Nine | Interested

2557 Words
Mendengar bunyi yang terdengar cukup mengganggu dari luar membuat Nadin membuka kedua matanya perlahan. Pandangan yang terlihat buram semakin jelas saat kedua pupilnya mulai menyesuaikan. Nadin menolehkan kepalanya perlahan ke arah kanan, kemudian lurus, lalu ke kiri. Menyadari bahwa ada yang tak biasa dengan kamarnya, Nadin beranjak duduk. “Ini di mana?” tanyanya bingung dan kaget. Nadin menyingkirkan selimut yang menutupi kakinya kemudian bangkit berdiri dengan cepat. Dengan penuh kebingungan karena kesadarannya yang terbatas, Nadin langsung menarik gagang pintu dan membuka kamar. Seketika kedua matanya membulat saat mendapati seorang pria yang terlihat sibuk memasak berada di dapur. Nadin langsung memutar otaknya untuk menebak siapa pria yang kini masih membelakanginya dengan hanya menggunakan kaos sleeveless. Belum berhasil Nadin mengingat, pria itu memutar tubuhnya tiba-tiba hingga membuat Nadin sontak membulatkan mata lebih besar. “Pak … Wira?” “Kapan kamu bangun?” tanya balik Wira yang memperhatikan Nadin dari jarak sekitar 7 m darinya. “Baru beberapa menit lalu.” “Duduklah.” Dengan senyum canggung akhirnya Nadin duduk di sofa. Saat ia melihat ada bekas selimut dan bantal yang ditumpuk di ujung sofa, ia akhirnya baru benar-benar menyadari apa yang telah ia perbuat. Saat ia memaksa pulang tanpa mau mendengar larangan Wira maupun dokter, saat ia memaksakan diri menaiki tangga, dan saat ia mengingat kejadian terakhir mengenai kunci. Nadin meringis menyesalinya. “Bagaimana keadaanmu?” Pertanyaan itu sontak membuat Nadin mengangkat kepala dan menoleh. Bukannya fokus pada kedua mata Wira yang kini bertanya padanya, ia malah melihat sesuatu yang mungkin lebih menarik dibanding mata pria itu. Akibat kaos tanpa lengan yang Wira gunakan, Nadin jadi bisa melihat lengan besar Wira yang sepertinya padat akan otot. “Apa yang kamu lihat?” “Apa?” respon Nadin seraya menutup rapat bibirnya. “Tidak ada,” lanjutnya cepat. “Baru melihat saya pakai kaos ini saja kamu sudah berliur, apalagi kalau saya buka baju.” Ujaran frontal Wira itu langsung membuat Nadin tersedak kemudian tertawa hambar berikutnya. “Bapak itu kena sindrom percaya diri dari mana, ya? Seenaknya saja menyimpulkan hal seperti itu.” Wira mengerutkan alis sambil meletakkan tangannya di pinggang sebelah. “Saya jadi yakin kalau kamu memang sudah sehat sepenuhnya.” Nadin hanya bisa diam sambil memalingkan wajah ke arah lain. Wira memang paling pandai mempermalukan seseorang. “Apa kamu sudah ingat di mana kamu simpan kunci unitmu?” Jajaran gigi Nadin langsung terlihat saat wanita itu memperlihatkan cengirannya. “Belum, Pak. Sepertinya tertinggal di laci meja kantor.” “Baguslah,” balas Wira yang kembali duduk di sofa hitamnya. Wira dan Nadin kembali dalam mode diam. Nadin sendiri jadi bingung mau ke mana ia jika keluar dari unit apartemen Wira, namun bingung juga harus melakukan apa di apartemen Wira. ‘Ya nggak harus ngapa-ngapain juga, kan? Emang mau ngapain?’ tanya Nadin dalam hati. Ia menggeleng saat membayangkan sesuatu yang tidak-tidak. Beberapa saat setelahnya, Wira membawa menu sarapannya ke meja, tepat di depan duduk Nadin karena wanita itu yang duduk di tempat ia biasanya duduk. “Wajahmu sudah tidak memerah lagi seperti semalam.” Tangan Nadin langsung berusaha menutupi kedua pipinya yang sebenarnya tak membantu karena Wira pun sudah menatap wajahnya sejak tadi. “Saya tidak tahu, maafkan saya.” “Bapak tidak perlu minta maaf. Saya yang tidak menyadarinya dan malah terus berada di dalam kamar itu.” “Kenapa kamu tidak menelepon saya?” “Saya ingin, tapi tidak bisa. Rasanya sudah seperti hampir mati, jadi bisa sampai di hadapan Bapak saja saya sudah bersyukur.” Wira menatap Nadin dengan lekat. Benar juga, untungnya Nadin pingsan saat sudah di lantai sepuluh dan terlebih ia bersama dengan Wira. Akan jadi tak terbayangkan jika Nadin pingsan di dalam kamar hotel tanpa ada yang menyadarinya. “Saya akan lebih berhati-hati.” Wira hanya mencoba bersikap manusiawi. Ia bukanlah makhluk yang tidak memiliki perasaan hingga mengabaikan lawan bicaranya. Karena ia pernah mempunyai teman kecil yang memiliki alergi terhadap bulu kucing, maka kini Wira bisa memahami kondisi Nadin dengan cukup baik. “Makanlah.” “Apa?” “Kenapa? Kamu nggak mau makan?” tanya Wira karena melihat Nadin hanya bengong menatap makanan yang tersaji di depannya. “Ini … sarapan Bapak?” tanya Nadin ragu. “Iya, apa kamu tidak suka makan mie instan?” Nadin meringis seraya berkata lirih, “Memangnya siapa yang suka makan mie instan pagi hari?” “Saya dengar,” balas Wira. Nadin tersenyum seketika dengan kelopak mata yang berkedip cepat. “Bapak pasti suka banget mie instan.” “Tidak.” “Lalu kenapa Bapak buat?” “Saya tidak tahu mau makan apalagi,” ujarnya jujur. “Apa? Pak, masih banyak banget menu yang bisa Bapak makan di pagi hari selain mie instan.” “Saya tahu itu.” Nadin menganga mendengar jawaban Wira yang entah terlalu jujur atau terlalu malas menanggapi. Keadaan kembali senyap. Nadin lebih memilih memandangi semangkuk besar mie instan yang terhidang di depannya, daripada merusak pandangannya dengan menatap lengan kekar milik Wira yang terasa ingin disentuh. ‘Gila lo, Nadin! Sakit aja masih bisa berpikir gila!’   *** Bab 9 | Touched “Apa yang kamu buat masih aneh di mata saya. Saya tunggu revisi sebelum jam makan siang,” ujar Wira yang kini berdiri di belakang Dewi yang sedang mengerjakan laporan keuangan akhir bulan untuk dilaporkan kepada TM Pusat. “Periksa lagi hingga tidak ada angka selisih. Pastikan aktiva dan pasivanya balance.” “Loh, Mbak Nadin?” Merasa tak salah mendengar, leher Wira otomatis menoleh. Pupil matanya sedikit membesar saat melihat seorang wanita tak sadar melewatinya dan kini duduk di kursi kerjanya. “Memangnya kamu sudah sehat? Kok sudah masuk kerja?” “Iya, Mbak. Kenapa tidak istirahat dulu lagi saja sampai benar-benar pulih? Muka kamu masih pucet.” Nadin, wanita yang terlihat pucat itu melemparkan senyumnya kepada beberapa karyawan yang menyapanya. “Saya sudah sembuh, Mbak. Saya beruntung banyak yang mendoakan dan membantu saya.” Seketika mata Nadin bergerak lurus dan mendapati Wira yang juga sama tengah menatapnya. Benar juga, bagaimana bisa lupa Nadin mengucapkan terima kasih pada bosnya itu? Bagaimanapun Wira cukup banyak membantunya saat ia sakit. Bibir Nadin sontak tersenyum simpul dengan masih menatap Wira. Tetapi Wira, pria itu hanya menatapnya lurus seperti biasa. Membuat Nadin tak nyaman dengan tatapan itu dan akhirnya mengalihkan pandangan ke arah lain. “Hei, Nad!” Sapaan baru itu langsung membuat Nadin menolehkan kepala. Senyumnya kembali berbinar kala ia melihat Rizal yang datang dengan tangan melambai santai. “Gimana kabar kamu? Masih demam?” tanya Rizal dengan menempelkan punggung tangannya ke dahi Nadin. Nadin yang kaget dengan gerakan Rizal hanya bisa diam di tempatnya. Cukup membingungkan karena seketika Rizal bersikap seolah mereka teman yang akrab. “Halah kamu ini, Zal. Modus aja bisanya.” Rizal hanya tertawa kecil mendengar komentar itu dari teman kerjanya. “Bilang aja kamu cuma deket-deket sama Nadin. Pakek segala ukur suhu,” timpal Dewi yang ikut mendengus geli. Tawa Rizal jadi sedikit lebih terbuka. Ia segera menarik tangannya dan melihat Nadin yang ikut tertawa karena komentar-komentar itu. “Iya, Mbak, iya. Saya undur diri sekarang. Nad, jangan lupa hari ini kita ada janji makan siang bareng, ya.” “Makan siang bareng?” ulang Nadin. “Jangan pura-pura lupa deh, kamu. Pokoknya jangan lupa,” ucap Rizal yang berlalu pergi dari hadapan wanita itu dengan senyum simpulnya. Nadin masih bingung berpikir di tempat. Apakah ia benar punya janji makan siang bersama Rizal? Jika memang ia sudah berjanji, ia tidak mungkin lupa. Ia bukanlah tipe orang yang akan lupa dengan ucapannya sendiri. Saat mata Nadin bergerak mencari ke mana perginya Rizal, ia malah mendapati sepasang mata yang masih menatapnya lurus. Nadin mengerutkan keningnya tipis menatap Wira tak mengerti. Apakah pria itu sejak tadi terus menatapnya begitu? “Pak, ayo kita berangkat. Kita perlu berkunjung ke PT Advance sesuai jadwal,” ujar Rizal yang memutus pandangan Wira dari Nadin. Pria itu berdeham pelan kemudian pergi tanpa menoleh lagi. Meninggalkan Nadin dengan pikiran yang berkelana tak mengerti. ‘Apa gue punya salah lagi, ya? Sebelumnya kita masih baik-baik aja, dan gue―oh, gue tau, di pasti masih punya dendam kusumat sama gue karena ngurusin gue yang ngerepotin saat sakit.’   *** “Saya benar-benar minta maaf, Pak.” Kedua mata Wira masih menatap tajam ke arah Alia yang kini berdiri di hadapannya. “Mengapa kamu bisa membuat kesalahan pada hal sederhana seperti itu?” “Maafkan saya, Pak.” “Terima kasih pada kamu, karena berkat kesalahanmu itu kamu hampir saja membunuh nyawa seseorang.” Kedua mata Alia sontak membulat. “Apa?” “Berkat kamu, Nadin masuk UGD. Jika dia terlambat ditangani, itu bisa membahayakan nyawanya.” Dengan kedua mata bergetar takut, Alia bertekuk lutut di depan meja Wira. “Saya mohon jangan pecat saya, Pak.” “Saya paling tidak suka orang yang ceroboh dan tidak teliti. Kamu pasti tahu jika quality control room itu sangat penting.” “Maafkan saya, Pak. Maafkan saya …” Wira menghela napas kasar. Ia bangkit berdiri dari duduknya. Kedua tangannya masuk ke dalam saku dan berjalan santai ke arah pintu ruangannya. Sebelum ia menarik gagang pintunya ia menoleh dan berkata, “Persiapkan surat pengunduran diri kamu.” “Pak ….” Alia tak bisa menahan air matanya lagi. Ia masih tak percaya jika pada akhirnya Wira akan sungguhan memecatnya. Wira mengalihkan pandangannya dari Alia secara tak acuh. Ia membuka pintu ruangannya dan melihat Nadin yang entah kapan sudah berdiri di depan ruangannya. “Apa?” tanya Wira. “Saya ingin bicara, Pak.” “Saya sibuk.” “Hanya lima menit,” tawar Nadin meyakinkan. “Tunggu saya di ruang meeting,” jawab Wira yang kemudian pergi berlalu menuju toilet. Sementara itu Nadin melihat Alia yang masih berlutut sambil menangis di dalam ruang kerja Wira. Merasa tak tega dengan Alia, Nadin masuk ke dalam ruang kerja Wira. “Alia, sudah, jangan menangis. Ayo bangun.” Alia masih menangis. Ia menggenggam kedua tangan Nadin dengan erat. “Mbak, saya mohon maafkan saya. Maafkan kesalahan saya, tapi saya mohon jangan sampai Pak Wira pecat saya. Saya butuh banyak tabungan untuk operasi ibu saya. Saya mohon, Mbak.” Tangan Nadin mengusap punggung Alia perlahan. Berusaha menenangkan perempuan itu. Nadin tahu persis betapa bahayanya kejadian yang menimpa dirinya, tetapi ia juga tidak bisa menutup mata melihat penderitaan orang lain. Apalagi melihat Alia yang lebih muda darinya, membuat ia menjadi semakin tidak tega. Setelah beberapa saat menenangkan Alia, akhirnya Nadin bergegas menuju ke ruang meeting. Bertepatan ketika ia duduk, Wira masuk ke dalam ruang meeting. “Apa yang mau kamu bicarakan?” tanya Wira begitu ia duduk. “Saya sudah memaafkan kesalahan Alia, Pak.” “Lalu?” “Jangan pecat Alia, Pak. Saya dan dia sudah menyelesaikan masalah itu.” “Lalu apakah itu akan selesai begitu saja?” “Maksud Bapak?” “Kejadian itu sudah terdengar di antara semua staf dan bahkan customer hari itu juga banyak yang mengetahuinya. Saya perlu membuat keputusan itu agar tidak ada lagi staf yang menanggap sepele masalah ini.” “Dengan sebuah sanksi sudah cukup membuat yang lain merasa concern dengan masalah ini, Pak. Tidak perlu sampai memecatnya. Jika Bapak memecatnya, bagaimana nanti dengan kebutuhan keuangannya?” “Jika saya harus memikirkan semua keuangan staf saya, maka lebih baik saya kerja di lembaga sosial.” Nadin menghela napas panjang, sedangkan Wira tetap memasang ekspresi datar di wajahnya. Ia sama sekali tidak merasa ada masalah dengan keputusannya. “Bapak tahu kalau itu bukan hanya kesalahan Alia seorang. Bapak lupa kalau Bapak yang menugaskan saya di kamar 505?” “Hei, kenapa kamu membahas itu lagi? Kamu sudah memaafkan saya.” “Karena itulah, Bapak juga harus memaafkan Alia.” “Saya tidak mau.” “Kalau begitu saya juga tarik permohonan maaf Bapak. Saya akan laporkan Bapak ke polisi.” Wira menendang salah satu kaki kursi dengan sengaja. “Kamu pikir kita sedang dalam keadaan bercanda?” Nadin menggeleng. “Saya tidak bercanda, Pak. Saya mohon Bapak bisa tarik pemecatan pada Alia. Maafkan dia untuk kali ini.” “Apa jaminan dia tidak akan mengulangi kesalahannya?” “Saya akan turuti apa pun yang Bapak inginkan.” “Kamu yakin?” Nadin mengangguk tanpa keraguan. “Baiklah.” Nadin sontak tersenyum lebar begitu mendengar persetujuan dari Wira. “Terima kasih, Pak. Terima kasih.” “Janji adalah janji. Jangan pernah kamu ingkari apa yang tadi kamu katakan.” *** “Kamu suka beef, Nad?” tanya Rizal sambil membaca buku menu dan menatap Nadin bergantian. Nadin mengangguk dengan senyum tipis. “Kalau gitu kita pesen steak aja 2, ya?” Nadin kembali mengangguk santai. Tak masalah dengan apa yang mau dipesankan oleh Rizal. “Apa kamu masih marah karena saya berbohong soal janji makan siang?” Sejak tadi, Nadin menahan senyumnya karena melihat Rizal menatapnya canggung. Ia tak marah ataupun kesal karena Rizal yang bercanda dengan berbohong soal makan siang. Ia tak masalah jika memang Rizal mengajaknya makan bersama. Lagi pula, ia memang sedang ingin makan diluar. “Nggak, Mas. Udah deh, nggak usah pasang muka kayak gitu!” Rizal langsung memasang senyum lepas di wajahnya. “Kamu tau nggak alasan saya ajak kamu ke sini?” “Apa?” tanyanya. “Menghindari Wira,” ucapnya dengan tertawa seketika. “Kok ketawa sih? Lucunya di mana?” “Kamu nggak tahu ya? Saya kasih tau satu fakta aneh tentang Wira. Mumpung cuma kita berdua di sini, jadi biar saya kasih tau kamu.” “Apa?” “Satu hal yang perlu kamu ketahui. Jangan pernah ada di dekat dia kalau sudah mendekati jam makan siang. Walau kelakuannya acuh begitu, dia itu orang yang workholic. Kalau sudah fokus bekerja, dia akan lupa sama waktu makan. Dan itu selalu berulang, nggak sekali dua kali. Bahkan marah dan cerewet saya sudah tidak berguna di telinganya.” Nadin meringis pelan. “Mas kok gitu sih ngomongin Pak Wira. Nggak baik ah, kita omongin begini.” Rizal tertawa lagi. “Saya ini sahabat dekat Wira. Kamu tidak tahu, ya?” “Apa? Sahabat dekat?” ulang Nadin tak percaya. “Pantas aja kalau Mas Rizal selalu berdua ke mana-mana dengan Pak Wira. Kalian berdua bahkan sering di dalam ruangan berdua.” Rizal tersenyum lebar hingga jajaran giginya terlihat. “Walau kita berdua sahabat dekat, pekerjaan tetaplah pekerjaan. Saya juga ingin membantu dia.” Nadin langsung bersidekap d**a dan menghela napas panjang. “Kalau gitu Mas lebih baik, karena setidaknya Pak Wira membiarkan Mas membantunya. Kalau saya, saya pasti sudah dihina-hina dan disuruh angkat kaki oleh Pak Wira.” Tawa Rizal pecah. “Kamu ini, kenapa hanya melihat orang dari luarnya saja? Wira yang kamu lihat saat ini bukanlah dia yang sepenuhnya. Ada kalanya memang dia terlalu terlihat ingin menghancurkan hotel ini, tapi kamu perlu lihat lagi dirinya dari sisi yang lain. Dia memang keras di luar, tapi dia sangat menghargai orang-orang yang tulus padanya.” Nadin mendengus geli. “Kita seperti sedang membicarakan orang asing.” “Hei, apa yang saya ceritakan itu memang benar adanya. Kamu harus percaya sama saya.” “Iya, iya. Saya percaya,” ucap Nadin yang tertawa sambil menggelengkan kepalanya heran. “Lalu seperti apa lagi sifat asli Pak Wira yang sebenarnya?” “Oh, apa ini? Apa kamu tertarik padanya?” Mata Nadin sontak membulat besar. “Ya, nggak, lah, Mas.” Rizal masih menyipitkan matanya penuh penasaran, sementara Nadin hanya membalasnya dengan tawa canggung yang mencurigakan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD