Eight | Treat Her Better

2090 Words
Wira melongok ke arah ranjang Nadin yang berada di UGD. Ia berdiri di depan meja layanan UGD sambil terus menatap ke arah Nadin yang masih belum sadarkan diri. Begitu tahu Nadin pingsan, Wira langsung membawa gadis itu menuju rumah sakit terdekat. “Pasien mengalami syok karena alergi terhadap bulu hewan seperti kucing dan anjing.” Wira mengerutkan keningnya seraya menggerakkan jarinya pada meja layanan. Ia mencoba mengingat-ingat sesuatu. ‘Gue nggak pernah mengizinkan ada tamu yang bawa hewan peliharaan ke dalam kamar,’ gumamnya dalam hati. ‘Dan kalaupun ada tamu yang maksa bawa hewan, kenapa nggak ada laporan masuk ke gue?’ “Pak Wira!” Wira segera menoleh dan berjalan menemui Rizal di depan pintu UGD. Mata Wira menyipit heran melihat asisten lamanya itu. Bagaimana Rizal bisa tahu jika ia ada di rumah sakit? “Saya sudah bawakan laporan tamu yang check in kemarin. Tidak ada catatan yang membawa hewan peliharaan.” Rizal memperlihatkan catatan yang ada di tangannya pada Wira, sementara Wira masih menatapnya dengan tatapan aneh. “Kamu sudah tidak marah dengan saya?” “Ini bukan saat yang tepat membahas masalah sebelumnya,” jawab Rizal dengan tatapan serius pada Wira. Wira berdeham pelan kemudian mengangguk singkat. Ia mengambil catatan laporan yang ada di tangan Rizal, kemudian membacanya dengan seksama.. “Tapi dari hasil pemeriksaan kamar itu, memang benar jika tamu sebelumnya membawa kucing.” “Siapa yang bertugas hari itu mengantarkan customer ke kamarnya?” “Alia, Pak. Staf yang baru saja perpanjang kontrak.” “Mengapa dia bisa diperpanjang kalau memastikan hal seperti itu saja tidak bisa.” “Bapak yang sudah menyetujuinya, bukan? Karena dia baru lulus, sehingga cost gaji yang kita keluarkan pun tidak besar.” Wira langsung merapatkan bibirnya. Ia bahkan tidak ingat siapa Alia itu. “Baiklah, kamu bisa kembali ke hotel dan beri sanksi pada petugas yang tidak menjalankan tugasnya dengan teliti.” “Baik, Pak, saya akan minta pada Pak Agus untuk mengurus hal ini.” “Saya tidak menyebut nama Pak Agus.” “Iya, tetapi bagian yang mengurus masalah tersebut seharusnya adalah Pak Agus.” “Iya, memangnya saya sedang bicara dengan Pak Agus saat ini?” Rizal menatap kedua mata Wira dengan lurus. “Lalu saya?” “Apa harus saya yang turun tangan saya langsung?” tanya balik Wira atas protes dari Rizal. “Tapi siapa yang akan menjaga Nadin di sini? Kita tidak tahu sanak keluarganya, jadi pihak hotel belum memberitahu siapa pun.” “Biar saya yang urus Nadin. Lebih baik kamu kembali ke hotel sekarang.” “Baik kalau begitu. Saya pamit, permisi.” Begitu Rizal pergi dan tidak terlihat lagi dalam jarak mata pandangnya, Wira menghela napas panjang. Ia akhirnya kembali masuk untuk menghampiri ranjang tempat Nadin beristirahat. “Kamu itu bodoh atau bagaimana?” ejek Wira sambil memperhatikan wajah Nadin dari jarak yang cukup dekat dan jelas. “Berapa kali saya bilang ke kamu untuk pergi, masih saja di sini. Jadi bukan salah saya kamu terluka dan sakit seperti ini.” Wira bersidekap d**a sambil menghela napas panjang. Ia merasa aneh dengan dirinya sendiri. Jika Wira yang biasanya, pria itu pasti tidak akan datang ke rumah sakit apalagi untuk merasa khawatir dengan orang lain. Selama ini tidak ada yang pernah Wira khawatirkan seumur hidupnya.   ***   Seorang anak laki-laki dengan potongan rambut lurus setelinga itu menangis di depan rumah sakit. Teman kecilnya di rawat di dalam, namun ia tidak dapat melakukan apapun selain menangis. Seorang wanita datang menghampiri Wira kecil dan mengusap puncak kepalanya. “Kamu kenapa nangis di sini?” Wira mengusap air mata yang membasi pipinya. “Maafin aku, Bu. Aku nggak tau kalau Ayu bisa sakit karena bulu kucing, Bu. Aku pikir Ayu akan suka anak kucing kayak temen yang lainnya.” “Wira, nggak papa. Ayu baik-baik aja.” “Ini salah aku, Bu. Ayu jadi sakit karena aku.” “Nggak papa, Wira. Ibu seharusnya kasih tau ke kamu, kalau Ayu punya riwayat alergi dengan bulu kucing.” “Ayu bisa sembuh kan, Bu?” “Tentu dong. Wira cukup doain kesembuhan Ayu.” “Apa setelah itu aku masih boleh main sama Ayu?” Wanita paruh baya itu tersenyum sambil mengusap puncak kepala Wira. “Boleh. Kamu kan teman baik Ayu. Ayu bisa marah sama Ibu kalau dilarang main sama kamu.” Setelah beberapa saat berlalu hingga kesadaran teman kecilnya, Wira diperbolehkan menjenguk ke dalam. Di sana ia menemukan gadis kecil yang ia tahu dalam kondisi lemas dengan hidung tertancap selang oksigen. Sebelumnya ia dan Ayu memang bermain di taman dekat rumah mereka, kemudian saat ada anak kucing yang mendekat, Wira langsung mengambilnya dan memberikannya pada Ayu. Ayu menolaknya, namun Wira tetap ingin agar Ayu menggendong kucing kecil itu. Hingga beberapa saat kemudian Ayu mulai terbatuk dan sesak napas, hingga akhirnya pingsan tak sadarkan diri. “Ayu, maaf ….” Gadis kecil itu menoleh. Bibirnya tersenyum tak jelas pada Wira. “Nggak papa, Wira. Kamu nggak salah. Maaf kalau aku bikin kamu takut.” “Pak Wira…” Wira langsung membuka kedua matanya perlahan. Begitu ia melihat wanita di sampingnya membuka mata dan menyentuh lengannya, Wira baru sadar jika ia tertidur dan telah memimpikan sepenggal kenangan masa kecilnya. Entah mengapa apa yang ia alami dengan teman kecilnya dulu dan Nadin sekarang bisa serupa. Mungkin karena teringat masa lalu jugalah, Wira jadi merasa harus bertanggungjawab dengan Nadin. “Kamu sudah sadar?” tanyanya. “Saya mau pulang,” kata Nadin sambil mencoba beranjak duduk. “Infusmu belum habis. Setidaknya kamu pulang setelah menghabiskan kantong infusmu itu.” “Saya tidak papa. Saya ingin pulang dan tidur di rumah saja.” “Badanmu bahkan memerah sampai ada yang membengkak. Kamu mengeluh pusing dan sesak napas. Kalau kamu kenapa-napa nanti, saya juga yang diminta bertanggungjawab.” “Saya tidak minta Bapak untuk bertanggungjawab.” Wira berdecak sambil menatap Nadin tajam. “Tetap saja keras kepala.” “Saya tetap mau pulang,” ujar Nadin dengan kelopak mata yang terbuka seadanya. *** Sesampainya di parkiran apartemen, Wira menolehkan kepalanya. Nadin masih memejamkan matanya erat. Sepanjang perjalanan, mereka berdua sama-sama terdiam dan tak bicara sepatah katapun. Nadin memilih istirahat, sementara Wira juga tak tahu harus membicarakan apa. “Kita sudah sampai,” ujar Wira memecah keheningan. Nadin masih belum membuka matanya. “Hei?” Wira menghela napas panjang. Bagaimana cara membawa Nadin jika wanita itu tertidur dengan lelapnya. Nadin berhasil membuka matanya saat merasakan ada tangan yang menyentuh bahunya. Dengan tatapan lemas, ia mengedarkan pandangannya. “Kita sudah sam―” Wira langsung menutup bibirnya saat melihat Nadin membuka pintu mobil tanpa mau mendengar ia menyelesaikan kalimatnya. “Dasar tidak tahu terima kasih!” Wira keluar dari mobil dan membanting pintu mobilnya dengan kesal. Ia menyusul langkah Nadin yang berdiri di depan lift. Belum sampai ia ke depan lift, Nadin melengos pergi ke arah lain. “Mau ke mana kamu? Nggak jadi naik …” Wira menelan salivanya saat melihat tulisan ‘Sedang dalam proses perbaikan’ pada pintu lift apartemen. “Hei, tunggu! Biar saya telepon bagian penanggungjawabnya. Jangan main pergi begitu saja!” Nadin enggan mendengar kata-kata Wira. Wanita itu memilih untuk terus mWirakah pergi menuju tangga darurat. Tak ada pilihan lain selain ia harus menaiki satu-persatu anak tangga agar bisa sampai ke kamar apartemennya. “Hei! Apa kamu tidak dengar suara saya?! kamu bisa pingsan kalau memaksakan diri sampai lantai 13!” Nadin memilih abai dengan ucapan atasannya itu. Detik berikutnya ia merasa lengannya ditarik paksa. Jika tangannya tak memegang pegangan pinggiran tangga, mungkin kedua kakinya akan tak seimbang dan menyebabkan ia terjatuh. “Kamu itu sakit. Apa kamu tidak bisa sabar menunggu solusi yang sedang saya cari?” Nadin menepis tangan Wira. “Saya ingin istirahat di kamar saya. Kalau Bapak tidak kuat naik, Bapak bisa tunggu di bawah sampai ada pihak hotel yang mau ngerjain perbaikan tengah malam seperti ini.” Wira melirik jam tangannya. Seketika ia menghela napas berat saat menyadari waktu yang hampir menyentuh pukul 1 malam. Saat ia menoleh lagi ke depan, rupanya Nadin sudah melanjutkan langkahnya. “Anak itu benar-benar keras kepala,” geram Wira yang tetap melanjutkan langkahnya dengan bibir terus menggerutu. Dengan sigap tangan Wira menangkap tubuh Nadin yang hampir terjungkal ke belakang. Terlihat seperti Wira yang memeluk setengah tubuh Nadin. Mereka baru sampai di lantai 4, dan itu pasti perjalanan yang panjang dan berat untuk Nadin yang kesehatannya sama sekali belum membaik. “Tuh kan, saya bilang juga apa. Belum sampai atas kamu pasti sudah ingin pingsan, kan?” Nadin berpegangan erat pada pegangan tangga kemudian menjauhkan tubuh Wira darinya. Napasnya sudah mulai tak beraturan. Pandangannya sudah mulai berbayang. Ia mulai tak fokus dan kehilangan keseimbangan diri. Bertetapatan saat Nadin menekuk kedua lututnya, Wira langsung melingkarkan lengannya ke leher serta kedua kakinya. Wira menggendong tubuhnya. Menaiki anak tangga satu-persatu tanpa Nadin minta. “Lepasin,” ucap Nadin lemah. “Jangan banyak bicara, dasar wanita keras kepala,” perintah Wira yang membuat Nadin mau tak mau merekatkan tangannya ke leher belakang Wira. Sesampainya di lantai 13, Wira langsung terkapar di depan unit Nadin setelah meletakkan Nadin. Setelah mengatur napasnya yang hampir habis karena menaiki tangga ditambah dengan beban menggendong Nadin hingga lantai 13. “Mana kuncinya?” tanya Wira dengan keringat yang membanjiri kening serta pelipisnya. Nadin hanya menggumam tak jelas dengan mata tertutup. “Cepat mana kuncinya? Ini sudah tengah malam, saya perlu tidur dan kamu juga perlu istirahat.” “Tidak tahu,” ucap Nadin sekuat tenaga. “Hei, jangan bercanda.” Wira langsung mendekati Nadin dan memeriksa tas kecil wanita itu. Mencari kunci unit apartemen Nadin. Nadin kembali meringis dengan napas yang mulai tak beraturan. Dengan menggeram kesal akhirnya Wira merogoh sakunya dan membuka unit apartemennya sendiri. Ia tak punya pilihan lain selain membawa Nadin masuk ke dalam apartemennya. Tak mungkin ia membiarkan wanita itu di luar seorang diri. *** Setelah membersihkan dirinya di kamar mandi, Wira keluar dengan mengenakan handuk untuk menutupi tubuh bagian bawahnya. Ia menuju ke kamarnya untuk mengambil pakaian. Rambut hitamnya yang basahb berjatuhan hingga menutupi sebagian dahinya. Wira hampir saja terkena serangan jantung saat melihat Nadin berada di ranjang kamarnya. Ia lupa jika ia lah yang menempatkan wanita itu ke ranjangnya sendiri. Dengan sedikit rasa penasaran Wira mendekat ke arah ranjang. Ia berdiri sambil menunduk menatap wajah Nadin. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh wanita itu hingga sebatas dadanya. Ia bahkan menempelkan punggung tangannya pada kening Nadin. Memastikan jika wanita itu dalam keadaan suhu yang normal. Pria itu menghela napas panjang. Ia melanjutkan aktivitas yang sempat terhenti, yakni mengambil pakaian ganti dan kembali masuk ke dalam kamar mandi. Wira langsung beranjak ke ruang tamu dan membanting dirinya ke atas sofa. Ia mengikhlaskan dirinya yang harus tidur di atas sofa. “Hari ini benar-benar melelahkan,” ujar Wira sambil melirik jam dinding yang sudah hampir menunjukkan pukul 2 pagi. *** Nadin terbangun dengan keadaan sekitarnya gelap gulita. Tak ada sedikitpun cahaya yang terlihat di matanya. Seakan gelap memang hanya menyelimutinya. Menyembunyikannya dari cahaya yang mungkin bisa dirasakan oleh orang lain. Wanita itu mencoba berdiri, melangkah perlahan dengan kedua tangan berusaha menyentuh apapun yang dapat ia jadikan pegangan. Merasakan ada sebuah gagang pintu di dalam genggamannya, Nadin menariknya. Sebuah cahaya yang terlihat sontak membuat ia memejamkan mata karena silau. Begitu matanya mulai menyesuaikan diri, yang Nadin lihat melalui pupil matanya adalah cairan berwarna merah kental yang mengalir dan kini menyentuh salah satu jari kakinya. Mata Nadin bergerak lambat, mengikuti arah cairan merah kental itu berasal. Kedua matanya sontak melebar. Jantungnya seakan berhenti berdetak, hingga yang dapat Nadin rasakan hanya kesunyian dan senyap yang mengukungnya. Detik selanjutnya Nadin berteriak dan menggeram hingga Wira masuk ke dalam kamar seketika. Saat pintunya terbuka, ia melihat Nadin yang mengerang di atas kasur dengan mata tertutup. Kening wanita itu sudah basah akan keringa yang ebrjcuut. “Kamu kenapa?” tanya Wira yang tak mendapat respon sama sekali. “Tidak…. tidak mungkin….” “Apa?” tanya Wira sambil duduk di pinggir ranjang. Mencoba lebih banyak mendengar apa yang sedang Nadin ucapkan dalam ketidaksadarannya. “Kamu mimpi buruk?” tanya Wira lagi bermonolog. Tanpa banyak berpikir panjang, Wira mengulurkan tangannya, menepuk-nepuk punggung tangan Nadin yang terkepal erat. “Entah apa yang kamu impikan, lupakanlah. Istirahat dan buang mimpi burukmu.” Perlahan tapi pasti kepalan tangan Nadin berkurang. Keningnya yang mengerut kini telah menghilang. Wira menggunakan ujung bajunya untuk menghapus jejak keringat yang membasahi kening Nadin. Wira masih tak percaya jika ia bisa melakukan hal itu pada seorang wanita seperti Nadin. Karena jangankan Nadin, terkadang saja ia tidak terlalu peduli jika terjadi hal yang sama pada Rizal yang merupakan sahabat lamanya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD