Thirteen | Take Her

1637 Words
Setelah melengkapi penampilannya dengan vest berwarna biru dengan jas berwarna hitam, Wira memastikan penampilan terakhirnya di cermin. ia melirik arloji silvernya dan seketika tersenyum tipis saat menyadari ia sudah bersiap pergi kerja ketika waktu menunjukkan pukul 8 kurang 30 menit. “Good time for a good day,” ucapnya santai. Tanpa berniat untuk sarapan, Wira segera keluar dari apartemennya. Kedua kakinya sontak berhenti saat ia berada di depan unit apartemen Nadin. “Dia baik-baik aja, bukan?” tanyanya dengan menatap pintu unit apartemen Nadin. Setelah kejadian semalam, ia langsung mengantar Nadin untuk pulang. Dan begitu mereka sampai di apartemen, Nadin langsung masuk ke dalam unitnya tanpa berkata apapun lagi. Meninggalkan dirinya antara perasaan bersalah juga khawatir. Getaran ponsel di sakunya membuat Wira mengalihkan pandangan dari pintu unit apartemen Nadin. Sebuah pesan masuk dari Pak Am yang memberitahukannya jika pria paruh baya itu telah menunggunya di basement. Setelah memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku, Wira kembali menatap pintu unit apartemen Nadin. Ia mencoba yakin jika wanita itu baik-baik saja dan sudah berangkat kerja. Sesampainya di TM Hotel, Wira lantas menuju ruang kerjanya. Tetapi saat ia melihat kursi kerja Nadin masih kosong, pria itu mendekati sang pemilik meja yang tak terlihat di tempat. “Di mana Nadin?” tanya Wira pada salah seorang staf pria yang melewatinya. “Mbak Nadin hari ini izin tidak masuk kerja, Pak. Sejak semalam badannya demam dan pusing.” Kedua alis Wira sontak terangkat mendengar kabar tentang Nadin barusan. “Sakit? Kenapa nggak bilang ke saya?” “Maaf, Pak?” tanya pria tersebut dengan kening mengerut tak mengerti. Wira hanya mengibaskan tangannya, memberi isyarat agar pria itu berlalu dari hadapannya. Wira langsung mengecek ponselnya sambil melangkah masuk ke dalam ruangannya. Nadin sakit? Apa karena kejadian semalam? Kenapa wanita itu tak memberitahunya? Wira terus menggeser layar ponselnya, tapi tak kunjung menemukan nomor yang hendak ia tuju. Hingga beberapa saat kemudian ia baru menyadari, jika ia tidak memiliki nomor ponsel Nadin. Sadar akan dirinya yang bertingkah aneh, Wira lantas terdiam beberapa detik. “Tunggu, apa yang gue pikirin dan lakuin sekarang ini?” Wira mencoba menyadarkan dirinya jika urusan Nadin bukanlah urusannya. Masalah hidupnya sudah cukup memusingkan tanpa perlu ditambah masalah wanita itu. *** Wira rupanya tidak bisa menahan rasa penasaran sekaligus rasa khawatirnya pada Nadin. Begitu jam istirahat selesai dan ia melihat beberapa stafnya sudah tiba di meja kerja membuat Wira lantas berdiri dan keluar dari ruangan. Saat ia ingin mendekat ke salah satu meja, rupanya di sana ada Rizal yang entah sejak kapan berdiri di sana. Pria itu terlihat sedang mengobrol santai dengan beberapa orang. “Mas, tadi kamu jadi jenguk Nadin?” Telinga Wira tak bisa untuk berpura-pura tak mendengar, walaupun ingin ia lakukan itu. Karena ketika nama Nadin disebut, kedua telinganya sontak terbuka lebar. Dan apa kata orang itu tadi? Rizal menjenguk Nadin?” “Jadi. Kelihatannya dia memang sedang sangat tidak sehat. Dia pucat,” jawab Rizal apa adanya tanpa ada yang ia tutupi. “Ya ampun, kasian banget ya. Dia ngerantau jauh dari Jakarta dan udah beberapa kali sakit.” “Bener banget, pasti nggak enak kalau jauh dari keluarga dan temen deketnya.” Rizal mengangguk setuju atas komentar terakhir rekannya. Ia mengerti itu karena ia pun merantau ke Malang dan harus berjauhan dengan keluarganya. Tetapi ia masih memiliki sahabatnya, yakni Wira, berbeda dengan Nadin yang benar-benar seorang diri di Malang. “Kalau begitu saya balik ke kitchen dulu, ya. Ada yang perlu dibahas soal menu baru sama Chef.” Rizal memutar tubuhnya dan tak jadi melangkah saat kedua matanya menemukan sosok Wira yang berdiri di depan ruang kerjanya. Wira berdiri menatapnya dengan satu tangan yang tersimpan di dalam saku celana. Sudah beberapa hari ini memang ia tak bertemu Wira. Ralat, lebih tepatnya ia yang dengan sengaja menghindari atasan yang juga sahabatnya itu. Rizal dan Wira saling memandang dalam diam. Mencoba membaca isi pikiran satu sama lain yang berujung tidak ada jawaban, karena mereka berdua sangat pandai menyembunyikan emosi. Rizal akhirnya memutus pandangannya dengan Wira. Ia memutuskan tetap berjalan lurus menuju kitchen, dan berniat untuk tetap mengabaikan Wira. Beruntungnya ia sudah tidak terlalu perlu ada di sisi pria itu, karena sudah ada Nadin yang menggantikannya. “Rizal.” Rizal sontak menghentikan langkahnya begitu suara bariton khas milik Wira terdengar di kedua telinganya. Akhirnya ia berbalik dan menatap tepat ke wajah Wira. “Kita bertemu di atap. Ada yang ingin saya bicarakan.” Rizal menghela napas panjang begitu Wira melangkah melewatinya. Mereka berdua akhirnya masuk ke dalam lift bersamaan. Tanpa ada sepatah kata yang terucap, mereka tiba di bagian atap hotel. Beruntungnya sedang tidak ada tamu sama sekali yang sedang berada di atap hotel. TM Hotel sebenarnya menakjubkan, begitupun TM Hotel Malang seharusnya. Atap adalah satu bagian hotel yang paling menjual. Karena di atap TM Hotel, tamu bisa menikmati pemandangan yang indah serta kolam renang berukuran besar yang menjadi fasilitas bersama. “Apa yang ingin Anda bicarakan, Pak?” Rizal mencoba membuka percapakan untuk memecahkan keheningan di antara mereka. Wira yang semula berdiri menghadap ke depan akhirnya menolehkan kepalanya dan menghadap ke arah Rizal. “Sudah selesai makan siang?” Wira sontak meringis pelan menyadari apa yang terlontar dari bibirnya setelah cukup lama tidak bicara dengan Rizal. “Jam istirahat sudah selesai, jadi sudah pasti saya sudah selesai makan siang.” Wira mengangguk kecil mendengar jawaban Rizal. ia kembali diam beberapa saat sambil berpikir, sedangkan Rizal terus memperhatikannya dan menunggu. Rizal tahu jika ada sesuatu yang ingin Wira sampaikan, mungkin soal perdebatan mereka beberapa hari yang lalu. “Bapak tidak perlu merasa tidak enak karena itu. Jika dirasa tak sanggup untuk meminta maaf kenapa tidak coba untuk menemuinya lebih dulu?” “Lalu setelah bertemu saya harus bicara apa sama dia?” “Katakan saja semuanya dengan jujur. Terkadang kaca yang menyimpan kebencian dapat dihancurkan dengan sebuah kejujuran.” Wira mengingat pesan Nadin padanya. Jadi, haruskah ia berkata jujur pada Rizal sekarang? Haruskah ia mengikuti saran wanita itu? “Zal, gue ….” Rizal mencoba menahan senyumnya saat melihat Wira yang terlihat jelas gugup saat bicara. Sekian lamanya ia mengenal Wira, membuat ia jelas memahami seperti apa karakter Wira sebenarnya. “Gue … soal yang waktu itu ….” Wira membasahi bibirnya yang mengering. Hal yang ia lakukan beberapa kali selama tiga menit terakhir. “Gue minta maaf,” ujar Wira cepat. “Apa?” tanya Rizal seolah ingin Wira mengulang ucapannya barusan. “Gue minta maaf.” “Gue nggak denger,” ujar Rizal dengan ekspresi datar yang sama. Wira langsung menatap tajam ke arah Rizal, seolah bertanya melalui kedua matanya. “Lo minta tangan ini nempel ke pipi lo?” tanya Wira dengan mengangkat satu tangannya yang sudah terkepal. Rizal terkekeh kecil. “Kalau gitu lo harus minta maaf lagi.” Wira menghela napas panjang. “Zal, gue serius. Maafin gue soal waktu itu. Gue tau gue udah keterlaluan.” Rizal akhirnya membalas tatapan serius Wira yang menatapnya. Ini adalah pertama kalinya ia mendengar kata maaf dari bibir sahabatnya. Dari sekian banyaknya perdebatan mereka tentang hotel dan yang lainnya, akhirnya Rizal bisa mendengar kata sakral itu. “Gue udah maafin sebelum lo minta maaf, Wir.” Rizal bisa memahami kondisi sahabatnya. Wira adalah orang baik jika ia diletakkan di wadah yang baik bersama orang-orang yang tulus dengannya. “Thanks,” balas Wira dengan senyum simpulnya. Rizal membalas senyum simpul itu. Dengan santai ia langsung merangkul bahu Wira dan tersenyum penuh arti. “Jadi kapan lo mau traktir gue dinner di restoran bintang 7?” “Big no!” teriak Wira tanpa sadar. “Gue nggak mau lagi ya dianggap belok cuman gara-gara dinner sama lo!” lanjutnya yang bergedik ngeri saat mengingat insiden beberapa waktu lalu. Rizal sontak tertawa mendengar sahabatnya yang mengungkit kejadian memalukan itu. “Itu gara-gara lo natap gue aneh!” “Itu karena lo bahas sesuatu yang serius!” balas Wira tak mau kalah. “Lo juga kasih senyum yang aneh, sampe pelayannya ikut kasih senyum yang aneh ke kita.” “Pokoknya nggak usah aneh-aneh dengan dinner berdua di tempat yang nggak seharusnya kita datangi.” Rizal tertawa lagi. “Mungkin cocoknya kita emang makan sate di Mbah Mus.” “Bener. Kalau makan berdua emang cocok dan amannya di sana aja. Jadi lo jangan aneh-aneh ngajak dinner di restoran.” Rizal dan Wira saling tatap sekitar 2 detik sebelum akhirnya tertawa bersama. Akhirnya hubungan mereka kembali seperti semula. Ini semua berkat keberanian Wira yang mau dan tulus meminta maaf lebih dulu. Ralat, Wira merasa jika ia bisa berbaikan dengan Rizal bukanlah karena dirinya, tapi karena saran dari Nadin yang membuat ia berani untuk mencoba. “Wir, btw apa lo tahu kalau Nadin tinggal tepat di samping unit apartemen lo?” Tawa Wira mendadak berhenti saat Rizal mengajukan pertanyaan itu padanya. “Kenapa?” “Dia sakit.” Wira hanya diam tanpa menunjukkan perubahan ekspresi selain wajah datarnya. “Tadi gue udah sempet jenguk dia. Kayaknya cukup serius, tapi dia nggak mau gue bawa ke dokter.” Wira tersenyum tipis. “Nanti juga sembuh. Lagian dia juga bukan urusan gue.” Pukulan sontak mendarat di punggung Wira hingga pria itu mengaduh. “Lo bahkan punya 2 alasan kenapa lo setidaknya harus tanya gimana keadaan dia.” “Apa?” “Lo itu satu atap kantor dan satu atap apartemen sama dia. Jadi setidaknya tunjukkin sedikit hati nurani lo buat dia.” Wira mendengus geli. “Lo bisa gantiin gue buat hal itu. Udah, ya, gue mau turun. Gue butuh kopi.” Sebuah tepukan ringan dipundak Rizal, bersamaan dengan Wira yang mulai menjauh pergi. “Lo serius beneran nggak peduli sama Nadin?!” tanya Rizal dengan sedikit berteriak. Wira berhenti melangkah. “Dua rius buat lo!” balas Wira berteriak tanpa memutar tubuhnya. Ia terus berlalu pergi dengan membasahi bibirnya. Mendadak merasa gelisah sendiri. Apakah ia benar-benar tidak memedulikan wanita itu? Benarkah? *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD