New Life Begins
Kicauan burung membangunkan seorang wanita cantik dari tidurnya, perlahan kelopak matanya terbuka. Iris birunya memindai ke seluruh ruangan, Cecilia menguap lebar lalu merenggangkan otot tubuhnya.
"Baru kali ini aku bisa tidur nyenyak" gumamnya pelan, perlahan kakinya turun dari ranjang menapak pada lantai dingin dan berjalan gontai kearah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Cecilia menatap dirinya dari pantulan cermin, pagi ini dia menggunakan rok kulit selutut dipadukan dengan blouse rajut turtleneck. Senyumnya mengembang. Suara ketukan pintu mengalihkan perhatiannya, Cecilia memutar tubuhnya lalu berjalan mendekat dan membuka pintu kamarnya perlahan. Di sana sudah ada Johan yang berdiri kemudian membungkukkan badannya.
"Selamat pagi, Nona Cecilia" Johan menyapa ramah seperti biasanya.
Cecilia menggeleng seraya tersenyum "Pagi Jo, sudah aku bilang agar tidak perlu se-formal itu padaku"
Johan tersenyum menanggapi "anda ditunggu tuan Devan untuk sarapan, Nona"
Cecilia mengerutkan keningnya, kemudian menunjuk dirinya sendiri "aku?"
"Betul Nona, silahkan" Johan menggeser tubuhnya memberi jalan untuk Cecilia.
"Oke" jawab Cecilia masih sedikit linglung, dia pikir pria m***m itu tidak akan sudi makan bersama orang kelas bawah seperti dirinya.
Mereka berjalan beriringan menuju ruang makan, sudah ada Devan di sana yang sedang duduk sambil membaca koran.
Devan menatap datar Cecilia yang baru saja tiba diruang makan "duduklah ada yang ingin aku sampaikan"
"Ya" cicit Cecilia menundukkan kepalanya sedikit takut jika mengingat kejadian kemarin malam.
Seorang pelayan membungkukkan dirinya sebelum mempersiapkan sarapan untuk Cecilia.
"Ah tidak perlu, aku bisa mengambilnya sendiri" ucap Cecilia sedikit sungkan.
Pelayan itu melirik tuannya lewat ekor matanya yang sedang menatap tajam kearahnya dan juga wanita cantik yang baru saja berbicara padanya "ini sudah menjadi bagian dari tugas saya, Nona" ucapnya dengan senyum kaku.
"Hem baiklah, terimakasih" ujar Cecilia begitu menyadari kemana arah lirikan pelayan itu.
Mereka makan dalam diam, hanya suara dentingan sendok yang terdengar. Selesai makan Devan mengambil serbet yang tersedia dan mengelap bibirnya.
"Nanti malam kita akan ke mansion orangtuaku, bersiaplah! Aku akan mengenalkan-mu sebagai calon pengganti istriku"
Cecilia mengangkat wajahnya lalu mengangguk "Baik, Sir"
"Jangan sampai kau berbicara formal didepan orangtuaku, apa kau mengerti?" Devan berucap seraya menatap lekat wanita yang ada di sebelahnya saat ini.
Cecilia tersenyum "oke, Sir"
Devan memutar bola matanya "belajarlah untuk tidak berbicara formal padaku" ujarnya jengah, lalu berdiri dan berjalan meninggalkan ruang makan begitu saja.
Cecilia menatap punggung Devan sinis tak lupa mengumpat didalam hati 'pria m***m, sialan, menyebalkan!!!'
"Dasar aneh! Kemarin malam dia berkata jika aku bekerja padanya, sekarang aku sudah bersikap formal dia malah komplain!" Cecilia menggerutu lalu mencebikkan bibirnya jengkel.
Dengan wajah dongkol Cecilia kembali melanjutkan makannya, mulutnya penuh dengan makanan dengan bibir yang tidak berhenti menggerutu.
Pelayan tadi yang menyiapkan makanan datang kembali untuk membereskan piring tuannya dibantu beberapa maid lainnya. Lalu tersenyum kecil melihat Nona cantik itu terus saja menggerutu sambil mengunyah.
Merasa diperhatikan, Cecilia mengalihkan tatapannya "siapa namamu?"
"Eum, saya Sandra, Nona" jawab Sandra dengan sopan lalu kembali melakukan pekerjaannya.
"Huh Sandra, kau juga tidak perlu kaku begitu padaku. Status kita sama disini sama-sama bekerja. Hanya bagian saja yang berbeda" ucap Cecilia lalu terkekeh setelahnya.
Sandra tersenyum kecil "justru karena bagian yang berbeda itu Nona, saya jadi harus lebih sopan pada anda"
Dengusan kasar Cecilia terdengar jelas "oh ayolah Sandra, kita bisa menjadi teman baik disini" pintanya sedikit memohon, sejak berada di mansion Devan semua orang selalu menunduk padanya dan itu membuatnya tidak nyaman.
"Dengan senang hati, Nona. Tapi maaf, saya tidak bisa menghilangkan sikap saya kepada anda" ucap Sandra kembali tersenyum sopan.
Reflek Cecilia merotasi bola matanya "Ck, terserah kau sajalah! Sudah berapa lama kau bekerja disini?"
"Sudah hampir tiga tahun, Nona" lalu memerintahkan pada maid melalui ekor matanya yang sudah selesai bertugas untuk pergi.
Cecilia mengangguk "berarti sudah cukup lama ya" gumamnya pelan "kau tau kenapa tunangan tuan Devan sampai koma?" tanyanya menatap lekat wajah Sandra.
Sandra kembali tersenyum "Karena kecelakaan pesawat Nona, saat itu Nona Grace ingin menyusul tuan Devan yang sedang dalam perjalanan bisnis ke Roma. Namun naas pesawat yang Nona Grace tumpangi mengalami kecelakaan, dan itu membuat Nona Grace koma sudah hampir tujuh bulan lamanya" papar Sandra bercerita.
Cecilia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan wanita yang tidak diketahuinya itu "kasihan sekali" Cecilia berujar dengan tulus.
Sandra hanya mengangguk saja 'Andai saja Nona tau bagaimana sifat asli wanita itu' batin Sandra berucap.
"Kalau begitu saya permisi, Nona" pamitnya ingin kembali ke dapur.
Cecilia mengangguk "oke terimakasih, Sandra" lalu memberikan seulas senyum setelahnya.
Selesai sarapan Cecilia mengelilingi mansion besar Devan, matanya berpendar takjub menatap sekelilingnya. mansion Devan terletak dekat dengan bibir pantai yang mampu memanjakan sepasang mata cantiknya. Ada kolam renang yang berhadapan langsung dengan bibir pantai, ada lapangan tenis disebelahnya, ruangan gym, perpustakaan pribadi, ruang music dan karaoke, hingga teather pribadi. Di rooftop juga ada landasan terbang, di bagian belakang mansion terdapat taman luas dan rumah kaca yang menampung banyak tanaman bunga dan sepertinya ini akan menjadi tempat favoritnya di mansion ini selama enam bulan ke depan.
Membuka pintu kaca, matanya langsung menyapu ke seluruh penjuru ruangan dengan senyum mengembang. Ada banyak jenis bunga yang ditanam disini begitu pula dengan bunga mawar dan lily bunga kesukaannya. Bibirnya tidak berhenti tersenyum, dia duduk di kursi kayu yang ada di sana sambil menikmati pemandangan yang membuat perasaannya tentram.
Cecilia menghabiskan waktu tanpa disadarinya di rumah kaca, hanya duduk diam saja mampu membuat otaknya lebih fresh dari sebelumnya. Suara pintu terbuka mengalihkan perhatiannya.
Sandra berdiri di ambang pintu dengan wajah sangat lega, sejak tadi dia ditugaskan untuk mencari keberadaan Nona cantik yang tiba-tiba saja menghilang.
"Nona Cecilia" panggil Sandra menunduk sopan.
Cecilia mengerutkan keningnya dalam "ada apa denganmu, Sandra?" tanyanya heran.
"Saya mencari anda kemana-mana, Nona" seru Sandra dengan helaan nafas lega.
"Kenapa? Ada apa?" tanya Cecilia sedikit panik, apa dia melewatkan sesuatu? atau mungkin tidak boleh memasuki rumah kaca ini?
"Ini sudah sore hari Nona, anda harus bersiap untuk ke mansion orangtua tuan Devan" ucap Sandra mengingatkan.
Cecilia menepuk jidatnya "aku hampir saja lupa Sandra, disini sangat tentram dan nyaman" kekehnya lalu beranjak berdiri dari kursi kayu "siapa yang merawat bunga ini, Sandra?"
"Ada pekerja khusus yang menanamnya Nona. Dan Nyonya Shara sering ketempat ini jika sedang berkunjung. Beliau juga sangat menyukai bunga"
"Siapa Nyonya Shara?" tanya Cecilia penasaran.
"Beliau ibu dari tuan Devan, Nona. Sebaiknya anda bersiap sekarang sebab tuan Devan tidak suka menunggu"
Cecilia menganggukkan kepalanya paham lalu segera keluar dari rumah kaca. Tungkai kakinya membawanya berjalan menuju kamarnya untuk segera bersiap.
Pria itu sudah tiba di mansionnya, dengan wajah datar kakinya melangkah memasuki kediamannya "dimana dia?" tanyanya pada Sandra yang berdiri tak jauh darinya.
Sandra menunduk dalam "masih bersiap di kamarnya, Sir"
"Apa saja yang dilakukan wanita itu seharian? Kenapa dia belum juga selesai bersiap?" Geram Devan penuh emosi.
"Ta-di Nona berada di rumah kaca seharian, Sir" jawab Sandra sedikit terbata, kepalanya masih menunduk takut. Sementara Johan yang berdiri di belakang tuannya menghela nafas, dia lupa memberitahu Cecilia jika tuannya tidak suka menunggu.
Devan mendengkus lalu berjalan cepat kearah kamar Cecilia kemudian membuka pintu kamar itu dengan kasar "Cecilia!!" Seru Devan berteriak memanggil, menghadapi wanita itu benar-benar menguras emosinya saja.
"Aku disini" sahut Cecilia dengan suara sedikit kencang.
Pria itu berjalan kearah walk in closet, menemukan wanita yang dicarinya sedang menata rambutnya "apa saja yang kau lakukan, huh? Kenapa belum selesai juga?" Devan bertanya dengan rahang yang sudah mengeras.
Johan yang melihat itu hanya mampu menunduk dalam, dia paham betul jika tuannya paling tidak suka menunggu.
Cecilia memutar bola matanya, lalu menatap pria m***m itu dari pantulan cermin "tolong ambilkan jepitan itu" pinta cecilia, melirik jepitan mutiara yang ada di meja riasnya.
Devan menatap tajam wanita yang duduk didepan cermin "kau menyuruhku?" Tanya Devan tak percaya.
"Aku bukan menyuruhmu! Aku meminta tolong padamu, apa kau tidak bisa membedakannya?" cibir Cecilia sedikit kesal.
Devan melotot, menatap tidak suka pada wanita itu "ambil saja sendiri!" Balasnya jengkel, bisa-bisanya wanita ceroboh itu menyuruhnya.
Cecilia menghela nafas "Aku sedang memegang rambutku, tolong ambilkan" pintanya menatap Devan dari pantulan cermin.
Dengan amarah yang sudah mengepul, Devan berjalan menghampiri Cecilia lalu memberikan jepitan yang dimaksudkan wanita itu "ini! cepatlah kenapa kau sangat lamban!" cibirnya geram.
"Berhentilah mengomel Devan, kerutan di wajahmu akan semakin terlihat jika kau selalu saja mengomel setiap harinya" sahut Cecilia terlampau kesal, sejak kemarin pria itu selalu saja memarahinya.
Johan hampir saja meledakkan tawanya mendengar jawaban sarkas penuh makna dari Cecilia.
Rahang Devan terjatuh, menatap tidak percaya pada wanita yang sedang asyik memoleskan lipstik ke bibirnya "apa kau bilang?"
"Aku sudah selesai!" Seru Cecilia riang tanpa perduli dengan pertanyaan Devan "ayo, mau sampai kapan kau melihatku seperti itu?" lanjutnya lagi dengan wajah tanpa dosa.
Devan menarik nafas dalam dan membuangnya kasar "kau benar-benar!" Desis devan menatap tajam Cecilia.
Dengan cuek Cecilia mengapit lengan kekar Devan "kita harus belajar terlihat seperti pasangan bukan?" tanyanya dengan senyum mengembang.
Wajah Devan sudah merah padam menahan emosi. Dengan kesal dia berjalan keluar dari kamar Cecilia. Mengutuk dalam hati wanita ceroboh yang sedang mengapit lengannya saat ini. Sementara Cecilia hanya melirik acuh wajah Devan yang sudah seperti Banteng jantan berhadapan dengan kain merah.
Johan tersenyum penuh arti melihat kejadian langka itu. Tuannya yang biasanya akan langsung murka, bisa menahan emosinya menghadapi seorang Cecilia.
Devan dan Cecilia sudah berada didalam mobil, mereka sedang dalam perjalanan menuju mansion orangtua Devan.
Devan menggunakan setelan jas biru tua sedangkan Cecilia menggunakan dress dibawah lutut berwarna hitam.