18 tahun yang lalu.
Seorang anak laki-laki bernama Elwira pindah ke daerah Malang bersama dengan kedua orang tuanya, karena urusan bisnis. Selama satu bulan berada di Malang, Elwira belum memiliki teman baru. Anak itu hanya bermain seorang diri di halaman rumahnya. Kedua orang tuanya sibuk bekerja, sedangkan ia hanya ditinggalkan di rumah besar itu bersama dengan seorang asisten rumah tangga. Terlebih Elwira tidak diizinkan untuk pergi ke sekolah umum. Sehari-harinya ia terus berada di rumah dengan seorang guru privat secara silih bergantian mendatangi rumahnya.
Hingga suatu hari, Elwira memohon kepada asisten rumah tangganya agar diajak ketika wanita paruh baya itu hendak pergi ke supermarket. Wira akhirnya diperbolehkan pergi dengan sang asisten rumah tangga.
Sesampainya di supermarket yang tidak terlalu jauh dari rumahnya, Elwira merasa sangat senang karena akhirnya ia bisa keluar dari rumahnya dan pergi melihat banyak aneka bahan makanan yang dijual. Sementara sang bibi mencari barang yang dicarinya, Elwira memilih menunggu di area bermain anak-anak. Ada satu set rumah besar yang terbuat dari karet tebal yang berisi angin. Di dalam rumah mainan tersebut, anak-anak bermain perosotan juga bola-bola yang cukup banyak hingga dapat menutupi setengah kaki anak-anak.
Elwira tersenyum dengan lebar. Ia sudah sangat merasa senang dan sumringah hanya karena melihat banyak anak-anak seusinya yang bermain. Ia juga ingin bermain, tetapi ia mencoba menahannya.
“Yah, koinnya habis.”
Tidak sengaja mendengar keluhan dari suara seorang gadis kecil, Elwira menolehkan kepalanya. Tak jauh dari rumah mainan itu, rupanya ada beberapa permainan lainnya. Ada mesin capit yang berisi boneka dan mobil-mobilan.
Tepat di depan mesin boneka capit, Wira melihat sosok gadis kecil yang mengenakan dress berwarna putih semata kaki. Gadis itu memiliki rambut hitam yang panjang bergelombang. Dari raut wajahnya, Wira bisa mengetahui jika gadis itu belum mendapatkan apa yang diinginkan dari mesin capit tersebut.
Beberapa saat kemudian, Elwira mendengar suara tangisan yang berasal dari gadis kecil itu. Wira yang merasa kasihan akhirnya mendekati gadis tersebut.
“Kamu kenapa nangis?” tanya Wira dengan mata bulatnya.
Gadis itu mengusap air matanya dan menoleh menatap Wira. “Koin aku habis. Aku belum dapetin boneka teddy bear yang aku mau.”
Kepala Wira menoleh pada mesin boneka capit. Ia menatap boneka teddy bear berwarna cokelat itu, kemudian kembali menatap gadis di depannya. “Apa kamu tidak punya uang?” tanya Wira lagi.
“Apa?”
“Kalau kamu punya uang, maka kamu bisa membeli koin lagi yang banyak.”
“Aku tidak punya uang.”
“Benarkah? Kalau begitu kamu bisa pakai uangku.”
“Apa? Benarkah?”
Wira menganggukkan kepalanya tanpa ragu. Gadis kecil itu sontak tersenyum senang sambil menerima uang sepuluh ribu pemberian dari Wira. Gadis itu segera berlari menuju konter untuk menukarkan uang itu dengan koin.
Melihat gadis itu kembali ke hadapannya dengan sumringah membawa semua koin yang dimilikinya, ikut membuat Wira merasa senang.
“Apa kamu bisa main ini?”
Wira mengangguk penuh percaya diri.
“Wah, kalau begitu cobalah. Boneka apa yang ingin kamu dapatkan?”
Tanpa menjawab, Wira mengambil satu buah koin yang ada di tangan gadis kecil itu. Ia memasukkan koin. Tangannya mulai menggerakkan pointer berwarna merah pada salah satu boneka yang sudah ia incar sejak awal. Keika merasa yakin dengan pilihannya, Wira menekan tombol press hinga membuat capit itu mulai turun dan menjepit boneka yang ia pilih.
Keberuntungan memang sedang berpihak padanya, sehingga Wira bsia mendapatkan apa yang ia inginkan. Gadis kecil di sampingnya itu langsung tersenyum lebar hingga tertawa. Bersorak gembira saat melihat Wira dapat mengeluarkan sebuah boneka kecil dengan ukuran kecil.
“Wah, kamu hebat sekali. Kamu bahkan mendapatkan boneka teddy bear yang aku inginkan sejak tadi.”
“Kamu mau boneka ini?” Wira mengulurkan boneka teddy bear itu pada gadis kecil di depannya. Wira memang hanya ingin membantu gadis itu, tanpa mengharapkan boneka itu menjadi miliknya sendiri.
“Benar untuk aku?”
“Iya.”
“Wah, terima kasih. Boneka ini lucu sekali, terima kash ya.”
Wira mengangguk kecil.
“Dek Wira!!”
Mendengar suara asisten rumah tangganya memanggil, Wira segera menoleh dan langsung berlari pergi meninggalkan gadis itu tanpa sempat berpamitan.
“Ayu!”
“Nadin Ayu!”
Gadis kecil itu sontak menoleh saat mendengar suara ibunya memanggil. Begitulah pertemuan pertama antara Nadin dengan Wira, dan begitulah bagaimana Nadin bisa mengetahui nama Wira sejak pertemuan pertama mereka.
***
Nadin masih membeku di tempat tak percaya. Ia memandang ke arah Wira dan mengamati lekat-lekat wajah pria itu. Benar-benar sulit dipercaya. Pasalnya Wira seolah menjadi orang yang tidak pernah mengingat siapa dirinya.
Ah, Nadin melupakan suatu kemungkinan jika Wira mungkin saja menganggap kenangan masa kecil bukanlah sesuatu yang patut diingat. Mungkin saja bagi Wira, ia bukanlah sepotong kisah yang masih diingat hingga mereka dewasa seperti sekarang.
Bertepatan saat Nadin ingin bangkit berdiri, sebuah tangan menahan lengannya hingga ia kembali jongkok.
Wira sudah membuka kedua matanya lebar, namun masih dengan posisi tubuh terlentang dengan tangan menahan lengan Nadin.
“Ngapain kamu di ruangan saya?”
“Oh … itu ….”
“Lupakan,” potong Wira dan menepis tangan Nadin menjauh. “Pergilah,” ucap Wira kemudian.
“Ini sudah mau jam sembilan, Pak. Bapak masih mau tetap di sini?” tanya Nadin dengan suara dan tatapan yang melembut tanpa sadar. Tatapannya fokus dan lembut menatap Wira. Seolah ia ingin membayar semua kerinduan yang menggebu, menunggu waktu hingga mengizinkannya bertemu teman masa kecil.
Wira menolehkan kepalanya, menatap wajah Nadin. “Benarkah?” tanyanya.
Nadin menjawab dengan anggukan singkat dengan tatapan yang masih fokus pada Elwira Putra Adhitama.
Wira bangkit duduk dan meringis pelan memegangi sebelah kepalanya yang terasa pusing. Dan saat itulah ia melihat sebuah plaster sudah menutupi luka di telapak tangannya.
“Kamu yang menempelkan ini?” tanya Wira.
“Oh … iya.” Nadin seakan kembali linglung jika Wira menatap lekat kedua matanya. Haruskah ia mengaku jika dirinya adalah teman masa kecil yang biasa Wira kenal dengan nama Ayu? Kalau begitu pantas saja Wira tidak terbiasa dengan nama Nadin, karena yang pria itu tahu, panggilan kecilnya adalah Ayu.
“Bersiaplah. Saya antar kamu pulang,” ujar Wira sambil bangkit berdiri.
“Apa? Saya bisa pulang sendiri, Pak,” jawabnya cepat.
Wira melirik tajam. “Apa kamu sudah lupa cerita pembunuhan itu?”
Nadin seketika memberikan tatapan sebal pada Wira karena pria itu membuatnya mengingat kejadian menyebalkan malam itu.
“Rupanya kamu masih ingat, ya?”
“Bapak pikir saya bisa lupa? Karena Bapak, saya jadi takut keluar malam-malam.”
Wira tertawa kecil. “Sampai detik ini, kabar pembunuh itu masih belum juga ditemukan.”
Nadin membulatkan mata sambil menggerutu tak jelas dan bangkit berdiri. Dengan senang hati ia pergi keluar dari ruang kerja Wira.
“Saya akan antar kamu pulang!” seru Wira tepat saat Nadin keluar dari ruangannya.
“Saya bisa pulang sendiri!” balas Nadin dengan suara yang sama kencangnya hingga membuat Wira tersenyum geli.
***
Sepanjang perjalanan, Nadin tak bisa menahan kedua lirikan matanya untuk tak bergeser mencuri pandang pada pria yang sedang sibuk menyetir di sampingnya.
“Kenapa?” tanya Wira memecah keheningan mereka berdua.
“Apa? Kenapa apanya?”
“Kenapa kamu terus melirik saya begitu? Apa ada yang aneh di wajah saya?” tanya Wira dengan berkaca sedikit pada spion tengah mobilnya.
“Sangat aneh,” jawab Nadin.
“Aneh? Benarkah?”
“Sejak kapan kamu tumbuh dewasa seperti ini?”
“Apa?” tanya Wira yang tak terlalu jelas mendengar pertanyaan Nadin.
“Kenapa? Oh, tidak, Pak. Saya bicara sendiri.”
“Kalau begitu kamu yang aneh, bukan saya.”
‘Kamu juga, sangat aneh, sampai aku nggak bisa percaya kalau kamu adalah Wira yang aku kenal saat kecil dulu.” Nadin mengucapkan itu sambil menatap wajah Wira dari samping.
“Oh iya, apa hari ini kamu bertemu dengan Rizal?”
“Beberapa kali saya melihat Mas Rizal yang sibuk dengan bagian engineering.”
“Benarkah?”
“Apa kalian berdua masih bertengkar?” tanya Nadin penasaran.
Wira mengangkat kedua bahunya tak jelas. “Lebih tepatnya dia yang marah besar.”
“Ada masalah apa memangnya? Apa tidak bisa dikomunikasikan lagi?”
Wira menoleh sesaat ke arah Nadin, kemudian kembali fokus menghadap jalan di depannya. “Apa kamu pernah merasakan, kamu yang salah tapi kamu juga yang merasa takut untuk meminta maaf?”
“Pernah, dan saya rasa banyak orang di luar sana yang pernah merasakan itu.”
“Itulah yang selalu saya alami setiap saya bersama dengan Rizal. Walau kami bersahabat, Rizal selalu berada di depan jika untuk memahami perasaan orang lain. Orang yang selalu berada dalam bayangan hanyalah saya seorang.”
“Bapak tidak perlu merasa tidak enak karena itu. Jika dirasa tak sanggup untuk meminta maaf kenapa tidak coba untuk menemuinya lebih dulu?”
“Lalu setelah bertemu saya harus bicara apa sama dia?”
“Katakan saja semuanya dengan jujur. Sebuah kaca yang menyimpan kebencian dapat dihancurkan dengan sebuah kejujuran.”
Kepala Wira sontak menoleh dan menatap Nadin dengan lekat. Saat kedua mata wanita itu membalas tatapannya bersamaan saat ada sebuah cahaya yang menyinari kaca depan mobil membuat Wira seakan ingin terus menatap kedua mata itu.
Sebuah klakson kencang dari arah berlawanan yang terdengar, langsung membuat Wira serta Nadin sontak menghadap ke depan dengan cepat. Sebuah mobil entah sejak kapan sudah ada di depannya, dan rupanya mobil Wira lah yang tanpa sadar mengambil setengah sisi jalan lain.
Wira langsung membanting kemudi ke arah kiri dengan menginjak penuh pedal remnya. Beruntungnya dari belakang mobilnya tak terlihat satu kendaraan pun. Untuk menenangkan dirinya sejenak dari keterkejutan, Wira memutuskan berhenti sebentar di tepi trotoar. ia menghela napas panjang sambil memijat keningnya. Mungkin ia akan melayangkan nyawanya yang berharga karena tidak fokus berkendara.
“Hampir saja,” ujarnya sambil menoleh ke samping. Pupil matanya membesar saat melihat Nadin yang seolah tampak shock dengan kejadian barusan. Wanita itu masih terlihat membulatkan matanya dan menghadap ke depan.
“Hei, kamu baik-baik aja?” tanya Wira. Nadin masih diam dan seakan tak mendengar suara Wira.
“Nadin.” Wira mencoba memanggil nama wanita itu.
Wira meringis pelan karena Nadin yang masih belum juga menyahutinya. Pria itu melepas seatbelt miliknya dan menjulurkan tangannya untuk giliran melepaskan seatbelt Nadin. Setelah seatbelt milik Nadin terlepas, Wira langsung menarik bahu wanita itu dan menghadapkan padanya.
“Nadin, kamu nggak papa?”
Tatapan Nadin masih belum berubah. Masih terlihat shock dengan mata membulat kaget. Keringat mulai bermunculan di keningnya.
“Nadin, jawab saya. Hei, tenanglah … kita tidak apa-apa. Tidak ada yang terjadi pada kita.”
Bibir Nadin terbuka, ingin mengatakan sesuatu, tapi tak ada sesuatu yang terucap dari bibirnya. Sebuah tangan seketika memeluk tubuhnya. Nadin bisa merasakan ada yang menepuk punggungnya dengan pelan dan lembut.
“Maafkan saya karena tidak berhati-hati. Tenanglah, sekarang semuanya baik-baik saja, tidak perlu ada yang kamu takutkan.”
Wira terus menepuk pelan punggung Nadin, berharap wanita itu akan kembali tenang. Hingga beberapa saat kemudian Wira merasakan tangan Nadin yang mencengkeram ujung kemejanya.
Nadin akhirnya menyadarkan dirinya. Saat ia ingat apa yang terjadi padanya, Nadin merasakan kedua matanya memanas. Wanita itu menangis tanpa suara dengan sebelah tangan mencengkeram ujung kemeja Wira. Apa yang sebenarnya terjadi padanya, biarlah itu menjadi rahasianya sendiri.
***