enam bulan kedepan" "Benarkah?" tanya Cecilia dengan mata berbinar senang. "Tentu saja" jawab Daddy Robert terkekeh kecil. "Thank you, Dad" seru Cecilia senang, ada nada penuh rindu saat dia mengucapkan kata Dad. Lalu tatapannya beralih kepada wanita paruh baya. "Yayaya, kau juga bisa memanggilku Mom hingga kontrakmu habis dengan Devan" ucap Mommy Shara yang mengerti arti tatapan Cecilia. Senyum Cecilia semakin lebar hingga memperlihatkan gigi putihnya yang berjejer rapih "thank you, Mom" ucapnya dengan tulus. Devan memandang Cecilia sedikit iba, biarlah pikirnya. Setidaknya selama enam bulan ke depan wanita ceroboh itu bisa merasakan memiliki orangtua. Mereka melanjutkan acara makan malam mereka, diselingi sedikit canda tawa tentu saja Cecilia yang membuat kedua orangtua Devan tertawa. Terutama dengan Mommy Shara, sudah sangat lama Cecilia merindukan sosok seorang ibu, dan sekarang dia bisa menganggap Mommy Shara sebagai ibunya tentu saja ada batasannya. Keseruan Cecilia dan Mommy Shara berlanjut hingga memasuki kawasan dapur, saat Mommy Shara akan menyiapkan cake kesukaan Devan sebagai hidangan pencuci mulut. "Aku juga suka membuat kue Mom, tapi jika hanya sedang berada dikediaman Madam Emma saja" seru Cecilia antusias "Oh ya? Kenapa tidak membuat sendiri di rumahmu?" Cecilia tersenyum kecut "Apartemenku tidak mempunyai alat selengkap itu Mom, aku hanya tinggal di Apartemen kecil saja" jawab Cecilia sedih "jika aku sudah mendapatkan seluruh bayaran dari Devan, aku akan langsung membuka toko bunga Mom, dan mungkin akan membeli sedikit alat untuk membuat kue" ucapnya lagi lantas tertawa kecil. "Kau hidup sendiri selama ini?" "Hem, aku sudah dibuang oleh kedua orangtuaku sejak aku masih bayi didepan pintu Panti Asuhan" jawab Cecilia menerawang. Mommy Shara sedikit kasihan dengan nasib perempuan cantik yang ada disebelahnya saat ini "mungkin lain kali kita bisa membuat kue bersama untuk Devan" "Terima kasih Mom, itu pasti akan sangat menyenangkan" balas Cecilia tersenyum tulus. Mommy Shara memberikan potongan kue keju dengan irisan lemon dan buah Blueberry diatasnya pada Cecilia "cobalah, ini adalah cake kesukaan Devan" Cecilia mengambil potongan kue tersebut dan mulai memasukkannya kedalam mulutnya, matanya sampai melotot "ini enak sekali Mom, sangat lembut dan kejunya, eum, ini benar-benar sangat nikmat" Mommy Shara tertawa kecil "benarkah?" "Hem, ini kue yang sangat lezat yang pernah aku makan Mom, hanya orang sekelas anda pasti yang bisa memakannya" seru Cecilia dengan binar senang dikedua matanya. "Well, kalau begitu selamat menikmati menjadi berkelas selama enam bulan ke depan" Cecilia menghela nafas "tapi aku berharap tidak selama itu, Mom" Kening Mommy Shara terlipat dalam "Kenapa?" "Aku kasihan dengan Devan dan tunangannya itu jika harus terpisah terlalu lama, lagi pula anak Mom sedikit menyebalkan" jawab Cecilia jujur. Mommy Shara tergelak kencang mendengarnya "Mom sependapat denganmu soal menyebalkan itu" Cecilia menganggukkan kepalanya sambil terus mengunyah kuenya "kau tau Mom? aku pertama kali bertemu dengan anakmu itu di Casino. Saat itu aku yang bertugas membawakan minuman ke ruangannya, lalu dia pindah ke kamarnya yang ada di sana lalu aku kembali mengantarkan sisa minumannya. kau tau? dia hanya memakai handuk saja saat itu dan dia bilang kalau aku ini jalang baru karena aku gugup saat menatap penampilannya saat itu" cerita Cecilia lalu mendengus jengkel jika mengingatnya kembali. "Memangnya kau tidak pernah melihat pria berpenampilan seperti itu sebelumnya? Seharusnya di usiamu yang sekarang kau sudah terbiasa" tanya Mommy Shara sedikit heran. Cecilia nyengir lebar "nope Mom, aku belum pernah melihat yang seperti itu" adunya dengan bibir sedikit jatuh. "Jangan bilang kau masih perawan saat ini?" Pekik Mommy Shara tak percaya, matanya sampai melebar sempurna. "Ssttt, Mom bisakah kita tidak usah membahas soal yang itu" pinta Cecilia dengan wajah merona malu. "Oh my god!!!" Pekik Mommy Shara tergelak kencang "old maid" ledek Mommy Shara kembali terbahak. Bibir Cecilia semakin jatuh dibuatnya, sungguh ini adalah pembahasan yang benar-benar tidak disukainya. Memangnya kenapa jika dia masih perawan diusianya yang sekarang, menurutnya tidak ada yang aneh apalagi salah. "Jangan bilang kalau kau juga belum pernah berpacaran?" Cecilia mengangguk lemas sebagai jawabannya. "Oh Tuhan!!!" Mommy Shara semakin tetawa keras, bahkan sudut matanya sampai berair. "Sudahlah Mom, lebih baik kita antar saja kue ini. Jangan meledekku terus" pinta Cecilia sedikit merengek. "Oke, oke, baiklah" jawab Mommy Shara mencoba menghentikan tawanya. Mereka berdua berjalan menuju ruang keluarga dimana Devan dan Daddynya sudah lebih dulu duduk di sana. Kedua orangtua Devan tidak berhenti tertawa mendengar cerita konyol tentang kehidupan Cecilia, mereka mulai menyukai wanita cantik itu karena sifatnya yang rendah hati dan apa adanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD