Mansion Devan
Cecilia tercengang menatap bangunan luas dihadapannya. Saat ini dia sudah berada di Mansion besar milik pria itu. Setelah menyelesaikan semua urusannya, Johan langsung membawanya ke Mansion Devan sesuai dengan perintah pria m***m itu tadi. Cecilia menyapu pandangannya ke seluruh ruangan Mansion bergaya Eropa klasik, pilar-pilar yang tinggi, tangga melingkar dengan railing berwarna gold dengan ukiran, wall peneling dinding yang sangat elegan menambah nilai mewah pada Mansion tersebut.
"Kalian sudah datang."
Seruan itu membuat Cecilia mengalihkan tatapannya pada pria yang sudah memakai baju santainya, celana kargo pendek selutut dan kaos putih polos. Pria itu sepertinya baru saja mandi karena rambutnya masih sedikit basah, dengan gaya yang masih saja angkuh pria itu menuruni tangga.
"Yes Sir, kami baru saja tiba."
Cecilia mengeratkan pegangannya pada tas sedang yang dibawanya, pakaian seadanya yang dibawanya dari Apartemen miliknya. Cecilia menarik dalam nafasnya saat pria itu sudah berada tepat di hadapannya, dia harus menekan dalam-dalam emosinya agar hidupnya setidaknya bisa sedikit tenang dan tentram.
Dengan wajah angkuh Devan menatap intens penampilan wanita yang ada dihadapannya saat ini, dengan pandangan menilai dari atas hingga bawah.
"Antar dia ke kamarnya Jo, tapi sebelumnya beritahu dia ruangan mana saja yang tidak boleh dia masuki."
Johan mengangguk, "Baik, Sir." Lalu tatapannya beralih pada Cecilia, “Mari, Nona."
Cecilia mengangguk dan mengikuti langkah Johan tanpa menghiraukan keberadaan Devan di sana. Dia masih sangat jengkel dengan sikap dan sifat angkuh pria itu, kakinya melangkah dengan mata yang tidak berhenti menatap sekelilingnya.
Mereka tiba di depan pintu kayu besar yang saling berhadapan. "Pintu ini adalah ruang kerja tuan Devan dan yang didepannya adalah kamar Nona Grace, tunangan sekaligus calon istri Tuan Devan dan disebelah kiri itu adalah pintu kamar utama, kamar pribadi Tuan Devan. Itu adalah tempat yang tidak boleh anda masuki, Nona Cecilia." Jelas Johan menatap lekat Cecilia memastikan bahwa wanita itu mendengar dan paham dengan apa yang dia ucapkan.
Cecilia mengangguk malas, lagipula siapa juga yang ingin masuk ke dalam sana, pikirnya.
Lalu mereka kembali berjalan dan berhenti didepan pintu yang hanya dipisahkan tembok tebal dari sisi kamar Devan. kening Cecilia berkerut mencoba menebak ruangan apa yang ada dihadapannya saat ini.
"Ini adalah kamar anda Nona Cecilia, silahkan anda beristirahat." Johan membungkukkan tubuhnya sopan.
Cecilia menganggukkan kepalanya mengerti, dia pikir ini adalah salah satu ruangan yang tidak boleh dia masuki lagi ternyata ini adalah kamar untuknya. Walaupun sedikit heran kenapa dia ditempatkan di kamar dengan satu lantai dengan kamar Devan dan kamar calon istri ptia itu. Cecilia pikir akan ditempatkan jauh dari kamar pria m***m itu.
"Ah tidak perlu sungkan seperti itu Jo, anggap saja aku temanmu jika kau tidak keberatan," balas Cecilia lalu tertawa kecil.
Johan pun ikut tertawa, "Mungkin jika kita hanya berdua, kita bisa menjadi teman, Nona." Sahut Johan lantas tersenyum manis.
"Mungkin, itu menarik Jo." Balas Cecilia pun ikut tersenyum.
"Kalau begitu silahkan beristirahat, Nona. Saya pamit."
Cecilia mengangguk sopan perlahan membuka pintu besar itu dan memasuki kamar yang akan dia tempati, kamar yang sangat luas dengan design yang elegan dan isi yang lengkap. Cecilia berjalan menyusuri kamar dan tiba di walk in closet yang terhubung langsung dengan kamar mandi yang ada dalam kamar itu. Matanya mengamati isi lemari yang sudah lengkap dengan berbagai macam model baju, celana, gaun, tas, sepatu, perhiasan, hingga pakaian dalam. Wajahnya tiba-tiba memanas begitu melihat ukuran pakaian dalam yang ada dalam lemari tersebut, pakaian dalam yang terbuat dari bahan sutera dengan ukuran yang pas dengan ukuran miliknya. Dari mana pria m***m itu tau ukuran pakaian dalamnya pikir Cecilia.
Tidak mau berpikiran yang aneh-aneh Cecilia mengangkat kedua bahunya cuek mungkin hanya kebetulan saja pikirnya. Lalu dia masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah lengket karena seharian berada diluar. Cecilia menikmati acara berendam dengan busa melimpah beraroma strawberry yang mampu menyegarkan tubuhnya.
Wanita cantik itu menghabiskan waktu lebih dari setengah jam hanya untuk mandi, masih dengan tubuh polos dan hanya menggunakan bathrobe serta rambut yang di bungkus dengan handuk Cecilia berjalan menuju walk in closet dan memakai pakaian dalamnya. Baru saja dia akan memilih gaun tidur yang akan dikenakan olehnya, Devan masuk tanpa permisi kedalam kamarnya dan berjalan acuh kearah walk in closet mencari wanita yang akan menjadi pengganti Grace di atas altar nanti.
Devan melotot, tatapannya terkunci pada tubuh wanita yang hampir polos yang sedang membelakanginya tidak menyadari kedatangannya.
'Holy shits! Kenapa tubuhnya begitu menggoda' batin iblis nya mempengaruhi. Devan menggeleng keras mencoba mengalihkan pikiran kotornya.
"Ekhem!!" Devan berdehem keras membuat Cecilia tersentak dan membalikkan tubuhnya dengan cepat ke asal suara.
Cecilia melotot begitu melihat siapa yang ada didalam kamar berdua saja dengannya, dan sialnya dia hanya menggunakan pakaian dalam saja. Dengan gerakan cepat Cecilia menyambar kembali bathrobe-nya lalu memakainya kembali kemudia menatap sengit pria yang menampilkan wajah datar tanpa ekspresi tersebut.
"Apa kau tidak punya sopan santun?Kenapa main masuk saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu?" Pekik Cecilia geram, ya Tuhan pria m***m itu baru saja memandang tubuhnya yang hampir polos.
Devan mengangkat kedua bahunya acuh lalu duduk di sofa yang tersedia di sana. "Aku hanya ingin mengantarkan ini." Devan menunjukkan sebuah paperbag berlogo ponsel terkenal. "Lagi pula ini semua milikku, aku bisa memasukinya sesuka hatiku." Ucapnya enteng dengan ambigu.
Cecilia mendelik kepada pria m***m yang ada dihadapannya. Dengan gerakan cepat Cecilia mengambil asal gaun tidur yang tersedia di lemari lalu menuju kamar mandi untuk memakainya di sana. Cecilia keluar kamar begitu selesai memakai pakaiannya, dengan tatapan paling tajam dia menghampiri Devan yang masih duduk anteng di sana.
Karena sudah terlampau emosi Cecilia sampai tidak menyadari gaun yang dipakainya saat ini, gaun tidur berwarna putih dengan bahan sutra sedikit transparan membuat Devan lagi-lagi harus menggeram pelan.
"Apa? Kau mau apa?" Tanya Cecilia ketus sambil melipat kedua tangannya didepan d**a.
"Ini." Devan memberikan kantong berisi ponsel keluaran terbaru yang sama dengan miliknya, walaupun jantungnya sudah berdetak tidak karuan Devan berusaha untuk tetap tenang dengan wajah datar khasnya.
Meendengkus kesal lalu Cecilia mengambil kantong tersebut lalu menatap heran pada ponsel tersebut dan Devan bergantian. "Ini untukku?"
"Hem."
"Tapi aku sudah memiliki ponsel," ucap Cecilia dengan kernyitan dahi bingung.
"No! Pakai yang itu saja, jangan membuat aku malu dengan ponsel jadul milikmu itu," cibir Devan mengejek.
Cecilia menghirup sebanyak-banyaknya udara disekitar lalu menghembuskannya dengan kasar "Oke! Sudah kan? Bisa kau keluar sekarang, aku ingin istirahat." Serunya menatap tidak suka pada Devan.
Devan menatap tajam wanita yang berdiri didepannya saat ini. "Jangan pernah membentak ku atau memerintah ku." Desis Devan tidak suka.
Cecilia menelan ludahnya susah payah, sedikit mundur kebelakang karena terlalu terintimidasi oleh tatapan tajam Devan dan aura yang pria itu keluarkan.
"Ok-oke." Jawab Cecilia terbata lalu memalingkan wajahnya dari Devan.
Devan menyorot tajam pada Cecilia, dengan rahang yang sudah mengeras kakinya mulai melangkah maju menghampiri Cecilia dan berdiri persis didepan wanita itu.
"Dengar aku, Cecilia! Kau sekarang bekerja untukku, jadi jangan pernah perlakukan aku seperti temanmu!" Ucap Devan dengan suara rendah penuh penekanan.
Cecilia menahan nafasnya sejenak. "Eum, maaf sebelumnya, aku tidak akan mengulanginya lagi." Balasnya kemudian menunduk takut.
"Good." Devan lalu beranjak pergi begitu saja dari kamar Cecilia. Sebelum benar-benar keluar, Devan berbicara dengan nada datarnya. "Di dalam ponsel itu aku sudah menyimpan nomorku dan nomor Johan, lain kali kunci pintu kamarmu!"
Cecilia langsung berpegangan pada lemari yang ada di sana, kakinya terasa lemas melihat aura mengerikan yang baru saja Devan lemparkan padanya. "Ini belum sehari bagaimana enam bulan ke depan, semoga saja tunangannya itu cepat bangun," gumamnya dengan wajah frustasi.
Dengan sedikit gemetar Cecilia melangkah menuju sofa lalu duduk di tempat yang Devan duduki sebelumnya, matanya langsung berbinar ketika melihat model ponsel keluaran terbaru yang baru saja pria m***m itu berikan padanya. Dengan antusias Cecikua mulai membongkar ponsel jadul miliknya lalu memasukkan kartu chip kedalam ponsel barunya. Cecilia menatap senang pada ponselnya lalu berpose dengan berbagai macam gaya mencoba kamera ponselnya.
"Walaupun m***m, ternyata dia baik juga seperti yang Johan katakan tadi." Gumam Cecilia sambil terkekeh senang.
Devan mengutuk perempuan ceroboh yang barus aja dia temui, "Dasar wanita sinting!" geram Devan gusar, memang perempuan itu pikir dia ini banci atau pria tidak normal!
Dengan wajah frustasi Devan memasuki ruang kerjanya menetralkan detak jantungnya yang sedari tadi tak berhenti berdetak dengan cepat. Sepertinya Devan harus memanggil Martin untuk memeriksakan kesehatan jantungnya. Dia memencet tombol menekan beberapa digit angka pin yang terselip di jejeran buku-bukunya, pintu rahasia terbuka dari balik rak bukunya. Ruangan bernuansa serba hitam dan abu-abu tua mendominasi ruangan rahasianya. Ada berbagai macam jenis senjata api koleksi pribadinya, serta mini bar dengan botol Vodka dan Cocktail kesukaannya. Devan mengambil gelas lalu menuangkan Salvatore's Legacy salah satu Cocktail favoritnya.
Sambil menegaj Cocktail-nya lalu Devan duduk di sofa lantas mengambil foto kebersamaannya dengan Grace dari meja kecil yang ada disampingnya. Devan menatap lekat bingkai foto tersebut lalu mendesah berat. "Aku harap kau sudah bangun sebelum acara pernikahan kita, sayang." Gumamnya lelah, lalu memeluk bingkai foto itu erat.
Memejamkan matanya mengingat kembali saat terakhir kebersamaan mereka sebelum Grace kecelakaan. Hampir tujuh tahun mereka menjalin hubungan walaupun hubungan mereka tidak seperti pasangan pada umumnya. Rasanya sangat berbeda saat Devan harus melalui hari-harinya tanpa wanita yang sangat dicintainya. Tidak ada lagi rengekan manja sang kekasih, tidak ada lagi laporan pemakaian kartu kredit yang biasanya wanita itu gunakan tak tanggung-tanggung jumlahnya.
"I miss you dear." Gumam Devan mengecup lama bingkai foto itu, lalu kembali menutup matanya pedih dengan bulir air mata yang tanpa sadar mengalir di pipinya.
Pria itu baru kembali kedalam kamarnya pukul tiga dini hari, dia menghabiskan hampir seluruh waktunya didalam ruangan rahasianya. Dengan sedikit sempoyongan Devan melangkah kearah kasurnya, membuka seluruh pakaiannya dan menyisakan boxernya saja lalu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang meraih alam mimpi.